Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Capek


__ADS_3

Namun sebelum lift tersebut bergerak maju, pintunya terbuka lagi dan masuklah seorang pria yang bertubuh tinggi besar dan berbulu halus di pipinya berdiri di antara mereka berdua.


Alisa masih ingat betul, kalau pria ini adalah orang yang mengaku menjadi bodyguardnya yaitu suruhan Hadi. Masih ingat kalau orang itu yang semalam merebut tas Alyssa dari penjambret.


Laki-laki itu berdiri di tengah-tengah, salat menjadi tameng ataupun halang di antara Alisa dan Burhan.


"Untungnya orang ini datang, jadi aku nggak berduaan sama Burhan. Entah kenapa aku jadi risih sama Burhan? beda dengan Zidan atau mungkin karena Burhan nggak tahu kalau aku istrinya Om Hadi? apa Zidan tidak cerita gitu ya?'' monolog Alisa dalam hati.


"Jangan menghalangi pandangan dong bang? saya dan dia itu mau ngobrol Kenapa dihalangi kayak gini?" protes Burhan pada orang tersebut, karena setiap Burhan mau bergerak bergeser. Orang itu pun selalu bergerak, seolah tidak membiarkan Burhan mendekati Alisa.


"Kalau anda mau ngobrol. Kenapa nggak di ruang terbuka? jangan di lift seperti ini. Ini tempat untuk menghubungkan dari tempat satu ke tempat lainnya." Kata orang itu dengan ada datar.


"Ya-ya ... saya tahu! tapi kan lumayan berapa patah kata selama di dalam lift." Jawabnya Burhan yang tidak mau kalah dengan orang tersebut.


Akhirnya begitu berhenti dan pintunya terbuka, mereka bertiga sama-sama keluar berbarengan. Orang tersebut pun pergi menjauhi Alyssa dan Burhan, karena di tempat itu lumayan ramai tidak sepi seperti di dalam lift.


"Boleh aku bicara sesuatu?" ucap burhan kepada Alisa Sabil berjalan.


"Em ... Emangnya mau bicara apa?" tanya Alisa sambil menoleh.


"Sesungguhnya ... saya naksir sama kamu, tetapi kata Zidan Ibu sudah bersuami! beruntung sekali suamimu, tapi kenapa dia membiarkan Ibu dibiarkan keluar kota sendiri! apa dia nggak takut ya istrinya diganggu orang? setidaknya dia mengantarmu," ungkapnya Burhan.


Alisa hentikan langkahnya sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar yang lumayan ada banyak orang yang sedang bekerja.


"Emangnya kenapa kalau nggak ada yang ngantar! kan memang wanita karier bukan cuman aku saja, banyak juga kok wanita karier yang keluar kota tanpa ditemani suaminya atau muhrimnya yang lain. Yang penting kan bisa menjaga kepercayaan dan menjaga diri nggak akan macam-macam kok!" jawabnya Lisa sambil menatap lekat ke arah Burhan.


"Tapi kalau menurut aku ya? apa salahnya gitu ditemenin, takut ada yang godain! takut kenapa-napa." tambahnya Burhan kembali.


"Iya, kalau laki-laki di sekitarnya seperti Pak Burhan sih mungkin saja ya digoda-godain atau gimana gitu. Tapi kalau laki-lakinya nggak seperti itu insya Allah aman-aman saja kok!" ucapan Lisa sambil melanjutkan langkahnya.


"Iya tapi kan setidaknya--"


"Sudah cukup, nggak usah berandai-andai kalau Zidan sudah mengatakan. Saya ini sudah punya suami. Ya sudah." Alisa menambahkan lagi.

__ADS_1


Kemudian Alisa bergabung dengan staf lain membuat Burhan berdiri jauh dari gadis tersebut.


Kini Alisa harus lebih jaga jarak dengan pria macam Burhan.


Dari gelagatnya sih, Burhan punya ambisi yang lumayan tinggi untuk mendekati Alisa, padahal sudah tahu kalau Alisa bersuami. Hanya dia belum tahu saja siapa suami Alisa sebenarnya.


"Ya Allah ... aku jadi risih. Aku jadi takut kalau dekat sama Burhan. Perasaan Zidan nggak seperti itu! padahal dia jelas-jelas naksir sama aku juga." Kemudian Alisa menggelengkan kepala, lalu dia melanjutkan pekerjaan yang menjadi tugasnya.


...----...


Di hari ke tiga, Alisa dan yang lainnya kembali ke Jakarta dan selang sehari mereka pun lanjut ke Surabaya hari-hari Alisa kini lebih disita dengan kerjaan, masih mending ketika ada Hadi biarpun harus melayani nya namun soal kerjaan tidak seluruhnya dia yang pegang.


Ini benar-benar bikin dia pusing tujuh keliling, mana di posisi masih belajar. Belum banyak mengerti tentang bisnis. Sementara dia diharuskan terjun di suatu bidang yang tentunya asing bagi seorang Alisa.


Bodyguard yang di tugaskan oleh Hadi pun tetap dengan setia memperhatikan Alisa dari kejauhan. Bila berada bahaya barulah dia memperlihatkan batang hidungnya di depan Alisa.


Kalau Zidan sih gak asing dengan sosok bodyguard tersebut. Namun Burhan di buat heran, di Bandung ada! di Surabaya pun ada. Ini kembar atau gimana pikirnya.


"Ini orang ada Mulu, apa lagi bila saya mendekati Alisa di saat berdua! dia bagai bayangan yang tidak jauh dari induknya." Batin Burhan sambil memandangi orang tersebut yang sedang menikmati minumnya di sebuah tempat.


"Kenapa dan ada spa?" selidik Zidan sambil celingukan.


"Itu, saya heran. Orang itu selalu ada di saat-saat tertentu, mulai di Bandung sampai di sini. Dia selalu ada! apa mungkin dia bodyguard nya Alisa atau suaminya ya?" Burhan mengutarakan rasa herannya.


Zidan melirik ke arah yang Burhan tujukan. "Mungkin!"


Seperti saat mereka berempat sedang jalan, dari selesai makan siang dan ada beberapa berandalan mengganggu dan hendak mencelakai Alisa. Zidan juga Burhan tidak bisa berkutik.


Dan bodyguard itu lah yang bertindak. Hingga tangan Alisa terluka. Sepertinya mereka pun bukan sekedar berandalan biasa, tetapi ada sabotase dari sesama pebisnis yang mungkin menjadi saingannya HD grup.


Alisa di bawa ke dokter untuk berobat. Dan kejadian itu pun langsung dilaporkan ke pihak yang berwajib setempat dan langsung ditindak lanjuti.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Zidan dengan nada cemas menatap ke arah Alisa yang meringis.

__ADS_1


Begitupun dengan Burhan. "Iya, Bu ... gimana?"


"Mungkin obat"Ini .ibunya"Makasih, Mbak!" balas Alisa.


Merekapun keluar dari klinik tersebut. Dan langsung ke penginapannya masing-masing.


Di sekitar pukul 21.00. Alisa sedang berada di dalam kamar hotelnya, duduk dengan memangku laptop.


"Huuh ..." Alisa menggelembung kan kedua pipi nya dan membuang nafas dari sana.


"Ya Allah ... Alisa capek! aku gak mampu terjun langsung begini. Masih mending ketika ada om Hadi, biarpun harus melayaninya istilahnya makan pun di suapi. Tapi rasanya di kantor gak seberat ini, aku gak sanggup!" air mata nya menetes sambil memandangi pergelangannya yang membiru.


Dan sudah di obati dengan resep dokter. "Aku gak sanggup begini terus. Aku capek!" gumamnya Alisa sambil menyeka air matanya yang membasahi di pipi.


"Om Hadi cepat pulang dong ... aku gak sanggup lagi bila harus terus seperti ini." Alisa jadi menyebut-nyebut nama Hadi dan memanggilnya agar segera pulang.


Alisa menutup laptop nya dan berganti memeluk guling. Kemudian dia menangis tersedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Sudah lebih dari seminggu Hadi dan keluarga di luar Negeri. Dan selama itu juga Alisa menghabiskan waktu nya di luar kota. Setiap malam Hadi pun sering telepon atau video call untuk menanyakan keberadaan Alisa.


Namun malam ini Hadi belum ada telepon ataupun chat.


"Kapan sih om Hadi pulang bersama keluarga? eeh aku kenapa sih? kan om Hadi sedang membawa berobat Tante Diana. Apakah kamu lupa itu Alisa ..." Alisa membaringkan tubuhnya dan kepalanya terasa pusing.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Ketika Alisa mau terpejam. Langsung melek kembali dengan adanya suara pintu yang di ketuk ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Siapa kah yang datang ke kamar Alisa? jangan lupa like komen dan dll nya ya, makasih reader ku semua.


__ADS_2