
Ketika sampai di rumah, nyonya Lu melihat Lu Yan dan Lu Bufan sedang berbicara.
"Lu Yan, apa kau serius tentang hal kemarin?" tanya nyonya Lu. Ia khawatir pada putri dan suaminya setelah melihat Ling tadi.
"Tentu saja aku serius. Bu, tolong jangan ganggu kami. Kami harus mempersiapkan konferensi pers untuk minggu depan," jawab Lu Yan dengan wajah suram.
Nyonya Lu tahu akan tetap seperti ini. Setidaknya ia sudah mencoba. Ia pun menasehati Lu Yan, "Sepertinya Ling berubah. Ia tidak terlihat bodoh seperti dulu. Aku juga lihat Keluarga Zhuo mendatangi mereka tadi."
"Keluarga Zhuo? Tunggu saja mereka hancur bersama Chen Company. Maka mereka akan memohon padaku untuk meminta bantuan," ucap Lu Yan sambil menyeringai.
Setelah mendengar jawaban Lu Yan, nyonya Lu hanya bisa menarik napas. Ia pun pergi ke kamarnya dengan wajah suram.
Lu Yan berdecak sebal. Ia juga pergi ke kamarnya karena suasana hatinya bertambah buruk. Ia duduk di depan komputer.
"Lu Yan," panggil seseorang sambil membuka pintu.
"Wuzhou!" seru Lu Yan senang saat melihat Wuzhou mendatanginya.
"Apakah kamu kesal lagi?" tanya Wuzhou.
"Tidak ada masalah. Apa kita harus berbicara dengan Tuan Han sekarang?" tanya Lu Yan mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Wuzhou tahu bahwa ibunya berada di pihak Ling.
Setelah beberapa saat, panggilan video mereka tersambung. Terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk menghadap mereka.
"Tuan Han," ucap Wuzhou dan Lu Yan dengan hormat secara bersamaan.
Pria di video itu menjawab dengan suara dalam, "Seseorang bernama Yuan Ming dikirim oleh Kota Bayangan ke Kota Urban. Dia adalah pria yang hebat. Walau ini sulit, kalian harus bisa melakukan kerjasama padanya. Dia juga harus mendukung kita."
Suaranya sangat tenang. Seolah Yuan Ming tak begitu penting baginya. Wuzhou dan Lu Yan saling tatap. Mereka tahu identitas Yuan Ming tak biasa. Apalagi ia diutus langsung dari Kota Bayangan. Seberapa kuatnya dia? Namun bahkan Han tak menganggapnya penting.
"Namun, Tuan Han, bagaimana jika Tuan Yuan menolak?" tanya Lu Yan dengan sopan.
"Dia menolak?" Han terkekeh.
"Jika dia menolak, bilang padanya jika aku akan menerimanya sebagai murid. Aku juga akan membawanya ke puncak di Kota Bayangan. Bilang padanya namaku adalah Han," ucap Han. Nada suaranya begitu sombong. Jika dia orang biasa, dia tidak mungkin berani mengatakan hal seperti itu, kecuali dia terlalu percaya diri.
Wuzhou di sampingnya mengepalkan tangan. Ia berkata, "Ling, tunggu saja kau. Kau tidak akan menjadi Tuan Muda Chen lagi."
Kemudian, Wuzhou menelepon ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, jual semua sahammu di Chen Company. Mereka akan hancur sebentar lagi. Saham itu tidak akan berguna jika Ayah menyimpannya," ucap Wuzhou di telepon.
*
Kediaman Chen.
Ling membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Tuan Tua Zhuo duduk. Kemudian ia memberikan kantong yang berisi ramuan yang sebelumnya sudah dia persiapkan.
"Kakek, biarkan Liam berendam menggunakan itu selama beberapa hari," ucap Ling.
Tuan Tua Zhuo membuka kantong itu dan sangat terkejut.
Ling duduk bersandar di kursi. Ia sedikit mengangkat alisnya. Ia bertanya, "Ada apa Kakek?"
Kalimatnya terdengar santai seperti biasa. Namun setiap katanya sangat mengintimidasi. Seseorang dengan status rendah pasti tak akan memiliki kehadiran kuat seperti ini.
Tuan Tua Zhuo memaksakan senyumnya. Ia mengeluarkan satu ramuan dari kantong pemberian Ling. Ia bertanya, "Apa kau tahu apa ini?"
"Tentu saja. Itu ramuan," jawab Ling santai.
Tuan Tua Zhuo semakin terkejut. Ia merasa Ling tidak hanya tahu namanya, tapi juga cara membuat dan manfaatnya.
Ling segera bangkit. Ekspresinya tak sesantai tadi. Ia melirik Liam dan berkata, "Liam, keluar."
Setelah mendengar perintah Ling, Liam segera keluar. Meskipun ia sangat penasaran, tapi ia tak berani berada di dalam lebih dalam. Ia juga tak berniat menguping.
"Kau ... berasal dari Kota Bayangan?" tanya Tuan Tua Zhuo setelah Liam pergi.
"Tidak," jawab Ling.
"Tapi aku akan segera menjadi bagian dari Kota Bayangan sebentar lagi," lanjutnya bicara.
Suara itu begitu lembut, tapi terdengar membahayakan. Ling berdiri di dekat jendela. Pandangannya lurus ke depan.
"Darimana Kakek bisa tahu resep itu? Aku pikir orang di Kota Urban tidak ada yang tahu," tanya Ling yang sedikit penasaran.
"Dulu Keluarga Zhuo bergabung dalam Asosiasi Ramuan Kota Bayangan. Namun karena suatu masalah, kami dikeluarkan dari sana," jawab Tuan Tua Zhuo yang terlihat murung.
"Racun di tubuhmu dan Liam adalah ulah keluargamu?" tanya Ling lagi.
__ADS_1
Tuan Tua Zhuo mengangguk. Ia mengambil secangkir teh dan meminumnya.
"Aku hanya tahu Keluarga Zhao yang berada di Asosiasi Ramuan Kota Bayangan. Aku tidak pernah dengar tentang Keluarga Zhuo," ucap Ling.
Keluarga Zhao? batin Tuan Tua Zhuo bingung.
"Tidak ada. Ayo kita keluar," ajak Ling.
Keluarga Zhao adalah keluarga hebat di Kota Bayangan. Namun mereka merahasiakannya, karena tidak ingin terjadi peperangan antar Asosiasi Ramuan. Jadi wajar saja jika Tuan Tua Zhuo tidak pernah mendengarnya.
Mereka berdua turun ke bawah. Saat sudah di samping Liam, Tuan Tua Zhuo menepuk pundaknya. Ia berkata, "Cucuku yang baik, kau sangat banyak berubah."
Liam pun bingung. Ia hanya diam saja dari tadi, tapi tiba-tiba mendapat pujian.
Dia memang punya banyak rahasia, batin Tuan Tua Zhuo sambil menatap Ling. Ia mengabaikan ekspresi heran Liam.
"Keluarga Lu sangat ingin masuk ke Kota Bayangan. Namun mereka tidak tahu, ternyata calon menantu yang mereka buang memiliki hubungan dengan Kota Bayangan. Kau sangat hebat Cucuku," ucap Tuan Tua Zhuo memberi senyum lebar pada Liam.
"Tentu saja. Pasti Keluarga Lu akan menyesal. Ayo, Kakek. Berikan investasi keluarga kita pada Chen Company agar Keluarga Lu menjadi marah," jawab Liam.
"Jangan sekarang. Dia akan menangani mereka sendiri. Berikan waktu pada Ling untuk menyelesaikan masalahnya," jawab Tuan Tua Zhuo sambil menatap Ling yang sudah menyeringai jahat. Sesaat kemudian, senyum itu menjadi santai.
Liam mengikuti arah pandang kakeknya. Ling masih berdiri menunduk seperti biasa. Senyumnya juga tenang seperti biasa. Tidak ada perubahan apapun.
"Kakek, kenapa tiba-tiba Kakek mempercayainya?" tanya Liam heran. Sejak kakeknya keluar dari kamar Ling, suasana hatinya terlihat lebih menyenangkan.
Tidak ada yang memahami kakeknya kecuali dia dan anggota keluarganya yang lain. Kakeknya selalu misterius di mata Liam. Ia merasa kakeknya melewati banyak hal menyakitkan dalam hidupnya. Meskipun ia juga bangsawan di Kota Urban, sepertinya ia tak menganggap bangsawan lain sebagai hal serius. Ini juga pertama kalinya ia berbicara dengan keluarga bangsawan lain di Kota Urban. Selain itu, ia memperlakukan Ling dengan sangat hormat.
Tuan Tua Zhuo berjalan ke arah Chen Qi. Ia sedikit tertawa saat mendengar pertanyaan Liam. Sebenarnya ia percaya pada Ling, tapi ia lebih percaya pada dukungan besar yang ada di belakangnya. Jika dia bukan dari Kota Bayangan, pasti dukungan di belakangnya sangat kuat hingga dia bisa mengetahui resep rahasia Asosiasi Ramuan.
"Tuan Tua Chen, aku akan pulang dulu. Beritahu aku saja jika kau membutuhkan sesuatu. Keluarga Zhuo akan mencoba membantu yang terbaik. Dan Ling, beritahu cucu durhakaku saja jika kau membutuhkan sesuatu," ia membungkuk saat mengatakan ini pada Ling.
Ling tahu itu adalah wujud terimakasihnya karena dia telah menyelamatkan Liam, jadi dia merasa hal ini biasa saja.
Lain halnya dengan Chen Qi dan Chen Lin. Mereka sangat bingung melihat Tuan Tua Zhuo. Keluarga Zhuo tidak mudah didekati, tapi mengapa mereka bisa sangat hormat dengan Ling?
"Kakek Zhuo, Anda bisa memanggilku Ling untuk seterusnya," ucap Ling. Ia menatap Tuan Tua Zhuo dengan senyum hangat.
Tuan Tua Zhuo mengangguk. Ia segera mengucapkan selamat tinggal. Mereka dapat melihat ekspresi bahagia terpancar jelas dari wajahnya.
__ADS_1