Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Informasimu Sangat Kuno


__ADS_3

Sehari kemudian, sekelompok orang lain memasuki desa. Kepala suku dan para tetua menyambutnya dengan gembira.


"Tuan Agung, setelah bertahun-tahun, Anda akhirnya kembali. Kami akan membuka tempat rahasia besok. Anda kembali tepat waktu," ucap kepala suku sambil menghela napas lega.


"Tempat rahasia? Tempat rahasia terbuka?" Tuan Agung itu berhenti sejenak.


"Benar sekali. Ini semua berkat kerja kerasnya Nona Zhuo. Aku sudah berjanji padanya untuk memberi slot masuk," jawab kepala suku sambil mengangguk.


"Nona Zhuo? Nona Zhuo yang itu?" tanya Tuan Agung yang terlihat sangat terkejut.


Kepala suku mengangguk lagi. Selain dia, memangnya siapa lagi yang bisa melakukan itu?


"Mengapa dia bisa ada di sini?" tanya Tuan Agung. Terlihat ekspresinya sangat aneh.


Tak lama, ia tersadar dari keterkejutannya. Ia berkata, "Kita akan membahas Nona Zhuo besok. Aku memiliki sesuatu yang harus diumumkan."


Semua orang tahu Tuan Agung pergi bertahun-tahun untuk mencari cara agar mereka tetap bisa hidup. Jadi saat mendengar ini, mereka semua segera bergegas.


Tuan Agung itu berjalan ke aula leluhur. Secara kebetulan, ia berpapasan dengan Ling dan teman-temannya. Awalnya ia heran saat melihat ada orang asing di suku ini. Namun, setelah sadar akan sesuatu, ia terlihat sangat marah.


"Apa yang terjadi? Mengapa bisa ada orang biasa di sini? Mengapa kalian sangat tidak becus menjadi tetua? Mengapa kalian tidak mengusirnya?" tanya Tuan Agung dengan marah.


Pada saat yang sama, Ling berhenti.


"Ada apa Ling?" tanya Yuan bingung.


Ling mencengkram erat ponselnya. Kemudian ia melirik ke arah Su Wen Ai yang wajahnya terlihat sangat datar.


"Oh tidak ada apa-apa," jawab Ling.


Setelah Tuan Agung selesai berbicara, tidak ada yang berani menjawab. Jadi, Tuan Agung melirik ke arah tetua yang paling tinggi.


"Tuan Agung, itu adalah teman Nona Zhuo. Kami tidak bisa mengusir mereka. Selain itu, Tuan Muda Chen bahkan menyembuhkan Tuan Su," jawab tetua itu. Ia heran mengapa reaksi Tuan Agung terlihat berlebihan. Namun ia tetap berbicara dengan sopan.


"Jadi penyakit Zheng telah sembuh?" tanya Tuan Agung. Ekspresinya terlihat lebih santai sekarang.


"Benar, Tuan Agung. Kita memang akan membahas tentang Nona Zhuo besok. Namun tetap saja, Tuan Muda Chen bukanlah seseorang yang bisa kita sentuh," jawab tetua itu dengan tenang.

__ADS_1


Meskipun mereka sudah lama tidak berinteraksi dengan dunia luar, tapi mereka masih tahu berterimakasih. Jika tidak, mereka akan dikutuk dan suku mereka akan musnah.


Tuan Agung melihat ke arah Su Wen Ai dan tetap diam.


"Aku tahu semua orang penasaran dengan apa yang akan aku katakan. Aku sudah pergi selama bertahun-tahun. Aku berhasil meyakinkan Keluarga Su yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Mereka berkata kita bisa pindah ke sana," ucap Tuan Agung di depan semua orang.


"Benarkah?" tanya kepala suku dengan mata berbinar. Tetua lainnya juga terlihat sangat gembira.


"Itu benar. Tuan Besar Su akan datang secara pribadi ke sini," jawab Tuan Agung sambil tersenyum.


"Ini berita bagus! Tempat rahasia itu memang pelindung suku kita. Saat itu akan terbuka, hal-hal baik terus-menerus datang," ucap kepala suku dengan suara bergetar.


Hal ini juga disaksikan oleh ratusan Keluarga Su lainnya. Tuan Agung juga terlihat senang saat melihat senyum orang-orang itu. Namun saat mengingat kembali apa yang dia lihat tadi, ia menjadi muram.


"Apa kalian benar-benar tidak bisa mengusir orang luar itu?" tanya Tuan Agung pada kepala suku.


"Mengusir mereka? Mereka adalah orang Nona Zhuo. Apa Anda mau mati?" tanya kepala suku dengan terkejut.


Melihat reaksi kepala suku, Tuan Agung hanya diam. Kemudian, ia pergi meninggalkan kerumunan.


Kepala suku yang melihat ini merasa aneh. Namun ia segera menepis pikirannya karena ingat dengan kabar baik yang dibawa Tuan Agung.


"Apa yang terjadi? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membunuh Su Wen Ai setahun lalu? Mengapa aku masih melihatnya hari ini? Apa kalian tidak melakukan apa pun? Aku sudah membayar kalian tapi hasilnya nihil," ucap Tuan Agung dengan emosi memuncak.


Setelah gemerisik yang cukup lama, suara aneh menjawab, "Setahun lalu? Kau tidak malu membicarakan hal ini. Kami bahkan tidak meminta kompensasi lagi padamu. Karena satu orang, markas kami di Kota Urban harus diledakkan. Ia memang orang biasa. Namun apa kau tahu siapa orang-orang di sekitarnya?"


"Aku hanya ingat setahun lalu ia hanya orang biasa yang bahkan tak mampu untuk sekolah," jawab Tuan Agung dengan nada menghina.


"Ternyata informasimu sangat kuno," jawab orang itu dengan nada menghina.


"Apa kau tahu di mana dia kuliah sekarang? Ia kuliah di Universitas Internasional Kota Bayangan. Ingat, Kota Bayangan! Jangan bilang kau juga tidak tahu siapa pemimpin di Kota Bayangan itu. Jika kami menyentuh orang biasa dari kota itu, maka operasi kami akan diblokir. Kau masih ingin membunuhnya? Keberanianmu sangat besar," lanjut orang itu berbicara.


Setelah itu, ia menutup panggilan.


Tuan Agung hanya diam untuk waktu yang lama. Setelah beberapa saat, ia memanggil tetua.


"Apa kau kenal dengan orang biasa itu?" tanya Tuan Agung.

__ADS_1


"Aku hanya tahu Tuan Muda Chen dan Tuan Muda Liam itu," jawab tetua. Yang satu bisa menyembuhkan Tuan Su, yang satu lagi sangat kuat. Tentu saja setiap orang akan mengingat mereka.


"Apa kau tahu Su Wen Ai?" tanya Tuan Agung.


"Su Wen Ai? Siapa dia? Apa dia salah satu dari empat orang itu?" tanya tetua bingung.


"Kau tidak tahu dia? Baguslah," jawab Tuan Agung. Ia tersenyum lega.


Tetua yang baru saja keluar dari kamar Tuan Agung merasa bingung. Meski begitu, ia juga menganggap Tuan Agung ini sangat aneh. Sepertinya ada yang salah dengan Tuan Agung.


Jadi, dia melaporkan hal ini pada kepala suku.


Kepala suku awalnya juga merasa ada yang salah dengan Tuan Agung, tapi ia masih ragu. Namun saat mendengar laporan tetua, ia menjadi yakin jika memang benar ada yang tidak beres.


"Apa benar dia mengatakan itu?" tanya kepala suku.


"Benar, aku yakin sekali," jawab tetua tegas.


Kepala suku itu tidak mengatakan apa pun lagi. Ia segera pergi menemui Tuan Agung. Wajahnya sangat muram.


"Apa Anda memiliki masalah dengan orang biasa itu? Aku sudah mengatakan jika mereka adalah orang Nona Zhuo," ucap kepala suku.


"Aku tahu. Jangan khawatir. Aku tidak akan gegabah. Aku tidak akan melakukan hal yang akan membahayakan suku kita. Jika tidak, aku tidak mungkin bertahun-tahun pergi ke Kota Bayangan untuk mencari perlindungan," jawab Tuan Agung.


Setelah mendengar ini, kepala suku menjadi lebih lega. Ia berkata, "Bagus kalau begitu. Jangan bicarakan tentang seberapa kuat Nona Zhuo. Dengan Nona Zhuo dan Tuan Muda Chen telah membantu suku kita, kita tidak bisa menyentuh salah satu di antara mereka."


Tuan Agung mengerutkan kening.


"Mengapa kau mengatakan itu? Aku sudah memberitahu jika aku sudah menemukan Keluarga Su di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Mereka bisa melindungi kita. Jadi mengapa kita masih harus takut dengan orang lain?" ucap Tuan Agung dengan sombong.


"Seberapa kuat Keluarga Su? Apa mereka bisa dibandingkan dengan Nona Zhuo?" tanya kepala suku sambil menghela napas.


Mendengar itu, Tuan Agung tertawa kecil.


"Jangan khawatir tentang ini, kepala suku. Apa kau tahu di mana Keluarga Su tinggal di Kota Bayangan? Di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Hanya sedikit orang yang berani dengan Kota Bayangan. Jadi saat Tuan Besar Su datang nanti, kita tidak perlu terlalu hormat pada mereka. Percayalah mereka tidak akan berani menyinggung Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya," jawab Tuan Agung dengan penuh percaya diri.


"Sekuat itu?" tanya kepala suku yang sangat tercengang. Ia kembali mengingat bagaimana Zhuo Shiaonian ketakutan sampai pergi dari desa itu. Raja Legendaris yang berasal dari sana juga sepertinya memang sangat kuat.

__ADS_1


Sekarang, ia mempercayai Tuan Agung.


"Tentu saja. Jika saatnya tiba nanti, kita bisa berinteraksi dengan bawahan Raja Legendaris dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Setelah itu, kita tidak perlu takut dengan Nona Zhuo. Kita juga tidak perlu takut dengan orang biasa itu," ucap Tuan Agung sambil tersenyum licik.


__ADS_2