Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Untungnya, Aku Tidak Mengecewakanmu


__ADS_3

A Shui dan yang lainnya masih mencari tempat di mana kemungkinan Ling pergi. Sementara Yuan, Liam, dan Su Wen Ai sudah kembali ke Kota Bayangan.


Sedangkan A Shui, Bo Xue Ning, dan yang lainnya masih mencari seseorang.


Yuan telah mengetahui keberadaan Ling dari sosial media. Ia melihat tampilan belakang Ling dan lokasi bandara. Ia langsung dapat menyimpulkan bahwa Ling berada di Desa Keluarga Su.


Namun, ketiga orang ini tidak bertindak gegabah. Sebaliknya, mereka menghubungi A Shui dan memberitahu mereka berita ini. Namun, dengan syarat A Shui harus membawa mereka ikut.


Setelah A Shui menerima berita dari mereka, dia langsung mengirim seseorang ke Keluarga Zhuo dan Keluarga Bo. Dia akhirnya bisa mengetahui dimana Ling berada.


Kali ini, ia tidak menghentikan Su Wen Ai dan yang lainnya.


*


Desa Keluarga Su.


Ling belum pernah memasuki wilayah sakral ini sebelumnya. Ada tiga cabang jalan dan dia tidak tahu jalan mana yang benar.


Di dalam sangat gelap dan suhunya hampir sama seperti di luar. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu lentera di tangannya.


Ling semakin sadar tentang perubahan di tubuhnya. Di masa lalu, tidak peduli seberapa gelapnya, dia tetap bisa melihat dengan jelas. Namun kali ini, batas maksimal penglihatannya hanya satu meter.


Dan selebihnya tampak seperti jurang maut.


Suara langkah kaki aneh datang dari pintu masuk di sisi kiri tubuhnya. Tangan Ling berhenti dan ia segera mengeluarkan jarum perak dari tangan kirinya. Ia melemparkannya.


Langkah kaki itu langsung menghilang.


Ling memindahkan lentera dan melihat mayat kering terbungkus jubah hitam. Ia telah berkali-kali melihat hal seperti ini dan tentu saja tidak akan mempengaruhinya sama sekali. Ia hanya meliriknya dan terus berjalan masuk.


Melalui cahaya lampu, ia bisa merasakan bahwa jalan di depannya semakin lebar. Di depan, ada juga cahaya temaram. Ling tahu jika dia akhirnya mencapai tujuannya.


Namun, cahaya terang itu terlalu tiba-tiba dan membuat Ling tanpa sadar menyipitkan matanya. Ketika ia mulai beradaptasi dengan cahaya itu, ia melihat sosok samar di depannya.


Ketika ia masih mengamatinya, sosok itu juga berbalik dan berkata, "Jadi orang itu adalah kau."


Ling hanya bisa mendengarnya mengatakan itu.


"Aku sudah memikirkan siapa yang diselamatkan Zhuo Xia sehingga dia melakukan begitu banyak usaha. Aku pikir dia melakukan itu untuk dirinya sendiri, tetapi aku tidak menyangka itu adalah kau," itu adalah wajah Wu Shao. Namun, sekarang ia telah berubah. Ia menggunakan pakaian hitam dan auranya berubah menjadi jahat.


Orang biasa akan takut ketika melihatnya.


Namun, ekspresi Ling tidak berubah sama sekali. Sebaliknya, ia berkata dengan lembut "Jadi, kaulah yang telah merencanakan begitu banyak hal."


Dia tidak melihat Zhuo Xia di sekitar, tetapi karena Wu Shao berada di sini, dia pasti tahu apa yang akan dilakukan Zhuo Xia. Ling memegang jarum perak di tangannya dengan tenang. Lalu, ia bersandar ke samping.


"Berikan lentera itu padaku. Kau mungkin masih bisa hidup," ia melihat gerakan Ling dengan jelas, tetapi ia berpikir Ling takut, sehingga ia mengatakan itu.


"Tidak. Aku tidak bisa memberikan ini kepadamu," Ling melangkah ke sisi lain dan terus menatap Wu Shao.


Ini adalah hidup Zhuo Xia.


Ketika ia bergerak, ia mencari altar.


"Tidak mau memberikannya padaku? Apakah kau tidak ingin Zhuo Xia hidup?" Wu Shao juga sudah menebak jawaban Ling. Jadi, ia menyiapkan kata-kata lain.


Ling menyipitkan matanya dan tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat ke arah Wu Shao.


Wu Shao juga tahu bahwa kata-kata sepihak tidak dapat meyakinkan Ling. Ia pun berjalan menuju sudut dan menekan sebuah tombol.


Setelah suara gemuruh terdengar, Ling menyadari jika tanah di samping kakinya telah berubah menjadi jurang maut. Zhuo Xia berdiri di sudut berlawanan, tetapi matanya tertutup. Di bawah kakinya ada pola bintang lima. Sedangkan, di sebelah kirinya ada kucing oranye. Ling ingat bahwa pola bintang lima itu adalah altar seperti di peta kuno.


Namun, mengapa Chester ada di sini?


"Lihat itu. Jika kau memberikan lentera itu, aku tidak akan membiarkannya mati. Bagaimana menurutmu?" tanya Wu Shao lembut sambil memandang Ling.


Ling menatap Zhuo Xia untuk waktu yang lama. Baru sekarang ia mengerti jika Zhuo Xia lah yang menukar hidupnya untuk dirinya.


Wu Shao sudah berbicara cukup lama, tetapi Ling tidak merespon apa pun sama sekali. Wu Shao sedikit tidak sabar dan ekspresinya berubah menjadi semakin buruk, "Apa kau sudah memikirkannya?"


Ling akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia melihat ke arah Wu Shao dan tetap berbicara dengan tenang, "Wu Shao, sebenarnya kau juga tidak bisa menyentuhnya sama sekali, kan? Kalau tidak, mengapa kau tetap membiarkan dia berada di sana?"


"Kau!" Wu Shao mulai emosi.


Ling tetap menatapnya lembut, "Jika kau menginginkan lentera ini, itu mustahil."


"Kau ...," Wu Shao tampaknya memang menginginkan Ling merespon. Namun, ia marah sejenak karena dipermalukan oleh Ling, sebelum akhirnya mencoba menenangkan diri.


"Tentu saja aku tidak bisa menyentuh Zhuo Xia, tetapi hanya aku yang tahu cara membangunkannya. Apa kau tidak penasaran sama sekali? Juga, aku bisa menyentuh orang-orang di Kota Urban. Jika kau ingin mereka hidup, serahkan lentera itu! Nyawa mereka berada di tanganku sekarang!" ucap Wu Shao arogan.


Ling tetap menatap Wu Shao dengan tenang, "Apa hubungannya nyawa mereka denganku?"


Jawabannya membuat Wu Shao mengerutkan kening, ia bertanya, "Bukankah kau adalah tipe orang yang lebih mementingkan hidup orang lain daripada hidup sendiri?"

__ADS_1


"Mereka bukan Zhuo Xia. Mengapa aku harus mempedulikan mereka?" Ling berkata terus terang.


Wu Shao telah merencanakan ini begitu lama hanya untuk hari ini. Bagaimana ia bisa menyerah begitu saja? Ia melihat jam di komputernya. Sekarang sudah jam 11 pagi, tersisa 10 jam lagi.


Ia menyipitkan matanya dan menyentuh tab-nya. Tiga kata dingin terlontar dari mulutnya, "Rencana dimulai sekarang!"


Pada saat yang sama, dia mengarahkan monitor komputer ke Ling. Adegan dimainkan satu per satu. Adegan pertama adalah di Kota Seribu Dharma.


Tentara mutan besar perlahan mengepung mereka.


Ling mengepalkan tangannya.


Dalam video tersebut, Kapten tim penegak hukum perlahan melepas jaketnya, hanya tersisa kemeja putih.


Ling mengingat orang ini. Saat itu, dialah yang menjaga perbatasan di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Dia juga salah satu orang yang mengikutinya sejak awal.


Adegan itu diambil terlalu jauh, sehingga Ling tidak mendengar apa yang dia katakan. Namun, ia bisa mengerti bibirnya.


*


Di kota, para jenderal yang stabil seperti A Shui, Mei Mengyi, dan Su Wen Ai semuanya pergi. Kebanyakan yang tersisa hanyalah orang biasa. Ada juga beberapa tim yang dilatih oleh Ling. Namun, dibandingkan dengan ras mutan raksasa itu, mereka terlalu lemah.


Kapten tim penegakan hukum berdiri di menara kota dan menatap pria berjubah hitam yang perlahan mendekat. Dia membuang pakaian di tangannya dan mengeluarkan senjata dari sakunya, "Aku telah tinggal di di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya selama 10 tahun. Hidupku diselamatkan oleh raja. Jika tiba suatu hari nanti ketika Pulau Yang Tak Boleh Disebut benar-benar menghilang, aku akan tetap memakai identitasku saat ini dan memakai pakaian yang pertama kali kugunakan ketika memasuki pulau. Identitasku adalah orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku akan menjaga rumahku sampai mati!"


Zhuo Shiaonian memandang orang-orang yang berdiri di menara kota. Untuk pertama kalinya, dia memiliki ekspresi kasihan, "Lebih baik kalian membuka gerbang kota dan biarkan kami masuk. Kami menerima mereka yang mau menyerah dan juga yang mau melawan. Dengan cara ini, kalian akan mati lebih bahagia."


Ketika manajer Bo mendengar tentang berita itu, ia segera naik ke menara kota. Di depannya adalah kapten penegakan hukum yang telah melepas jubahnya. Melihat Zhuo Shiaonian ingin masuk dan melihat bahwa tidak ada yang mau keluar atau menyerah, manajer Bo menarik napas dalam-dalam.


"Nona Zhuo Shiaonian! Jika Anda ingin maju, majulah!" teriak manajer Bo.


Saat ini, Chen Lin berdiri tidak jauh dari sana. Matanya sudah melihat darah. Pikirannya kosong dan ia tidak bisa mengingat apa pun.


Sebuah suara tegas terdengar, "Jika kau ingin bertarung, majulah! Orang-orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya tidak akan pernah mundur!"


Darah segar memenuhi udara. Chen Lin akhirnya bangkit, "Manajer Bo, ikuti aku. Aku tahu sesuatu yang bisa melindungi tempat ini!"


*


Ling tidak tahu hasil akhirnya karena Wu Shao telah mematikan monitor. Namun, ia tidak peduli karena ia tahu bahwa Bo Minghao pasti akan datang ke sana dan Bai Xiaoqi juga tidak akan hanya duduk tenang, tidak melakukan apa-apa.


Wu Shao merasa Ling sangat konyol karena mempercayakan kehidupan keluarganya kepada orang lain. Ia berkata, "Kau sepertinya tidak mengerti hati manusia."


Ling hanya meliriknya dan menjawab dengan tenang, "Kau yang tidak mengerti tentang kepercayaan."


Kalimat ini membuat Wu Shao tersedak.


Wu Shao tersenyum licik, "Kau memang tidak peduli dengan orang lain, tapi kau peduli dengan teman dan keluargamu, kan? Mereka berada di gunung sekarang. Apakah kau tidak akan mengatakan sesuatu?"


Ling tercengang ketika melihat layar itu. Di sana adalah Yuan, A Shui dan yang lainnya. Saat ini, mereka sedang menemui Kepala Su. Kepala Su juga memberikan ponsel yang ditinggalkan Ling untuk mereka.


*


A Shui tahu kepribadian Ling. Ia dengan cepat menemukan rekaman yang sengaja dibuat Ling.


"Cepat mainkan dan dengarkan," ucap Liam cemas.


Tentu saja, A Shui juga cemas. Dia tidak berpikir terlalu banyak dan menyalakan rekaman itu. Suara dingin terdengar.


Itu adalah suara Ling. Dalam rekaman itu, ia terdengar sedikit tidak berdaya dan menghela napas. Bahkan ia tidak tersenyum, "Huh, aku tahu kalian pasti datang. Aku benar-benar tidak bisa menghentikan kalian."


Setelah ia selesai bicara, ia terdiam sesaat.


Setelah beberapa lama, suara lembutnya kembali terdengar, "A Shui, Mei Mengyi, Bo Xue Ning, Yuan, Liam, Su Wen Ai ... aku tidak bisa menjamin kalian semua akan selamat, tapi ingat, Kota Urban membutuhkan kalian!"


Kemudian, Ling mengatakan serangkaian angka dan berhenti bicara.


A Shui masih berdiri diam di sana dan memegang ponsel.


Akhirnya, ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera mengkoordinasi Keluarga Su untuk turun gunung.


Sebelum pergi, Kepala Su melirik Su Wen Ai, "Apakah kau benar-benar tidak akan pergi?"


Su Wen Ai tidak menatapnya dan hanya mengangguk sedikit.


Awalnya, ia masih membenci Keluarga Su. Namun sekarang, ia tidak lagi benci apalagi cinta kepada Keluarga Su. Perlakuannya saat ini tidak berbeda dari bagaimana dia memperlakukan orang biasa.


*


Ini adalah adegan terakhir yang dilihat Ling.


Setelah menontonnya, ia mengalihkan pandangannya ke Wu Shao. Saat ini, Wu Shao melihat jika kekacauan di Kota Seribu Dharma telah teratasi. Zhuo Shiaonian pergi dengan sia-sia. Ini semua tidak sesuai dengan harapannya.


Wu Shao terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara, "Aku sebenarnya meremehkanmu, tapi itu tidak masalah. Akhirnya ... dia ... akan kembali."

__ADS_1


Kemudian, tatapannya ke arah Ling berubah.


Ling pun mulai bergerak lagi.


Mata Wu Shao berubah menjadi sangat merah. Dia melempar laptop di tangannya dan memegang tabung ramuan biru di tangannya yang lain. Suara aneh keluar dari mulutnya, "Di sini ... di gunung ini ... dan wilayah sekitarnya ... kalian semua akan menghilang ...."


Ling hanya menatapnya, ekspresinya tidak berubah. Lentera yang hampir padam itu masih tergenggam erat di telapak tangannya. Ia maju selangkah.


Pada saat yang sama, pena di sakunya tiba-tiba berdering.


Ia mengambilnya dan menyalakannya. Suara A Shui terdengar, "Raja, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Seluruh gua sangat sunyi, jadi Wu Shao bisa mendengar suara A Shui dengan sangat jelas. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Ling, "Bagaimana kau masih bisa menghubungi dunia luar?"


Ling melirik Wu Shao dan tersenyum, "Aku tetaplah aku."


Kemudian, ia mengalihkan pandangannya dari Wu Shao dan menjawab A Shui, "A Shui, dengarkan. Aku telah meletakkan dua bom di pintu masuk gua. Mei Mengyi bisa mendeteksi lokasinya. Para mutan itu akan segera datang. Kalian berjagalah di sana. Aku tidak tahu seberapa banyak kerusakan yang akan ditimbulkan setelah ledakan, tetapi A Shui, apakah virusnya akan menyebar atau tidak itu tergantung pada kalian."


*


A Shui terkejut saat menyadari ia bisa menghubungi Ling. Namun, ia tidak melupakan perintah Ling dan menatap Mei Mengyi.


Pada saat yang sama, ia juga memandang Jenderal Qiu, tetua Zhuo, dan yang lainnya yang ikut dengan mereka, "Kalian sudah mendengarnya, kan? Ayo turun gunung."


Tetua Zhuo menjawab, "Lalu ... kalian?"


"Kami masih ada misi lain," jawab A Shui. Ia memimpin Su Wen Ai dan yang lainnya menuju wilayah sakral Keluarga Su.


Sementara itu, Jenderal Qiu dan yang lainnya masih berdiri di sana. Tetua Zhuo berkata, "Jenderal Qiu, apakah menurutmu mereka masih bisa kembali?"


"Aku tidak tahu," jawab Jenderal Qiu jujur.


"Jadi ternyata Tuan Muda Chen adalah Raja Legendaris itu. Jika itu memang dia yang membuatnya, aku tidak tahu seberapa kuat itu. Baiklah, ayo turun gunung," ucap Jenderal Qiu.


Tiba-tiba, bawahan Jenderal Qiu berlari dengan ekspresi serius, "Jenderal, sekelompok benda aneh berjubah hitam masuk. Senjata nuklir kita bahkan tidak bisa menembus tubuh mereka! Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Ekspresi Jenderal Qiu langsung berubah. Senjata nuklir tidak bisa menjatuhkan mereka. Apa sebenarnya itu?


Jenderal Qiu sebenarnya juga sudah menyadari akhir-akhir ini banyak yang tidak beres. Namun, saat hal itu terjadi tepat di depannya, Jenderal Qiu mundur selangkah.


"Jenderal Qiu, jet tempur sudah siap. Cepat bersiap dan pergi," ucap seseorang yang menghampirinya. Ia pergi setelah melemparkan seikat kunci.


Seberapa sederhanakah jet tempur terakhir Mei Mengyi? Ini cukup bagi Jenderal Qiu dan yang lainnya pergi.


*


Saat mereka pergi dengan menggunakan jet tempur, mereka melihat Mei Mengyi, A Shui dan yang lainnya sedang menghadapi sekelompok pria berpakaian hitam di pintu masuk halaman wilayah sakral Keluarga Su.


Saat ini, bahkan Jenderal Qiu ingin tetap di sini. Ia tidak mau melihat para anak muda itu mati.


Namun, ada alasan yang menghentikannya. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia adalah orang yang bertanggung jawab di luar negeri. Jika sesuatu terjadi padanya, dunia luar negeri akan benar-benar hancur. Jika hal itu terjadi, bahkan jika dia harus mati 10 kali, itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahannya.


Akhirnya, ia hanya bisa melihat orang-orang di bawah dengan tangan terkepal erat.


Orang-orang yang berada di jet tempur, para tetua Keluarga Zhuo, dan yang lainnya semua memandang orang-orang di bawah dalam diam. Jet tempur itu dilengkapi dengan layar monitor. Jadi, mereka bahkan bisa mendengar kekacauan di bawah.


Jenderal Qiu menonton pertempuran di layar itu dan mendengarkan suara seseorang berkata, "Jika kau ingin bertarung, majulah! Apa kau tahu dari mana kami berasal? Kami berasal dari Organisasi Tempur yang menghancurkan seluruh kejahatan di dunia! Pemimpinnya adalah Raja Legendaris yang bisa membuat Organisasi Pegasus menunduk! Orang-orang di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya tidak akan pernah mundur. Menyerah? Mustahil!"


Walau mereka menyukai perdamaian, bukan berarti mereka takut perang.


"Berhenti! Turun!" saat ini, Jenderal Qiu akhirnya berdiri. Ia melihat semua orang yang ada di bawah. Ia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari dia akan meninggalkan tanggung jawabnya. Hanya karena melihat para pemuda berdarah panas ini yang menolak untuk menyerah, ia memilih untuk tetap membantu.


*


Ini adalah pertempuran yang sengit. Pada akhirnya, A Shui berdiri di genangan darah dan perlahan mengangkat alat komunikasi di tangannya, "Untungnya, aku tidak mengecewakanmu. Raja, kau bisa meledakkannya sekarang."


Ling menjawab dengan lembut, "Baiklah."


A Shui menyeka tangannya hingga bersih. Ia tahu jika tidak ada waktu lagi sekarang. Ia juga tahu betapa menakutkannya senjata level 10. Saat ini, tidak mungkin untuk melarikan diri. Mereka sudah tahu sebelum mengambil tindakan. Mereka juga tahu, sejak mereka memilih tinggal, mereka tidak akan pernah bisa pergi.


Kemudian, A Shui melakukan panggilan terakhir.


Panggilannya ditujukan ke Kota Seribu Dharma. Orang yang mengangkat panggilannya adalah kapten tim penegakan hukum, "Wakil Ketua, kami berhasil mempertahankan kota. Bagaimana misi Anda? Kapan Anda kembali? Pasukanku sudah berangkat untuk menjemput Anda."


Setelah mendengar bahwa semuanya baik-baik saja di kota, A Shui akhirnya bisa menghela napas lega.


Ia menatap orang-orang di sampingnya. Ada Su Wen Ai, Mei Mengyi, dan Yuan. Setelah memandang mereka semua, ia menjawab dengan lembut, "Misi selesai. Sumber virus telah dikendalikan. Semua orang berhasil pergi. Namun, kami tidak bisa kembali ke kota. Kau tidak harus menunggu kami. Jika aku setuju untuk membiarkanmu memasuki Organisasi Tempur, kita hanya bisa membicarakannya di kehidupan berikutnya."


*


"Bagaimana?" tanya Chen Lin yang menunggu kabar dengan cemas di samping Kapten tim penegakan hukum.


Kapten hanya menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


Chen Lin mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mencari nomor Ling. Ia bergumam, "Aku akan mencari Ling."


Sedangkan di dalam gua, tombol di tangan Ling baru saja ditekan.


__ADS_2