
"Lepaskan aku? lepaskan! biar aku hajar dia, dia yang sudah menyebabkan kakak ku meninggal dan dia malah asik jadi istri muda dari suami kakak ku," teriaknya Dania sambil berontak dari pegangan security dan asisten lainnya.
"Non, jangan keluar sendiri ya? biar Mbak yang temenin dan Non bersih-bersih aja dulu, biar nanti turun bersama lagi," tambahnya mbak sambil duduk di atas sofa.
Alisa mengangguk lalu dia buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan di kamar mandi seiring air yang mengucur, air mata pun berjatuhan bercampur dengan air hangat dari shower.
Di saat berduka seperti ini. Ditambah dengan hancurnya perasaan yang dituduh bukan-bukan oleh Dania adik dari Diana wanita itu sepertinya memang sangat membenci Alisa. Entah memang dia nggak bisa memiliki Hadi atau memang dia punya rasa iri dan entahlah! kepala Alisa hampir pecah bila harus memikirkannya.
Tidak lama kemudian Alisa pun keluar dari kamar mandi dengan kimono yang membalut tubuhnya, segera memasuki wardrof untuk mengambil pakaian panjang serta kerudung yang akan dia kenakan untuk berbaur dengan yang lain.
"Mbak nggak apa-apa, kan nunggu aku?" Alisa melirik ke arah Mbak yang tengah duduk di depan televisi tanpa menyalakan nya.
Mbak menoleh ke arah Alisa yang berdiri di dekat pintu wardrof. "Oh, tidak apa-apa Non. Daripada nanti Non keluarnya sendirian, kami khawatir dan akan bertemu lagi dengan nyonya Dania, yang sampai sekarang masih terdengar dia teriak-teriak kayak orang gila Non."
Mbak memasang kupingnya, menajamkan pendengaran ke arah luar kamar tersebut yang terdengar samar teriakan Dania.
Alisa hanya menghela nafas panjang lalu dia melanjutkan langkahnya untuk berganti pakaian.
Dan beberapa saat kemudian Alisa pun keluar lantas menghampiri cermin. Untuk mengambil minyak wangi dan bedak untuk menutupi lusuh wajahnya.
Kemudian. "Ayo Mbak aku sudah siap," ajak Alisa pada Mbak.
"Non sudah selesai?" tanya Mbak seraya melihat ke arah Lisa meneliti dari atas sampai bawah.
Alisa yang kini mengenakan pakaian panjang beserta kerudungnya tampak sangat dengan warna senada, sungguh tampak cantik walaupun menunjukkan wajah yang sendu.
Lalu mereka berdua keluar dari kamar Alisa tersebut sambil celingukan melihat kanan kiri. Siapa tahu tiba-tiba dan dia menyerang kembali, tapi sepertinya dia tidak ada dan suaranya pun terdengar sayup-sayup dari kamarnya.
Tangan Alisa pun dituntun oleh Mbak dengan penuh hati-hati, dia tidak ingin kalau Dania menyerang kembali majikan nya ini.
__ADS_1
"Saya tidak habis pikir, kenapa sih Nyonya Dania sebenci nya itu kah kepada Enon? padahal Non sudah baik dan tidak pernah mengganggu dia, kok dia terus-terusan mengganggu," ungkap Mbak sambil berjalan.
"Aku nggak tahu Mbak, kan seperti kalian tahu aku nggak pernah berbuat usil sama dia, apalagi menyakitinya!" jawabnya Alisa.
Mereka berdua berjalan memilih mendekati pintu lift agar lebih cepat ke ruang tengah yang berada di lantai bawah, dan di sana orang-orang semakin banyak yang khususnya ibu-ibu.
"Masya Allah tamunya semakin banyak Mbak!" gumamnya Alisa kepada mbak yang berjalan dengannya.
"Iya Non Alhamdulillah ya? banyak orang yang sayang sama ibu Diana. Aku aja belum tentu seperti itu!" balasnya mbak sembari berjalan melipir di antara banyaknya orang di sana dan mereka mau menghampiri ibunya Hadi.
Terdengar obrolan dari mereka yang bercerita betapa banyaknya kebaikan yang Diana buat, mereka sangat mengagumi sosok Diana yang baik dan lembut serta murah hati, ramah dan pandai bergaul dengan para tetangga.
Diana itu orangnya dermawan tidak sombong dan selalu ingin membantu orang yang sedang kesusahan. Khususnya orang-orang yang berada di sekitar.
"Masya Allah orang-orang pada menceritakan kebaikan tante dan semoga semua kebaikanmu akan mengalir padamu," batinnya Alisa dalam hati sembari duduk diantara ibu mertua dan asisten lain.
"Apa kau memegang ponsel," tanya ibu mertua dengan lirih pada Alisa.
"Apakah Hadi tidak mengabari mu tentang masalah ini?" tanya kembali sang ibu mertua dengan suara yang sangat pelan.
Lagi-lagi Alisa menggeleng. "Terakhir aku lihat handphone di dalam taksi, tidak ada satupun kabar yang mengatakan soal tante ataupun kepulangan ke sini. Makanya aku kaget dan shock, bahkan sempat merasa kalau aku salah alamat, aku sangat heran dengan banyaknya orang, tapi nggak mungkin juga aku salah alamat pulang."
"Oh ... ya sudah! berarti Hadi hanya mengabari Ibu saja, karena mungkin dia pikir Lisa masih di Surabaya. Dan memang Hadi sebelumnya tidak mengabari ibu karena yang mengabari adalah asistennya, Hadi pasti sibuk. dan nggak sempat ngapa-ngapain!" sang ibu mertua mengusap punggungnya Alisa dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Bu aku ngerti." Alisa menundukkan kepalanya lalu mengambil salah satu buku kecil yang berisi ukiran ayat-ayat yang indah.
Lantas Alisa pun bergabung mendoakan Diana dan kepulangannya dari luar Negeri ke Indonesia diberikan kemudahan juga kelancaran.
Dan sekitar pukul 03.30 pagi sudah ada kabar Kalau pesawat sudah mulai mendarat di Indonesia, dan tinggal mengurus ini itunya saja di bandara serta kemungkinan akan sampai ke mansion sekitar jam 07.00 atau jam 08.00 pagi.
__ADS_1
Alisa dan ibu mertua setidaknya merasa lega karena mereka sudah sampai di Indonesia biarpun belum sampai ke mansion.
"Ibu apa kita akan menjemputnya atau menunggu di sini saja?" tanya Alisa pada sang mertua.
"Tidak usah Lisa ... kita tunggu di sini saja. Dan biar pak Mur dan security yang menjemput Hadi dan yang lainnya." Balas sang ibu mertua dengan lirih.
"Semoga abang diberi kekuatan ya diberikan kesabaran, ketabahan begitupun dengan anak-anak," ucapan Alisa sembari melirik ke arah foto Hadi dan keluarga yang terpajang di dinding.
"Aamiin ya Allah ..." balas ibu mertua dan lainnya yang berada di sana mengaminkan perkataan dari Alisa.
"Alisa itu harus bisa menguatkan abangnya ya? begitupun dengan anak-anak terutama Dirga! dia masih kecil belum begitu mengerti dan masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu." tambahnya sang ibu mertua sembari memegangi punggung tangan Alisa.
Alisa terdiam, karena dia pun bingung harus berkata apa. Dia tidak tahu apakah dia bisa menguatkan Hadi dan tetap bertahan di sisinya ataukah kebalikannya. Sebab Hadi takkan terpuruk kalau dia tidak larut dalam kesedihan, dan tidak terbawa hatinya oleh kepergian sang istri yang sangat dia cintai.
Tapi bila kebalikannya. Alisa tidak tahu harus berbuat apa dan untuk saat ini terlalu membingungkan jika harus memikirkan itu.
Sekitar pukul 06.00 pagi kamu yang menjemput ke bandara sudah kembali membawa Ibu Lia Liana dan Dirga mereka tampak pucat sedih dan berduka, datang-datang. Dirga langsung memeluk Alisa dan tangisnya pun pecah dalam pelukan wanita muda tersebut.
"Kak Lisa ... Mama sudah meninggal kini Dirga gak punya mama lagi. Mama sudah meninggalkanku, Emangnya sudah pergi ... hik-hik-hik."
Alisa memeluk anak itu sangat erat, dia pun tidak dapat membendung air matanya sehingga berjatuhan kembali menguasai pipi. "Sabar ya sayang ... juga harus tabah, ikhlaskan mama dan doakan dia agar ditempatkan di surga dan Allah lebih sayang mama sehingga mengambilnya secepat ini!"
Sementara Liana memeluk Oma nya. "Oma Mama Oma. Mama nggak bisa bertahan lagi ya oma."
"Iya kamu yang tabah ya! ikhlaskan mama dan doakan dia, sudah jangan menangis, capek! lihat dirimu begitu berantakan begini kalau mau mandi. Mandi dulu sana gih? sudah jangan menangis! mendingan kamu mengaji dan mendoakan Mama!" kata oma dengan lirih sambil mengusap wajah Liana yang basah.
"Kapan jenazahnya sampai ke sini?" tanya wanita sepuh itu kepada putranya yang baru datang dari belakang, yaitu kakaknya Hadi yang bernama Om Dedi.
"Masih diproses, Bu ... mungkin satu jam lagi, baru akan sampai di lokasi. Doakan saja semoga semuanya lancar!" jawabnya Dedi sembari mengusap tangan sang bunda ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mana dukungannya? agar aku tambah semangat.