
Bo Minghao benar-benar tidak memaksa Chen Lin. Ia tahu Chen Lin belum siap untuk membicarakan hal ini. Jadi dia hanya menunggu hingga Chen Lin mengatakannya sendiri.
Jadi, Ling dan Chen Lin datang ke kediaman Keluarga Bo hari ini.
Chen Lin sudah lebih dulu dijemput oleh Bo Minghao. Sedangkan Ling akan diantar oleh sopir. Ia membawa Chester di pangkuannya.
Keluarga Bo tinggal di distrik A-1. Tentu saja itu karena mereka adalah keluarga besar. Distrik A-1 adalah pusat di Kota Bayangan.
Jangankan anggota keluarga, para pelayannya saja sombong karena bisa masuk ke keluarga ini. Saat ini mereka sedang bergosip. Mereka mendapat kabar ini dari Nyonya Tua Bo.
"Lihat wanita tidak tahu malu itu. Ia masih berani datang walau memiliki anak haram."
"Dia benar-benar pelacur. Bagaimana mungkin Tuan Besar bisa terpikat dengannya? Dia pasti menggunakan beberapa trik."
"Benar sekali. Dia adalah orang kampung. Dia tidak mengerti apa-apa di sini."
"Tenang saja. Dia tidak akan bertahan dalam waktu lama."
Ciitt
Decitan rem yang terdengar begitu mendadak membuat para pelayan itu terdiam. Sepasang kaki panjang menjulur dari mobil. Kemudian sosok pria tampan yang jangkung keluar dari mobil. Ia memakai pakaian kasual dan memegang ponsel. Satu tangannya lagi memegang seekor kucing.
Ia memikat para pelayan wanita itu.
"Apa pekerjaan kalian adalah bergosip?" tanya Ling santai.
Seperti mengerti jika tuannya mengalami masalah, Chester langsung melompat ke arah pelayan itu. Cakarnya yang tajam menyerang mereka dengan ganas dan brutal.
Para pelayan segera berlari. Tubuh mereka sekarang penuh dengan cakaran kucing. Saat Chester ingin mengejar mereka, Ling memanggilnya.
"Kembali, Chester," ucap Ling.
Ia berjalan dengan santai. Ia diarahkan oleh kepala pelayan untuk masuk ke ruangan makan. Di sana, sudah ada Chen Lin dan Bo Minghao yang sedang berbincang.
"Kau sudah datang," ucap Ling yang langsung berdiri.
"Ayo, makan. Aku sudah menyiapkan semuanya," ucap Bo Minghao lagi.
Nyonya Tua Bo dan Bo Yunxing hanya menatap sinis ke arah ibu dan anak itu. Mereka menjadi semakin benci dengan mereka.
"Nenek, ayo kita ke kamar dan minum obatmu," ucap Bo Yunxing ingin menjauhkan diri dari Ling.
__ADS_1
Saat sampai di kamar, wajah Bo Yunxing semakin muram.
"Nenek, bagaimana dengan mereka?" tanya Bo Yunxing.
"Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan mereka masuk ke Keluarga Bo dan merebut segalanya," ucap Nyonya Tua Bo.
Ia tak akan melepaskan Ling begitu saja. Ia pasti akan membalaskan dendamnya.
Namun Ling tak peduli dengan hal itu. Selagi mereka tidak menggangu, ia tak akan mengganggu. Namun jika mereka sudah melebihi batas, ia tak akan ragu lagi.
Sedangkan Tuan Tua Bo tak masalah dengan hal ini. Ia lebih bijak dari Nyonya Tua Bo. Saat pertama kali melihat Ling, ia sudah merasakan perasaan akrab.
Mereka makan dengan damai. Bercerita dengan riang. Hingga selesai makan, mereka pun pamit pulang.
"Tuan Besar Bo, Anda tahu apa yang akan dilakukan," ucap Ling santai.
"Jika kau khawatir dengan Ibumu, aku akan melindunginya," ucap Tuan Besar Bo.
Chen Lin hanya menatap mereka berdua lekat.
*
Ling sudah kembali ke asrama. Hari ini adalah pengumuman proposal. Ling, Liam, Yuan, dan Su Wen Ai berbaris di aula kelas A+. Ada juga Zhao Ran dan Wei Yun. Kini Wei Yun tak terlalu banyak pergerakan. Ia sudah diperingatkan oleh Wei Lang.
Selesai membagikan kelas, mereka langsung belajar. Sehari sebelum pembagian kelas, mereka sudah menentukan beberapa mata kuliah mereka.
Kali ini Ling dan Liam mengambil mata kuliah yang sama.
Yaitu ramuan.
"Wah hebat sekali! Ini ramuan dengan tingkat kemurnian 70%. Kau juga membuatnya dalam waktu cepat. Bakat seperti ini yang kucari," puji Profesor Zhao kepada Liam.
Selama ia mengajar, baru kali ini ada siswa yang begitu cerdas. Bahkan di Asosiasi Ramuan tempat ia belajar dulu, bakat seperti ini sangat langka.
Saat mendengar pujian ini, Liam secara naluriah melihat ke arah Ling. Bagaimana jadinya jika Profesor Zhao tahu jika ramuan Liam yang seperti ini akan dikritik habis-habisan karena terlalu buruk.
Bagaimanapun kemampuannya sangat jauh jika dibandingkan oleh Ling.
Liam mendatangi Ling. Ia sedang membuat ramuan juga. Namun sudah banyak ramuan yang berhasil ia buat. Padahal baru beberapa menit sejak mereka memasuki kelas.
"Apa yang akan kita lakukan setelah kelas?" tanya Liam pada Ling. Walau ia penasaran mengapa Ling membuat ramuan sebanyak ini, Liam tahu jika Ling memiliki hal-hal yang sudah dia rencanakan. Dan Liam tak akan menggangu hal itu.
__ADS_1
"Mungkin kita akan berkumpul," jawab Ling santai sambil memurnikan ramuan terakhir.
"Aku akan pergi ke laboratorium privasi ramuan. Kalian berkumpullah lebih dulu," ucap Ling lagi. Ia sudah menyelesaikan sepuluh ramuan.
Setelah mengatakan itu, ia membereskan barangnya dan pergi. Ia membawa sembilan ramuan dan meninggalkan satu. Sedangkan Liam sudah kembali berbincang dengan Profesor Zhao.
"Liam, kau yakin tidak akan langsung masuk ke kelas senior? Kau bisa mendapatkan pelajaran lebih dari ini," ucap Profesor Zhao menawarkan pada Liam.
"Maaf, Profesor. Aku ingin menjalani kuliahku dengan santai," ucap Liam dengan sopan.
Profesor Zhao terus tawar menawar dengan Liam. Namun tetap saja, Liam bersikeras dan tidak ingin. Liam sendiri memiliki alasan. Ia akan bersama Ling dimana pun Ling berada.
Setelah perbincangan terakhir, Liam keluar kelas.
Profesor Zhao menghela napas pelan. Ia tahu sejak tadi Liam mengacu kepada Ling. Ia juga tahu Liam sangat patuh dengan Ling.
Kini ia penasaran dengan Ling.
Apalagi saat Rektor Xiang secara pribadi memintanya untuk memberi perhatian lebih pada Ling. Ia tak mengerti hal-hal ini.
Ia mengambil satu ramuan yang ditinggal oleh Ling. Ia mengukur tingkat kemurniannya dengan satu alat.
[92%]
Terdengar suara sistem menyebutkan tingkat kemurnian itu.
"Sembilan ... puluh ... dua ... persen ...?" Profesor Zhao hampir saja berhenti bernapas.
*
Ling mencari Rektor Xiang. Ia akan meminta akses untuk masuk. Biasanya akses ini akan diberikan kepada senior yang memang berbakat dalam ramuan. Namun Ling baru saja masuk, jadi dia belum mendapat akses.
"Ada apa?" tanya Rektor Xiang saat melihat Ling.
"Rektor, aku ingin meminta akses ke laboratorium privasi ramuan," ucap Ling.
"Aku tahu kau berbakat. Namun itu tidak cukup bagiku untuk membuktikan kepada semua orang. Aku tidak akan berlaku tidak adil," jawab Rektor Xiang sambil tersenyum hangat.
"Apa ini cukup untuk membuktikannya?" tanya Ling sambil mengeluarkan sembilan ramuan itu.
"Ini bisa menekan rasa sakit yang akan Anda hadapi selama sebulan," ucap Ling lagi.
__ADS_1
Rektor Xiang tanpa ragu mengambil ramuan itu dan memberi akses pada Ling.