Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Malam pertama


__ADS_3

Tatapan Dania begitu tajam terhadap Alisa yang tampak santai itu dan tatapan penuh ejekan.


Kemudian Dania berlalu sambil mengumpat.“ Dasar anak kemarin sore, tidak tau sopan santun.”


Alisa memutar badan lalu melanjutkan langkahnya yang mau ke kamar Hadi, walau malu dan ragu, tapi mau kemana lagi?gak mungkin juga dia tidur di kamar ibu dan adik-adiknya.


Ketika Alisa masuk, bersamaan dengan Hadi yang keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggang, sementara di tangan pegang handuk kecil yang dia gunakan untuk mengeringkan rambut.


Refleks, Alisa membalikan badan dan menunduk melihat lantai.


Hadi menyunggingkan bibirnya dan merasa heran karena Alisa belum mandi juga. “Lho, kok kamu belum mandi juga? ngapain saja sedari tadi?”


"Ha?" Alisa menutup kedua manik matanya seiring terdengar langkah Hadi yang mendekat.“ Jangan mendekat, jangan mendekat.” Gumamnya Alisa pelan.


“Hem, kamu kenapa? lagian kenapa belum mandi dan ganti pakaian?” ulang Hadi sambil menutup pintu dan menguncinya.


“Aku, aku mau tanya sama, Om. Baju ku semuanya di mana? di kamar ku gak ada barangnya.” Alisa membalikkan badan menghadap ke arah Hadi yang berdiri tidak jauh dari dirinya, namun Alisa menunduk tidak mau melihat ke arah lawan bicaranya.


“Kan kamar kamu di sini, lupa ya kalau kita sudah menikah?” Hadi mengusap-ngusap rambutnya yang basah.


“Tapi kita menikah hanya buat status saja, Om sudah berjanji kan … kalau kita akan menyepakati sebuah kesepakatan? kan Om.” Alisa menatap tajam sekilas lalu menunduk kembali.


"Iya … itu benar dan sebentar lagi kita akan tanda tangani itu, tapi bukan berarti kita pisah kamar, apa kata mereka atau istri saya kalau kita tidur terpisah? malah istri saya menyuruh saya melakukan sesuatu, yaitu menyalurkan hasrat saya sama kamu—“


“Apa? tidak ... nggak-nggak, aku nggak mau itu terjadi. Dan itu harus ada dalam perjanjian kita, kalau kita tidak boleh berinteraksi atau kontak pisik selain tangan atau pipi, itu pun bila terpaksa.” Jelasnya Alisa sambil mondar-mandir.


“Iya saya sudah siapkan itu, kecuali saya khilaf kan? kalau saya khilaf kan itu sah-sah saja, lagian kan kau harus tahu juga. Kalau istri saya menikahkan kita berdua itu supaya saya ada yang melayani, termasuk di ranjang.” Hadi mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


“Tidak-tidak. Aku tidak mau, aku masih virgin. Dan aku tidak mau itu terjadi,” ucap Alisa sambil menggeleng dan tampak gelisah melihat tubuh Hadi yang masih belum berpakaian.


“Terus, bila kamu sudah bukan virgin, kamu mau begitu, melakukan dengan saya? lalu siapa yang akan mendapat virgin kamu kalau bukan saya?” ucap Hadi sambil menyunggingkan bibirnya ke samping.


“Bu-bukan begitu mak-maksud ku,” ucap Alisa gelagapan.


“Masa kamu menikah sama saya, tapi virgin kamu berikan pada yang lain? kan aneh.” Kepala Hadi menggeleng lalu berjalan mendekat ke cermin dan menggunakan parfum juga lainnya.

__ADS_1


“Barang ku semua di mana?kenapa juga gak bilang dulu sama aku? main bawa saja,” selidik Alisa sambil celingukan.


“Mana saya tahu, mungkin orang suruhan Diana yang membawanya ke sini, tuh tas kamu dan ponsel kamu juga di atas nakas.” Hadi menunjuk barang-barang yang dia sebutkan barusan.


Manik mata kedua Alisa melihat ke arah yang Hadi tunjukan.


“Ini alat mak up kamu, parfum. Bedak, sisir ada sini.” Hadi menunjuk ke tempat cermin yang ada di hadapan dirinya.


“Kalau pakaian mungkin di wardrof, kan kamu juga yang suka membereskan, sekalian mana pakaian saja buat tidur?”


Alisa buru-buru masuk wardrof setelah Hadi selesai bicara. Dan benar saja pakaiannya ada di sana, serta sudah tertata rapi. "Pantas ... siapa sih yang bawa ke sini?"


Alisa memunculkan kepalanya di taman pintu. “Boleh kan aku tinggal di kamar ku saja?” tanpa menoleh orang yang dia ajak bicara.


“Boleh, tapi saya yang akan tidur di sana juga. ”Suara Hadi seolah mengancam.


“Heh … sama aja,” Alisa meraih handuk dan baju piyama dan pakaian buatan Hadi.


“Ini bajunya, eh. Bawahannya?” Alisa menyodorkan pakaian bawah kepada Hadi sambil melihat entah kemana.


Alisa mengembuskan nafasnya yang kasar sambil membawa langkahnya ke dalam wardrop lagi, mengambil kaos buat Pria yang kini menjadi suaminya tersebut.


Lalu Alisa buru-buru mengayunkan langkahnya ke kamar mandi. Namun setelah di kamar mandi, Alisa sangat kesusahan untuk membuka resleting kebayanya yang terletak di belakang.


“Iih … gimana sih? susah amat sih …” gerutu Alisa sambil terus berusaha membuka namun tetap saja kesulitan.


“Hik-hik-hik, gimana sih … susahnya ...” lalu mau tidak mau Alisa membuka pintu dan dengan ragu memanggil Hadi yang sedang membuka laptopnya.


“Om … tolong dong?” suara Alisa pelan, dia menggigit bibir bawahnya dengan malu, namun tidak ada cara lain selain meminta tolong kepada pria itu.


Hadi menoleh ke arah Alisa, gadis itu hanya memunculkan kepalanya saja yang terlihat. “Ada apa?”


“Em ... tolong bukain ini dong? aku kesulitan membukanya,” wajah Alisa memerah, sepertinya dia sedang merasa kesal. Atau juga mau menangis.


Hadi terdiam sejenak lalu turun dari tempat tidurnya, menghampiri Alisa yang berdiri di pintu kamar mandi. “Ada apa sih … mau dimandiin apa?”

__ADS_1


“Iiy … bukan, a-aku … kesulitan membuka resleting di belakang ini.” Alisa menunjuk ke arah belakang tubuhnya.


Hadi menatap ke arah Alisa yang belum juga mandi, membuka baju penggantinya saja belum, begitu pun sanggulnya. Hadi menggeleng. “Ya ampun … dari tadi apa aja sih kamu ini? kalau malam pertama yang sesungguhnya, sudah tidak kuat pastinya, lama banget mau mandi saja.”


“Apaan yang tidak kuat?” Alisa melotot dengan sangat sempurna dan lalu dia memunggungi Hadi agar membuka resletingnya.


Hadi melihat punggung Alisa, lantas naik ke leher yang jenjang dan bersih. Hadi menghela nafas panjang, tanpa disadari ada yang bangun, setelah sekian abad bertapa.


“Ayo … bukain?” pinta Alisa yang sudah tidak sabar, mana dah malam.


Hadi pun mengarahkan tangan dan membuka resleting bajunya Alisa di punggung. Tampak lah punggung Alisa yang bersih mulus itu, kulitnya yang kuning langsat bikin betah yang keliatan.


Hadi menghela napas dalam-dalam sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Em … sanggulnya bisa buka tidak?” tanya Hadi sambil mengarahkan pandangan ke kepalanya Alisa.


Sebenarnya Alisa merasa malu menyuruh Hadi membukakan resletingnya, karena otomatis Hadi melihat punggungnya dong. “Nggak usah, aku bisa buka sendiri kok.”


Lalu Alisa bergeser dan menutup pintu dan lantas menguncinya. Hampir saja daun pintu kena ke hidung Hadi, bila dia tidak segera mundur.


“Dasar, hampir saja membentur hidung ku!” Hadi kembali ke tempat semula dan menyibukkan diri dengan laptop yang kini di pangkuan.


Alisa begitu menikmati ritual mandinya yang menggunakan air hangat. Lalu setelan membersihkan diri, Alisa mengenakan pakaiannya di sana juga, menatap bayangan dirinya di cermin.


“Masa sih, aku harus tidur satu kamar dengan om Hadi? apalagi satu tempat tidur, iiy ... aku takut dia khilaf. Dan per-ko-sa aku gimana?” monolog Alisa sambil menyampingkan rambutnya.


Kemudian Alisa keluar dari kamar mandi, dengan ragu berjalan menuju sofa panjang yang ada di sana.


Kedua netra mata Hadi melihat ke arah Alisa yang duduk di sofa. Dia pun turun dan mengambil sesuatu dari laci yang dia kunci.


Alisa gugup dan tampak tegang ketika Hadi duduk di dekat dirinya, yang dengan refleks menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Hadi. Yang malah menunjukan senyum di wajahnya ....


.


Jangan lupa like komen dan lainnya.

__ADS_1


Makasi


__ADS_2