
"Nak, bukankah itu Chen Ling?" ucap Lu Bufan kepada Lu Yan.
Tak lama, orang-orang berjas yang terlihat memiliki status tinggi keluar dari mobil. Mereka berjalan di belakang Ling dengan tatapan hormat. Sedangkan Ling sama sekali tak terlihat terganggu dengan hal itu.
Ia hanya berkata dengan dingin, "Masuk dulu."
Tampaknya, orang terpandang itu tak merasa marah. Mereka malah patuh dengan perintah Ling.
Melihat ini, Lu Bufan sumringah. Ia berkata, "Itu benar-benar Chen Ling. Cepat temui dia!"
"Mengapa? Dia juga tak akan peduli denganku," jawab Lu Yan setelah tersadar dari lamunannya.
Lu Bufan yang tidak sabar, ia ingin menyusul Ling. Namun, saat ia ingin masuk, ia dihentikan oleh penjaga. Jadi, ia memilih untuk bertanya, "Siapa itu?"
"Apa yang Anda maksud adalah bos kami? Dia adalah jenderal nomor 1 di Keluarga Wei di wilayah militer Kota Bayangan, Wei Lang. Dia adalah bos anakmu," jawab penjaga itu dengan bangga.
"Bukan, maksudku pemuda itu," ucap Lu Bufan menggelengkan kepala.
"Pemuda? Lebih baik Anda jangan tahu," jawab penjaga itu yang ekspresinya berubah.
Karena penjaga tak ingin menjawab, Lu Bufan pun memilih kembali ke kediaman mereka yang ada di wilayah C-2.
*
Nyonya Lu telah merapikan rumah mereka di wilayah C-2. Dibanding di Kota Urban, dia hidup lebih hemat di Kota Bayangan.
"Apa kau tahu siapa yang kulihat saat mengantar Lu Yan ke pangkalan militer?" tanya Lu Bufan sambil duduk di sofa dan minum air.
"Siapa?" tanya Nyonya Lu.
"Chen Ling! Dia juga sangat dihormati oleh bosnya Lu Yan!" jawab Lu Bufan sambil mencengkram erat gelasnya.
"Dia masih berusia dua puluh tahunan, apa kau yakin tak salah lihat?" tanya Nyonya Lu yang juga terkejut.
"Aku tidak mungkin salah mengenalinya," jawab Lu Bufan.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Ling baru setahun di sini. Walau dia hebat, tidak mungkin dia bisa berada dalam posisi itu," ucap Nyonya Lu.
Lu Bufan mengabaikan pertanyaan Nyonya Lu. Ia mengatakan hal lain, "Sebelumnya, Lu Yan dan dia bertunangan. Dia juga selalu menuruti apa perkataan Lu Yan ...."
Mendengar ini, Nyonya Lu segera memotong, "Apa yang kau pikirkan? Sebelumnya Lu Yan telah mengecewakannya. Jangan menyakitinya lagi!"
"Apa maksudnya menyakiti? Jika bukan karena Keluarga Chen, apa kau pikir kita akan berada dalam kondisi seperti ini?" tanya Lu Bufan dengan emosi. Ia pun mengabaikan Nyonya Lu dan menelepon Lu Yan.
"Lu Yan! Cari Chen Ling sekarang. Kau dan dia bertunangan sebelumnya. Jika kau menemuinya, dia pasti tak akan menolakmu," ucap Lu Bufan.
Nyonya Lu tidak bisa berkata apa pun lagi.
Padahal, ayah anak itu jelas membenci Ling dan memutuskan pertunangan karena Wuzhou. Ketika itu, mereka ditipu oleh Tuan Han yang korupsi. Lu Bufan ditangkap dan seluruh Keluarga Lu dihancurkan. Jika bukan karena bantuan seseorang, mereka pasti tidak akan berada di sini.
Sebelumnya Lu Bufan berpikir jika Ling yang menghancurkan Keluarga Lu. Padahal ia tak sadar jika Lu Yan sendirilah yang memulai kehancuran. Dan sekarang mereka ingin membujuk Ling lagi? Di mana muka mereka?
"Kau jangan memikirkan masalah ini. Chen Ling pasti tidak akan lupa," ucap Lu Bufan percaya diri.
*
Masalah di Kota Urban tidak berat. Ling menyerahkan beberapa urusan pada Ketua Dai. Namun, tidak dengan Kota Bayangan. Ia tak bisa menyerahkan masalah ini pada A Shui yang berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Masih banyak lagi yang harus Ling selesaikan. Belum lagi permintaan senjata nuklir dan Bom Besar 1.
"Raja, apa yang terjadi padamu akhir-akhir ini? Kau tidak terlihat seperti biasanya," ucap Mei Mengyi.
Ling hanya tersenyum dan menjawab, "Sebelum aku pergi, aku harus menyelesaikan semuanya. Desain senjata baru sudah kuselesaikan. Seharusnya itu sudah berada di markasmu."
"Pergi? Ke mana kau akan pergi?" tanya Mei Mengyi. Ini pertama kalinya ia tak peduli tentang masalah senjata.
"Aku akan ke luar negeri," jawab Ling sambil memasukkan ponsel ke sakunya.
Sekarang, Ling sudah membuat beberapa perubahan. Kekuatannya juga sudah cukup. Sudah waktunya ia mencari potongan kertas itu. Meski Chen Lin tak mengatakan apa pun, Ling tahu jika Chen Lin hanya tak ingin menunjukkan kekhawatirannya.
"Kenapa kau pergi ke sana? Aku dengar banyak kultivator di mana-mana di luar negeri. Apa kau yakin akan pergi?" tanya Mei Mengyi khawatir.
Ling hanya tersenyum.
Ia tak ingin membicarakan ini lagi, tapi ia ingin membicarakan tentang keamanan di Kota Bayangan. Namun, sebuah suara terdengar, "Ling!"
Ling berbalik dan melihat Lu Yan berjalan ke arahnya.
"Siapa itu?" tanya Mei Mengyi heran. Ia tak pernah melihat Lu Yan sebelumnya.
Ling hanya melirik sebentar ke arahnya.
__ADS_1
Lu Yan yang melihat ini merasa kecewa. Ia pikir Ling akan terkejut dan merasa sangat bahagia saat bertemu dengannya, tapi ia tak menyangka Ling malah bersikap tenang dan biasa saja.
Seolah-olah mereka tak saling kenal.
"Aku hanya ingin berterimakasih, di Ko-Kota Urban, kau ...," Lu Yan tergagap. Ia merasa sangat menyesal karena telah kehilangan beberapa hal berharga.
Namun sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Ling meliriknya dengan lembut dan pergi. Hatinya tetap tenang. Dia bukan dirinya yang dulu. Ling di masa lalu sudah mati.
"Jika kau tak berpura-pura menjadi sampah, aku tak akan melakukan itu padamu. Kau tahu aku menyukai pria yang kuat," ucap Lu Yan sambil memandang Ling.
Ling akhirnya berhenti dan menatap Lu Yan.
"Siapa atasanmu?" tanya Ling.
Mendengar ini, Lu Yan berbinar dan segera menyebutkan nama atasannya. Setelah itu, Ling mengeluarkan ponsel dan menelepon.
"Kapten Wei, mulai besok dan seterusnya, kuharap aku tak akan melihat Lu Yan lagi di depanku," ucap Ling tenang. Kemudian dia pergi.
Dengan itu, dia pergi.
Tak lama, Lu Yan menerima pesan jika dia dipindahkan.
Dia terpaku.
*
Pada waktu bersamaan, mobil silver terparkir tak jauh dari Lu Yan dan Lu Bufan. Zhuo Shiaonian melihat ke arah Lu Yan dan berkata, "Darah keturunannya ... bawa dia ke sini."
Sopir pun segera membawa Lu Yan dan Lu Bufan ke dalam mobil. Di dalam mobil, Lu Yan dan Lu Bufan tak berani bicara karena aura Zhuo Shiaonian yang kuat.
Saat ini, darah Lu Yan akan diambil untuk sampel.
"Nona, hasilnya sudah keluar. Menurut perkiraan kami ... darahnya berwarna biru!" ucap seseorang dan memandang Lu Yan dengan kagum.
Zhuo Shiaonian mengambil kertas sampel. Kemudian ia menatap Lu Yan, "Kau Lu Yan, bukan? Apa kau ingin bergabung dengan Asosiasi Dewa Ramuan?"
"Asosiasi Dewa Ramuan? Mana yang lebih baik dibandingkan Pangkalan Militer?" tanya Lu Yan. Ia memang sudah menduga jika Zhuo Shiaonian bukan orang yang sederhana.
"Pangkalan Militer? Bahkan seluruh Kota Bayangan tak dapat dibandingkan dengan Asosiasi Dewa Ramuan. Kau benar-benar berani membandingkan kedua hal ini," ucap seorang penjaga di sebelah Zhuo Shiaonian.
Mendengar fakta ini, Lu Yan hanya bisa membeku.
Tak jauh dari Lu Yan, Lu Bufan terlihat sangat gembira.
"Nak, kau dengar kan apa yang dikatakan Nona Zhuo Shiaonian? Bahkan dia tak memandang Kota Bayangan," ucap Lu Bufan.
Lu Yan mengangguk. Jantungnya berdegup kencang. Jika Zhuo Shiaonian tak memandang Kota Bayangan, dia tahu jelas apa yang harus dilakukan.
*
Liam sudah berada di Kota Bayangan. Mereka berempat sedang mengadakan barbeque malam.
"Ling, aku sudah memurnikan ramuan level rendah dan level menengah. Aku telah meminta seseorang untuk mengirimnya ke Lin Guxi, tapi aku tidak bisa memurnikan ramuan tingkat tinggi," ucap Liam sambil memakan dagingnya.
"Aku yang akan mengerjakan sisanya, tidak perlu terburu-buru," jawab Ling tenang sambil makan juga.
"Bukankah itu Ling?" tanya Lu Bufan yang berada tak jauh dari kedai barbeque.
Namun, kali ini berubah. Ia tak lagi memandang Ling dengan sopan atau pun kagum. Ia menjadi sombong karena Lu Yan sudah menjadi anggota Asosiasi Dewa ramuan.
Liam adalah orang yang pertama kali menyadari keberadaan mereka. Ia berkata, "Apa yang mereka lihat? Apa mereka gila?"
"Mereka pasti gila," jawab Yuan sambil meletakkan garpunya.
Mendengar ucapan mereka berdua, Lu Bufan tak terlihat marah. Ia hanya berkata kepada Lu Yan, "Ayo kembali dan beritahu ibumu jika kau sudah bergabung dengan Asosiasi Dewa ramuan."
Mendengar kata asosiasi Dewa ramuan, Liam membeku. Dia menatap Lu Bufan dan bertanya, "Paman, Asosiasi Dewa ramuan mana yang Anda bicarakan?"
Sebenarnya Liam hanya bingung bagaimana mereka bisa mengenal Asosiasi Dewa Ramuan padahal negara mereka saja beda.
"Asosiasi Dewa Ramuan bukanlah tempat yang perlu kau tahu," jawab Lu Bufan sombong. Setelah itu ia pergi dengan Lu Yan.
Di belakang, Ling hanya makan dengan santai. Hanya Liam dan Yuan saja yang saling pandang dan tertawa. Bahkan Zhuo Shiaonian saja takut pada Ling, tapi Lu Bufan berbicara begitu sombong.
Sebelum pergi dengan mobil, Lu Yan dan Lu Bufan menatap Ling seolah meremehkan. Setelah itu, mereka melesat pergi.
Ling tidak mengatakan apapun.
Ia mengecek ponselnya dan menerima pesan dari Zhuo Xia.
__ADS_1
[Kau akan kembali?]
Tiga kata yang terasa dingin. Namun, Ling bingung saat membaca itu. Tiba-tiba, kenangan asing muncul. Ling tidak tahu apa maksudnya ini.
*
Pada waktu bersamaan di rumah Keluarga Zhuo.
Zhuo Xia melepas jaket dan berganti ke pakaian kasual.
Kepala Keluarga Zhuo menunggu di luar kamar, "Xia, orang-orang dari luar negeri ada di sini. Mereka ingin bertemu denganmu. Kapan kau bisa bertemu dengan mereka? Mereka sudah menunggu selama 2 jam."
"Aku akan bertemu dengan orang lain," jawab Zhuo Xia santai.
"Siapa?" tanya Kepala Keluarga tercengang.
"Tuan Besar Muda," jawab Zhuo Xia. Kemudian dia pergi.
Kepala Keluarga sangat tercengang.
"Apa Tuan Muda Chen sudah kembali?" tanya Kepala Keluarga pada salah satu penjaga. Walau ia terkejut, ia tahu jika hanya Ling yang bisa menjadi pendamping Zhuo Xia.
"Aku tidak tahu," jawab penjaga itu.
Kepala Keluarga hanya mengangguk dan pergi menemui orang-orang luar negeri itu.
Di ruang kerja, orang-orang luar negeri itu hanya diam. Di luar negeri, mereka sangat berpengaruh. Namun di sini, mereka bahkan tak berani bicara.
"Apa Nona Zhuo akan menemui kami?" tanya seseorang saat melihat Kepala Keluarga Zhuo kembali.
Kepala Keluarga Zhuo menggeleng. Ia segera berkata untuk menghibur, "Tuan-Tuan, Nona Muda memiliki beberapa urusan yang sangat penting. Aku yang akan membantu kalian."
"Kami ingin Bom Besar 1. Aku dengar Nona Zhuo tahu tentang hal ini," ucap seseorang.
"Kau datang pada orang yang salah. Bahkan Nona tidak peduli dengan hal ini," ucap Kepala Keluarga Zhuo.
"Bukan Nona Zhuo? Lalu siapa?" tanya orang-orang di sana bingung.
"Nona Zhuo Shiaonian ada di sini. Bisa jadi itu dia," ucap seseorang.
"Benar! Ayo kita cari dia," ucap orang lainnya.
*
Keesokan harinya, di sebuah pulau di tepi lautan.
Tidak ada yang berani masuk ke tempat ini. Karena di perbatasan laut ini ada banyak binatang buas yang tak terhitung jumlahnya.
Sekelompok orang bergerak maju.
"Tuan Muda, jangan memaksakan diri. Menangkap binatang buas tidaklah mudah. Mereka itu licik. Keselamatanmu lebih penting. Apa kau tak memperdulikan itu?"
"Aku adalah penerus keluarga. Aku pasti bisa melakukan apa saja. Bahkan jika bakatku tak terlalu menonjol, aku tetap keturunan yang sah," ucap seorang pemuda berbaju biru.
"Ya, ya, kau benar," jawab wanita di sampingnya.
Tiba-tiba dia melihat sekelabat bayangan coklat yang terbang menuju pohon.
"Itu ... binatang buas!" pemuda itu berbinar.
"Tuan Muda hati-hati! Itu adalah binatang buas level 3," ucap penjaga wanita di sampingnya.
Saat mereka bicara, binatang buas itu tiba-tiba berlari ke arah lain. Melihat arah binatang itu berlari, ekspresi wanita itu berubah.
"Siapa yang menyalakan api di sini? Apa mereka tidak takut dimakan binatang buas? Dari mana asal 4 orang bodoh ini? Apa mereka cari mati?" ucap wanita itu kesal.
Salah satu gadis berbaju putih sedang menikmati dagingnya. Saat melihat binatang buas itu, ia melirik tak peduli.
Pemuda berbaju biru segera mencengkram senjatanya dengan erat. Ia melompat dan berlari menuju binatang buas itu. Tanpa diduga binatang buas itu pergi.
Dia kemudian berkata, "Kalian masih berani memanggang daging? Apa kalian tidak tahu apa itu barusan?"
Ia berpikir, jika ia tak menyelamatkan mereka, binatang buas itu akan menginjak-injak empat orang ini sampai mati.
***
Sorry readers, banyak tugas yang harus diselesaikan🤯
Stay safe, stay healthy❤️
__ADS_1