
Dua penjaga itu membeku. Mereka tahu betul seberapa tinggi tingkat suatu ramuan dengan menghirup aromanya.
"Kalian benar-benar menggunakan ramuan tingkat rendah untuk merekrut Tuan Muda Chen? Kalian gila?" ucap Kapten itu menggeleng.
Selama berada di Asosiasi Dewa Ramuan, kedua penjaga itu belum pernah mendapat hinaan seperti ini sebelumnya. Meskipun begitu, kali ini mereka tidak dapat membantahnya. Kini mereka mengerti alasan Ling menolak mereka.
"Apa masih ada lowongan penjaga di sini?" tanya salah satu dari mereka.
Orang satunya lagi tak menjawab hal itu. Ia hanya berkata, "Ayo, kembali dan laporkan pada Tabib Agung."
Mereka keluar dari wilayah utara dengan pikiran yang masih kacau. Mereka terus memikirkan ramuan-ramuan yang berada di tong itu.
*
Keesokan harinya.
Ling akhirnya menutup laptop.
Bo Jie datang untuk memberi laporan padanya. Namun, saat itu ia melihat seorang wanita bersandar di jendela. Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya. Di hari yang dingin ini, dia menggunakan pakaian kasual biasa dan kacamata berbingkai emas. Matanya yang teduh tersembunyi dibalik kacamata itu.
"Dia adalah manajer sementara wilayah utara. Namanya A Shui," ucap Ling memperkenalkan A Shui pada Bo Jie.
"Tuan Bo," sapa A Shui tersenyum.
"Halo, Nona A Shui," jawab Bo Jie. Walau A Shui terlihat biasa saja, tapi Bo Jie agak merasa tertekan.
Ling mengambil buku dari sebuah meja dan melemparnya ke A Shui, "Manajer Bo tak bisa menahan auramu."
A Shui mengambil buku itu dan mengalihkan pandangannya. Ia memandang Ling yang sedang membaca informasi yang tadi dia bawa. Ia terlihat sangat tampan.
"Panggil Bo Xue Ning dan yang lainnya," ucap Ling setelah beberapa lama.
Beberapa hari ini, wilayah utara terlihat sangat hidup. Bo Xue Ning, Mei Mengyi, dan yang lainnya datang untuk membantu. Saat mendengar Ling mencari mereka, mereka segera meninggalkan pekerjaan mereka.
Di luar pintu, Bo Jie memandang orang-orang itu dengan iri.
"Manajer, menurut Anda kapan kita bisa masuk seperti itu?" tanya seorang penjaga kecil di samping Bo Jie.
"Mungkin saat Tuan Muda sudah mempercayai kita," jawab Bo Jie.
*
Di dalam ruangan.
Sekelompok orang hanya diam dan menatap Ling.
A Shui membuka pembicaraan, "Aku melihat seseorang."
__ADS_1
Ling duduk di kursi. Jari-jarinya mengetuk meja. Setelah beberapa lama, Ling mendongak. Suaranya menggema di ruangan, "Mo Xiayi, kan?"
A Shui tak menjawab dan hanya menatap Ling. Wajah Ling sangat datar, tapi matanya sangat dalam. Kini A Shui menyadari jika dia tak bisa memahami Ling lagi.
Hanya dalam sekejap, Ling mengubah auranya. Ia bersandar di kursi, "Mei Mengyi, butuh berapa lama untuk menyelesaikan proses terakhir senjata nuklir terbaru?"
"Sebulan," jawab Mei Mengyi tersentak. Ia tak menyangka Ling tiba-tiba bicara padanya.
Ling mengangguk, "Pertama, kita bangun dulu pangkalan kita. Lalu, secara bertahap, kita akan membuka perdagangan. Untuk tahap awal, setiap orang yang datang ke Kota Seribu Dharma akan mendapatkan rumah gratis. Dan mereka yang ingin memasuki Kota Seribu Dharma akan dibebaskan dari pajak selama 3 tahun. Sebarkan peraturan ini. Kota Seribu Dharma juga akan berpartisipasi dalam kompetisi sumber kultivasi."
Ini rencana awal yang sudah diputuskan Ling. Untuk mengubah sebuah wilayah biasa menjadi sebuah kota, tidak bisa hanya mengandalkan bisnis dan perdagangan, tapi juga rakyat. Namun, yang paling penting adalah transportasi dan mobilisasi.
Barulah saat itu Bo Jie dibutuhkan. Ia mengerutkan kening, "Tuan Muda, kita tak memiliki hal yang bisa dipamerkan ke dunia luar. Selain itu, transportasi dan mobilisasi di sini masih sulit dilakukan. Aku juga mendengar jika Tuan Muda Yushen mengambil sebuah pulau."
Saat Bo Jie berbicara, seorang penjaga tiba-tiba masuk, "Tuan Muda, seseorang dari Keluarga Bai mencari Anda."
"Masuk," jawab Ling tenang.
Bo Jie agak terkejut saat mendengar tentang Keluarga Bai. Ia sedikit tahu tentang keluarga itu. Namun, pakah keluarga itu sama dengan yang ada dalam pikirannya?
Sekelompok orang masuk dan membawa 2 buah kotak, "Tuan Muda Chen, kepala keluarga kami mengucapkan selamat kepada Anda karena telah mendapatkan wilayah utara."
Bo Jie melihat simbol di seragam mereka. Bukankah itu adalah Keluarga Bai yang dia pikirkan? Bo Jie benar-benar tertegun. Mereka sama seperti Keluarga Bo. Bahkan mereka tidak menghormati Tabib Agung. Tapi sekarang mereka membawa dua hadiah untuk Ling?
Ling hanya memandang kotak itu. Ia tak terlihat terkejut sama sekali, "Liam, bawa itu ke laboratorium."
Saat ini, mereka membutuhkan bahan obat untuk membuat ramuan. Keluarga Bai datang tepat waktu.
*
Ling menerima sebuah pesan dan bersiap pergi.
Bo Jie sudah sering berinteraksi dengan Ling. Walau Ling dingin, tapi ia tahu Ling sebenarnya begitu baik.
"Tuan Muda, sebenarnya Anda tak perlu terlalu bekerja keras. Berdasarkan kekuatan, Anda tak bisa dibandingkan dengan Tuan Muda Yushen. Jadi, Anda tak perlu menciptakan kota ini agar bisa dibanggakan saat kembali ke Keluarga Bo."
Ling berhenti dan berbalik menatap Bo Jie. Ia menjawab, "Manajer Bo, aku tak ingin Keluarga Bo. Aku hanya ingin Kota Seribu Dharma berada di puncak di luar negeri."
Ling pergi meninggalkan Bo Jie yang gemetar. Ia linglung dan duduk di kursi. Saat ini, ia tak bisa tersenyum. Aura Ling membuat orang tidak punya pilihan lain selain mempercayainya.
Yuan yang ada di sana menatapnya. Ia memutar-mutar sepotong kayu.
Tatapan Bo Jie jatuh di potongan kayu itu. Ia langsung tercengang, "Apa itu di tanganmu?"
"Ini? Plakat Dewa Tabib milik Ling," jawab Yuan santai.
Mata Bo Jie melotot. Ia menatap mereka serius sebelum akhirnya pergi dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
Setelah dia pergi, Yuan berkata, "Wen Ai, Raja Ling membuatnya takut."
Su Wen Ai santai, "Jika kita tak membuatnya takut, dia tak akan bekerja dengan benar."
"Benar," jawab Yuan.
*
Di luar.
Bo Jie berdiri di sebuah menara yang baru saja dibangun. Ia memandangi wilayah di kejauhan. Penjaga di sampingnya berkata dengan lembut, "Manajer Bo, selain Anda, kami masih memerlukan manajer lain."
"Bukankah ada Nona Su, Tuan Muda Qi, dan yang lainnya?" tanya Bo Jie. Ia tersadar setelah penjaga itu bicara dua kali.
Mendengar ini, penjaga itu tersenyum pahit, "Manajer Bo, aku telah mencari mereka semua. Nona Su dan Tuan Muda Qi berkata jika mereka masih ingin menjadi murid yang baik. Sedangkan, Nona Mei berkata, jika Anda bisa membantunya membuat jet tempur, dia akan setuju menjadi manajer. Dan Nona A Shui ... dia mengatakan jika dia takut Anda akan mencekiknya."
Bo Jie tertegun sejenak. Setelah itu ia menjawab, "Benar sekali. Mereka adalah orang-orang yang tak suka dikendalikan. Menjadikan mereka seorang pejabat, akan menyulitkan diri mereka sendiri. Baiklah, kau bisa pergi. Aku akan memikirkan cara."
Setelah penjaga pergi, Bo Jie mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan video. Sedetik setelah panggilan itu berdering, panggilan itu diangkat.
"Bo Jie? Sejak kapan di wilayahmu sudah memiliki koneksi internet? Kau bahkan bisa melakukan panggilan video denganku?" ucap orang yang ditelepon Bo Jie.
Bo Jie tak menjawab hal itu. Ia berkata, "Aku mencarimu untuk membicarakan hal penting."
"Jangan bilang kau sudah kembali ke Keluarga Bo? Aku sudah bilang, tak ada yang bisa kau lakukan di wilayah gersang itu. Katakan, ada apa kau mencariku?" tanya orang itu tersenyum.
"Apa kau akan menjadi manajer kami?" tanya Bo Jie dengan suara dalam.
Orang itu baru saja paham dengan apa yang dikatakan oleh Bo Jie setelah dia mengulanginya tiga kali. Ia menjawab, "Kota Seribu Dharma? Bo Jie, kau gila? Kau pikir wilayahmu itu bisa dijadikan kota? Bagaimana Tuan Mudamu bisa dengan mudah membangun sebuah kota di luar negeri? Kau mempercayai perkataan seorang bocah?"
Pria itu menghela napas dan melirik Bo Jie lagi, "Baiklah, temanku. Mungkin Tuan Muda Chen mu itu tidak tahu seberapa dalam luar negeri. Jika dia tahu, dia pasti akan malu saat mengatakan itu."
Bo Jie hanya tersenyum dan menjawab, "Aku melihat plakat Dewa Tabib."
Pria di panggilan video itu menatapnya tak percaya.
Kedua belah pihak terdiam sejenak.
Pria itu kemudian menjawab dengan lembut, "Baik. Aku akan segera ke sana."
Bo Jie sudah tahu hasil ini akan terjadi. Ia tak terkejut lagi.
*
Pada saat yang sama, di kediaman Jenderal Qiu.
Orang-orang sedang menonton kompetisi kedua perekrutan murid yang dibuat oleh Tuan Shangxuan.
__ADS_1