
Pagi hari.
Setelah selesai sarapan, mereka berkumpul di depan gerbang Kediaman Chen untuk menunggu Zhuo Xia dan Yu Bin. Chen Qi dan Chen Lin hanya mengantar kepergian mereka sampai di depan rumah saja, karena ada urusan mendesak di Chen Company.
"Ibu, jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika ada sesuatu," ucap Ling. Ia memeluk Chen Lin dengan hangat. Kemudian ia memeluk Chen Qi. Chen Qi hanya menepuk pundaknya tanpa mengatakan apapun.
Ling merasa Chen Qi menjadi lebih diam akhir-akhir ini.
Bunyi klakson menyadarkan mereka. Saat kaca mobil terbuka, terlihat seorang wanita cantik. Pakaiannya terlihat santai. Ia mengucir kuda rambutnya dan memakai topi. Ia melirik ke arah mereka.
"Bawa dia," ucap Zhuo Xia melihat Chester di pangkuan paman Qian.
Ling melirik Chester yang terlihat memohon padanya. Ketika Chester tak melihat Ling bereaksi, ia segera melompat ke pelukan Ling.
Kini mereka pun pergi dengan mobil Yu Bin. Satu mobil yang berisi beberapa pasukan mengikuti mereka. Sebisa mungkin mereka tak menonjolkan diri.
Jarak ke pelabuhan cukup jauh. Setelah melewati jalan besar, mereka harus memasuki jalanan yang cukup kecil. Tak terlalu banyak orang di sini. Karena pelabuhan ini jarang digunakan.
Ling dari tadi sibuk melihat ponselnya. Walau wajahnya terlihat tenang, Zhuo Xia menyadari Ling sedang gelisah tentang sesuatu.
Mereka sampai di pelabuhan. Keadaan sangat sepi. Hanya ada seorang pemandu yang sudah menyiapkan kapal untuk mereka. Pemandu itu seorang pria tua berambut putih. Ia memegang tongkat untuk membantunya berjalan.
Liam, Yuan, dan Su Wen Ai segera naik ke kapal. Mereka dengan mudah memindahkan tas besar mereka. Mereka juga dengan mudah meloncat ke atas kapal. Padahal tinggi mereka dan kapal cukup jauh.
Yu Bin yang melihat ini tertegun. Hanya dalam beberapa minggu, perkembangan mereka cukup banyak.
Kapal yang disiapkan cukup besar, karena paman Qian mengatakan bahwa anak berbakat dari Chen Liu bersedia untuk ikut. Ling tak terlalu mengenal Chen Liu, jadi dia tak bisa menebak alasan Chen Liu mengirimkan anak-anaknya.
"Ling! Ayo naik!" teriak Liam dari atas kapal.
"Wah! Indah sekali pemandangannya. Kapal ini juga besar sekali!" ucap Yuan terkagum-kagum. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya dia naik kapal. Karena biayanya cukup mahal, keluarganya tak mampu membayar. Kali ini ia naik dengan gratis. Bahkan ia akan berlibur beberapa hari.
"Kalian istirahat saja dulu!" teriak Ling. Ia kembali memeriksa ponselnya. Matanya menerawang ke arah jalanan.
"Apa kau menunggu seseorang?" tanya Zhuo Xia.
__ADS_1
"Ya, aku menunggu Mo Xiayi," jawab Ling kembali melihat ponsel.
Zhuo Xia di depannya menatap dingin. Ia sudah mengepalkan tangannya erat. Namun wajahnya setenang biasa.
Namun tiba-tiba dia berbalik.
Task!
Dia menangkap dengan akurat sebilah pisau kecil. Dari tangannya, keluar darah segar. Ia melihat sekelompok orang dengan jubah hitam di kejauhan.
Zhuo Xia membalas serangan itu. Ia melempar kembali pisau yang tadi dia tangkap, kemudian terdengar teriakan kesakitan dari arah sana. Ia tak berpikir Pegasus akan secepat ini membalas dendam.
Pasukan Yu Bin segera menyerbu mereka. Mereka mengangkat senjata dan berlari dengan cepat. Mereka sudah terlatih. Jadi tempat jauh seperti itu akan mudah dicapai.
Anggota Pegasus tak melihat pasukan ini tadi. Mereka mengira orang-orang ini tak memiliki keamanan. Namun mereka menyadari, yang mereka lawan sekarang bukan orang biasa.
Ketua tim Pegasus segera berteriak, "Ubah rencana!"
Belum sempat ia kembali bergerak, ia merasakan sesuatu mengerikan di belakang punggungnya. Saat ia berbalik, ia melihat Ling memegang pistol bawahannya.
Ling menembak tanpa ragu. Kepala bawahannya segera hancur berkeping-keping. Belum lagi ia sadar dari keterkejutannya, pistol itu sudah berada di kepalanya.
Ling menatapnya dingin. Ia menyeringai kejam. Kemudian ia berkata, "Siapa kau? Berani sekali kau memakai pistol penembak jitu?"
Tubuhnya melawan sinar matahari jadi anggota Pegasus itu tak bisa melihat jelas ekspresi kejamnya. Ia hanya bisa melihat senyum Ling yang sedikit samar.
Ketua tim mencoba untuk santai. Ia tahu Ling membutuhkan informasi, jadi dia akan bernegosiasi dengannya.
"Aku akan memberitahumu sesuatu, tapi kau harus melepaskanku," ucap ketua tim santai. Ia mendaratkan telapak tangannya ke tanah dan sedikit mendorong tubuhnya untuk mundur.
Ling tak lagi memiliki kesabaran. Ia membuang pistol dan mengambil pisau pemberian Zhuo Xia. Kemudian dengan satu gerakan tangan, dia menusuk tanpa ampun tepat di leher pria itu. Dia terlihat menawan dan kejam pada waktu bersamaan.
"Aku lupa memberitahumu kalau aku tidak sabaran," ucap Ling pada ketua tim sebelum benar-benar mati.
Saat ini Zhuo Xia dan pasukannya sudah sampai di tempat Ling berada. Mereka langsung merasakan bau darah yang pekat mengalir dari leher seseorang.
__ADS_1
Pria di depan mereka memegang pisau kecil yang terdapat noda darah di ujungnya. Ia menatap mereka seolah tak terjadi apapun. Ia melihat mereka seolah ia adalah korban.
Zhuo Xia mengutip pistol yang dibuang Ling. Ia mencengkram dalam tangannya yang terluka. Ia berkata dengan dingin, "Masukkan yang masih hidup ke ruangan dingin untuk diinterogasi. Jika mereka tak ingin berbicara, biarkan mereka mati membeku."
Saat merasakan amarah Zhuo Xia, ia menghampirinya, "Xia, itu pistol palsu!"
Dia tahu itu adalah pistol yang selalu dipakai Mo Xiayi. Namun Pegasus memalsukannya. Tidak tahu apa tujuan mereka.
"Tangkap Mo Xiayi dan kembalikan dia Ke Kota Bayangan," ucap Zhuo Xia mengabaikan Ling.
"Bukan dia yang melakukannya!" teriak Ling.
"Lalu? Jika kau mengatakan itu, apakah aku harus percaya?" Zhuo Xia menatap Ling dingin. Ia tak pernah berekspresi seperti itu saat di depan Ling.
Melihat ini, Ling yakin Zhuo Xia tahu identitas lain dari Mo Xiayi. Dia juga tahu, sekali Zhuo Xia menangkapnya, Mo Xiayi tidak akan bisa kabur lagi. Apalagi jika dia sudah berada di Kota Bayangan, sulit bagi Mo Xiayi untuk masuk kembali ke Kota Urban.
Saat itu Mo Xiayi mendatangi mereka. Wajahnya ketakutan saat melihat Zhuo Xia yang terlihat sangat marah.
"Jika kau tak ingin percaya, jadi apa maumu?" tanya Ling yang sudah frustasi dengan Zhuo Xia. Bagaimanapun ia menjelaskan, Zhuo Xia tak akan mendengar lagi.
Zhuo Xia menatap sinis ke arah Mo Xiayi.
"Apa kau melindunginya? Kau masih memiliki kekuatan sekarang jadi kau dapat melindunginya. Namun apa kau dapat melindunginya untuk seterusnya? Dia sudah bukan anak kecil lagi. Namun hal kecil begini saja harus kau yang langsung turun tangan. Sedangkan dia hanya bisa bersembunyi di dalam bayanganmu. Dia tak mampu mengeluarkan kekuatannya saat ada dirimu. Dia menumpahkan semua masalahnya pada dirimu. Jika kau tak ada, dia hanya seonggok sampah!" ucap Zhuo Xia mengeluarkan semua emosinya.
Ling hanya diam. Dia tak menyangkal ucapan Zhuo Xia. Apa yang dia ucapkan semuanya benar. Dia selalu melindungi orang-orang di sekitarnya karena dia memiliki kekuatan. Selain itu, ia merasa ini juga tanggungjawabnya. Ia tak akan mengeluh karena ia sadar ini tugasnya. Apalagi Mo Xiayi berasal dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Ling tersenyum tipis.
"Ada beberapa hal yang tak bisa dilepaskan bahkan jika kau ingin," jawab Ling. Ia tak ingin menjelaskan lebih jauh. Ia tahu Zhuo Xia tak akan menerima penjelasannya, jika ia mengatakan bahwa ia tak tahu apapun tentang ini. Kemudian dia berbalik dan meninggalkan mereka.
Mo Xiayi yang melihat kekacauan ini hanya mengekor di belakang Ling. Ia takut Zhuo Xia akan langsung menerkamnya saat kemarahannya memuncak.
Sedangkan Zhuo Xia hanya menatap kepergian mereka.
Wajahnya yang anggun menjadi suram. Dalam diam, dia menahan sakit hati yang begitu dalam. Rasa sakit luar biasa yang membuatnya hampir tak berdaya.
__ADS_1