Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Ijab kabul.


__ADS_3

Setelah beberapa saat, pak penghulu memberikan sepatah dua patah kata. Akhirnya ijab kabul pun di mulai.


Tangan Hadi menjabat dengan erat tangan paman Lukman dan menyimpan perasaan yang begitu gelisah, sesekali melihat ke arah Diana yang memandangi dengan penuh harap.


"Abang, yakinkan dirimu kalau inilah yang terbaik untuk mu, kau itu laki-laki normal yang butuh belai kasih sayang dari seorang perempuan, aku yakin Alisa orang yang tepat untuk mu. Demi aku juga Abang," batin nya Diana sembari menatap dengan pandangan yang terus intens pada sang suami.


Sebelum mengucap janji suci pada wanita lain. Hadi kembali melirik ke arah sang istri. Diana pun langsung mengangguk ikhlas dan ridho.


Diana menggeser kursinya mendekat pada Hadi yang kini mulai gugup. Tangan Diana memegang kuat tangan sang suami yang satunya.


"Abang ... yakinlah. Ini yang terbaik untuk Abang, aku ingin Abang bahagia!" suara Diana pelan dan memberi kekuatan pada Hadi yang sedang resah dan gelisah. Cemas, tegang. dan semacamnya bercampur menjadi satu.


Hadi mengangguk pelan, lalu menghela nafas dalam-dalam dan panjang. Kemudian ia hembuskan.


"Bismillah ..." gumamnya jadi dalam hati.


lalu terdengar suara paman Lukman sambil memegang tangan Hadi. "Saya nikahkan dan kawin engkau ananda Hadi, dengan keponakan saya, Alisa binti Burhan dengan seperangkat perhiasan emas 24 karat, seperangkat alat salat dan beserta uang dolar. Di bayar kontan."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alisa binti Burhan dengan maskawin tersebut, di bayar kontan." Dengan satu tarikan nafas, Hadi mengucapkan ijab kabul.


"Gimana saksi, sah?" tanya penghulu pada para saksi yang merasa deg-degan sebelumnya merasa ikut tegang juga.


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah ..." ucap semua yang ada di sana termasuk Bu Juli yang menatap haru.


Kemudian Hadi mengikrarkan berjanji yang yang sudah tertulis di buku nikah dengan lantang. Di tambah lagi dengan menggunakan mikrofon yang membuat suara Hadi semakin bergema di gedung tersebut.


Alisa yang masih berada di kamarnya, tampak sangat tegang, gugup tidak karuan tidak jelas apa yang dirasa. Kadang pengen ke toilet namun tidak ingin apa-apa.


Dia mondar-mandir tak beraturan. Membuat Liana dan kedua adik nya merasa pusing lihatnya.

__ADS_1


"Kau ini kenapa sih? mondar-mandir tidak karuan dan kaya setrikaan saja, pusing gue lihatnya." Liana mematung kan tubuh Alisa. Dan detik kemudian Alisa dipanggil untuk turun.


"Ayo, turun?" Liana menggandeng tangan Alisa di ikuti oleh Lilis dan Sinta.


Mereka berjalan pelan dan teratur. Dengan perasaan yang tegang, gugup. Langkah pun berasa mengambang, Alisa dibuat benar-benar nervous.


Semua pasang mata tertuju pada gadis yang kini sudah berubah status menjadi istri itu. Dia sangat cantik nan anggun. Aura kecantikannya begitu terpancar, ditambah dengan senyuman yang yang terbaik di wajahnya.


Semua orang yang berada di sana begitu mengagumi kecantikan seorang Alisa, seorang gadis yang masih terbilang muda bila dibandingkan dengan sosok Hadi Dirgantara yang sudah memiliki Putri yang seusia dengan dirinya.


"Masya Allah thabarakallah sangat cantik, beda dari yang biasanya," ucap para undangan yaitu tetangga-tetangga dekat di sana.


Seperti Ibu Kurnia Yati. Umi Alfa, Maulana_ya Manna. Ami Siti, Suyadi Yadi. Tutut, Irma Malini. Meyliza Fawwuzi, Abdul Rojak. Ika Krisnawati, Nisrian Annisa. Mae Fathur Rohman. Aida Septi. Nining Astuti. Reni Anjarwani, Yuliana Tunru. Idha wati18, Syarifa Putri dan Cicih Nurjanah, dll nya.


Begitupun dengan Hadi yang baru saja mengucap janji. Dengan sedikit penasaran sedikit menoleh dan melihat ke arah Alisa yang masih berjalan mendekati untuk duduk di samping dirinya.


Perasaan Diana saat ini bercampur aduk. Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena Sudan mencarikan pendamping buat sang suami yang dia pikir wanita yang tepat.


Sedihnya? istri yang mana sih ... yang rela menikah lagi mengucap ijab kabul terhadap wanita lain, namun Diana tetap tegar dan menunjukan kalau dia berlapang dada, karena ini kehendaknya sendiri dan bukan maunya Hadi.


Melihat kedua mempelai tampak ragu-ragu, MC pun kembali berkata. "Ayo dong ... tidak perlu ragu atau bimbang ya? sudah halal alias diperbolehkan. Cuma mencium kening dan tangan ini ... gak lebih kok. Tapi kalau mau lebih juga boleh sih, tapi nanti saja kalau mau lebih sih ya? mau gulat atau mau apalah. Tetot ... skip ya he he he ...."


"Oh, iya lupa! ada cincin nikah gak? nggak ya? ya sudah, ayo dong tunjukan kemesraannya toh sudah halal ini. Masa sebelum menikah berani apa? tapi sesudah menikah malu-malu kucing! tapi tidak apalah. Kalau malu kucing itu dihadapan banyak orang ya? kalau cuma berdua mah langsung hajar, benarkan Bu-ibu?" tanya MC mengedarkan pandangannya pada semua yang ada di sana.


"Benar ..." jawab Bu ibu khususnya sambil mesem-mesem.


"Emang ibu-ibu tahu gitu? apa yang di Hajar? nyamuk ... yang mengganggu pengantin, sudah pasti di hajar, jangan ngeres yey? tapi ngeres juga boleh sih! pasir ... kali ach ngeres. Skip, buat yang sudah halal, yang belum halal mah jangan ya? pamali." Tambah nya MC lagi.


Membuat yang mendengarnya ikut senyum-senyum simpul.


Sesaat kemudian, Hadi menoleh pada Alisa yang terus menunduk. Apa yang dia rasakan saat ini tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.


Wajah Hadi mendekat, meskipun ragu-ragu tapi pelan dan pasti menempelkan bibirnya di kening Alisa yang tetap menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


Kendati demikian, dia berusaha untuk mengulas senyumnya yang tampak indah itu. Setelah jadi mencium keningnya yang terasa hangat itu. Alisa meraih tangan Hadi untuk diciumnya.

__ADS_1


Prok-prok. Prok-prok ....


Semua bertepuk tangan. Melihat adegan mesra kedua mempelai barusan.


Kemudian membacakan doa khusus buat kedua mempelai yang di bacakan oleh bapak ustaz di sana.


Baarokallaahu laka([1]) wa baaroka ‘alaika([2]) wa jama’a bainakumaa fii khoirin([3]).


“Semoga Allah memberkahi mu di waktu bahagia dan memberkahi mu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”


"Aamiin ya Allah yarobbal'alamin ..." jawab semua yang hadir.


Lantas Hadi pun di anjurkan membaca doa sebagai berikut.


Bismillahirrahmanirrahim ...


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


Allaahumma innii as-aluka khoirohaa, wa khoiro maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’uudzu bika min syarrihaa, wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi.


“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.”


Semua terasa hikmat. Dan lalu kemudian melakukan sesi foto memegangi maskawin.


Lalu dilanjut sungkeman kepada kedua orang tua kedua belah pihak dan juga Diana.


Diana memeluk suaminya penuh haru dan tidak mampu berkata-kata selain tetesan air mata.


"Maaf sayang?" dan hanya itu juga yang terucap dari bibir Hadi Dirgantara sambil memeluk sang istri pertama.


Diana mengangguk dan berusaha supaya tidak pecah tangisnya. Kalau cuma menetes itu wajar, asal jangan berlebihan saja. Takutnya dikira yang bukan-bukan oleh orang banyak ....


.


Mohon dukungan nya selalu ya?

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2