
Penjaga rahasia yang masih memegang pisau, terdiam untuk waktu yang lama. Dia menatap Ling yang sedang berjalan santai. Sedangkan penjaga rahasia lainnya berdiri di sebelahnya. Mereka semua sama-sama terkejut.
Salah satu dari mereka bergumam, "Bos, dia bergerak sangat cepat. Aku bahkan tidak dapat melihat gerakannya dan orang dari Pulau Bintang itu sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Selain itu, ia juga memiliki senjata nuklir. Dia ... memang mengerikan. Bos, Anda bahkan tidak bisa melakukan itu."
"Diam!" ucap Bo Xuang. Matanya masih tetap menatap Ling.
Jet pribadi Lingxi mendarat di dekat Ling.
"Raja Chen!" seru Lingxi sambil turun dari jetnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Lingxi heran saat melihat banyak orang dari Pulau Bintang sudah jatuh terkapar.
"Hanya sekelompok orang bodoh," jawab Ling santai.
Ia melihat Chen Lin yang sudah tenang. Saat ini ia dibawa pulang ke Kota Bayangan dengan jet pribadi.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini tidak dapat disembunyikan dari orang-orang. Contohnya Wei Lang yang sudah bergegas ke sini sekarang. Pada saat Wei Lang datang membawa pasukan, ternyata Zhuo Xia juga datang.
Banyak orang di sana mengenal Zhuo Xia, termasuk pemuda dari Pulau Bintang itu. Saat melihat Zhuo Xia, ia berbinar. Ia segera berbicara dengan penuh semangat, "Nona Zhuo, dia adalah orang membunuh 7 murid Pulau Bintang kami."
Setelah mendengar itu, penjaga rahasia hanya kaget saat melihat Zhuo Xia. Mereka memang tahu Zhuo Xia, tapi baru kali ini mereka bertemu secara langsung.
Zhuo Xia hanya melirik orang itu. Sedangkan pemuda itu membeku. Ia merasa seolah-olah sedang ditatap oleh dewa kematian. Ia hampir saja berhenti bernapas.
Zhuo Xia mengalihkan pandangannya. Ia berjalan ke arah Ling.
"Bukan gayamu menyisakan satu," ucap Zhuo Xia.
"Tinggalkan satu untuk bersenang-senang. Satu saja tidak akan membuat masalah besar. Lagipula kau datang tepat waktu. Aku akan membereskan sisanya untukmu," jawab Ling sambil tersenyum.
Mendengar percakapan mereka berdua, pemuda dari Pulau Bintang itu hampir saja mengeluarkan seteguk darah.
Ketika Ling ingin pergi, Wei Lang bicara, "Hey, Raja! Bisa tidak jangan membuat keributan dalam beberapa hari ke depan? Kau baru saja membuat keributan di Keluarga Bo pagi harinya dan kau membuat keributan di sini malam harinya. Aku tidak bisa mengontrol hal ini lagi."
Hal itu pula yang membuat Wei Lang memohon pada Zhuo Xia agar dia membantunya.
Namun Ling hanya menjawab, "Cih! Kau tidak adil Wei Lang. Merekalah yang menggangguku lebih dulu."
__ADS_1
Melihat Ling benar-benar pergi bersama Lingxi, Wei Lang menatap Zhuo Xia. Ia berkata dengan nada memohon, "Nona Zhuo, bisakah kau membantuku agar Raja tidak bersenang-senang dulu dalam beberapa hari ke depan?"
"Aku? Menurutmu apa aku bisa mengendalikannya?" tanya Zhuo Xia sambil mengangkat alis.
Setelah mendengar ini, Wei Lang hanya menghela napas pasrah. Ia berbalik dan memerintahkan anak buahnya untuk membereskan kekacauan ini. Untungnya Zhuo Xia masih ada di sana, jadi orang-orang dari luar negeri ini hanya menonton dan tidak berani melakukan apa pun.
Wei Lang akhirnya terlihat sedikit lebih baik.
Setelah tempat itu dibersihkan, Zhuo Xia berbalik untuk pergi. Namun, saat melihat sebagian rakyatnya telah dibunuh begitu saja, tetua Pulau Bintang menelepon Tuan Besar di pulaunya.
Ia berkata, "Nona Zhuo, tindakan Tuan Muda Chen telah melanggar peraturan Kota Bayangan. Ini tidak adil."
Wei Lang hampir tertawa melihat kebodohan orang di depannya.
Sedangkan Zhuo Xia hanya menatapnya dengan tenang. Dengan suaranya yang dingin, ia menjawab, "Kau cukup berani menyentuh orang-orang di wilayahku."
Kemudian, Yu Bin menghampirinya.
"Nona, ini adalah telepon dari Tuan Besar Pulau Bintang," ucap Yu Bin sambil memegang ponsel.
"Katakan padanya, jika dia terus-terusan mengatakan omong kosong, maka dia bisa mati," jawab Zhuo Xia. Setelah itu ia berbalik pergi. Tidak ada yang berani menghentikannya.
*
Ling telah membawa seluruh anak buahnya kembali ke Keluarga Bo. Saat penjaga rahasia kembali, mereka melihat Ling sedang duduk di aula utama bersama Lingxi dan beberapa tetua.
"Selamat datang Tuan-Tuan," ucap para tetua dengan hormat. Semua penjaga rahasia ini berasal dari luar negeri. Tidak ada yang tahu seberapa kuat mereka. Yang pasti, kekuatan dari para tetua sama sekali tidak pantas dibandingkan.
Pimpinan tetua tidak berani bersikap sombong di depan mereka.
Saat melihat pemandangan ini, Ling menyeruput sedikit tehnya. Ia mengangkat alisnya dan tersenyum tipis. Saat melihat ini, Lingxi hampir menjatuhkan gelasnya.
Ling melirik Lingxi sebelum ia meletakkan gelasnya. Saat ia mengalihkan pandangan, gelas di tangan Lingxi jatuh.
Pimpinan tetua dan yang lainnya melihat ke sumber keributan.
"Kalian adalah penjaga rahasia Ayahku. Jadi aku bisa mentolerir kalian sedikit lebih banyak dibandingkan dengan orang lain. Namun jangan terlaku kurang ajar karena hal itu. Cih! Apa kalian hanya bersembunyi di kegelapan saat melihat Tuan kalian terluka? Kalian hanya keluar saat Tuan kalian hampir mati?" cibir Ling pada mereka.
__ADS_1
"Kami tidak ...," itu memang tugas penjaga rahasia. Sekarang mereka merasa malu dan mencoba untuk berdebat.
"Lebih baik memang tidak. Di depanku, sebaiknya kalian tidak memperlakukan orang lain sebagai atasan," jawab Ling sambil tersenyum. Terlihat jelas tatapan meremehkan di matanya.
"Kau ...," ekspresi penjaga rahasia itu berubah.
"Aku apa? Jangan kalian pikir karena pimpinan tetua memberi kalian wajah, maka kalian bisa berbuat sesuka hati. Ini adalah Kota Bayangan dan Keluarga Bo. Jangan berpikir kalian adalah orang besar di keluarga ini. Aku bisa saja membunuh kalian semua," Ling tersenyum santai saat mengatakan semua itu. Namun, di bawah cerahnya lampu, terlihat jelas kilatan tajam di matanya. Apalagi saat melihatnya memainkan jarum-jarum perak di jarinya. Hal itu membuat orang-orang bergidik ngeri.
"Jadi, jangan sia-siakan kesabaranku. Aku tidak ingin saat Ayahku bangun dia malah melihat mayat kalian. Bagaimana menurut kalian?" ucap Ling sambil tersenyum. Tangannya memegang erat jarum perak itu.
Jika hari ini tidak tiba, mungkin penjaga rahasia ini masih ingin melawan Ling. Namun setelah apa yang terjadi sebelumnya, mereka tidak berani melawan Ling. Kini mereka menunduk hormat dan menjawab, "Kami mengerti, Tuan Muda."
Penjaga rahasia ini mengakui kekalahan.
Melihat sikap hormat para penjaga rahasia ini, pimpinan tetua tidak bisa tidak bertukar pandang dengan tetua lainnya. Ia melihat semua tetua menatap Ling ngeri.
Tak lama setelah itu, Lin Guxi datang. Meskipun Keluarga Bo ini tidak menyukai Lin Guxi, mereka tetap menyambutnya dengan hormat. Pimpinan tetua mempersilahkannya untuk duduk.
Lin Guxi datang untuk mengungkapkan permintaan maafnya. Ia bahkan membawa hadiah dan memberikannya dengan tulus. Para tetua yang melihat ini menoleh untuk melihat Ling. Namun ternyata Ling hanya memainkan gelas tehnya dan berbicara dengan Lingxi. Ia bahkan tak melirik Lin Guxi sama sekali.
Setelah menangani beberapa masalah, Zhuo Xia datang. Ia tidak mengetuk pintu atau pun izin. Ia hanya masuk dengan elegan, tapi tidak ada yang berani menghentikannya.
Ia berjalan menuju Lin Guxi dan mengetuk meja. Ia berkata, "Ini kursiku."
Lin Guxi sedikit terkejut. Ia menjawab, "Bukankah ini adalah kediaman Keluarga Bo?"
Zhuo Xia melirik Lin Guxi, kemudian mengalihkan pandangannya ke pimpinan tetua. Ia berkata dengan santai, "Katakan padanya posisi siapa ini."
Pimpinan tetua tidak kesulitan untuk memilih antara Lin Guxi dan Zhuo Xia.
Akhirnya Lin Guxi mengalah. Ia tak berani melawan Zhuo Xia. Selain itu, ia masih ingin meminta maaf dan bertanya pada Ling tentang ramuan.
Namun, saat dia akan bertanya, kepala pelayan datang dengan wajah pucat.
"Tuan Muda, Tuan Besar dalam masalah!" lapor kepala pelayan yang terlihat sangat panik.
Setelah mendengar ini, penjaga rahasia juga panik. Bo Xuang berkata, "Bukankah kau bilang dia bisa bertahan dalam 3 hari?"
__ADS_1
Lin Guxi melirik Ling. Namun ternyata Ling sudah menghilang dari kursinya.