
Ling maju ke depan podium dengan santai. Ia memasukkan dua tangan ke saku dan tatapannya terlihat malas. Sedangkan Su Wen Ai sibuk menahan Yuan dan Liam.
Setelah sampai di depan podium, ia berdiri di sebelah Rektor Xiang.
"Rektor, selain melakukan tindakan ilegal, dia juga melakukan kecurangan. Dia sengaja melompat ke danau dan merusakkan jamnya. Dengan itu orang-orang akan berpikir bahwa jamnya rusak jadi akan maklum jika poinnya banyak," ucap salah satu dosen yang paling kesal.
"Namun Rektor tenang saja. Kami sudah blacklist dia," sambung salah satu dosen.
"Kau masuk ke danau beracun?" tanya Rektor Xiang lembut pada Ling.
"Benar, Rektor," jawab Ling sambil tersenyum.
Rektor Xiang terkejut. Karena, sebelum ruangan rahasia itu dibuat, danau beracun itu hanya satu orang yang bisa memasukinya dan keluar dengan selamat. Namun orang itu telah tiada.
Saat melihat Ling sejak awal, Rektor Xiang sudah merasakan sesuatu hal familiar. Ia seperti pernah bertemu dengan Ling sebelumnya. Dan saat melihatnya hari ini, perasaan familiar itu semakin terasa.
"Apa kau terluka?" tanya Rektor Xiang lagi.
Dosen-dosen yang melihat ini malah tambah kesal dengan Ling. Seharusnya dia dihukum, kalau perlu dikeluarkan dari universitas. Namun Rektor Xiang malah perhatian dengannya.
Ini juga hal yang aneh. Tidak biasanya Rektor Xiang peduli dengan hal begini. Apalagi Ling hanya mahasiswa baru dari kampung.
"Aku baik-baik saja, Rektor," jawab Ling masih tersenyum.
"Baguslah kalau begitu," ucap Rektor Xiang lagi.
Kemudian ia kembali bicara. Namun kali ini nadanya tidak sehangat tadi, "Berikan aku rekaman pengawasan tadi."
Para dosen yang mendengar Rektor Xiang seperti ini, dengan segera ke ruangan pengawas dan mengambil flashdisk. Mereka segera memutar ulang di layar besar, video di mana Ling masuk dan keluar dari danau.
Ling memang terlihat meminum banyak ramuan. Namun tidak ada yang tahu ramuan apa itu, kecuali Rektor Xiang. Dia sangat terkejut karena ramuan itu sama dengan yang dipakai orang itu.
Terakhir, diperlihatkan Ling keluar dari danau. Dia menuju hutan dan berganti pakaian. Namun tidak ada yang bisa melihatnya berganti pakaian.
"Lihat, Rektor. Saat ia berganti pakaian, ia menukar jam itu," ucap dosen itu menunjuk ke arah Ling.
Ling maju ke depan dosen itu. Ia mengambil jari telunjuknya.
Tak!
__ADS_1
"Arrrgghhhh ...," dosen itu berteriak kesakitan.
Ling mematahkan jarinya.
"Orang yang berani menunjukku biasanya akan mati. Kau harusnya merasa beruntung karena hanya jarimu yang patah," ucap Ling santai seolah bukan dia yang mematahkan jari itu.
"Kau melukai dosen. Kau melakukan percobaan pembunuhan. Kau harus masuk penjara!" teriak dosen yang dipatahkan jarinya itu.
"Aku akan menelepon ketua polisi. Kau pasti tidak menyangka bahwa nama keluargaku adalah Wei," ucap dosen itu sombong. Ia menggunakan tangan kirinya untuk menelepon.
"Berapa poin yang kau dapat?" tanya Rektor Xiang pada Ling.
"Aku mendapat 300 juta poin, Rektor. Jika Rektor ingin memeriksa barangnya, aku masih memilikinya," jawab Ling. Ia mengeluarkan barang-barang yang tadi dia masukkan sebagai poin.
"Ini semua aku dapatkan di dalam danau, Rektor. Isi danau itu lumayan juga. Jadi aku menetralkan racun itu agar universitas memiliki pemasukan," jawab Ling lagi.
"Bunga dan buah ini ...," Rektor Xiang benar-benar semakin terkejut.
"Bolehkah aku memilikinya?" tanya Rektor Xiang pelan.
"Tentu saja. Larutkan juga mutiara itu agar obatnya bekerja lebih baik," jawab Ling.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Rektor Xiang bingung melihat Ling yang tahu tujuannya.
Belum sempat menjawab, suara deru helikopter terdengar di luar aula. Para mahasiswa segera tahu bahwa itu dari departemen kepolisian.
Saat ketua polisi, Wei Lang, memasuki aula, semua mahasiswa secara naluriah memberinya jalan. Kemudian dari belakang terlihat segerombolan polisi datang mengikutinya.
"Keponakan, akhirnya kau datang. Lihat! Jari Pamanmu dipatahkan oleh bocah itu! Selain dia melakukan kecurangan dengan cara melompat ke danau beracun, meledakkan gua, dia juga melakukan percobaan pembunuhan," dosen itu mengadu pada Wei Lang.
Wei Lang mendatangi Ling. Ia hanya diam dan menatap lekat Ling.
"Masuk ke danau beracun, melakukan ledakan, mematahkan jari, siapa lagi yang lebih berani dari dia," ucap Wei Lang setelah diam beberapa lama.
"Keponakan, apa maksudmu?" tanya dosen itu yang melihat Wei Lang hanya diam saat melihat Ling.
"Tangkap dosen itu karena sudah memfitnah dan mengacaukan kompetisi di universitas," ucap Wei Lang pada bawahannya. Namun matanya masih menatap Ling.
"Keponakan dia yang bersalah bukan aku!" teriak dosen itu meronta saat para polisi membawanya.
__ADS_1
"Aku ini Pamanmu! Kau tidak bisa menangkapku," ucap dosen itu masih meronta. Para polisi semakin menarik dia kuat, hingga dosen itu keluar ruangan.
Ling dan Wei Lang masih saling tatap. Rektor Xiang hanya diam melihat mereka.
"Lama tidak bertemu," ucap Wei Lang. Walau ia sedikit tidak percaya, tapi aura tidak bisa bohong. Walau segalanya telah berubah, tapi perasaan itu tetap ada.
"Benar, Wei Lang," jawab Ling santai.
Rektor Xiang hanya terkejut melihat ini.
"Kau ...," ucap Rektor Xiang melotot ke arah Ling.
"Apa itu benar kau?" tanya Rektor Xiang sambil menutup mulut.
Ling melihat pita putih di tangannya berayun. Kemudian ia menunduk. Ia juga melihat pita putih di tangan Wei Lang.
"Kita bisa bicarakan nanti, Rektor," jawab Ling. Ia tak sesantai tadi.
"Jika kau ada masalah bisa hubungi aku," ucap Wei Lang.
"Aku akan pergi bertugas lagi," lanjut Wei Lang bicara.
Ia dan pasukannya pergi. Deru helikopter dan sirine mobil terdengar sahut-sahutan. Keadaan universitas saat itu sangat ramai. Untungnya tak menarik perhatian media.
"Chen Ling mengapa kau meledakkan gua?" tanya Rektor Xiang. Namun kali ini bukan Ling yang menjawab.
"Rektor, di dalam gua itu ada makhluk yang terlihat seperti manusia, tapi tubuhnya sangat besar," ucap salah satu siswa yang terlihat sedikit luka di tubuhnya.
"Benar, Rektor. Chen Ling tidak melakukan kesalahan. Dia menolong kami," jawab mahasiswa yang lain.
"Kami mohon keadilan untuk Chen Ling, Rektor," ucap seluruh mahasiswa yang berada di tempat kejadian.
"Kami mohon keadilan untuk Chen Ling, Rektor," ucap seluruh mahasiswa lagi.
Mereka akan dengan senang hati meminta keadilan untuk Ling. Siapa lagi yang akan berdiri dengan gagah di depan mereka jika bukan Ling? Siapa lagi yang dengan senang hati menolong mereka tanpa diminta?
Siapapun yang ada di posisi ini, pasti akan melakukan hal yang sama.
"Harap tenang semuanya. Aku, Rektor dari Universitas Internasional Kota Bayangan, dengan ini akan memberi Ling penghargaan atas jasa dan keberaniannya," ucap Rektor Xiang menggema di seluruh aula.
__ADS_1