Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Kedai


__ADS_3

Alisa bergegas beranjak dari duduknya. "Itu pasti pak mur yang mengantar sarapan buat kita."


Langkah Alisa berhenti di depan pintu dan sebelumya membuka tirai jendela. Blak ...


"Pak, makasih ya?" Alisa menatap ke arah pak mur yang langsung menyerahkan kantong bubur ayam pada Alisa.


Kemudian pak Mur pun pergi kembali setelah Alisa mengambil pesanannya.


"Kita sarapan dulu ya? sebelum pergi ke sana. Bagaimana pun kira butuh tenaga." Alisa duduk menyimpan bubur ayam di meja, lalu membukanya.


Hadi hanya melirik ke arah bubur tersebut. Tanpa bicara ataupun mengambil buburnya, sementara Alisa langsung menyantap sarapan nya dengan lahap.


Alisa menoleh pada sang suami yang malah melamun. "Yank ... sarapan dulu?"


"Aku gak lapar!" jawabnya Hadi dengan malasnya.


Alisa menarik nafasnya dengan berat, kini harus dia juga yang angka tangan dan mengambil bubur milik Hadi lalu menyuapi nya.


"Kita mau ke tempat pria itu kan? tentunya kita butuh tenaga untuk itu. Tau gak?"


"Nggak!" jawab Hadi sambil membuka mulutnya.


"Hi hi hi ... Abang ini jelek banget kalau lagi monyong begitu. Jelek!" sambungnya Alisa sambil terkekeh.


Akhirnya Hadi mengulum senyumnya dan menjepit hidung Alisa dengan gemas. "Tapi sayang kan biar suami jelek begini?"


"Nggak, malas aku melihat nya. mendingan aku lihat Upin dan Ipin daripada melihat kamu yang jelek, dari tadi cemberut terus." Alisa menggeleng sambil senyum-senyum.


"Awas ya? nanti malam ku lahap habis kamu!" Hadi mencubit pipi sang istri kecilnya itu.


Selesai sarapan, Hadi dan Alisa bergegas ke kedainya Rahman untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.


"Nggak lama kan di sana?" tanya Alisa sambil berjalan menggandeng tangan Hadi yang di masukan ke dalam saku celananya.


"Iya, ngapain lama-lama? kita harus segera balik ke kantor sayang." Hadi membukakan pintu buat Alisa.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dan pak Mur di minta mengantarkan mereka ke jalan xx yaitu ke kadai milik Rahman.


"Apa kau sering ke sana?" tanya Hadi sambil celingukan.


"Nggak juga, terakhir aku bekerja di sana beberapa hari saja." Akunya Alisa.

__ADS_1


Hadi menegakkan duduknya dan berhadapan dengan Alisa. "Sayang masih sayang ya sama dia?"


"Kenapa bertanya seperti itu?" Alisa mengerutkan keningnya.


"Nggak, cuma tanya saja, masih sayang kah sama dia?" ulang Hadi kembali.


Alisa terdiam sejenak. Dengan sorot mata yang lebih lembut ke arah Hadi. "Emangnya ... kamu masih seperti itu?"


"Aku tidak mau menduga-duga, aku cuma butuh jawaban iya atau tidak!" jelasnya Hadi sambil menatap tajam ke arah Alisa.


"Dia itu cuma masa lalu aku, dan aku sudah melupakannya!" seraya tidak sedikitpun beranjak dari tatapannya ke arah Hadi yang tampak serius itu.


"Terus sekarang siapa yang ada di hatimu?" tanya Hadi kembali.


Alisa membisu, dalam hati berkata. "Masa sih harus aku omongin di sini? mana ada pak Mur, lagi. Kan malu, lagian ... masa sih nggak ngerti kalau orang sudah sayang sama dia!"


Hadi meremas jari jemari Alisa. "Kenapa nggak jawab? aku cuman pengen tahu saja, apa istriku masih mencintai mantannya? mantan yang sudah merenggut kesucian anak sambungnya!"


"Em ... boleh nggak aku pengen beli ... jajanan yang itu? tuh di depan," Alisa mencoba mengalihkan perbincangannya. dengan menunjuk sebuah jajanan yang ada di depan.


Jajanan cibay. Aci Barabai yang tampak pedas.


Hadi menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah yang Lisa tunjukan. "Boleh beli saja!"


"Apakah ini kedainya." Tanya Hadi kepada Alisa.


"Kalau nggak salah sih ... iya. Kalau bukan di sini sih, ngapain Aku ajak kamu ke sini!" jawabnya Alisa sembari menikmati jajanannya.


Lalu keduanya turun dari mobil tersebut sembari pandangan Hadi mengedar ke dalam kedai itu.


"Tunggu di sini ya pak?" pintanya Hadi kepada sopir.


Hadi membawa langkah lebarnya ke dalam kedai, yang katanya kedai milik Rahman. Yang tampak sudah mulai ramai dengan pembeli.


Setelah berada dekat pintu utama, Hadi hentikan langkahnya untuk menunggu Alisa yang masih di belakang, kemudian menggandeng tangannya memasuki area tersebut.


"Selamat siang ... apa mau pesan sesuatu?" tanya pelayan di sana yang mungkin dia juga lupa kepada Alisa.


"Ooh ... tidak, saya cuman ingin bertemu dengan Pak Rahman! ada kan di dalam orangnya?" balasnya Alisa sembari bertanya dan mengarahkan sorot matanya ke arah ruangan Rahman.


"Pak Rahman ... iya ada di dalam, mau saya panggilkan?" tanya orang tersebut sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


"Tidak usah, terima kasih ... biar kami yang ke sana! sekali lagi Makasih ya?" Alisa mengangguk sembari tersenyum ramah.


Keduanya berjalan ke ruangan Rahman yang masih Alisa ingat letaknya dimana.


"Ingat betul letaknya di mana ya?" ucapannya Hadi sedikit sinis.


Alisa hentikan langkahnya, setelah berada di depan pintu ruangan Rahman. Dia menoleh pada suaminya yang berada di samping. "Sebenarnya mau ku antar apa nggak? aku balik saja!"


"Iya sayang, iya ... jangan ngambek ach." Hadi mengalihkan tangannya ke pinggangnya Alisa.


Kini giliran Hadi yang mengetuk pintu ruangan Rahman, dan setelah terdengar suara orang yang menyuruhnya masuk. Barulah mereka berdua masuk ke dalam ruangan tersebut.


Betapa kagetnya Rahman, melihat keberadaan Alisa dan Hadi di sana mendatanginya.


Degh.


Dalam pikiran Rahman sudah menduga-duga! kalau kedatangan Mereka berdua adalah yang menyangkut tentang Liana dan dirinya.


"Ka-kalian ada apa ke sini? Ada perlu apa?" tanya Rahman yang tampak sedikit panik.


Hadi mendekat ke arah Rahman dan dengan cepat kilat. Hadi melayangkan tangannya.


Dughhhhhh.


Hadi melepaskan bogem mentahnya. Tepat di batang hidung Rahman yang sontak mengeluarkan darah dari lubang hidungnya tersebut.


Alisa kaget dan langsung menarik tangan Hadi yang tidak bergerak sedikit pun. "Yank, tenang! bicarakan dulu baik-baik."


"Dasar keparat kamu, bajingan! sudah mengambil kesucian anak orang dan yang enak-enakan tidak mau bertanggung jawab," suara Hadi kepada Rahman yang meringis kesakitan dan langsung mengusap darah dari hidungnya itu.


"Apa maksudmu datang-datang menyerang ku! Kalau kau ingin saya bertanggung jawab! ngomong baik-baik, bukan langsung menghajar. Sebab itu bukan kesalahan saya sendiri, tapi juga kesalahan putrimu yang murahan!" ucap Rahman yang jelas tidak menerima dengan serangan dari Hadi.


Dan Hadi yang mendengar perkataan dari Rahman, mengatakan kalau putrinya yang murahan, semakin dibuat marah dan dia hampir saja kembali menyerang Rahman.


Namun Alisa langsung pasang badan agar Alisa tidak lagi menyerang Rahman, karena dia takut justru nantinya Hadi yang akan kena pasal.


"Yank-yank, tolong! jaga emosi mu." Pinta Alisa sambil memeluk tubuh pria itu.


Mendengar permintaan dari Alisa yang juga memeluk tubuhnya. Membuat hati Hadi merasa luluh dan berusaha mengontrol emosinya sendiri.


"Kurang ajar kamu ya? sudah bilang kalau putri ku murahan. Apa bedanya dengan mu ha? kucing garong?" suara Hadi menggebu-gebu, namun tidak lagi dengan bahasa tangan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Masih bersambung ya.


__ADS_2