
Suasana di meja makan sangat hangat. Pagi ini Chen Qi, Chen Lin, dan Ling sedang sarapan bersama. Wajah Chen Qi dan Chen Lin terlihat berbinar. Tidak tahu apa alasannya.
"Bagaimana di universitas?" tanya Chen Qi.
"Baik-baik saja," jawab Ling singkat.
Chen Qi hanya mengangguk mendengar jawaban Ling. Walau ia kelihatan cuek, ia bisa memakluminya. Karena memang itulah sekarang sifat Ling.
Tak sengaja, Ling melihat Chen Lin tersenyum sambil menatap ponsel. Ia bahkan meninggalkan makanannya untuk membalas pesan itu.
"Siapa itu Ibu?" tanya Ling.
"Ah bukan siapa-siapa," jawab Chen Lin sedikit gugup.
"Baiklah. Aku tidak akan menyelidiki rahasia Ibuku," ucap Ling lagi. Mereka pun melanjutkan makan mereka hingga selesai.
*
Beberapa hari setelah Mo Xiayi diusir, Zhuo Xia baru mengetahuinya. Bagaimanapun, hanya sedikit orang yang tahu hal ini. Ketua Dai tahu jika Zhuo Xia memberi perhatian lebih pada Mo Xiayi.
"Jadi, dia telah pergi?" tanya Zhuo Xia memastikan lagi.
"Benar, Nona. Beberapa hari yang lalu," jawab Ketua Dai ragu. Sebenarnya ia dan Yu Bin ragu saat akan memberi informasi pada Zhuo Xia. Karena saat ini, penyakit Zhuo Xia kembali kambuh.
"Ayo pergi ke rumah Ling," ucap Zhuo Xia.
Apa yang ditakutkan Ketua Dai terjadi. Kakek Zhuo Xia menyuruhnya istirahat. Ia harus memulihkan diri.
"Siapkan mobil," ucap Zhuo Xia lagi.
Ketua Dai tak bisa berkata-kata lagi. Jika ia menolak pun, Zhuo Xia akan tetap pergi. Jika tak menolak, ia akan disidang oleh kakek Zhuo Xia. Namun ia lebih takut jika Zhuo Xia marah. Jadi ia lebih memilih mengikuti perintah Zhuo Xia.
Ketua Dai menyiapkan mobil.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di rumah Ling. Ia tahu Ling ada di sini. Ia juga tahu rumah ini milik Keluarga Chen. Semua tentang Ling ia tahu.
"Di mana Chen Ling?" tanya Zhuo Xia pada Chen Tian.
"Tuan Muda sedang tidak ingin diganggu. Kalian boleh pergi," jawab Chen Tian. Ia tak mengenali Zhuo Xia. Jadi ia tak tahu jika Ling dekat dengannya.
__ADS_1
"Kami punya urusan penting," ucap Ketua Dai. Ia melihat wajah Zhuo Xia semakin pucat. Ia takut jika Zhuo Xia berdiri terus seperti ini, penyakitnya akan semakin parah.
"Tuan Muda sudah bilang tidak ingin diganggu siapapun," jawab Chen Tian lagi. Ia memang mematuhi perintah Ling. Zhuo Xia tak bisa menyalahkannya. Ia pun memilih menelepon Ling.
Namun belum sempat ia menelepon nomor itu, Paman Qian keluar.
"Nona Zhuo, silahkan masuk," ucap paman Qian. Tadi ia mendapat perintah dari Ling untuk membiarkan Zhuo Xia masuk.
Mendengar itu, Zhuo Xia segera masuk. Ia tak mempedulikan tatapan heran para penjaga. Paman Qian yang melihat ini hanya bisa menghampiri mereka. Ia berkata, "Lain kali, biarkan saja Nona itu masuk. Dia adalah teman Tuan Muda Chen."
Penjaga itu pun mengangguk mengerti.
Saat Zhuo Xia masuk ke rumah, Chen Qi dan Chen Lin masih ada di ruangan keluarga. Chen Lin sedikit terkejut melihat Zhuo Xia. Ia tahu Ling tak pernah membawa teman wanita lain masuk ke rumah kecuali Su Wen Ai. Jadi ia sedikit heran melihat Zhuo Xia.
Walaupun begitu, ia juga merasa senang saat melihat Zhuo Xia.
"Xia, ayo duduk di sini bersama Bibi. Ling masih harus mengerjakan sesuatu," ucap Chen Lin mencoba ramah.
Zhuo Xia hanya tersenyum hangat. Ia pun duduk bersama Chen Lin. Sedangkan Ketua Dai masih berdiri. Ia sangat terkejut melihat sifat Chen Lin. Ia tak mengerti mengapa Chen Lin bisa begitu santai saat berhadapan dengan Zhuo Xia.
Mungkin itu karena Chen Lin tak tahu identitas aali Zhuo Xia.
Ia sudah menunggu. Jika Ling tak mendatanginya, ia akan mendatanginya lagi.
Ia ingin mendengar jawaban Ling hari ini.
Ketua Dai sudah sejak tadi mengirim pesan pada Ling. Ia merasa Zhuo Xia semakin pucat. Bahkan suaranya melemah saat berbicara dengan Chen Lin.
Ling hanya dapat mendesah pasrah saat membaca pesan ini. Ia tak bisa terus-terusan menghindari Zhuo Xia. Apalagi saat tahu penyakitnya kambuh lagi seperti ini.
Akhirnya ia pun memilih keluar kamar dan menemui Zhuo Xia.
Saat melihat Zhuo Xia dari atas, ia melihat Zhuo Xia memang sangat pucat. Sepertinya dia keras kepala lagi dan tak ingin dirawat. Ling kembali menghela napas.
Ia teringat saat Zhuo Xia menanyakan hal itu. Hatinya mengalami lonjakan hebat. Pikirannya kacau. Ia tak pernah berpikir untuk memulai suatu hubungan. Ia memiliki tanggungjawab besar di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia juga memiliki tanggungjawab di Kota Bayangan.
Perjalanannya masih panjang dan berbahaya.
"Xia, aku akan memeriksamu di kamar," ucap Ling. Zhuo Xia sedikit tertegun melihat Ling. Ia sudah lama tidak melihat Ling dalam beberapa hari ini.
__ADS_1
Dengan itu pun, Zhuo Xia mengikuti Ling di belakang.
Saat sudah sampai di kamar, Ling langsung memeriksa nadi Zhuo Xia. Nadinya masih kacau seperti sebelumnya. Wajah putihnya sangat pucat.
"Sudah tahu seperti ini kau masih saja memaksakan diri. Kau sangat keras kepala," ucap Ling. Ia bangkit dan mengambil jarum perak untuk mengobati Zhuo Xia.
Lalu, ia melakukan penyembuhan pada Ling.
"Aku baik-baik saja," ucap Zhuo Xia.
Dia memang sangat keras kepala. Ling hanya bisa bernapas pasrah.
"Kau serius?" tanya Ling. Ia bukan menanya tentang keadaan Zhuo Xia, tapi hal lain.
"Kau tahu aku sangat serius," jawab Zhuo Xia menatap Ling lekat.
Ling menyadari ini. Ia tahu niat awal Zhuo Xia. Ia tahu semua yang dilakukan Zhuo Xia untuk dirinya. Ia tahu jika Zhuo Xia melawan Kota Bayangan untuk dirinya. Ia tahu Zhuo Xia memang menyukainya.
"Aku akan memberitahumu satu hal. Masa depanku tidak pasti. Aku tidak bisa melakukan hal itu," ucap Ling menjelaskan.
Zhuo Xia tahu pasti hal ini. Ia juga mengerti arah pembicaraan Ling. Ia menghela napas pelan sebelum menjawab.
"Aku juga akan memberitahumu. Kau ingat ataupun tidak ... aku akan tetap menyukaimu. Sangat menyukaimu. Namun jangan merasa tertekan dengan hal ini," ucap Zhuo pelan.
"Ya, aku tahu," ucap Ling. Ia sudah selesai melakukan penyembuhan pada Zhuo Xia.
"Sekarang aku belum bisa menjawab ini. Aku mungkin akan menjawab dalam waktu yang lama. Hingga saat itu kau akan berhenti menyukaiku," ucap Ling.
Jantung Zhuo Xia seolah berhenti.
Zhuo Xia merasa darahnya dingin. Tubuhnya membeku. Ia tak pernah memaksa Ling. Ia dengan pasrah mengungkapkan perasaannya tanpa rasa malu. Ia melakukan semuanya untuk Ling. Ia tak menyangka akan mendapat jawaban seperti ini.
Namun sampai sekarang Zhuo Xia tak menyesali apa yang telah dia lakukan.
Ia mengulurkan tangan dan memeluk Ling. Ia menjatuhkan kepalanya di dada bidang Ling. Ia menahan air matanya agar tak jatuh.
Ia menjawab dengan suara bergetar, "Baik."
Bagaimana cara memberitahu Ling, bahwa dia tak akan pernah berhenti menyukai Ling? Bagaimana lagi cara membuktikannya bahwa Ling adalah orang yang paling ingin dia jaga dalam hidupnya?
__ADS_1