
Kediaman Chen.
Dengan uap yang memenuhi kamar mandi, Ling sedang berendam di bak mandi. Ia mencoba resep ramuan baru sekarang. Ramuan ini berwarna merah darah.
"Tuan Muda, waktunya makan," panggil paman Qian dari arah luar yang masih bisa di dengar oleh Ling.
Ling membuka mata. Ia bangkit dari bak dan membersihkan diri. Kemudian ia membungkus badannya dengan handuk. Ia mengambil pakaian dan memakainya.
Sepertinya ia butuh waktu lama lagi untuk menembus tingkat ke delapan. Kecuali ia memakai banyak ramuan. Ia akan cepat naik tingkat tanpa resiko.
Saat mencari sesuatu di laci meja, ponselnya berbunyi dan menunjukkan notifikasi di layarnya. Dia dengan santai mengetik balasan.
[Tidak.]
Ia kemudian memasukkan ponsel ke sakunya. Ia keluar kamar dan membawa sesuatu di tangannya.
*
Chen Qi dan Chen Lin sudah berada di meja makan. Tiba-tiba Chen Qi teringat sesuatu. "Dimana Chen Sin?"
"Aku dengar dia sedang mencari seseorang," jawab Chen Lin. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan di rambutnya dari arah belakang. Ia pun menoleh.
"Ling!" serunya kaget.
"Ibu, apa kau suka jepit rambut ini? Aku mengambilnya sebagai hadiah kemarin," ucap Ling memberi cermin kecil pada Chen Lin.
Chen Lin menatap wajahnya di depan cermin. Ia melihat jepit rambut berwarna keemasan yang dipenuhi dengan mutiara kecil. Ada juga untaian permatanya yang terjulur tak terlalu panjang. Terlihat sangat elegan.
"Aku suka sekali," jawab Chen Lin sambil memegang jepit rambutnya.
Ling duduk di dekat Chen Qi. Ia dapat melihat Chen Qi terpaksa tersenyum. Ia kembali melirik Chen Lin yang masih melihat jepit rambutnya.
Wajah cantik itu terlihat sangat lelah.
__ADS_1
"Kakek, apa ada masalah?" tanya Ling.
Chen Qi menatap Ling heran. Tidak biasanya ia bertanya tentang masalah mereka. Mereka juga tidak pernah memberitahu Ling karena tahu sifat anak itu.
"Tidak ada masalah," Chen Qi menjawab sambil mencoba tersenyum lebih tulus.
Ling mengambil dokumen yang ada di sebelah Chen Qi. Ia membacanya sekilas, kemudian berkata, "Aset berkurang. Bukankah beberapa hari ini Chen Company baru saja memutus kontrak dengan beberapa perusahaan? Proposal ini bukan solusi yang baik. Ini hanya membantu sedikit menyelesaikan masalah."
Chen Qi hampir tersedak tehnya sendiri. Bagaimana bisa Ling bisa memahami isi proposal dalam beberapa menit? Dia bahkan dapat menyimpulkan masalah dan menunjukkan kekurangan proposal? Apakah ini masih cucunya yang dia kenal?
"Kau tidak akan mengerti," ucap Chen Qi setelah mengembalikan kesadarannya.
"Ayo kita makan," lanjutnya mencoba mengalihkan pembicaraan. Melihat Chen Qi yang tak ingin bicara lebih jauh, Ling pun memilih makan dan diam. Kini meja terasa sangat hening.
Setelah keheningan yang cukup lama, paman Qian membuka suara, "Tuan Muda, Tuan Muda Zhuo ada di sini. Keluarga Zhuo juga membawa sesuatu untukmu."
Ling melirik Liam yang berada di belakang paman Qian. "Naik ke atas," perintahnya. Suaranya lembut dan tegas pada saat bersamaan.
Liam sepertinya tidak tersinggung dengan hal itu. Setelah berpamitan pada Chen Qi dan Chen Lin, Liam naik ke atas sesuai perintah Ling.
Bagaimanapun mereka senang melihat Ling dan Liam berteman. Bahkan paman Qian menyuruh Ling untuk menjilatnya. Menurut mereka, Liam adalah yang paling kuat diantara keduanya.
Namun bisa dilihat sekarang siapa yang lebih mendominasi.
"Kakek, Ibu, tenangkanlah dulu diri kalian. Aku akan kembali ke kamar," ucap Ling berjalan santai ke arah tangga.
Ling membuka pintu. Saat itu ia langsung disambut teriakan heboh dari Liam.
"Lihat! Tuan Yuan ingin menambahkanmu sebagai teman," ucap Liam menunjukkan ponselnya.
Ling mengambil ponsel itu dan menutup aplikasi.
"Mengapa kau tutup aplikasinya? Kau tidak lihat Tuan Yuan menambahkanmu sebagai teman? Kenapa kau ...,"
__ADS_1
Ucapan Liam terhenti karena perkataan Ling, "Apa itu masalah buatmu?" tanya Ling dingin. Dia sudah duduk di depan komputernya.
"Tentu tidak masalah denganku," jawab Liam memberanikan diri.
"Bagus kalau begitu," ucap Ling.
Ia masih santai mengetik di komputernya. Liam memiringkan kepala untuk melihat wajah Ling. Ia sekarang yakin bahwa Ling tidak tertarik dengan Yuan Ming.
Namun, bukankah mereka sedang membicarakan Yuan Ming? Seseorang yang terkenal yang berasal dari Kota Bayangan. Dia berbakat dan prestasinya tak perlu diragukan lagi. Jika Ling memiliki hubungan baik dengannya, masa depan Ling pasti terjamin.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Liam setelah selesai dengan pikirannya.
Ia melihat wajah tampan Ling yang terpancar cahaya putih dari komputer. Ia duduk bersandar dengan jari di atas keyboard hitam. Jari-jarinya bergerak lihai di atas keyboard. Sangat menyenangkan untuk dilihat.
"Buka pintunya," ucap Ling tanpa menjawab pertanyaan Liam.
"Buka pintu? Mengapa?" tanya Liam bingung. Namun setelah beberapa detik ada yang mengetuk pintu. Ia segera teringat kejadian bunyi bel saat di arena pelatihan.
Liam berjalan ke arah pintu. Dulu ia merasa hanya kebetulan saat Ling mengetahui sesuatu. Namun melihat sekarang, ia adalah orang jenius yang bisa memprediksi apapun. Kehadirannya yang kuat membuat siapa saja akan mematuhi perintahnya. Apalagi tatapan tajamnya. Bahkan tatapan Chen Qi kalah menakutkannya dari Ling.
Ternyata itu adalah paman Qian. Ia membawa kue kering untuk mereka. Liam yang melihat ini langsung berbinar. Seketika pikirannya teralihkan dari masalah tadi.
Setelah memberikan piring pada Liam, paman Qian berbalik untuk pergi.
Ling mengetik kata terakhirnya kemudian memutar kursi. Ia menatap paman Qian dalam kemudian berkata, "Paman Qian, apa yang terjadi dengan Chen Company akhir-akhir ini?"
Dia melihat wajah lelah Chen Lin tadi. Walau ia tahu Chen Lin sibuk, tapi kali ini berbeda. Wajahnya terlihat sangat lelah. Apalagi melihat senyum terpaksa Chen Qi, ia yakin ada yang tidak beres dengan perusahaan. Karena hanya perusahaan yang bisa membuat mereka sampai seperti ini.
Paman Qian membeku dan menatap Ling. Walau pertanyaannya sederhana, itu cukup membuatnya terkejut. Gerakan tubuhnya menunjukkan dia sangat santai, tapi tatapannya sedikit dingin.
"Sejak Chen Company menolak proposal Wuzhou, pamanmu dan para pemegang saham yang lain merasa tidak senang," jawab paman Qian. Ia biasanya tidak memberitahu masalah perusahaan pada Ling. Namun setelah melihat bakat Ling selama beberapa hari terakhir di arena pelatihan, ia yakin Ling sudah berubah.
Ia merenung sejenak sebelum memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Kau tahu, pamanmu pemegang saham terbesar di Chen Company. Dia lebih menyukai Wuzhou daripada kau karena ...,"
__ADS_1
Paman Qian tidak melanjutkan kalimat terakhirnya. Namun Ling mengerti maksudnya.
Di mata semua orang dia tetaplah orang tidak berguna. Di sisi lain, Wuzhou adalah jenius bisnis terkenal. Bagaimana ia bisa dibandingkan dengan Wuzhou? Bahkan jika dia menunjukkan bakatnya, mereka tetap akan meremehkannya.