
Ling duduk di depan komputernya. Ia kembali mengakses situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Kali ini ia memasuki forum pasar gelap di sana. Itu adalah forum khusus untuk memperjualbelikan barang terlarang. Di sana juga bisa menjual berbagai informasi.
Namun memasuki forum itu memiliki resiko. Setiap orang bisa melacak keberadaan pemilik akun jika dia mengetik satu kata dalam forum. Ling mengesampingkan resiko ini untuk membantu Tuan Tua Zhuo.
Raja : [Informasi tentang satu penyakit langka. Imbalan satu akar tanaman obat berumur seratus tahun. Kau bisa mengambilnya dari penembak jitu.]
Dokter : [Tentu. Kau bisa mengirim informasi penyakit itu secara pribadi.]
Setelah membaca pesan itu, Ling segera menjelaskan tentang penyakit Tuan Tua Zhuo dan Liam. Kemudian ia langsung keluar dari akunnya agar tak ada yang bisa melacaknya. Ling tidak tahu saat itu forum semakin ramai.
Ahli Bom : [Hey, apakah dia tidak takut jika Peretas melacaknya? Berani sekali dia memakai akun Raja.]
Dokter : [Yang aku butuhkan hanya akar itu.]
Penembak Jitu : [Dengan senang hati aku mengantarnya.]
Peretas : [Tidak ada yang berani memakai akun Raja selain Raja.]
Setiap orang di dalam forum tak boleh menyebutkan nama. Hanya boleh menyebutkan pekerjaan. Meski begitu, mereka saling mengenal nama satu sama lain. Dan di dalam forum itu memang hanya ada satu pekerjaan untuk setiap orang. Karena orang-orang di sana adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Ling mengambil ponselnya dan menghubungi Yuan Ming.
"Halo, Tuan Muda Chen," Yuan Ming menjawab telepon.
"Apakah Anda sudah mengecek pulau yang kita beli?" tanya Ling. Ia menanyakan pulau yang mereka dapat saat lelang.
"Belum, Tuan Muda. Apakah Anda ingin mengeceknya sendiri?" tanya Yuan Ming.
"Kalau begitu aku akan mengeceknya sendiri," jawab Ling. Ia memutuskan panggilan sepihak.
Pulau itu cukup luas. Ia berencana akan membangun pelatihan dan akademi ramuan. Menurut info yang didapat, pulau itu banyak bahan ramuan sehingga mereka akan sangat diuntungkan.
__ADS_1
Ling ingin mempersiapkan pulau baru untuk anggota Organisasi Tempur. Selain itu, pulau itu bisa dijadikan tempat latihan anggota baru.
Kemudian Ling akan membuka akademi ramuan dengan dia sebagai guru. Namun sepertinya ia membutuhkan guru baru karena dia cukup sibuk.
Dalam lelang, mereka hanya berhasil mendapat satu pulau karena wilayah lainnya dibeli oleh Lu Company.
Wilayah-wilayah yang didapat Lu Company pun sudah disita. Mereka juga sudah di blacklist dan tak dapat bekerjasama dengan perusahaan manapun di Kota Bayangan. Walaupun hanya berlaku untuk Kota Bayangan, tapi perusahaan mana yang mau bekerjasama dengan perusahaan yang berseteru dengan Kota Bayangan.
Yang membuat peringkat mereka naik adalah ramuan memori.
Ling berjalan ke perpustakaan mininya. Ia mengambil buku kuno ditumpukkan buku lainnya. Buku di rak semakin banyak. Chen Qi benar-benar mengisi sampai penuh.
Setelah menemukan buku itu, ia membawanya ke meja belajar. Ia membuka satu persatu halaman. Padahal Ling sudah menguasai bahasa kuno, tapi dia tetap tak bisa membaca tulisan di buku ini. Sepertinya tulisan ini lebih kuno dari yang pernah ia pelajari.
Ia mengambil satu robekan kertas. Ia mengira kertas miliknya adalah bagian paling kiri atas kertas. Ia mencoba menyatukan dengan kertas dari Tuan Tua Zhuo. Namun ia belum bisa melihat apapun. Gambar yang ada di sana tak bersatu. Kini Ling berpikir bahwa kertas itu bukan terbagi menjadi empat, melainkan enam.
Sepertinya kertas itu memang sangat penting, sampai Kota Bayangan takut jika seseorang memiliki lembaran yang utuh.
Ia kembali memikirkan siapa sebenarnya Zhuo Xia. Mengapa ia sampai melakukan semua ini? Dan mengapa ia bisa sangat berkuasa di Kota Bayangan.
Padahal dalam ingatan Ling, ia tak pernah tahu apa kekuasaan Keluarga Zhuo.
*
"Nona Zhuo, apakah kita perlu bergerak lagi?" tanya Yu Bin. Mereka sedang berada di vila pribadi Zhuo Xia saat ini.
Beberapa hari ini, Zhuo Xia sama sekali tidak tidur. Wajahnya terlihat sangat lelah. Kantung matanya sedikit terlihat. Meski begitu, aura kebangsawanannya tak menghilang. Ia masih fokus mengetik di komputernya.
"Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu," ucap Zhuo Xia. Ia mengirim pesan yang telah diketiknya.
Setelah mendapat dokumen yang dicuri oleh Zhao Ran, mereka bisa sedikit demi sedikit membersihkan anggota organisasi Pegasus. Organisasi ini sangat kuat karena banyak orang besar yang bergabung. Namun, mereka datang ke Kota Urban. Saat ini Zhuo Xia belum tahu apa tujuan mereka sebenarnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, seorang ketua pelayan mengetuk ruangan Zhuo Xia. Sudah berhari-hari ia melakukan ini, tapi Zhuo Xia tak membukakan pintu untuknya. Sepertinya dia harus menggunakan jurus terakhir.
"Nona, Tuan dan Nyonya melakukan panggilan video. Mereka sudah menunggu Anda sejak pagi," ucap ketua pelayan itu.
Pintu terbuka. Ketua pelayan itu segera membungkuk hormat. Kemudian, Zhuo Xia berjalan melewatinya tanpa meliriknya.
"Ada apa Ayah, Ibu?" tanya Zhuo Xia setelah duduk di depan komputer.
"Xia, Ibu merindukanmu. Kapan kau kembali? Mengapa wajahmu begitu pucat dan kusam? Apa kau tidak pernah perawatan di sana? Bagaimana tugas ketua pelayan itu? Apa dia tak merawatmu dengan baik?" ucap ibu Zhuo Xia, Nyonya Zhuo.
"Ibu aku banyak pekerjaan di sini. Aku belum tahu kapan akan kembali," ucap Zhuo Xia memijat pelipisnya.
"Xia, kami hanya bisa menahan sebentar lagi. Jangan terlalu melawan Kota Bayangan," ucap ayah Zhuo Xia, Tuan Zhuo.
"Aku melakukan hal yang benar," jawab Zhuo Xia. Ia sudah duduk tegak sekarang. Ekspresinya menjadi serius.
"Walau begitu, orang di Kota Bayangan tidak terlalu suka," jawab Tuan Zhuo lagi.
"Tidak apa. Biarkan saja mereka. Selama aku berada di jalan yang benar, selama aku tidak melewati batas, aku akan tetap seperti ini," jawab Zhuo Xia tegas.
Tuan dan Nyonya Zhuo hanya bisa menghela napas. Kini Nyonya Zhuo kembali berbicara.
"Xia, masalah perjodohanmu dengan Tuan Muda Bo harus segera dibicarakan. Jadi Keluarga Bo mengirimnya ke Kota Urban untuk lebih dekat denganmu," ucap Nyonya Zhuo. Sebenarnya inilah inti pembicaraan yang akan mereka sampaikan.
Tatapan Zhuo Xia menjadi dingin. Ia berkata dengan datar, "Aku sudah bertunangan. Aku sudah bilang, aku tidak mau dijodohkan. Ayah dan Ibu paling mengerti aku. Kalian pasti sudah tahu apa jawabanku."
"Xia, dia sudah pergi beberapa bulan lalu. Tidak ada salahnya mencoba dengan orang baru," ucap Tuan Zhuo. Sebenarnya, mereka sebagai orangtua juga tak ingin menjodohkan anak mereka. Mereka ingin Zhuo Xia bahagia dengan pilihannya. Mereka membicarakan ini hanya untuk laporan ke kakek Zhuo Xia.
"Aku akan menunggunya kembali. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku akan mematikan panggilan. Aku masih banyak pekerjaan," ucap Zhuo Xia dingin. Dia mematikan panggilan video.
Zhuo Xia duduk bersandar. Dia memejamkan mata. Ekspresinya terlihat sedih dan kesepian. Dia mengelus kalung dengan liontin sepasang cincin di lehernya.
__ADS_1