Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Bom Waktu


__ADS_3

Bo Minghao sedang berada di kamar Bo Yunxing. Saat ini, bawahan Mei Mengyi telah menangkapnya.


"Minghao, selamatkan cucuku. Mereka akan membawanya," Nyonya Tua Bo sudah menangis hebat. Ia sangat menyayangi Bo Yunxing seperti cucunya sendiri.


"Dia melakukan kesalahan. Biarkan mereka menangkapnya," ucap Bo Minghao dingin.


"Minghao, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Tua Bo. Ia tetap tenang dalam keadaan seperti ini.


Belum sempat Bo Minghao menjawab, seseorang datang menghampiri mereka. Semua orang yang ada di ruangan melihatnya dengan tatapan kagum. Dia sangat cantik sehingga banyak orang terpesona.


"Nyonya Tua Bo, apa Anda membela cucu angkat Anda dan ingin membunuh cucu kandung Anda?" tanya Mei Mengyi sambil menyilangkan tangan.


Jantung Bo Minghao serasa melompat. Ia selama ini sudah memperkirakan hal ini. Namun baru kali ini dia mendapatkan kebenaran.


"Apa maksudmu? Siapa kau?" tanya Nyonya Tua Bo. Ia tak tahu apa yang dibicarakan oleh Mei Mengyi. Dipikirkannya saat ini hanya ada Bo Yunxing.


"Dia bukan mahasiswa di Universitas Internasional Kota Bayangan. Namun mengapa ia bisa masuk ke laboratorium privasi ramuan? Mengapa secara kebetulan hanya ada dia dan Tuan Muda Chen? Mengapa ia bisa membawa bom ke dalam laboratorium? Bukankah ia terlalu berani meminta kartu akses dari dosen?" Mei Mengyi memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Nyonya Tua Bo.


Nyonya Tua Bo tertegun. Ia yang paling tahu jelas tentang hal ini. Namun bagaimana wanita di depannya bisa tahu segalanya? Bukankah semua rekaman pengawas telah dihancurkan?


"Tangkap dan bawa dia. Serahkan pada Wei Lang," ucap Mei Mengyi. Semua bawahannya segera membawa Bo Yunxing. Walau Bo Yunxing belum sembuh, mereka tetap memaksanya.


"Minghao! Lihat! Yunxing belum sembuh. Mereka membawanya," ucap Nyonya Tua Bo kembali menangis.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Yunxing. Ini adalah perbuatanku. Jangan bawa Yunxing," Nyonya Tua Bo mengungkapkan segalanya.


"Ibu, apa maksudmu?" tanya Bo Minghao tidak percaya. Tadi ia berpikir yang melakukan ini adalah orang lain. Walau tidak mungkin Mei Mengyi menangkap seseorang tanpa bukti, setidaknya ia masih memiliki kepercayaan pada ibunya.


"Minghao selamatkan Yunxing ...," ucap Nyonya Tua Bo memohon.


"Ibu sangat kejam. Selain menyakiti orang lain, Ibu juga melibatkan seorang anak," ucap Bo Minghao. Ia merasa sangat kecewa sekarang.


"Setelah ini, bawa Nyonya Tua ke desa. Biarkan dia tinggal dengan tenang," ucap Bo Minghao. Ia menghela napa pelan.


"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini. Minghao selamatkan Yunxing lebih dulu. Aku akan menggantikannya," ucap Nyonya Tua Bo masih memohon.

__ADS_1


"Aku tidak peduli siapa yang memiliki ide ini. Yang meledakkan laboratorium adalah Bo Yunxing. Jadi dialah yang harus ditangkap," ucap Mei Mengyi. Ia sedikit kesal dengan Nyonya Tua Bo yang sangat bersikeras dengan Bo Yunxing.


"Nyonya Tua Bo, mengapa Anda tetap mempedulikan cucu angkat Anda? Mengapa Anda tidak mempedulikan cucu kandung Anda yang berada di kamar lain?" ucap Mei Mengyi lagi.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Nyonya Tua Bo. Ia sedikit gugup sekarang.


"Tentu saja Tuan Muda Chen," jawab Mei Mengyi santai. Ia sudah memperkirakan ekspresi mereka, jadi ia hanya membuang muka.


Sedangkan Nyonya Tua Bo hanya diam membeku. Walau ia pernah merasakan hal seperti itu, tapi karena kebenciannya dengan Chen Lin, ia menepis pikiran itu.


"Apakah itu benar?" tanya Bo Minghao. Tubuhnya bergetar hebat sekarang.


Mei Mengyi mengabaikan tatapan mereka. Sebenarnya ia tak ingin ikut campur dalam masalah ini. Namun Ling membutuhkan donor darah. Mereka sudah menguji darah Chen Lin, tapi ia tak cocok. Mau tidak mau, ia mencari Bo Minghao.


"Dia perlu donor darah sekarang juga," jawab Mei Mengyi. Kemudian ia pergi begitu saja.


Bo Minghao masih membeku di tempatnya. Antara percaya dan senang, ia lebih terharu. Ia sudah merasakan perasaan itu. Saat pertama kali melihat Ling, ia tahu matanya sangat mirip dengannya. Selain itu, jika diperhatikan, sifat keras kepala Ling mirip dengannya.


Selama ini ia sudah memiliki firasat. Firasat seorang Ayah tak pernah salah.


"Cepat lakukan tes DNA," ucap Bo Minghao pada dokter. Mereka semua bergerak cepat. Mereka mengambil sampel darah Bo Minghao dan Ling. Setelah itu, mereka langsung ke laboratorium untuk mengujinya.


Setelah satu jam, hasilnya sudah keluar. Biasanya tes seperti ini akan memakan waktu lama. Namun karena ini adalah Bo Minghao, mereka bisa menyelesaikannya dalam satu jam.


Bo Minghao menerima kertas itu. Ia menatap dalam. Tangannya bergetar dan rahangnya mengeras.


Nyonya Tua Bo yang melihat ini segera merebut kertas itu. Walau ia sudah bisa menebaknya dari ekspresi Bo Minghao, ia tetap ingin memastikannya sendiri.


Setelah membaca, reaksinya tak jauh beda. Ia tak percaya dan membeku.


Apakah selama ini orang yang ia benci adalah cucunya? Apakah selama ini ia akan mencelakakan cucunya?


Bo Minghao segera tersadar. Ia berlari ke ruangan Ling. Ia akan segera melakukan donor darah.


*

__ADS_1


Proses donor darah berjalan lancar. Peralatan medis sahut-sahutan berbunyi. Lingxi hanya menatap lekat ke arah Ling. Ia berharap, Ling segera bangun.


Ketika ia akan berbalik, ia melihat pergerakan Ling di tempat tidur. Mata pria itu terbuka menampilkan mata hitam cerahnya.


"Raja ...," panggil Lingxi lirih.


"Ya, ini aku," jawab Ling santai. Ia meregangkan tubuhnya.


Sebenarnya ledakan itu tak mempengaruhi tubuhnya. Namun siapa yang tahu jika yang di atas sudah mengaturnya. Untungnya ia masih diberi kehidupan lagi.


Lingxi sama sekali tak ragu jika orang di depan ini adalah asli. Ia dapat merasakan aura dominasi darinya. Siapa yang bisa memiliki ini jika bukan orang yang berpengaruh.


Ling bangkit dari kasur. Ia memakai sandal rumah sakit. Kemudian ia berjalan santai menuju pintu kamar. Sebelum itu, ia berbalik menatap Lingxi yang masih membeku.


"Lingxi," panggil Ling.


"Ah ... iya ...," jawab Lingxi gugup. Ia ikut keluar bersama Ling.


Chen Lin dan yang lainnya melihat Ling keluar. Mereka segera menghampirinya.


"Ling, bagaimana keadaanmu?" tanya Chen Lin. Wajahnya terlihat sangat lelah dan khawatir.


"Ibu, aku baik-baik saja," jawab Ling santai.


Chen Lin mengamati wajah Ling. Ia memperhatikan seluruh detail wajahnya. Tidak ada yang berubah. Ia terlihat sehat dan bugar.


"Ling, kau sudah bangun," ucap Bo Minghao. Ia terlihat tertatih-tatih saat berjalan. Wajahnya yang biasanya tegas, kini sedikit pucat.


"Minghao, ada apa denganmu?" tanya Chen Lin. Ia menyadari bahwa ia lebih pucat.


"Aku baru saja donor darah untuk putra kita," jawab Bo Minghao. Keadaan langsung hening. Ucapan Bo Minghao seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


***


Mohon maaf author belum bisa update di jam rutin seperti sebelumnya. Maaf juga belum bisa balas komen kalian. Jika keadaan sudah normal kembali, author akan update seperti biasanya🤗

__ADS_1


Terimakasih untuk yang selalu mendukung author🤗


Semoga kalian sehat selalu😇🥰


__ADS_2