Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tanggungjawab


__ADS_3

Liam dan Su Wen Ai terpisah dari Ling dan Yuan. Mereka sudah menjadi bintang populer dalam kelompok mereka.


"Ambil ini untuk kalian berlima. Aku sudah punya banyak," ucap Liam melemparkan sebuah buah kecil. Namun saat mereka memasukkan poin, itu bernilai 500 poin.


"Wah, terimakasih Liam," ucap salah satu orang yang mendapat anggukan dari Liam.


Liam dan teman-temannya memasuki gua semakin jauh. Di sana tidak ada halangan apapun. Hanya saja mereka tidak memiliki penerangan.


Karena Liam seorang kultivator, ia dapat melihat dalam gelap, walau belum terlalu jelas.


"Ayo ke arah barat," ucap Liam. Mereka semua berpegangan agar tidak terjatuh dan tidak tertinggal.


Mereka berjalan ke arah yang ditunjukkan Liam.


Di sana, cahayanya sangat silau. Saat menemukan sumber cahaya itu, mereka melihat sebuah telur besar yang bersinar dengan terang.


"Wah telur apa ini?" tanya salah satu orang.


"Liam ambillah telur ini. Pasti poinnya sangat besar," ucap salah satu orang lagi. Mereka berlima tak ada iri ataupun serakah. Karena mereka tahu diri jika dari awal mereka masuk, Liam yang menjaga dan melindungi mereka.


Ketika Liam memasukkan poin telur itu, itu bernilai satu juta poin. Namanya langsung melesat menjadi peringkat pertama.


Sedangkan Su Wen Ai di tempat lain, ia bersama dengan teman-teman wanitanya. Mereka berada di sebuah pohon rindang. Saat ini Su Wen Ai sedang berada di atas pohon untuk mengambil buah-buahan.


"Tangkap," ucap Su Wen Ai melempar satu persatu buah pada mereka.


"Terimakasih Wen Ai," ucap teman wanitanya langsung memakan buah itu. Mereka bukan menukar poin, mereka hanya lapar.


Mereka adalah gadis bangsawan cerdas yang berhasil masuk ke universitas. Kegiatan mereka selama di rumah hanya belajar dan terus belajar. Maka dari itu mereka menjadi manja dan tak bisa bertarung. Bahkan mereka sudah kelelahan saat berjalan mencari barang.


Su Wen Ai langsung melompat ke bawah dari atas pohon. Teman-temannya hanya melongo di bawah.


"Wen Ai, lihat di sana! Kelinci itu berwarna emas!" tunjuk salah satu temannya ke arah tak jauh dari mereka.


Su Wen Ai langsung berlari dan menangkap kelinci itu. Gerakannya sangat cepat hingga tidak ada yang melihatnya. Bahkan kelinci itu tak menyadari hingga dia tertangkap.

__ADS_1


"Ayo masukkan poinnya Wen Ai," ucap teman wanitanya.


"Baik," Su Wen Ai meletakkan kelinci itu di atas jam. Tak lama setelah mendengar suara notifikasi, ia menggeser kelinci itu.


"Wah! Dua juta poin! Kau peringkat pertama," ucap mereka semua heboh. Padahal bukan mereka yang mendapat peringkat, tapi mereka ikut senang dengan hal ini.


Di ruangan pengawas juga sedikit ricuh.


Mereka melihat Liam dan Su Wen Ai mendapatkan benda dengan usaha mereka sendiri. Padahal mereka masih mahasiswa baru, tapi kepekaan mereka terhadap nilai suatu benda sangat tinggi.


"Kedua murid ini memiliki potensi. Tidak seperti murid yang bunuh diri di danau tadi. Sepertinya dia sudah terlalu lelah hidup," ucap salah satu dosen yang menjadi pengawas.


"Lihatlah mereka melindungi teman-teman mereka dan tak sungkan berbagi. Namun teman-temannya tak iri pada mereka," ucap salah satu pengawas yang lain.


Zhuo Xia hanya memperhatikan layar siaran. Ling sudah berada di danau selama satu jam. Namun sampai sekarang ia belum kembali. Walau ia tahu Ling sudah level 9, tetap saja ia khawatir.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia bangkit dan keluar dari ruang pengawasan.


"Ada apa, Kakek?" tanya Zhuo Xia.


"Aku sudah tunangan, Kek. Dan tunanganku hanya satu. Aku tidak akan tunangan lagi dengan yang lain," ucap Zhuo Xia dingin. Ia selalu saja malas jika haru terus-terusan membahas pernikahan ini.


"Tolong jangan keras kepala," ucap kakeknya yang terdengar memelas.


"Aku akan kembali ke Keluarga Zhuo. Namun aku tidak akan menikah," ucap Zhuo Xia dan mematikan panggilan.


Ia mengirim pesan ke bawahannya.


[Selidiki tentang Keluarga Bo.]


Setelah mengirim pesan itu, masuk lagi panggilan telepon dari orangtuanya.


"Xia, Keluarga Bo meminta pertanggungjawabanmu karena telah mengusir anak mereka. Mereka akan memaafkan jika kau mau menikah dengannya," ucap Ibu Zhuo Xia.


"Tanggungjawab? Tunggu sampai aku datang ke Keluarga Bo dan memberikan 'tanggungjawab'," ucap Zhuo Xia semakin merasa kesal.

__ADS_1


"Xia, jangan lakukan hal yang aneh-aneh," ucap Ayah Zhuo Xia.


"Tenang saja, Ayah, Ibu, aku tidak akan mempersulit kalian. Kalian bisa duduk dengan tenang saja. Mulai sekarang aku yang akan mengatur Keluarga Zhuo," ucap Zhuo Xia. Ia mematikan panggilan telepon.


Ting.


Ada pesan masuk dari bawahannya. Itu adalah informasi tentang Keluarga Bo.


[Tuan Tua Keluarga Bo memiliki aset rahasia yang tidak diketahui oleh Tuan Besar Bo. Ia melakukan ini untuk berjaga-jaga jika mereka akan diusir oleh Tuan Besar Bo.]


[Tidak pernah ada Nyonya Besar Bo dalam Keluarga Bo. Menurut apa yang kuselidiki, selama bertahun-tahun, Tuan Besar Bo selalu menyelidiki tentang satu wanita. Yaitu Nyonya Chen, Ibu Tuan Muda Chen. Namun ia tak pernah mendapat informasi tentang Nyonya Chen.]


"Ternyata mereka takut dengan Tuan Besar Bo. Baiklah aku akan membicarakan hal ini dengan Tuan Besar Bo kelak," gumam Zhuo Xia.


"Namun mengapa ia mencari tahu tentang Nyonya Chen?" Zhuo Xia masih memikirkan hal ini. Ia tak bisa menyambungkan benang yang rancu. Nyonya Chen dari Kota Urban harusnya tak kenal dengan Tuan Besar Bo dari Kota Bayangan.


"Lihat! Ternyata mahasiswa bodoh itu belum mati," ucap salah satu pengawas.


Zhuo Xia yang mendengar ini langsung mendatangi layar monitor.


*


Tadi, Ling memasuki danau karena merasakan sesuatu. Benar saja, dalam danau itu banyak barang-barang berharga yang bernilai sangat mahal. Selain itu, ia juga menemukan satu barang yang sangat berharga.


Obat untuk Liam dan Tuan Tua Zhuo.


Ada banyak sekali obat itu di dalam air. Selain itu, tanaman obat yang jarang ditemukan bisa ditemukan di sana. Namun ada beberapa yang sudah mati. Ling tidak tahu siapa yang berniat jahat memberi racun di danau ini.


Jadi, tadi dia menghabiskan semua benda yang ada di danau. Kemudian ia menuangkan penawar racun agar danau ini bisa memberikan banyak tanaman obat lagi.


"Baiklah, nanti aku akan membuat obat untuk Liam dan Tuan Tua Zhuo," gumam Ling. Bakunya basah sekarang. Ia berjalan ke belakang pohon untuk berganti pakaian.


Setelah selesai, ia mengecek poin dan peringkat di jamnya.


Setelah itu ia tersenyum tipis.

__ADS_1


Poinnya masih 0. Namun dia bahagia karena Liam, Su Wen Ai, dan Yuan berada di peringkat satu, dua, dan tiga secara berurutan.


__ADS_2