Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Singa tidur


__ADS_3

Di tempat tidur yang luas dengan ukuran king size. Terdapat dua insan yang tidak ada hentinya mengumbar kemesraan, saling menyayangi dan perhatian mereka tunjukan.


Hadi tengah berbaring sambil memeluk sang istri kecilnya yang dengan perut yang bulat. Tangan Hadi membelai rambut sang istri yang menempel di dada nya.


"Yank?" gumamnya Alisa sambil mengusap dada bidang Hadi yang berbulu halus.


"Hem ... ada apa sayang? kenapa apa perutnya keram lagi!" jawabnya Hadi dengan tutur yang lembut.


"Nggak, cuman manggil aja! pengen tahu udah tidur apa belum," sambungnya Alisa sembari mendongak melihat wajah sang suami, yang tampak ngantuk terlihat dari kedipan matanya yang tinggal berapa watt.


"Tidur sih belum ... tapi ngantuk iya, capek! apalagi kalau makhluk astral nya sudah dimanjakan sama istriku ini, bawaannya ngantuk dan pengen istirahat." Jawabnya kembali dengan nada yang ngantuk.


"Aish ... maunya dimanja terus sih, gak kasihan apa pada istrinya yang sedang hamil besar begini? pengen aja dimanjain. Kali-kali puasa kek, masa nggak kuat," ungkap Alisa sembari menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang indah.


"Kalau soal itu nggak bisa di tahan sayang ... nggak bisa ditahan! kalau nanti sudah lahiran, baru puasa, kalau puasa dari sekarang sih ... aduh nggak kuat! bisa-bisa mati berdiri he he he ..." Hadi terkekeh sendiri.


Begitupun Alisa senyumannya terus mengembang. "Tapi dulu kan bisa bertahun-tahun, malah sekarang paling dimintanya satu atau dua bulan saja. Tidak sampai bertahun-tahun kok," sambungnya Alisa sembari menggerakan jemarinya di dada itu menari-nari.


"Sayang ... jangan samakan dengan yang dulu dong! kan kondisinya juga berbeda, emang sayang tega melihat aku tersiksa hem?" cuph! kecupan mesra mendarat di kening sang istri.


"Bukan tega sih, tapi suka aja ngeliatin nya lucu banget. Kayak anak-anak yang minta jajan gak di kasih, he he he ... kalau sedang ada maunya itu, Terus-menerus aja merajuk." Alisa mengangkat wajahnya melihat wajah sang suami di bawah sinar yang temaram, bibirnya tersenyum lebar.


"Makanya dari itu sayang, aku nggak kuat! jangankan dari luar kota dari luar Negeri aja aku mampu kok segera pulang hanya untuk meminta itu sama kamu!" Hadi mengulum senyumnya.


Hening ....


Alisa mengingat masa-masa silam yang ketika Hadi di luar Negeri dia berusaha pulang. Dan mungkin iya, karena hanya kangen itu.


"Tapi nanti harus tahan ya? masa tega dan gak sayang sama istrinya!" pintanya Alisa.


Dalam beberapa saat, tak ada terdengar lagi suara Hadi atau merespon perkataan dari Alisa.


"Yank ... sudah bobo kah?" panggil Alisa tanpa mendongak.


"Hem ..." suaranya tampak berat dan rupanya Hadi sudah terpejam, tidur.


Alisa mengerutkan keningnya lalu mengangkatkan wajah melihat ke arah Hadi yang ternyata dia sudah tidur. Alisa tersenyum lalu menggerakan jarinya untuk mengusap rahang nya Hadi dan menusukan nya perlahan.


Dengan cepat tangan Hadi menangkap tangan Alisa, seraya berkata tanpa membuka matanya. "Aku ngantuk sayang ... bobo yo? sudah malam."

__ADS_1


Senyum Alisa semakin mengembang, lalu dia menarik tangannya turun ke dada lanjut ke perut dan mengusap lembut di sana dengan cara memutar.


Perlahan tapi pasti, tangan Alisa merayap mengelus singa yang lagi tidur. Sehingga langsung terbangun dan mencari yang mengganggu tidurnya.


Begitupun dengan Hadi, dia pun terbangun dan tangannya langsung menangkap tangan Alisa seraya berkata kembali. "Kok di bangunin sih sayang ... harus tanggung jawab nih!"


Alisa cekikikan merasa lucu dan dia menutup tubuhnya dengan selimut rapat-rapat. "Hi hi hi ... aku gak mau, capek. Nggak mau!"


"Nggak bisa! pokonya sayang harus tanggung jawab, karena sudah bangunkan singa yang sedang tidur. Sayang mesti tanggung jawab," Hadi menarik selimut Alisa yang menutup semua tubuhnya.


"Hi hi hi ... nggak mau. Aku ngantuk, Yank ..." Alisa kekeh tidak mau keluar dari persembunyian nya.


"Nggak mau, pokonya sayang harus tanggung jawab, kalau nggak! nanti aku gak bisa tidur sayang ..." bujuk Hadi sambil menarik selimut Alisa.


"Nggak mau ... besok aja ya? aku ngantuk mau tidur! lagian malam ini kan sudah he he he ..." alasan Alisa masuk akal. Emang baru beberapa waktu lalu mereka melakukannya.


"Iya, salah siapa coba, bangunin singa yang sedang tidur? orang lagi tidur di bangunin, setelah bangun gak mau tanggung jawab. Gimana sih?" gerutu Hadi sambil terus menarik selimut bagian kepala Alisa yang akhirnya terbuka juga.


Dan Hadi langsung menyerangnya dengan kecupan di area wajah sang istri, sehingga dia mendapatkan bibirnya dengan durasi yang lama.


Namun setelah itu Hadi memberikan kembali tubuhnya di samping sang istri, rasanya Dia tidak tega jika harus melakukan ritual ranjang kembali. Setelah berapa jam yang lalu mereka lakukan.


Hening ....


"Ya sudah, bobo sayang!" Hadi kembali memeluk bahu sang istri diajaknya untuk tidur.


Alisa merasa bersalah terhadap suaminya. Lalu dia berkata dengan nada lembut. "Maafkan aku, Yank ... sudah bangunin kamu?"


"Nggak pa-pa sayang, yo! kita tidur Aku mencintaimu!" cuph kecupan hangat mendarat kembali di kening sang istri dengan singkat.


Berapa saat kemudian mereka pun sudah tampak tertidur dengan pulas. Meskipun Hadi harus menahan hasratnya sehingga menimbulkan rasa ngilu karena tegang.


Keesokan harinya Hadi sudah rapi dengan pakaian formalnya, dan Alisa sedang memasukkan dasi di lehernya.


"Nanti pulang cepat kan?" gumamnya Alisa sembari merapikan kemejanya Hadi setelah memasang dasi.


"Iya sayang, nanti pulang cepat! kalau ada apa-apa langsung saja telepon ya?" balasnya Hadi dengan tangan mengelus perutnya Lisa yang sudah tampak monyong sekali.


Lalu Hadi berlutut di hadapan Alisa tepatnya di depan perut yang monyong sembari menempelkan bibirnya di sana lalu berkata.

__ADS_1


"Sayang, calon baby Papa! jangan bikin mommy nya kerepotan ya? kalau kalian mau keluar secepatnya ... keluarlah dengan lancar dan yang dan mudah. Jangan sampai mommy nya kesakitan. Papa nggak akan tega melihatnya, oke?" ucapnya Hadi sembari melihat ke arah wajah Alisa yang tampak tersenyum kepadanya.


"Aamiin, Papa ... semoga lahiran kedua anak kita dimudahkan sama Allah, dilancarkan. Tidak ada drama apapun! tapi kadang aku merasa takut," wajah Alisa berubah cemas.


Hadi langsung berdiri lalu memeluk sang istri. "Tidak perlu takut atau cemas sayang! serahkan saja pada yang kuasa dan aku pun akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan juga anak kita!" Hadi menempelkan bibirnya di pucuk kepala Alisa.


Alisa membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, hanya dengan pelukan suaminya yang membuat dia merasa tenang dan nyaman.


"Ach." desis Alisa sambil memudarkan pelukannya lalu mengusap perut yang bergerak-gerak, pertanda kaki si calon baby menendang-nendang perut sang Ibunda.


Hadi pun menempelkan kedua tangannya di perut sang istri dan merasakan tendangan kedua calon baby nya yang begitu aktif.


Kemudian bibir Hadi tersenyum bahagia, begitupun dengan Alisa. Mereka tampak bahagia menikmati dan merasakan pergerakan dari kedua calon bayi kembarnya tersebut.


Hari ini memang sudah dimulai persiapan untuk pernikahannya Liana yang akan digelar di area mansion, dan pihak WO pun sudah berdatangan dengan semua barang-barang yang akan di gunakan.


Seperti besi, tenda. Kursi, bunga-bunga. Kain tenda dan kain hiasan juga lain-lainnya. Membuat mension menjadi banyak orang yang hilir mudik, terutama dari pihak wedding organizer.


"Ech mama muda, hati-hati jalannya nanti jatuh lho." Suara Liana ketika melihat Alisa datang dan memasuki kamarnya.


"Kamu sedang apa tidak ada acara keluar?" tanya Alisa sembari mendudukan dirinya di tepi tempat tidur Liana.


"Nggak ada! lagian mau ngapain sih? aku nggak boleh keluar sama Oma, pamali," sahutnya Liana sambil menyimpan buku nya di meja.


"Cieeehhc ... yang lagi dipingit tidak boleh kemana-mana! lagi perawatan apa?" Alisa menatap meneliti Liana yang memang sedang maskeran dan juga luluran.


"Iya dong ... biar tampak cantik, jangan kalah dong sama mama muda ku ini yang selalu tampak cantik! biarpun nggak dirawat. Wajar sih kalau bokap aku jatuh cinta bahkan tergila-gila hi hi hi ..." Liana nyengir.


"Alhamdulillah ... tapi baru dengar deh gue di puji sama lu! biasanya juga paling nge-bully ha ha ha ..." Alisa tertawa lepas.


"Enak saja, fitnah itu ... kapan gue ngebully lu? nggak ada!" Liana menggelengkan kepalanya, lalu menyentuh perutnya Alisa. "Kapan ini anak gue akan keluar dari persembunyian nya!"


"Doain aja secepatnya, bila perlu selesai kamu menikah! gue lahiran. Tapi masih lama, masih beberapa minggu lagi kok!" Alisa mengusap-usap perutnya.


Mereka pun lanjut mengobrol apalagi di tambah dengan kedatangan Omanya dan juga istri dari kakaknya Hadi, yaitu tantenya Liana ....


...🌼---🌼...


Terima kasih ya masih mengikuti kisah ini dan tetap aku ingatkan jangan lupa like comment dan dukungan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2