Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Mengagumi


__ADS_3

Alisa baru saja selesai meeting, dia berjalan menuju ruang kerjanya kembali.


Burhan menyusul Alisa dengan jalan cepat. "Alisa! tunggu?"


Kepala Alisa menoleh pada Burhan sambil mengerutkan keningnya. "Ada apa ya?"


"Nggak, cuma mau bilang ternyata kau itu lebih waw dari yang aku bayangkan. Lebih dari dugaan!" kata Burhan dengan nada pujian.


"Ahc biasa saja! jangan berlebihan, aku lebih dari biasa saja. Jangan memuji begitu," Alisa mengibaskan tangannya.


"Saya bicara sesuai kenyataan lho. pandai sekali pak Hadi memilih kamu." Burhan begitu mengagumi Alisa.


"Maaf ya. Aku mau masuk kerja lagi." Alisa segera masuk ke dalam ruangan kerjanya dan bunga yang di meja pun bertambah.


Alisa langsung mundur dan melihat ke luar ruangan nya kali saja ada orang bisa dia tanya-tanya. "Dari siapa sih?"


Tangan Alisa mengambil bunga tersebut dan sama tidak ada nama pengirimnya. Dia cium berkali-kali.


Sekitar pukul empat sore Alisa pun pulang. Dan ketika memasuki mobil.


Pak Mur berkata dari belakang kemudi. "Non, tadi bunganya di kantor."


Alisa terkejut dan mendongak. "Dari siapa?"


"Dari tuan, Non!" jawabnya pak Mur.


"Ha? kok gak ada nama pengirimnya?" sambung Alisa.


"He he he itu Bapak yang belinya, di suruh tuan." Pak Mur nyengir.


Alisa buru-baru keluar dari mobil sampai tas pun dia tinggalkan.


"Non mau kemana?" pekik pak Mur, merasa heran dengan Alisa yang bergegas turun dan setengah berlari.


"Mengambil bunga, Pak!" balasnya Alisa.


"Biar saja saya yang ambil." pak Mur kembali berteriak sambil keluar dari mobil tersebut.


Alisa berlari memasuki kantornya sampai ngos-ngosan dan membuat semua yang melihat merasa heran.


Begitupun Zidan yang berpapasan dengan Alisa. "Hei, kenapa kau lari-lari?"


Alisa yang ngos-ngosan tidak menjawab, dia terus berlari lalu mengambil bunga yang katanya dari Hadi.


"Huuh ... akhirnya, sampai juga mana bunganya?" Alisa meraih du buket bunga yang berada di meja.


Kemudian Alisa kembali keluar dari ruang tersebut sambil memeluk bunganya.

__ADS_1


Zidan yang menunggu di depan pintu lift. Menatapi Alisa yang berjalan dengan teratur memeluk dua buket bunga mawar.


"Kamu berlari karena mengambil bunga itu?" tanya Zidan sambil menatap instan.


"Hi hi hi ... iya." Alisa menunjukan senyumnya pada Zidan.


"Pasti bunga dari Hadi ya? cie lah ... dari suami!" goda Zidan sambil memasuki lift nya barengan dengan Alisa.


"Besok kita langsung ke bandara ya?" Alisa melirik ke Zidan yang terus memandanginya.


"Iya, saya akan langsung ke bandara. Semua sudah disiapkan bukan?" Zidan balik bertanya.


"Sudah, tinggal berangkat saja." Alisa mengangguk.


Pas pintu lift terbuka, Alisa dan Zidan keluar beriringan. Dan di lihat oleh Burhan yang masih berada di sana.


"Cie ... bawa bunga. Dari siapa? jangan bilang itu dari Zidan. Dan dan jangan mendahulukan saya napa? saya kan senor." Burhan melihat ke arah Alisa dan Zidan bergantian.


"Apaan? entah bunga dari siapa? saya tidak tahu." Zidan menggeleng.


"Oya, itu bunga sampai dua buket segala? dari pengagum mu ya?" selidik Burhan sambil menatap intens ke arah Alisa yang bengong.


"Maaf, aku pulang duluan ya?" Alisa membawa langkahnya meninggalkan Zidan dan Burhan.


Burhan melihat ke arah Zidan yang menggoyangkan bahunya. Kemudian Burhan menyusul Alisa. "Alisa? tinggu?"


"Padahal biar saya saja yang ambil Non, jangan ambil sendiri." Pak Mur sembari menyalakan mesin nya.


"Jalan, Pak!" suara Alisa.


Burhan yang baru sampai parkiran berdiri melihat ke arah mobil yang di tumpangi Alisa melaju dengan cepat.


Puk. Bahu Burhan di tepuk oleh Zidan yang memandangi mobil yang membawa Alisa.


"Dia istri orang!" gumamnya Zidan.


"Apa? jangan bercanda kamu! hanya gara-gara tidak mau bersaing dengan saya." Burhan tidak percaya.


"Sirius. Dia istri orang, makanya saya tidak berani deketin. Sebelum kamu juga pasti aku duluan yang seharusnya dapatkan dia, tapi dia ... sudah di sunting orang." Tambahnya Zidan.


Perkataan Zidan bikin Burhan patah hati sebelum waktunya. Rasanya tidak percaya namun tidak mungkin juga Zidan berbohong.


"Kamu seri ... us? kamu tidak bohong kan? aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku terpesona di hari yang sama, aku kagum dan salut dengan semuanya yang dia miliki." Gumamnya Burhan sambil bengong.


"Serius, dua ris malah. Eeh ... tidak kesurupan kan?" Zidan menempelkan telapak tangan di kening nya Burhan.


"Saya kesurupan setan cinta Zidan ... saya jatuh cinta!" Burhan menoleh.

__ADS_1


"Heeuh ... gak lucu! saya mau pulang!" Zidan mendekati mobilnya.


"Saya ikut, kan kita searah!" Burhan bergegas menyusul Zidan.


Alisa yang di dalam mobil terus memeluk bunganya dan sesekali ia ciumi, berasa peluk orang nya. Dan tidak terasa menetes air mata.


"Nona, kenapa nangis lagi? kangen tuan ya?" selidik pak Mur dari depan.


"Ha? nggak, aku kelilipan. Pak! gak kenapa-napa kok." Akunya Alisa sambil menunjukan senyum samar nya.


Pak Mur hanya tertawa kecil mendengar perkataan dari Alisa.


"Tapi tadi, tuan tidak bilang apa- ya soal bunga ini?" gumamnya Alisa yang di tujukan pada pak Mur.


"Mungkin tuan mau bikin surprise saja sama, Nona." Jawabnya pak Mur sambil mengulum senyumnya.


"Surprise apaan? gak lucu." Alisa membuang mukanya ke luar jendela.


Sepanjang perjalanan, tidak lagi ada perkataan yang terucap dari Alisa dan pak Mur. Alisa terus memeluk bunga nya dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Setibanya di mension. Alisa bertemu dengan Dania yang sama-sama pulang dari bekerja.


"Sebaiknya kau minta cerai sama Hadi. Karena kamu itu hanya duri dalam rumah tangga dia dan kakak ku!" jelas Dania yang di tujukan pada Alisa yang sedang berjalan.


Jalan Alisa berhenti lalu menoleh pada Diana. "Itu kan maunya Tante. Om Hadi nggak tuh, kalau dia mau silakan aja cerai aku. Aku gak takut kok."


"Saya itu adik dari Diana. Dia sakit dan drop karena adanya kamu. Sadar gak ha? harus kau tahu ya? sebelumnya Diana tidak pernah separah sekarang," Dania mengeratkan giginya.


"Saya tidak akan pernah menikah dengan om Hadi, bila bukan permintaan dari Tante Diana. Lalu sakarang Tante Diana drop! karena takdirnya dan aku berdoa semoga dia sehat, gak seperti Tante yang malah mendoakan yang tidak-tidak." Tegas Alisa sambil berjalan menenteng berkas, bunga dan tas.


Dania semakin tersulut emosi. Dia meraih gelas yang berisi air dan dengan spontan Dania siramkan ke arah Alisa yang sedang berjalan meninggalkannya itu.


Alisa sontak menjauhkan berkas dan bunga dari dirinya, karena air yang membasahi kepala turun ke bawah.


Kemudian Alisa membalikan badannya memandangi ke arah Dania yang menatap puas.


"Tante!" dengan suara geram dan manik mata Alisa pun melotot dengan sangat sempurna pada wanita yang jauh usia darinya itu.


"Hem, mau apa? mau balas! coba? saya tidak takut." Tantang Dania.


"Ya Allah ... beri aku kesabaran dalam menghadapinya." Batin Alisa dengan posisi yang sama.


"Non? Nyonya!" Mbak dan beberapa asisten lainnya tampak cemas. Takut terjadi kegaduhan yang lebih-lebih ....


...🌼---🌼...


Akan kah Alisa membalas perlakuan dari Dania?

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya. Makasih ...


__ADS_2