
Sudah berapa hari ini Hadi sudah mulai masuk kantor dan Alisa masih dalam masa istirahat di rumah.
Hadi baru saja selesai Meeting dan baru memasuki ruangan kerjanya dan belum juga mendudukan diri ya di kursi kebesarannya. Pintu sudah di ketuk dari luar.
Membuat kepala Hadi menoleh pada jalan pintu yang sudah berada seorang wanita berpenampilan elegan dan berambut di bawah bahu. Menjinjing tas branded berdiri dengan senyuman manis padanya.
Setelah sesaat Hadi memandangi dan menajamkan penglihatan, Hadi sadar kalau itu ternyata Dania sang adik ipar yaitu adik Diana istrinya almarhum.
"Dania?" gumamnya Hadi dengan perasaan yang aneh. Sebelumnya Dania itu kan berkerudung. kenapa sekarang kebalikannya? bahkan berpenampilan persis seperti diana masih muda dan belum menjadi istri nya.
"Abang, apa kabar? rupanya kau masih mengenali ku meskipun dengan penampilan ku yang baru ini. Aku kira kau akan melupakan ku dan tidak mengenali ku," Dania mendekati pria yang tampak kebingungan itu.
"Ooh, tentu aku ingat dong, masa aku lupa sama adik aku sendiri!" jawabnya Hadi sambil kini mendudukan diri di kursi nya.
Dania duduk di hadapan Hadi denhan gaya duduk yang menggoda lawan jenis. Namun Hadi lebih banyak menunduk dan melihat ke arah lain ke laptop misalnya.
"Aku dengar istri kecil mu itu keguguran ya?" tanya Dania menatap ke arah Hadi yang sibuk dengan layar laptopnya.
"Em ... tahu dari mana kita itu?" Hadi balik bertanya sembari melirik sekilas ke arah Dania.
"Ya ... tau aja masa nggak tahu sih berita tentang istriku CEO Hadi yang mengalami keguguran." Jawabnya Dania.
"Kasihan sekali ya? maklum dia kan masih muda banget, jadi dia belum ngerti apa-apa atau mungkin ... dia sengaja untuk menggugurkannya? agar dia nantinya bisa dengan mudah mencari pria muda yang dia inginkan. Kan kalau punya anak dia nggak akan bebas!" Dania sok tahu.
"Jangan bicara yang macam-macam, nantinya akan menimbulkan fitnah. Sementara kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! saya suaminya dan saya lebih tahu apa yang terjadi dengan istri saya." Jelasnya Hadi dengan nada bicara yang tidak suka akan perkataan dari Dania.
"Oh ya! seperti itukah? kamu bicara begitu karena kamu tidak tahu kalau Alisa itu bila di belakang kamu seperti apa? dia pecicilan dan centil di hadapan pria-pria muda yang berada di sekitarnya." Daniel mencoba meracuni pikiran dari Hadi.
"Sejauh itukah kamu mengenal Alisa? kamu tidak perlu menjelekan dia di hadapan saya, karena saya lebih mengetahui gimana dan seperti apa istri saya!" Belanya Hadi.
"Apa kau juga tahu, kalau banyak pria muda yang naksir sama dia? dan bila dia lepas dari kamu itu ... dia nggak akan susah, dia akan dengan mudahnya mendapatkan pria-pria muda yang sukses yang tampan!" ucap Dania yang membuat hati Hadi terasa panas.
__ADS_1
Hadi berusaha mengontrol perasaannya dan berusaha tenang untuk bicara. "Emangnya siapa yang akan melepaskan dia? dia itu istriku, selamanya akan menjadi istriku. Aku tahu jika mereka banyak yang naksir pada Alisa dan ... itu hak mereka! asal jangan keterlaluan saja," ujar Hadi sembari menghela nafas dengan panjang.
dan yang tidak menjawab di atas menatapi keadaan hati dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sebenarnya kau datang ke sini itu ada keperluan apa? saya sibuk, tidak ada banyak waktu untuk menghadapi mu." Selidik Hadi tanpa melihatnya kembali.
"Em ... Saya inginkan menanyakan kabar anak-anak!" Dania bingung harus berkata apa.
"Kalau kamu ingat sama anak-anak, temui mereka di rumah. Bukan ke sini. Kau kan tantenya yang seharusnya juga bisa menciptakan pendekatan yang baik kepada mereka, bukan datang ke sini menanyakan padaku, itu salah! setidaknya kau bisa hubungi nomornya atau menemuinya langsung." Hadi menyandarkan punggungnya ke bahu kursi sembari menatap ke arah Dania.
"Em, ma-maksud ku ... sekalian aku ingin be-bertemu denganmu, bertanya kabar ... karena sudah lama kita tidak bertemu!" suara Dania sedikit terbata-bata.
"Oh ya? kalau nggak ada yang harus diomongin ... tolonglah tinggalin saya? karena saya masih banyak pekerjaan yang harus saya urus!" tegasnya Hadi seolah menyuruh Dania untuk pergi dari tempat tersebut.
Karena bagaimanapun Hadi itu tidak ada waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Dania yang entah mau ngomongin apa tidak jelas begitu.
"Oke. Terus ... kapan Abang nggak sibuk? kita bisa kan untuk dinner bersama kapan abang gak sibuknya?" selidik Dania sembari menatap pria itu dengan tatapan yang sama seperti dulu.
"Semakin hari ketampanannya Hadi semakin terlihat saja! biarpun semakin berumur dia tetap semakin berwibawa, tambah tampan dan mempesona. Bikin aku semakin jatuh cinta. Harus bagaimana caranya aku mengatakan!" monolog Dania dalam hati.
"Maaf, saya sibuk dan tidak ada waktu untuk lebih lama mengobrol denganmu. Istriku pun masih menungguku!" jawabnya Hadi dengan tegas.
"Ayolah ... masa nggak ada waktu sedikitpun, ya bilang aja ada acara dengan klien. Rekan bisnis, kan bisa!" Dania seolah-olah ingin memaksa.
Brak ....
"Sebenarnya apa sih maumu? saya tidak mengerti, sementara kau tahu saya sudah beristri dan jika kamu meletakkan dirimu sebagai Tante dari dua keponakan mu. Tidak begini caranya." Hadi berdiri sembari menggebrak ujung meja dengan kedua tangannya.
Membuat Dania terkaget-kaget. Kemudian dia pun beranjak dari duduknya. "I-iya. Aku pulang dulu! permisi?" Dania ketakutan, sehingga dengan segera dia meninggalkan ruangan Hadi.
Hadi merasa kesal rahangnya tampak mengerat menatapi kepergian Dania yang meninggalkan ruangan tersebut tanpa menutup pintu. "Apa sih maunya? Nggak jelas banget jadi orang!"
__ADS_1
Kemudian, Hadi melanjutkan segala pekerjaannya yang sekarang di handle sendiri. Bahkan nanti malam pun akan ada pertemuan di sebuah restoran yang akan membuatnya pulang telat.
Hadi mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja, ia teringat kepada sang istri yang kini sedang beristirahat di rumah.
Lantas Hadi mengambil ponsel tersebut dan menelepon ke rumah, yang menjadi tujuannya adalah Alisa.
Namun sudah berapa kali ditelepon pun tidak ada yang mengangkat. "Mungkin dia sedang tidur siang!" gumamnya Hadi sembari menyimpan kembali ponselnya di tempat semula.
Sekitar pukul 16 sore, Zidan sudah mendatangi kembali ruangan Hadi untuk perancangan pertemuan nanti malam.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Hadi kepada Zidan yang memegang sebuah map.
"Iya, sudah siap! tinggal kita menjalankannya saja!" sahutnya Zidan sangat bersemangat.
"Oke kalau begitu! apa kita akan ke sana sekarang tanya adik kembali sembari merapikan.
"Em ... sebaiknya begitu!" Zidan pun beranjak dari duduknya dengan kembali membawa beberapa map di tangan.
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung bertingkat seperti itu, dan mendatangi sebuah restoran ternama di kotanya
Hadi dan rekan-rekannya mengadakan pertemuan sembari dinner di sebuah restoran ternama. Acara itu pun berlangsung hingga beberapa jam kemudian.
Beberapa rekan banyak yang menanyakan keberadaan Alisa, gimana kondisinya sekarang? kabarnya gimana? apa dia berhenti bekerja!
Sementara Hadi menjawab seadanya, kalau Alisa saat ini dalam masa istirahat, dan dia akan kembali bekerja ketika nanti dia sudah sehat.
Banyak dari rekannya yang memuji kepandaian, kepiawaian Alisa sebagai gadis muda yang mampu menghandle semuanya. Di saat Hadi benar-benar tidak bisa mengurus semuanya.
Membuat bibir Hadi terus mengembang, dia merasa bangga pada istri kecilnya, walau pada akhirnya harus mengorbankan calon bayi mereka berdua ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Aku masih berharap dukungan dari kalian, agar aku bisa terus melanjutkan karya ini makasih ya.