
Alisa keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Hadi sedang berbaring di atas tempat tidur. sejenak Alisa berdiri di depan pintu dan menatapi pria itu yang tak bergeming.
Berapa kali Alisa menguap dan perlahan mendekati tempat tidur, sebelum berbaring. Alisa melihat lagi ka arah Hadi yang sedang terpejam.
Kemudian, Alisa membuka kerudung lalu membaringkan dirinya menghadap tembok, memunggungi suaminya yang tertidur serta melipat tangan di dada.
Tidak butuh waktu lama buat Alisa untuk tidur yang memang dari semalam dia pun tidak ada tidur.
Beberapa saat kemudian Hadi bergerak dan membuka matanya, memicing dan merubah posisi tidurnya jadi menghadap ke punggung Alisa.
Tangan Hadi bergerak hendak menyentuh rambut Alisa yang tergerai di bantal. Namun niat itu dia urungkan, Hadi menarik kembali tangannya.
Dalam pikirannya terbayang wajah istrinya yang telah tiada. Terasa masih hangat dalam ingatan. Lalu kembali memejamkan kedua matanya.
"Begitu cepat, sayang tinggalkan Abang." Batinnya Hadi.
Hari sudah beranjak malam dan baru saja selesai mengadakan pengajian. Alisa baru saja sibuk membagi-bagikan bingkisan sebagai terima kasih pada para tamu yang sudah datang dan mengikuti tahlilan ini.
Liana yang bersama Alisa menarik nafas panjang, menoleh pada Alisa yang sedang membereskan kantong besar dengan asisten. "Sudah selesai kali ya? gak ada lagi dan semua sudah kebagian!"
Alisa melirik pada Liana. "Sudah. Kau istirahat saja, biar aku yang membereskan semuanya!"
"Kak, Lisa ... aku lapar. Mau makan!" Dirga menghampiri Alisa sambil mengusap perutnya.
"Dirga, kan di meja banyak makanan. Makan malam pun sudah siap di meja, kenapa harus ke sini?" protes Liana menatap tajam pada sang adik.
"Mau makan, dan kak Lisa yang nyiapin." Anak tampak manja.
"Rerrrggghhh ... Iya, kan bisa makan sendiri tinggal ambil dan asisten juga banyak." Tambah Liana.
"Lia ... gak pa-pa. Aku gak pa-pa!" Alisa melirik pada Liana dengan lirih.
Kemudian Alisa merangkul bahu Dirga di ajaknya ke ruang makan. Dan Liana lari keluar karena katanya ada tamu mencari dia.
Alisa menyuapi Dirga makan atas permintaannya, biarpun anak itu sudah SD. Namun masih ingin dimanja, ketika masih ada mamanya mungkin dia juga ingin di manja, tapi sama siapa?
"Kak Lisa ..." panggil anak itu lirih.
__ADS_1
"Iya, ada apa. Mau nambah lagi?" Alisa menatap anak itu yang sidang mengunyah dan mulutnya pun penuh.
Dirga menggeleng. "Kak Lisa mau gak jadi Mommy nya Dirga?"
Degh.
Kata-kata itu menyentuh ke ulu hati. Alisa melirik ke arah ibu nya Hadi yang baru datang di tempat tersebut namun sepertinya beliau pun mendengar yang Dirga katakan.
"Dirga, cucu Oma ... kan kak Lisa memang mommy nya Dirga sama kak Lian. Karena kak Lisa ini istri papa." Lirih omanya sambil mengusap kepala anak itu.
Alisa mengangguk dengan tatapan yang nanar pada Dirga sambil menyuapi kembali.
"Mau, kan? aku panggil Mommy?" Dirga kembali bertanya dengan tatapan yang intens.
"Iya, mau ...boleh kok!" jawabnya Alisa sembari mengusap bibir Dirga dengan tisu.
"Yey ... aku punya Mommy baru. Makasih ya Mommy?" Dirga memeluk Alisa dengan wajah yang sumringah.
Bikin hati Alisa mencelos sedih. Melihat ke arah ibu mertua yang yang mengusap pipinya yang basah.
Kemudian di mengayunkan langkah kakinya ke luar mension dan bertemu Liana dan Rahman di sana.
"Om, aku turut berduka." Rahman mengulurkan tangan pada Hadi yang di sambut nya.
"Iya, kenapa gak masuk?" Hadi menunjuk ke dalam.
"Iya, Nanti aku masuk." Rahman mengangguk.
Lalu kemudian Hadi melanjutkan langkahnya entah kemana.
Rahman kembali duduk bersama Liana. "Aku baru tahu sore berita ini, kau sendiri kenapa gak hubungi aku? aku hubungi mu pun gak di angkat!"
"Aku ... hari ini aku gak pegang handphone." Jawabnya Liana dengan tatapan sendu.
Rahman mendekat dan merangkul bahunya Liana. "Yang tabah ya. Ikhlaskan dan doa terbaik untuknya."
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Alisa yang baru saja mengantar Dirga ke kamarnya untuk tidur kembali lagi ke ruang dimana sang ibu mertua dan keluarganya Diana masih berkumpul mengobrol. Ketika Alisa berada di sana. Pandangan Dania khususnya begitu sinis.
__ADS_1
Alisa celingukan mencari keberadaan Hadi yang tidak nampak. Kata sang ibu mertua kalau Hadi berada di pusara Diana.
Langkah Alisa pun berlanjut keluar melalui pintu belakang. Di luar sedang ada hujan dan petir walau kecil, suaranya saling menggelegar beriringan.
Benar saja, manik mata Alisa mendapati Hadi sedang duduk di dekat pusara sang istri menatapi batu nisannya.
Langkah Alisa berhenti di dekat pusara nya Diana. Lalu berjongkok di dekat Hadi yang terdiam tetap menatapi batu nisan sang istri.
"Assalamu'alaikum." Alisa membacakan doa dan alfatihah buat Diana yang sudah berada di alam sana.
Hening ...
Kemudian Alisa melirik ke arah Hadi yang di sampingnya itu. "Yank, pulang ya? sudah malam!" sambil menoleh pada jam yang melingkar di tangannya.
Hadi dengan refleks melirik ke arah Alisa yang memanggilnya dengan sebutan yank. Namun Hadi tidak mengeluarkan kata-katanya lalu kembali menatapi atas pusara sang istri.
"Bersedih boleh, tapi terpuruk yang berlebihan juga jangan. Aku pernah di posisi seperti ini, kehilangan seorang ayah yang sangat menyayangi ku! tapi ... kita harus bangkit untuk melanjutkan hidup." Alisa menatap wajah Hadi yang tidak pernah lepas dari pusara itu.
"Bicara itu memang mudah. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu!" ucap Hadi dengan nada datar.
Mendengar itu, Alisa menatap atas pusara Diana sambil berkata dalam hati. "Tante ... lihatlah suami yang teramat cinta dan sayang pada mu, sehingga kepergian mu itu meninggalkan luka yang mendalam untuknya. Bagaimana caranya aku bisa menghibur om Hadi!"
Hadi yang tak bergeming, di dalam hati terus membaca doa untuk sang istri yang sudah meninggalkannya.
Waktu terus berputar dan Alisa pun masih menemani Hadi yang enggan beranjak. Pada akhirnya Alisa kembali mengajak Hadi untuk masuk ke dalam rumah.
"Yank, masuk ya? sudah malam! lagian belum makan malam juga," ajak Alisa dan kini tangannya memegang lengan Hadi bagian atas.
Hadi pun merasa kasihan, istri kecilnya itu sedari tadi menungguinya hanya untuk pergi dari tempat tersebut.
Akhirnya pria yang mengenakan baju Koko biru, peci dan sarung itu pun berdiri lalu berjalan memasuki rumahnya. Tangan Alisa masih menempel di lengannya Hadi dengan bibir sedikit tersenyum.
Dania menatap dengan sangat tajam ke arah mereka berdua ....
...🌼---🌼...
Dapatkah Alisa menghibur Hadi yang sedang berduka dan terpuruk dalam kesedihan.
__ADS_1