
Seorang pria berjubah hitam berdiri di kejauhan. Ia memegang alat komunikasi dan berbicara, "Bahkan mereka tidak memiliki ahli level 7. Namun, mereka sangat percaya diri untuk melawan binatang mutasiku."
Pria itu bahkan tidak melihat ke depan. Ia menunduk bukan karena takut, tapi karena ia tidak tertarik dengan jet tempur yang datang ke arahnya.
Namun, saat kalimatnya selesai, ia melihat sekilas cahaya putih melesat. Kemudian, ada sosok pria yang muncul di depan matanya.
Mei Mengyi dan yang lainnya melihat jelas kejadian ini. Ling membuka kabin jet dan lompat ke bawah tanpa parasut atau alat bantu lainnya.
"Astaga!" ucap Mei Mengyi. Tidak hanya dia yang terkejut, bahkan Wei Lang juga melotot hingga matanya hampir keluar.
Ling mengulurkan tangan dan menggoreskan pisau ke leher pria berjubah hitam. Ia mengapit leher pria itu dan bertanya, "Siapa kau? Darimana kau berasal? Siapa yang menyuruhmu?"
Pria berjubah hitam itu tidak menyangka Ling bisa sampai ke tempatnya melewati binatang mutasi. Ia bahkan tidak terluka sedikitpun. Kini ia sadar jika kekuatan Ling lumayan.
"Kau hanya orang rendahan dari Kota Bayangan. Kau tidak berhak tahu siapa aku," jawab pria berjubah hitam dengan angkuh. Dia telah bertahun-tahun melakukan pembunuhan dan tidak pernah mengenal kata takut.
Setelah itu, pria berjubah hitam melanjutkan, "Aku bukan sesuatu yang bisa sembarangan kau sentuh."
Dia tidak tahu jika itu adalah kalimat terakhirnya. Karena yang saat ini menunggunya dan binatang mutasinya adalah kematian.
"Kebetulan sekali, aku juga tidak berniat membiarkanmu hidup," ucap Ling sambil menyeringai.
Ling menekan alat komunikasi di telinganya dan berbicara, "Pasukan! Siapkan senjata nuklir!"
Setelah itu, Ling kembali ke jet tempur.
Sementara itu, pasukan di jet tempur telah siap. Mereka menembakkan nuklir itu ke arah binatang mutasi. Mereka baru kali ini bertempur dengan binatang mutasi, tapi mereka merasa sangat bersemangat.
Saat tembakan mendarat, bukan hanya laut yang bergetar. Namun seluruh orang di Kota Bayangan juga merasakannya. Baik orang biasa maupun kultivator bisa merasakan jika ada yang tak beres.
Mei Mengyi yang bertugas menyediakan senjata juga terkejut dengan ledakan ini. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia bergumam sendiri, "Senjata nuklir itu benar-benar mengerikan."
Mei Mengyi kini tahu mengapa Ling tak membiarkannya memimpin pertempuran ini. Ledakan di sini lebih mengerikan daripada eksperimen paling berbahaya yang pernah dia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Tembakan nuklir itu langsung menghancurkan banyak binatang mutasi. Ahli level 7 itu pasti tidak menyangka hari ini akan tiba. Ia mati dengan begitu menyedihkan.
Sebenarnya senjata nuklir ini kekuatannya sama seperti senjata yang pernah ia uji. Namun, di bawah komando Ling, kekuatan senjata itu bertambah.
Inilah hal yang mengerikan dari pemimpin tingkat atas. Jika dia memerintah, senjata biasa bahkan bisa lebih kuat dua atau tiga kali dari aslinya.
Saat ini, Mei Mengyi benar-benar tidak bisa sombong. Awalnya ia sangat bangga karena telah membunuh banyak kultivator tingkat tinggi. Ia juga berpikir jaraknya dengan Ling tidak terlalu lebar. Namun, ternyata ia tertinggal sangat jauh.
Bahkan untuk menyentuh ujungnya, Mei Mengyi tak mampu.
"Nona Mei, kau sangat hebat. Senjata nuklir buatanmu benar-benar mengerikan. Dulu aku meragukanmu, tapi sekarang aku percaya penuh padamu," ucap salah satu orang setelah tersadar dari lamunannya.
"Benar, Nona Mei. Mulai sekarang kau bisa memimpin sebuah keluarga besar. Ketika orang melihatmu, mereka tidak akan memanggilmu Nona Mei lagi, tapi Nona Besar Mei," ucap pimpinan tetua yang juga merasa takjub.
"Mulai sekarang, Anda akan berada di barisan terdepan dalam keluarga besar," ucap orang lainnya.
Meski Mei Mengyi bukan seorang kultivator, tapi kemampuannya dalam membuat senjata dan bom yang menakutkan sudah cukup menjadikannya orang besar.
"Berhenti bicara. Aku bahkan tidak tahu cara membuat senjata nuklir ini," ucap Mei Mengyi.
"Kalian akan mengetahuinya cepat atau lambat," jawab Mei Mengyi sambil tersenyum misterius. Dia pergi dari sekelompok orang itu.
Mengapa dia bingung? Sudah jelas senjata itu dibuat sendiri oleh Tuan Mudanya. Dan orang-orang itu mengapa menatap memuja begitu padaku? Senjata itu bukan aku yang menciptakan. Itu dibuat oleh Tuan Muda kalian. Jika kalian ingin memuja, maka pujalah dia, batin Mei Mengyi sedikit kesal.
*
Di pinggir laut, krisis sudah berakhir.
Ling turun dari jet tempurnya. Ia mengirim pesan pada seseorang dan masih berdiri di sana. Saat itu, Tuan Besar Zhuo dan anak buahnya menghampirinya.
"Tuan Muda Chen, terimakasih untuk bantuanmu hari ini," ucap mereka. Wajah bahagia mereka terpancar jelas. Mereka menatap kagum ke arah Ling.
"Itu sudah tugasku," jawab Ling. Ia memasukkan ponselnya dan tersenyum hangat kepada mereka. Ekspresinya sekarang sangat berbeda jauh dari beberapa waktu sebelumnya.
__ADS_1
"Tuan Zhuo, bukankah itu adalah An Guli?" tanya salah satu bawahan Tuan Besar Zhuo.
"Benar. Aku pernah bertemu dengannya sekali di laboratorium di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku menghabiskan banyak uang untuk bisa masuk ke sana," jawab Tuan Besar Zhuo.
"Aku juga pernah bertemu dengan Murong Qi di medan perang. Dia berasal dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya, kan? Bukankah mereka sangat sombong? Biasanya mereka tidak pernah ikut campur dengan hal selain di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Namun mengapa sekarang mereka datang ke sini?" ucap Tuan Besar Wei panjang lebar.
"Tuan An, Tuan Murong, mengapa kalian berdua ada di sini?" tanya Tuan Besar Zhuo dengan hormat. Ia tidak berani berbuat macam-macam.
Mereka tahu jika di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya banyak orang biasa. Namun mereka juga tahu jika sebagian lagi adalah orang yang sangat kuat. Bahkan tidak ada yang berani menyerang mereka.
Tidak mudah untuk bertemu dengan orang dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Bertemu dengan mereka sekarang adalah keberuntungan. Oleh karena itu, mereka tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
Tuan Zhuo melirik pimpinan tetua yang langsung mengerti maksudnya.
"Tuan An, kalian datang tepat waktu. Apakah Nona A Shui ada di pulau? Kami ingin mendiskusikan beberapa hal dengannya," ucap pimpinan tetua yang bicara dengan An Guli yang terlihat lebih ramah.
An Guli dan Murong Qi hanya meliriknya. Mereka berdua melewati pimpinan tetua begitu saja. Mereka langsung berjalan menuju ke arah Ling.
"Lapor! Wilayah utara dan selatan telah dibersihkan," ucap An Guli.
"Lapor! Wilayah barat dan timur sudah dibersihkan," ucap Murong Qi.
Ling mengangguk. Ia melihat ke arah Tuan Besar Zhuo dan yang lainnya. Kemudian, ia bicara pada An Guli dan Murong Qi, "Kerja kalian sangat bagus. Namun apakah kalian tidak mendengar jika tetua dari Keluarga Bo ingin bicara dengan kalian?"
An Guli dan rekan lainnya tidak berani tidak mematuhi perintah Ling. Jadi, saat ini An Guli berbalik dan menatap pimpinan tetua. Kemudian, ia bicara, "Tetua, apa Anda ingin membicarakan sesuatu?"
Pimpinan tetua benar-benar terkejut dengan hal ini. Tidak peduli betapa sombongnya dia karena berasal dari Keluarga Bo, tapi diajak bicara oleh bawahan dari Raja Legendaris, ia merasa sangat terharu.
Kini semua orang diam.
Tuan Besar Zhuo dan yang lainnya saling pandang. Apa mereka tidak salah lihat? Apa yang mereka lihat barusan bukan ilusi, kan?
Lupakan dulu tentang Mei Mengyi dan Wei Lang. Bawahan Raja Legendaris, identitas yang sulit digapai orang-orang, mengapa bisa mendengarkan perkataan Ling? An Guli yang awalnya mengabaikan pimpinan tetua, karena perintah Ling, ia menjadi sangat hormat.
__ADS_1
Apa mereka saat ini sedang mimpi masal?