
Ruangan hening untuk waktu yang lama. Setiap orang menatap ngeri ke arah Ling. Orang yang sejak tadi mereka rendahkan dan hina malah mendapat peringkat pertama. Jika benar begitu, bukankah berarti dia memecahkan rekor sejarah?
"Baik, jika Kakak Pertama begitu hebat, maka ikuti syarat upacara besok," ucap Bo Hongyun menahan amarahnya.
Juga menahan malu.
"Pasti Kakak Pertama tak bisa mengalahkan Kakak Shin. Dia paling hebat di Keluarga Bo," ucap Bo Hongyun yang masih tetap saja menghina Ling.
Tidak lama setelah Bo Hongyun bicara seperti itu, seorang wanita cantik memasuki aula. Ia memakai rok dan jaket tebal. Di tangannya memegang koper yang sangat besar.
Itu adalah Bo Shin. Dia baru saja pulang dari luar negeri karena urusan pendidikan. Ia juga berkuliah di Universitas Internasional Kota Bayangan. Kecerdasannya membuatnya sering bolak-balik luar negeri untuk melakukan penelitian atau sekedar perjalanan pelajar.
Bo Shin melihat ke arah Bo Minghao. Di sebelahnya ada seorang pria yang memiliki wajah rupawan. Ia berdiri dengan santai dan bersikap malas. Terlihat semua orang di aula ini bersikap hormat padanya, tapi pria itu terlihat tak peduli.
"Nona Shin," ucap pimpinan tetua menunduk hormat. Para tetua lainnya juga ikut menunduk.
"Iya," jawab Bo Shin ramah. Ia berjalan mendekati Ling. Ia meninggalkan kopernya pada pelayan yang sudah menghampirinya.
Tanpa berpikir panjang, Bo Shin tahu dia adalah putra Bo Minghao.
"Salam, Kakak Pertama," ucap Bo Shin menunduk pada Ling. Ia masih memiliki sopan santun tak seperti murid lainnya. Padahal ia yang terkenal paling cerdas.
Ling menatapnya datar. Ia hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Apa benar Kakak Pertama akan mengikuti syarat upacara?" tanya Bo Shin. Ia sama sekali tak tersinggung dengan sifat cuek Ling.
"Benar," jawab Ling lagi. Kali ini ia berdiri tegak dan menatap lekat ke arah Bo Shin. Ia juga melihat pita putih berayun bebas di pergelangan tangan Bo Shin. Ia mendalami ingatannya.
Kemudian ia tersenyum tipis.
"Apa Kakak sudah tahu apa saja persyaratan itu?" tanya Bo Shin lagi. Yang lain hanya diam sambil menyaksikan interaksi mereka.
__ADS_1
"Aku belum tahu, tapi sebentar lagi aku akan tahu," jawab Ling seadanya. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.
Bo Shin tersenyum. Ling orang yang tidak suka diajak basa-basi. Namun melihat hal ini, ia teringat seseorang. Senyumnya semakin dalam. Ia kembali menatap Ling.
"Nona Shin, jangan mempedulikan dia. Dia akan tahu sendiri besok," ucap wakil pimpinan tetua.
"Benar Kakak Shin. Kakak Pertama mendapat peringkat satu dalam misi ruangan rahasia. Pasti dia sangat jenius," ucap Bo Hongyun seperti memuji. Padahal ia menghina Ling.
"Nona Shin, lebih baik kau istirahat lebih dulu," ucap pimpinan tetua. Ia tersenyum hangat pada Bo Shin.
"Paman, tolong berikan dokumen yang telah aku siapkan pada Kakak Pertama," ucap Bo Shin mengabaikan ucapan-ucapan mereka. Ia dengan tulus membantu Ling.
Ling hanya melirik dokumen itu. Ia menerimanya sambil tersenyum. Ia berkata, "Jangan khawatir. Untuk masuk ke dalam keluarga ini adalah hal yang kecil."
Bo Shin tertegun. Kharisma Ling menghentikannya. Saat mata mereka bertemu, Bo Shin benar-benar tersihir.
"Aku akan kembali jika tidak ada urusan lagi," ucap Ling. Ia tetap memegang dokumen itu dan berjalan menjauhi aula. Ia menunduk ke arah Chen Lin sebagai tanda dia baik-baik saja.
"Nona Shin," tegur pimpinan tetua.
"Ah ... ya ...," jawab Bo Shin segera tersadar.
"Baik, aku juga akan istirahat," ucap Bo Shin lagi sebelum semua menyadari bahwa ia sangat gugup.
*
Ling berada di rumah Keluarga Chen. Ia duduk di meja makan untuk makan malam. Saat ini hanya Chen Qi yang menemaninya. Juga ada Chester yang sejak ia pulang ia sudah menunggu di depan pintu.
"Apa Ibumu baik-baik saja di sana?" tanya Chen Qi. Sangat terlihat dari raut wajahnya bahwa ia sangat khawatir. Bagaimana tidak, ia sangat terkejut saat melihat reaksi Keluarga Bo yang tak menerima Ling.
"Siapa yang berani menyakiti Ibu jika masih ada aku?" Ling balik bertanya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu. Biarkan Lin di dalam Keluarga Bo. Aku akan mengurus Keluarga Chen dan Chen Company," ucap Chen Qi sambil menghela napas pelan. Wajahnya terlihat sangat lelah. Memang beberapa hari ini dia sangat sibuk.
"Kakek, minumlah ini lebih dulu," ucap Ling memberikan sebotol ramuan.
"Baiklah," jawab Chen Qi yang langsung meminum itu. Ia tak ingin menanyakan darimana Ling mendapatkan itu.
"Aku akan kembali ke kamar Kakek," ucap Ling berjalan meninggalkan ruang makan. Ia membawa Chester di pelukannya.
Saat sampai di kamar, ia membuka dokumen dari Bo Shin. Dokumen itu berisi informasi lengkap tentang Keluarga Bo. Mulai dari sejarah berdirinya sampai sekarang.
Sedangkan Chester duduk di atas meja.
"Kau ingin bermain? Aku sibuk," ucap Ling pada Chester. Seolah Chester mengerti ucapan Ling, ia turun dengan wajah lesu.
Ling kembali membaca dokumen itu. Ia membolak-balikkan halaman dengan cepat karena ia juga membaca cepat. Saat sampai di halaman tengah, ia mulai melambat. Ia mencerna dengan lebih baik.
Di suatu ruangan yang ada di kediaman Keluarga Bo, ada satu harta yang hanya bisa dimiliki oleh keturunan murni. Menurut isi dokumen, harta itu adalah sebuah peta yang bisa menuju ke sebuah harta karun.
Mungkin Bo Shin memberitahukan hal ini karena menurutnya Ling adalah keturunan murni.
Kemudian Ling membalikkan halaman lagi. Ia membaca tentang syarat upacara besok. Syarat pertama adalah tes darah murni. Syarat kedua adalah tes kecerdasan. Sedangkan syarat ketiga adalah tes kekuatan.
Pantas saja Bo Hongyun begitu sombong. Ternyata tes-tes ini memang ditujukan untuk orang berbakat.
Ling tak terlalu mengambil pusing masalah ini. Pertarungan kecil seperti ini tak dapat mempengaruhi semua ambisinya.
Tak lama, ponselnya berbunyi. Itu adalah pesan dari A Shui.
[Bo Shin baru saja pulang dari negara kultivator. Ia sudah mencapai tingkat ke tujuh saat ini. Selain itu ia juga selalu menyelidiki barang yang disebut sebagai harta karun dari Keluarga Bo. Ia berhasil mengetahui apa benda itu. Itu adalah sebuah peta. Lebih tepatnya sebuah potongan kertas.]
Ling mengambil buku kunonya. Ia mengambil dua potongan kertas coklat kusam yang selalu ia simpan. Kemudian ia mengepalkan tangan. Kali ini ia harus bisa mengambil kertas yang ada di Keluarga Bo.
__ADS_1
"Sepertinya ramuan darah dibutuhkan saat ini," ucap Ling menuju rak ramuan yang ada di kamar.