
Keesokan harinya, pagi-pagi barang-barang Alisa dan Hadi, sudah dimasukkan pada koper dengan rapi dan nanti pas pulang tinggal menjinjing saja.
Bunga-bunga ucapan pun sudah diangkut ke mobil oleh Pak Mur. dan kondisi Alisa sekarang ini Sudah lebih baik dan dia pun sudah mampu berjalan.
"Duduk di kursi aja, biar aku yang mendorongnya!" pinta Hadi sambil memegang kursi roda buat Alisa duduk biar tidak usah berjalan menuju parkiran mobil.
"Nggak mau ah, aku mau jalan aja!" Alisa menggelengkan kepalanya sambil menggerak-gerakan kakinya.
"Capek sayang ... ini lantai ke berapa nih tinggi banget, ini jauh dari parkiran!" sambungnya sambil menarik tangan Alisa.
"Nggak mau pakai kursi roda, kalau aku capek, eh ... emangnya naik turun tangga gitu? kan pakai lift?" Alisa menatap heran sampai mengernyitkan keningnya ke arah Hadi.
"Memang iya pakai lift. Nggak turun tangga juga," Hadi pun menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, kalau gitu nggak usah pakai kursi roda segala! udah sehat kok. Lagian kalau aku capek kan ada kamu!" Alisa mainkan mata genitnya kepada Hadi yang langsung tertawa renyah.
"Dasar istri ku manja!" lagi-lagi Hadi menggelengkan kepalanya sambari tersenyum.
"Biarin, biasanya juga kamu yang manja, sekarang giliran aku yang manja. Katanya mau manjain aku? katanya apapun aku mau akan diturutin ... bohong dong?" Alisa mengerucut kan bibirnya bikin Hadi merasa gemes.
"Iya sayang iya," Hadi mengangguk.
"Makasih!" Alisa merangkul Hadi sesaat karena keburu datang yang menjemput, ya itu pak Mur dan mbak Mira.
Alisa memandangi pak Mur dan Mbak Mira yang mengangkut barangnya dan juga sisa bunga yang masih tersimpan di sana.
Cuph. Hadi mencuri ciumannya di pipi Alisa yang sedang anteng melamun. Kemudian menggendong tubuh istrinya tersebut.
"Eeh ... ngomong dulu napa biar aku nggak kaget!" refleks Alisa mengalungkan tangannya di pundak Hadi.
"Yang penting tidak ku banting sayang, ha ha ha ..." jawabnya Hadi sambil ketawa.
"Banting aja kalau berani, ayo banting, berani nggak banting aku?" tantang Alisa pada suaminya itu.
"Nggak sayang ... nggak mungkin aku lah kayak gitu!" ucap Hadi sembari memiringkan kepalanya untuk mencium Alisa.
Kemudian dengan refleks, mulut Hadi Alisa tutup dengan telapak tangannya. "Iih ... nyosor mulu ... malu dilihat orang."
"Mana yang lihat? gak ada!" Hadi mesem sambil celingukan melihat kanan dan kiri.
"Ck, dasar mesum." Alisa menggeleng.
"Biarin mesum juga sama istrinya bukan sama wanita lain. Emangnya mau aku mesum sama wanita lain hem?" Hadi semakin menggoda istrinya.
"Lakuin aja kalau mau, nggak apa-apa! sudah, turunin aku! aku bisa jalan sendiri kok." Pintanya Alisa.
__ADS_1
Hadi menghentikan langkahnya dan menatap wajah sang istri yang tampak jeles lalu Hadi ketawa. "Ha ha ha ... tuh kan ... baru ngomong gitu aja marah."
Kemudian Hadi kembali membawa langkahnya memasuki sebuah lift. Tanpa menghiraukan permintaan sang istri yang minta diturunkan.
Keduanya terdiam. Tak ada kata lagi yang berucap apalagi Alisa, dia tampak kesal pada Hadi. sampai berada dalam mobil pun Alisa banyak terdiam tidak ada banyak kata yang terucap.
Tangan Hadi merayap menyentuh tangan Alisa semakin berbisik. "Kok cemberut terus, sampai kapan marahnya?"
"Sampai rumah!" jawabnya dengan ketus.
Hadi terkekeh mendengarnya. "He he he ... boleh."
Tidak selang lama di jalan, mobil pun memasuki pekarangan mansion, di teras pun sudah ada sang ibu mertua dan ibu Juli pun ada di sana.
Karena dari semalam Ibu Juli pulang dari rumah sakit. Hadi dan Alisa pun meminta tidak perlu balik lagi ke rumah sakit karena mereka akan segera pulang dan biar tunggu saja di mension.
Hadi turun lebih dulu dan bukakan pintu untuk sang istri yang tampak cuek padanya.
"Assalamualaikum ..." Alisa mengucap salam sembari berjalan ke arah teras sementara Hadi berjalan di belakangnya.
"Wa'alaikumus salam ... Alhamdulillah akhirnya Lisa sudah pulang." Sambut sang ibu mertua lalu memeluknya.
"Iya Bu ... anak-anak nggak ada ya?" kemudian Alisa mencium tangan sang ibu mertua dan ibunya bergantian.
"Liana kuliah dan Dirga juga sekolah, tadi sih dia merajuk katanya nggak mau sekolah mau nunggu mommy katanya, tapi setelah di bujuk dia mau juga sekolah Alhamdulillah!" sahutnya sang ibunya mertua.
Setelah Hadi mencium tangan sang ibu dan ibundanya Alisa. langsung saja mengangkat tubuhnya Lisa di bawanya ke kamar untuk istirahat.
"Iih ... turunin akui aku pengen ngobrol sama mereka di sini," katanya Lisa sambil menepuk punggung Hadi.
"Mau ngobrolnya di kamar saja sambil istirahat!" jawabnya Hadi tanpa menghentikan langkahnya yang menaiki anak tangga tanpa merasa membawa beban.
"Iih," Alisa tidak bisa melakukan apa-apa selain mengalungkan tangannya di pundak Hadi.
Dan setelah berada di kamar, Lisa langsung dibaringkan di atas tempat tidur yang super empuk dan tampak rapi, bunga-bunga pun banyak di sana. Dari dalam kungkungan tubuh Hadi, Alisa menoleh kepalanya ke bunga-bunga yang berjejer dekat dinding tampak indah sekali.
"Itu bunganya dari mana, bukan yang dari rumah sakit ya?" gumamnya Alisa.
"Itu semua juga dari rumah sakit, cuman kemarin itu nggak masuk ruangan karena terlalu penuh jadi simpannya di bagian luar!" jawabnya Hadi sambil menatap istri kecilnya yang sedang sedikit merajuk itu.
"Ooh, pantas aku tidak melihatnya." Sambungnya Alisa sembari menoleh ke arah samping lainnya yang juga ada beberap bunga nan indah serta ucapan yang lucu.
"Permisi ini barang-barangnya." Mbak Mira masuk yang membawakan koper pakaian milik Hadi dan Alisa.
Kedua pasang mata mereka melihat ke arah mbak Mira yang langsung keluar lagi dan tidak lupa menutup pintunya kembali.
__ADS_1
Kemudian Hadi menggerakkan kedua netra melihat ke arah Alisa yang berada di bawah kungkungannya itu.
"Jangan menatap ku seperti itu!" gumamnya Alisa sambil membalas tatapan Hadi yang begitu dalam.
"Emangnya kanapa?" Hadi mendekatkan wajahnya itu dengan wajahnya Alisa.
"Ach ... nggak mau! nanti minta yang macam-macam lagi!" Alisa menggeleng.
"Siapa bilang macam-macam? paling satu macam aja." Bibirnya Hadi menyungging indah.
"Sana? katanya Aku harus istirahat! kan kata dokter ... kan tahu sendiri minimal nanti kalau sudah dua minggu baru kita bisa--"
"Bisa apa hem? sayang mau kah!" bisik Hadi menggoda istrinya tersebut.
Alisa pun tersipu malu sambil mencubit pinggang Hadi. "Pengen mencubit!"
Lalu kemudian Hadi pun bangun dan membiarkan Alisa berbaring sendiri di atas tempat tidurnya, Hadi sendiri berjalan mendekati kopernya untuk mengambil laptop ataupun barang berharga lainnya.
Lantas Hadi duduk di atas sofa membuka laptop dan disimpan di atas pangkuannya, dia mulai menyibukkan dirinya dengan benda tersebut. Sementara Alisa berbaring dan menarik selimutnya sambil memandangi sang suami.
Tidak lama kemudian pintu pun ada yang mengetuk dari luar, setelah dipersilakan masuk. Sang Bunda juga bu Juli memasuki kamar tersebut dan menghampiri Alisa.
Kemudian Hadi pun pamit untuk ke ruang kerja nya di sebelah, karena di kamar ini dia merasa tidak nyaman dan terganggu.
"Sayang, aku ke ruang kerja dulu ya? kalian ngobrol saja." Hadi melihat ketiga perempuan yang berada di situ, sambil berdiri dari posisi duduknya dan menjinjing laptop.
Semua melirik pada Hadi dan Alisa mengangguk pelan.
"Nggak pa-pa, Lisa sama ibu di sini!" timpal sang bunda.
Hadi pun pergi dari tempat tersebut membawa benda pipih tersebut.
"Gimana, apa kau merasa sudah lebih baik?" tanya Bu Juli pada Alisa yang duduk bersandar.
"Aku sudah lebih baik kok." jawabnya Alisa.
"Tidak di kuret kan ya?" tambah sang ibu.
"Em ... tidak." Kata Alisa kembali.
"Semoga aja cepat pulih dan nanti coba lagi bikin adik buat Dirga nya," tambah sang ibu mertua.
"Ibu bicara apa sih ... jadi malu!" Alisa tersipu malu mendengarnya.
Mereka pun mengobrol segala macam. Hingga siang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih ya reader ku yang masih setia.