
"Anda harus bersyukur karena Tuan Bo menyelamatkan Anda. Jika bukan karena dia, pertempuran hari ini tak akan mudah. Bahkan jika kita menang, 70% pasukan kita akan hilang," jelas Chen Zhi.
Kepala akademi berkeringat dingin. Ia tak berani membayangkan apa yang terjadi jika Tuan Bo tidak datang.
Chen Kai yang terduduk di tanah, memandang Chen Zhi yang berada tak jauh darinya. Ia segera merangkak ke arahnya.
"Ayah, Ayah, tolong aku. Aku tak sengaja melakukannya. Aku dihasut. Aku putramu. Ayah harus membantuku bicara dengan Chen Ling," ucap Chen Kai meraih baju Chen Zhi.
Chen Zhi menatapnya dingin, "Hanya karena ini, kau ingin membunuh seorang murid baru? Saat itu aku memohon padamu agar tak menyerang Chen Ling, tapi apa yang kau katakan? Kau tetap ingin menyerangnya, kan? Adapun tentang Chen Wan Yi dan adiknya, apa kau lupa bagaimana kau dan ibumu melakukan metode kejam itu? Aku selalu mengajarimu ke jalan yang benar, tapi kau melenceng. Pergilah mengemis pada Chen Ling. Jika kau bersedia dan tulus memohon padanya, mungkin ia akan mengampuni nyawamu."
"Apa? Mengemis padanya? Aku putramu! Tuan Muda dari Keluarga Chen!" ucap Chen Kai tak percaya.
"Kau ingin tetap hidup atau mempertahankan harga dirimu?" tanya Chen Zhi datar.
Chen Kai bergetar, "Ayah ... apakah dia akan melepaskanku jika aku mengemis padanya?"
"Tidak mungkin," Chen Zhi menghela napas.
"Sekarang baru kau merasa takut? Mengapa kau tak memikirkan konsekuensinya sebelum bertindak? Keluarga Zhuo dari Asosiasi Dewa Ramuan saja dia jatuhkan. Namun, kau tahu apa? Mereka tak membalas perbuatannya," Chen Zhi melanjutkan.
Chen Kai tercengang. Ia tak pernah berpikir sejauh itu.
"Kau hanya dimanfaatkan oleh Zhuo Shiaonian. Kau masih berpikir kau hebat? Lakukan saja apa yang kau mau," ucap Chen Zhi terakhir kalinya sebelum pergi.
Chen Kai yang linglung masih duduk di tanah.
Tak lama, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Zhuo Shiaonian. Ia segera mengangkatnya, "Nona Zhuo Shiaonian ...."
Sebelum ia selesai bicara, Zhuo Shiaonian mengatakan sesuatu.
Ekspresi Chen Kai menjadi serius, "Apa? Orang dari badan intelijen? Baiklah. Berikan aku alamatnya."
"Tuan Muda, apa ada jalan keluar?" tanya Tuan Zhuo.
"Itu orang-orang dari badan intelijen. Mereka mengatakan jika bos mereka ingin bekerjasama. Persiapkan diri dan temui mereka. Kita harus menggunakan cara apa pun agar mereka mau bekerjasama dengan kita," jawab Chen Kai. Ia segera bangkit.
Ini mungkin kesempatan terakhirnya. Ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin.
*
Di waktu bersamaan.
Ling menuju ke kediaman Zhuo Xia.
Bo Minghao sedang meneleponnya, "Apa kau yakin tak akan menyentuh Chen Kai sekarang?"
Ling bergumam, "Hm, biarkan dia selama dua hari."
"Baiklah, aku juga di tempat Xia. Datanglah dulu," Bo Minghao menutup panggilan.
Di kediaman Zhuo Xia, Zhuo Kira memperhatikan Bo Minghao sedang mengobrol dengan Zhuo Xia tak jauh dari sana.
"Sial! Tuan Muda Chen sebenarnya putra Tuan Bo?" Zhuo Kira memandang Zhuo Nan.
"Ya, seharusnya kita mengerti sejak awal. Jika tidak, darimana ia punya nyali untuk melakukan itu?" Zhuo Nan mengusap wajahnya.
Keluarga Bo itu tidak rendah. Bahkan mereka terlalu tinggi hingga sulit untuk orang biasa melihatnya.
"Tapi, untungnya Tuan Bo datang. Jika tidak, tak akan ada yang tahu bagaimana akhirnya. Tuan Muda Chen sangat beruntung," ucap Zhuo Kira.
"Beruntung? Apa kau tahu jika binatang mutan milik Pulau Bintang telah dimusnahkan?" Lin Guxi yang mendengar percakapan mereka tak tahan untuk tidak bergabung.
"Aku tahu. Pemimpin yang memusnahkan binatang mutan itu adalah idolaku. Namun, pemimpin itu memiliki nama yang mirip dengan Tuan Muda Chen, yaitu Chen Ling," jawab Zhuo Nan.
Setelah itu, ia menatap Lin Guxi yang tak mengatakan apa pun. Tebakan liar muncul di kepalanya. Ia berkata, "Tunggu, Tuan Muda, jangan bilang ...."
"Ya, itu sudah jelas. Apa kau tahu kenapa Nona Zhuo tidak bergerak? Karena walaupun Tuan Bo tidak di sini hari ini, Tuan Muda tak akan melepaskan mereka," jawab Lin Guxi serius.
__ADS_1
Mereka menelan ludah, "Jadi ... orang itu ... memang ...."
"Benar sekali. Saat Tuan Muda datang ke luar negeri, aku telah memperingatkan orang-orang itu agar tak menyinggung perasaannya. Chen Kai pasti telah menyinggungnya. Cih, menyedihkan sekali," ucap Lin Guxi.
"Tuan Muda Lin, apa Tuan Muda Chen benar-benar menakutkan?" tanya Zhuo Kira.
"Menakutkan, ya?" Lin Guxi terkekeh dan duduk di kursi.
"Apakah menurutmu Zhuo Shiaonian kuat?" tanya Lin Guxi.
"Tentu saja. Dia sama terkenalnya seperti Nona Muda," jawab Zhuo Kira mengangguk.
"Tapi, apa kau tahu? Dia tak berani menyentuh Tuan Muda Chen saat di Kota Bayangan," ucap Lin Guxi.
Ia tak heran melihat wajah terkejut orang-orang itu.
Saat Ling tiba, ia melihat Zhuo Kira dan yang lainnya menatapnya kaget. Ia menaikkan alisnya, "Apa yang kalian lakukan?"
"Tidak ... tidak ada!" Zhuo Nan dan yang lainnya mengalihkan pandangan berpura-pura tak melihatnya.
Ling mengabaikan mereka kemudian pergi mencari Zhuo Xia dan Bo Minghao.
*
Ling memijat pelipisnya. Kehadiran Bo Minghao hampir merusak rencananya.
"Kau datang tepat waktu," ucap Bo Minghao saat melihat Ling masuk.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Bo Minghao tersenyum.
"Kembali?" Ling mengerutkan kening.
Bo Minghao mengangguk, "Tentu saja. Kau adalah putraku. Mengapa kau tak kembali ke Keluarga Bo?"
"Aku akan mempertimbangkannya," jawab Ling.
Ling menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian ia turun.
Saat turun, kebetulan Ling bertemu sopir baru. Sopir itu tak tahu kejadian di luar. Jadi saat melihat Ling, ia tak terlalu hormat.
Ia menunggu Ling menghilang dari pandangannya sebelum menelepon Zhuo Chun, "Tuan Muda Zhuo, Tuan Muda Chen itu terlihat biasa saja bagiku. Selain itu, ia juga sangat dungu. Anda tahu tentang wilayah selatan, kan?Aku saja yang seorang sopir tahu jika wilayah itu sangat berharga. Namun, ia mengatakan akan mengambil wilayah itu dengan mudah. Dia pikir tempat apa itu?"
Zhuo Chun menghela napas lega. Awalnya ia sangat takut Zhuo Xia menemukan pasangan yang sekuat dirinya.
Namun, saat sopir itu berjalan keluar, ia menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat Lin Guxi, yang bahkan dihormati Zhuo Chun, ia malah mengikuti di belakang Ling dan memanggilnya Tuan Muda. Selain itu, tetua Zhuo yang selalu angkuh juga memandang Ling dengan sangat hormat. Belum lagi Zhuo Nan dan yang lainnya.
Sopir itu menyadari ada yang salah dengan apa yang dia bayangkan.
*
Di Akademi Bintang.
Selain orang yang hadir hari itu, tak ada yang tahu jika Ling adalah putra Bo Minghao. Namun, saat mereka melihat Ling baik-baik saja dan Chen Kai menghilang, mereka bisa menyimpulkan hasil pertarungan itu.
Bai Chengsi berjalan ke ruang kelasnya seperti biasa, tapi tidak sengaja ia bertemu dengan Bo Shin yang sudah lama tidak ia lihat.
"Bo Shin? Kau kembali?" tanya Bai Chengsi terkejut.
Bo Shin berhenti dan tersenyum, "Ya, aku kembali karena mencari seseorang."
Saat mereka mengobrol, guru ramuan tiba-tiba menghampiri Bai Chengsi. Ia berkata, "Bai Chengsi, apa kau melihat Chen Ling?"
Mendengar nama ini, Bo Shin menatap guru ramuan.
"Chen Ling? Aku tidak melihatnya. Mengapa Anda mencarinya?" tanya Bai Chengsi.
__ADS_1
"Aku sudah lama mencarinya. Bai Chengsi, kau tahu bakatnya dalam ramuan, kan? Sayang sekali jika bakatnya disia-siakan dan memilih menjadi kultivator. Namun, di ruang latihan, ia bukannya latihan malah bermain game. Benar-benar tak habis pikir," jawab guru ramuan. Ia sedang berhadapan dengan dua murid terkenal di akademi.
Bo Shin hanya diam.
"Ah, sepertinya Chen Ling ini berasal dari Keluarga Bo mu," ucap guru ramuan menyadari sesuatu.
"Dia?" Bo Shin hanya tersenyum.
"Sepertinya kau mengenalnya. Bo Shin tolong bantu aku membujuknya jika kau bertemu dengannya nanti," ucap guru ramuan.
Bo Shin hanya tersenyum menanggapinya. Setelah ia dan Bo Xue Ning menjadi bawahan Ling, ia sedikit tahu tentang Ling, tapi tidak semuanya.
*
Ling masih berada di kediaman Zhuo Xia. Ia tak tahu jika banyak orang di akademi yang sedang mencarinya. Saat ia baru saja akan pergi, ia menerima panggilan dari Bo Shin.
"Kembali ke Keluarga Bo? Aku harus menunggu sampai libur akademi," jawab Ling.
"Baik. Aku di akademi sekarang. Kepala keluarga memintaku agar kembali bersamamu," ucap Bo Shin lagi.
"Akademi? Baik, tunggu aku," jawab Ling mengangguk. Ia menutup panggilan dan lanjut berjalan ke tujuan awalnya.
Pada saat yang sama, berita tentang putra Bo Minghao yang akan kembali, menyebar ke seluruh Keluarga Bo yang ada di pulau.
Di aula tetua, seorang pria tua berjanggut putih duduk dengan santai, "Bukankah itu hanya putra Bo Minghao? Jangan terlalu memikirkannya."
"Haruskah kita menyelidikinya?" tanya penjaganya yang sedang berlutut.
"Apakah perlu? Kota Bayangan dapat menghasilkan satu Bo Minghao. Apa mungkin menghasilkan satu lagi?" tetua itu melambai santai.
Ia tak tahu jika dia akan menyesal seumur hidup karena tak menyelidikinya.
*
Sementara itu, Chen Kai dan Tuan Zhuo tiba di lokasi yang ditentukan oleh badan intelijen. Namun, sampai sekarang mereka belum datang. Chen Kai merasa cemas.
"Tuan Muda Chen, apa ada masalah lagi?" tanya Tuan Zhuo.
"Tidak mungkin. Walau badan intelijen adalah kekuatan baru, tak ada yang berani meremehkannya. Selama mereka mengatakan Chen Ling asal usulnya tidak jelas, nyawa kita bisa tetap aman," jawab Chen Kai. Ia merasa sangat frustasi.
"Oh, benar, aku sudah memberitahu kalian untuk menyiapkan koin. Berapa banyak yang sudah kalian siapkan?" tanya Chen Kai kepada orang-orang di sampingnya.
"Aku memiliki 900.000 koin. Tuan Muda Chen, ambillah ini," ucap seseorang memberikan kartu.
Orang-orang lainnya juga menyerahkan kartu mereka dengan senang hati. Ini menyangkut nyawa mereka, jadi uang bukanlah hal besar.
Chen Kai berpikir, dengan uang-uang ini, badan intelijen akan tertarik.
Saat dia berpikir, muncul beberapa orang.
Chen Kai melihat dua orang berjalan mendekat, salah satunya adalah Mei Mengyi yang dia kenal. Ia merasa dalam bahaya kali ini, tapi melihat orang yang satu lagi, ia merasa masih memiliki peluang.
"Maaf, apa Anda adalah bos dari badan intelijen?" tanya Chen Kai pada orang di sebelah Mei Mengyi.
Bo Xue Ning duduk di kursi dan menggeleng, "Bukan aku. Bos kami sedang dalam perjalanan ke sini."
Chen Kai merasa senang. Ia melihat sepertinya Bo Xue Ning tidak akrab dengan Mei Mengyi. Ia merasa semuanya akan baik-baik saja.
Saat ia memikirkan bos itu, ada lagi yang datang.
Semua melihat ke arah itu.
Tak jauh dari sana, sosok tampan berjalan santai. Satu tangannya memegang ponsel dan satu lagi dimasukkan ke saku. Matanya hitam dan indah. Lampu di aula yang terang seolah menyambut kedatangannya.
Chen Kai mengerutkan kening. Bagaimana ia tidak bisa mengenali Ling? Ia memilih mengabaikannya dan membuang muka.
Ling berjalan melewatinya dan menuju Bo Xue Ning. Tak ada yang menghentikannya. Chen Kai dan yang lainnya juga tercengang. Pemikiran konyol muncul di benak mereka. Mereka tak bisa bereaksi apa pun.
__ADS_1
Dalam keadaan mereka yang masih membeku, Ling duduk di samping Bo Xue Ning dan tersenyum pada Chen Kai, "Benar sekali. Aku adalah bos di balik badan intelijen. Ahli Bom Mei juga salah satu anak buahku."