
Di Chen Company.
Saat itu, Chen Qi, para pemegang saham, dan para staff sedang menonton siaran langsung. Mereka sudah melihat Ling di layar besar itu. Kini mereka tak bisa berkata-kata.
Direktur personalia memikirkan perkataan Ling sebelum dia keluar dari Chen Company.
'Perusahaan kecil seperti Lu Company saja sudah membuat kalian takut. Bagaimana kalian bisa bertahan di Kota Bayangan?'
Ia merinding saat mengingat itu. Ia pikir saat itu Ling hanya menghibur mereka dengan membawa nama Kota Bayangan. Namun saat melihat dia membuat Lu Company terdiam saat konferensi pers, direktur itu jadi mempercayai Ling.
"Aku tidak menyangka Tuan Muda bisa membalik keadaan dan meyakinkan publik. Selama puluhan tahun bekerja dalam dunia bisnis, ini pertama kalinya aku menyaksikan pertempuran yang sangat menegangkan," ucap salah satu pemegang saham. Ia berbadan kurus dan sangat tinggi.
"Kertas yang diberikan Tuan Muda pada kita harus kita realisasikan. Kita akan mengadakan konferensi pers sore ini dan mengumumkan proposal baru," ucap pria kurus itu.
Setiap orang yang ada di ruangan itu mengangguk setuju. Kini mereka bisa bernapas sedikit lega.
*
Chen Wu menerima pesan dari petinggi di Chen Company. Ia tertawa saat membaca pesan itu. Dia tak membalas pesan. Dia berjalan ke sisi Chen Lin dan mengumumkan tentang rencana ke depan untuk Chen Company.
Ling akan keluar dari ruangan. Ia berjalan lurus ke arah pintu. Setiap orang dan wartawan membuka jalan untuknya. Dia melengkungkan bibir dan membentuk senyum dingin.
Saat Wuzhou melihatnya, dia mengepalkan tangan erat. Bukan seperti ini rencananya. Ia ingin Chen Company mengumumkan kebangkrutan mereka. Namun Ling malah bisa bekerjasama dengan Keluarga Zhuo, Keluarga Yu, dan Yuan Ming.
Bagaimana bisa mereka kalah dengan sampah tidak berguna?
"Lu Yan," ucap Wuzhou mengangkat kepalanya.
"Tenang saja. Kita masih memiliki Tuan Han. Meskipun ia memiliki dukungan dari Keluarga Yu yang memegang kendali militer, tetap saja mereka bukan lawan dari orang Kota Bayangan. Tuan Han pasti memiliki cara untuk menjatuhkan mereka," lanjut Wuzhou mulai menenangkan diri.
"Yang penting sekarang adalah mengendalikan situasi," jawab Lu Yan terlihat frustasi. Konferensi persnya kacau balau.
"Aku akan menghubungi Tuan Han. Lebih baik kita akhiri dulu konferensi pers hari ini," ucap Wuzhou mencoba menenangkan Lu Yan.
Seharusnya, hari ini mereka mengumumkan pernikahan mereka. Namun itu dibatalkan karena ulah Ling.
Wajah Wuzhou semakin suram. Saat ia mengangkat kepala, Ling sudah di sampingnya dan berhenti berjalan.
__ADS_1
"Jangan terlalu terkejut. Redakan emosimu," ucap Ling tanpa melihat Wuzhou.
"Bagaimanapun ... ini baru permulaan," Ling lanjut bicara.
Ia pergi meninggalkan ruangan konferensi pers yang hening. Mereka terpaku melihat kepergian Ling.
Ketika itu, Yu Bin segera sadar dari lamunannya. Senyum dingin Ling masih melekat di pikirannya. Namun ia memilih tetap berjalan keluar.
"Tunggu, Nona Yu," ucap Lu Yan menghentikan Yu Bin.
"Aku tidak tahu mengapa Anda bekerjasama dengan Chen Company. Kalian adalah keluarga militer. Kalian tidak berhak ikut campur urusan perusahaan. Apa Anda tidak takut melanggar hukum?" tanya Lu Yan mencoba mengintimidasi Yu Bin.
Yu Bin terkekeh.
Ia menjawab, "Apa kau lupa bagaimana Keluarga Yu hidup selama ini? Kami tidak pernah mendengarkan perintah dari siapapun."
Jawaban Yu Bin telak. Lu Yan langsung membeku. Ia baru ingat jika Keluarga Yu tidak pernah berada di bawah kendali siapapun. Mereka juga tidak pernah mendengarkan siapapun, kecuali jenderal perang.
"Cepat hubungi Tuan Han," ucap Lu Yan pada Wuzhou. Dia semakin frustasi.
Setelah beberapa menit, konferensi pers pun berakhir.
"Mengapa kau mewawancarainya? Lebih baik wawancarai Nona Yu. Dia jarang muncul di media," jawab salah satu reporter.
"Itu memang benar. Namun apakah kau sadar? Ini adalah wilayah Lu Company. Mereka mengadakan konferensi pers untuk mendiskusikan tentang Proyek L. Namun karena kehadiran Tuan Muda Chen yang mengambil alih, mereka tidak mengatakan apa pun. Dia pasti sangat hebat. Aku pikir kalian juga lupa tentang tujuan awal konferensi pers adalah untuk membahas Proyek L," ucap reporter yang ingin mewawancarai Ling.
*
Di sebuah rumah di Kota Urban.
Zhuo Xia sedang duduk di meja kerjanya. Di depannya ada A Shui yang menatapnya.
"Informasi yang kau cari memang disembunyikan. Aku tahu kau peretas handal. Namun jika kau menerobos informasi dengan keamanan tingkat tinggi, kau bisa di penjara," ucap Zhuo Xia.
A Shui mengangkat kepala dan membenarkan kacamatanya. Ia menutup laptop di pangkuannya yang sedang menampilkan video siaran langsung.
"Baiklah. Aku tidak akan menyelidiki lagi," ucap A Shui.
__ADS_1
A Shui keluar dan membawa laptopnya. Pita putih di pergelangan tangannya terayun. Keningnya terlihat mengerut.
Orang itu tak suka berada di keramaian. Ia tak suka difoto dan diawasi.
Namun saat ia melihat senyum dingin pria itu di konferensi pers, ekspresi itu sama persis seperti orang yang ada di ingatannya.
*
Keesokan harinya, Ling sudah sekolah seperti biasa. Ia dan Liam berjalan bersama dari gerbang.
"Berikan ini pada Kakek Zhuo," ucap Ling melempar sesuatu.
Untuk Kakek? batin Liam.
Liam menerima benda itu. Itu adalah plakat kayu berbentuk persegi dengan ukiran naga di atasnya. Ia melihat itu dengan teliti. Namun dia tak memiliki bayangan apa pun. Jadi dia hanya menyimpan itu di sakunya.
Mereka berjalan menaiki tangga. Saat ini Ling mendapat berbagai macam tatapan aneh. Ia tahu ini akibat konferensi pers. Namun ia tak menyangka dampaknya akan sebesar ini.
Ling memasuki kelas. Dia berjalan menggunakan tas dan seragam sekolahnya. Orang tak perlu melihat wajahnya. Mereka tahu itu adalah Ling saat melihat bayangannya.
Ling mengabaikan tatapan itu. Ia berjalan ke mejanya.
Setelah ia duduk, bel berbunyi.
Pelajaran pertama adalah matematika. Yuan menunduk dan mencatat tugas dari guru. Sekarang dia sudah lebih rajin belajar. Namun ia berkali-kali melirik ke arah Ling.
Semua orang sudah melihat Ling di konferensi pers. Kini perasaan takut, kagum, bingung, menjadi satu di diri Yuan. Ia tak pernah berpikir Ling akan menjadi orang yang berbeda.
Saat itu Ling balik menatapnya. Ia terkejut dan hampir jatuh dari kursi.
Brak!
Ling melempar buku kosong.
"Fokuslah mencatat. Catat juga di bukuku," ucap Ling santai. Ia duduk bersandar dan menyilangkan tangan.
Pandangannya tajam. Rambut hitamnya kontras dengan kulit putihnya. Dia terlihat tak peduli tapi elegan pada waktu bersamaan. Pesonanya membuat guru atau teman sekelasnya terhanyut saat melihat Ling.
__ADS_1
Yuan segera mencatat. Sekarang tugasnya bertambah karena juga harus mencatat di buku Ling.