
Wuzhou menyingkir dari kamera yang semakin menyorotnya. Ia tak pernah memikirkan ini. Ia pikir ia diterima di universitas karena kejeniusannya. Ia tak pernah berpikir akan mendapat pukulan telak dari Rektor Xiang.
Ia menatap Ling yang juga menatapnya dengan tatapan dingin. Ia mengepalkan tangan erat saat Ling tersenyum sinis padanya.
"Rektor Xiang, Anda dapat mengujiku lagi. Aku memiliki ingatan fotografis," ucap Ling santai.
Rektor Xiang menatap Ling dengan penuh arti. Ada perasaan aneh yang merasuki tubuhnya. Ia membeku sejenak. Setelah itu, ia mulai menjawab, "Tidak perlu, tidak perlu. Aku percaya padamu."
Ekspresi wakil kepala sekolah berubah. Ia berkata dengan lirih, "Rektor, mohon jangan percaya padanya."
Kini, Rektor berbalik menghadap semua orang. Media mulai menyorotnya.
"Apa yang kalian tahu? Pertanyaan-pertanyaan itu dibuat oleh profesor jenius di universitas kami. Jawabannya juga baru dibuka tadi pagi. Dan perlu kalian tahu juga, orang yang kalian bilang menyontek, menjadi satu-satunya di dunia yang mendapat nilai sempurna dalam sains. Menurutmu darimana ia menyontek?" ucap Rektor Xiang.
Kini, ia menunjuk ke arah layar.
"Lihat! Peringkat kedua global. Dia adalah yang terbaik diantara ribuan orang. Dia masuk ke dalam kategori siswa elit. Apakah menurutmu universitas kami menggunakan standar rendahan dalam menilai orang? Jangan terlalu berpikiran sempit. Apakah menyontek bisa melampaui semua orang dan menuju peringkat global? Apakah menurutmu mahasiswa di universitas kami adalah sampah semua?" ucap Rektor Xiang telak.
Keheningan kembali terjadi. Benar apa yang dikatakan Rektor Xiang. Dari siapa dia bisa menyontek?
Ling mengambil kertas dan pena dari tasnya. Ia menunduk dan menulis sesuatu. Tidak ada yang tahu apa yang dia tulis.
Beberapa menit kemudian ia selesai menulis dan mengangkat kertas itu.
"Semua jawaban ada di kertas ini. Ini akan membuktikan bahwa aku layak menjadi peringkat kedua global," ucap Ling tegas. Ia tersenyum dan menatap semua orang yang meragukannya.
Rektor Xiang mengambil kertas untuk memeriksanya. Ia sedikit terkejut. Ia tak menyangka Ling bisa menulis semua jawaban dengan benar dalam beberapa menit.
Kemudian ia bertanya, "Aku dengar kau tidak menjawab satu soal tentang kebijakan pemerintah di tes kewarganegaraan?"
Rektor Xiang menatapnya dalam. Itulah yang membuat Ling memiliki selisih satu poin dari peringkat pertama.
"Benarkah? Sepertinya aku melewatkannya," jawab Ling. Ia sudah memasukkan pena ke tas dan memakai tasnya.
"Kau mengingatkanku pada muridku. Dia tidak ingin menjawab soal tentang kebijakan pemerintah karena dia tak ingin mentaati peraturan. Bahkan ... nama kalian sama," ucap Rektor Xiang.
__ADS_1
Dia kembali menatap Ling. Nada bicara, tingkah laku, sifat, dan aura yang dikeluarkan, mereka sangat mirip.
Namun, wajah, fisik, dan umur mereka berbeda.
"Benarkah? Lalu dimana dia?" tanya Ling.
"Kami sedang menunggunya kembali," jawab Rektor Xiang mencoba santai.
"Lalu bagaimana jika dia tidak kembali?" tanya Ling lagi.
"Kami akan terus menunggunya," jawab Rektor Xiang. Matanya dipenuhi kilatan harapan.
"Baiklah. Kau tenang saja. Aku akan menyelesaikan masalah ini dan mencari keadilan untukmu," ucap Rektor Xiang. Dia menepuk lembut bahu Ling.
"Rektor Xiang, apakah Anda benar-benar mempercayai Ling?" tanya Wuzhou masih tidak percaya. Ia sudah mengambil kertas yang tadi ditulis oleh Ling.
"Aku ingin tertawa sekarang. Mengapa orang yang biasa-biasa saja bisa diidolakan oleh banyak orang? Sedangkan orang yang benar-benar jenius malah tak terlalu menonjolkan diri," Rektor Xiang menatap dingin ke arah seluruh murid.
"Apa yang ditulis Chen Ling di kertas adalah salah satu pertanyaan tersulit. Hanya ada dua orang di dunia yang berhasil menjawabnya. Dan Chen Ling menjadi yang ketiga. Aku curiga kau yang menyontek dari proposal investasimu," Rektor Xiang mengakhiri kalimatnya.
Tidak ada yang meragukan perkataannya. Bagaimanapun universitas itu adalah yang terbaik di dunia. Mereka tak mungkin salah dalam menilai orang.
Wuzhou melihat kertas di tangannya. Kertas itu penuh dengan rumus matematika. Namun Wuzhou tak memahaminya satu pun.
Ia juga melihat tulisan Ling sangat indah. Ia pernah dibanggakan karena tulisannya yang indah. Sampai-sampai media memberitakannya. Ini adalah salah satu pencapaian yang sangat dia banggakan. Namun jika dibandingkan dengan Ling, tulisannya bagaikan seonggok sampah.
Ling berada di peringkat kedua global. Pantas saja Ling tak peduli dengan pencapaian kecilnya. Ternyata selama ini dia tak menganggap serius Wuzhou.
Kini jarak mereka bagaikan langit dan bumi.
Sekarang Ling menghadap ke arah teman sekelasnya, gurunya, dan kepala sekolah, serta beberapa orang yang berdiri tadi. Mereka adalah orang-orang yang membelanya.
"Aku ingin berterimakasih kepada kalian," ucap Ling.
"Aku tidak akan pernah melupakan kejadian hari ini dan dukungan kalian," lanjut Ling dengan santai. Ia menyapu pandangannya ke seluruh orang.
__ADS_1
"Jangan khawatir Ling. Kami akan tetap di sini sampai kau menemukan keadilan!" ucap salah satu teman sekelasnya.
"Benar! Ling adalah yang paling jenius!" tambah salah satu orang.
*
Lu Yan segera keluar dari ruangan. Wuzhou yang melihat ini merasa emosi. Dia melihat Lu Yan menghalangi jalan Ling.
"Mengapa selama ini kau berbohong padaku?" tanya Lu Yan merentangkan tangan untuk memblokir jalan Ling.
Lu Yan mengenalnya sejak kecil. Mereka selalu bersama. Ia adalah orang paling bodoh yang dikenal Lu Yan. Maka dari itu ia sangat senang saat pertunangan mereka dibatalkan.
Namun ternyata Ling membohonginya?
Dia adalah alasan Rektor Xiang datang ke Kota Urban. Bahkan Rektor Xiang mengundangnya secara langsung. Dan ia mendapat peringkat kedua global.
Apalagi namanya jika selama ini Ling tidak menipunya?
"Kau salah. Chen Ling di masa lalu selalu membantumu meniti karir, karena dia memang mencintaimu," jawab Ling santai.
Sayangnya, Lu Yan menghancurkan cinta itu. Ia bahkan berselingkuh dengan saudara laki-lakinya.
"Cinta? Aku tidak pernah menganggapmu. Kau menipuku selama ini untuk mencuri perhatian, kan? Sayang sekali. Aku hanya mencintai Wuzhou. Dan untuk orang licik sepertimu ... jangan pernah berpikir untuk mencintaiku," jawab Lu Yan dengan ekspresi suram.
Mendengar ini, Wuzhou menjadi tenang. Ia berjalan ke sisi Lu Yan.
"Kakak, tadi aku benar-benar merasa kau berbuat curang. Aku tidak tahu, aku minta maaf, ternyata kau selama ini menipu kami. Kau selalu bertindak sebagai orang bodoh," ucap Wuzhou menambahkan.
"Wuzhou, aku tidak akan mengulang dua poin ini," Ling sudah menghadap ke arah Wuzhou sekarang.
"Pertama. Jangan panggil aku Kakak. Semua orang di dunia ini ingin menjadikanku saudara mereka, tapi kau tidak layak," ucap Ling berhenti sejenak.
"Kedua. Apa kau ingat apa yang aku katakan sebelum ujian ini?" tanya Ling.
"Apa?" tanya Wuzhou balik secara refleks.
__ADS_1
"Aku akan membantai seluruh keluargamu," ucap Ling sambil menyeringai.