
"Jangan khawatir. Aku akan mengirim pasukan elit untuk menjaga Keluarga Bo," ucap Ling. Ia berencana akan membawa beberapa anggota Organisasi Tempur.
"Ling X sudah kembali. Mungkin kau tidak tahu siapa dia. Namun dia adalah orang yang paling hebat di sini. Aku lihat kau mengenal Mei Mengyi dan Wei Lang. Kau bisa bertanya tentang Ling X pada mereka. Jika terjadi apapun, kau harus meminta bantuannya," ucap Bo Minghao panjang lebar. Ia mengatakan itu semua dalam satu tarikan napas.
Ling hanya mengangguk menanggapi. Tidak ada yang tahu siapa dibalik topeng Ling X. Jadi wajar Bo Minghao bersikap seperti ini.
Sepertinya masalah potongan kertas itu memang tidak sederhana.
Jika mereka benar-benar mengincar potongan kertas, Bo Minghao memang dalam posisi berbahaya karena mereka hanya tahu jika Bo Minghao mewarisinya. Mereka tidak tahu jika potongan kertas itu sudah berpindah tangan.
Apalagi Bo Minghao adalah kepala keluarga di sini. Di antara semua anggota keluarga, Bo Minghao yang paling kuat. Jika Bo Minghao pergi, itu sama saja kehancuran Keluarga Bo.
Belum lagi tentang kesedihan Chen Lin.
Saat ini, tugas Ling semakin bertambah.
Setelah beberapa saat meyakinkan Bo Minghao, mereka kembali ke ruang makan. Saat ini Bo Minghao sudah merasa lebih lega. Wajahnya tak sekhawatir tadi.
"Zhao Nuan, aku menunggumu di taman belakang," ucap Ling. Ia tidak duduk lebih dulu. Ia langsung melangkah pergi ke taman belakang rumah Keluarga Bo.
Zhao Nuan segera berlari menyusul Ling. Ia belum tahu tata letak rumah ini jadi ia takut kesasar. Padahal Ling juga tidak tahu tata letak rumah ini. Namun ia memilih mengikuti instingnya.
Ling akhirnya sampai di taman belakang. Ternyata rumah ini sangat luas. Bahkan hampir sama luasnya dengan Chen Company. Keluarga Bo tidak disebut kaya tanpa alasan.
"Kau adalah Kakak Chen?" tanya Zhao Nuan berterus terang. Ia sudah mendengar sedikit cerita dari Zhao Ran. Zhao Ran juga mau bercerita karena Zhao Nuan sudah memberi alasan padanya.
"Apa pedulimu?" tanya Ling ketus. Ia duduk sambil menyilangkan kaki.
"Aku bisa menjelaskan," jawab Zhao Nuan. Ekspresinya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Di mana Paman Zhao?" tanya Ling menanyakan keberadaan ayah Zhao Ran. Ia tak peduli dengan alasan Zhao Nuan. Selagi Zhao Ran memaafkannya, itu sudah cukup.
"Paman Zhao masih bersama Pegasus. Semoga dia baik-baik saja saat Pegasus tahu aku kabur dari mereka," ucap Zhao Nuan. Ia terlihat sangat menyesal.
"Apa kau tahu siapa pemimpin Pegasus?" tanya Ling langsung ke inti.
"Aku tidak pernah tahu. Dia tidak pernah ingin menunjukkan wajah, sama seperti Ling X," jawab Zhao Nuan. Ia tidak tahu jika Ling di depannya adalah Ling X.
__ADS_1
"Apa kau tahu ciri-cirinya?" tanya Ling lagi. Dalang di balik ini semua pasti hanya satu orang.
"Dia seorang pria," jawab Zhao Nuan. Ia sangat yakin dengan jawaban ini karena pernah mendengarnya dari beberapa anggota. Meskipun ia menutupinya, pasti ada orang yang tau wajah dan dia itu siapa.
Desas-desus itulah yang banyak muncul di kalangan mereka.
*
"Besok akan diadakan pelelangan. Apa kau ingin ikut?" tanya Bo Minghao saat mereka sedang sarapan.
"Tentu saja," jawab Ling santai. Ia yang pertama kali menghabiskan makanannya.
Saat ini, Bo Shin ada di rumah. Ia baru saja pulang dari luar negeri. Ia sangat antusias melihat Ling hari ini.
"Kakak Pertama, besok aku akan menjemputmu di universitas," ucap Bo Shin tulus. Ia benar-benar ingin mendekati Ling.
"Tidak masalah," jawab Ling. Ia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar.
Jika memang acara lelang, maka ia harus membuat beberapa barang berharga. Dan yang paling berharga itu adalah ramuan.
Sebagai Dewa Tabib, membuat ramuan adalah hal yang mudah. Ia bisa membuat ramuan tingkat tinggi dan menjualnya Jika dalam lelang, harganya akan naik dua kali lipat. Jadi, Ling benar-benar ikut dalam acara lelang besok.
Meski ia bisa membuat senjata sendiri, itu tetap saja butuh uang.
Ramuan demi ramuan mulai selesai. Ling mengistirahatkan tubuhnya yang banyak kehilangan energi. Ia minum ramuan buatannya.
Ketika ia akan memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Ada satu pesan masuk.
[Kau tidak ingin menghadiri akademi ramuan yang baru?]
Itu adalah Kakek Liam. Pembangunan ulang akademi ramuan sudah selesai. Seharusnya hari ini menjadi acara pemotongan pita.
Ling bangkit dari tidurnya.
Ia membereskan bahan ramuan yang berserakan. Kemudian, ia menyimpan bahan ramuan yang sudah ia buat.
Ia mengambil jaket dan topi. Setelah beberapa saat melihat wajahnya di cermin, ia melangkah pergi.
__ADS_1
Namun saat ia bertemu dengan Paman Qian, ia berkata, "Paman, aku lapar."
Paman Qian sudah berada di depan kamar Ling sejak tadi. Ia sudah memanggil Ling puluhan kali tapi tidak ada jawaban. Jika Ling sudah mengurung diri seperti ini, tentu saja dia lapar.
"Makanan sudah siap. Kau bisa makan," ucap Paman Qian sambil tersenyum. Ia masih berdiri dan menunggu Ling turun.
Mendengar hal ini, Ling segera turun. Ia tidak melihat siapa pun di meja makan. Namun masih ada banyak makanan di sini.
Ia pun mulai makan dengan lahap.
Ling makan sambil memainkan ponsel. Ia membalas pesan Kakek Liam.
[Aku akan datang.]
Setelah membalas pesan itu, ia meninggalkan ponselnya sejenak. Makanan ini bertambah enak saat dimakan ketika lapar. Ling lahap sekali memakannya.
"Ling kau akan ke mana?" tanya Chen Lin yang baru saja keluar kamar. Ia melihat Ling sudah rapi.
"Akademi Ramuan," jawab Ling singkat. Ia segera menyelesaikan makannya.
"Baiklah, jaga dirimu," ucap Chen Lin. Ling hanya mengangguk. Kemudian ia menyeka mulutnya dengan tisu. Setelah minum, ia mencium pipi Chen Lin dan berlalu pergi.
Dalam perjalanannya dengan mobil Keluarga Bo, Ling mengirim pesan pada A Shui.
[Siapkan perumahan untuk Keluarga Zhao. Aku ingin itu selesai dalam waktu dekat.]
Tak butuh waktu lama, A Shui membalas.
[Baik, Raja.]
Ling tidak membalas pesan lagi. Ia menatap ke depan jalan. Saat ia sedang melamun, tiba-tiba satu ingatan mengalir begitu saja di otaknya.
Itu adalah ingatan tentang sebuah bom.
Rakitan bom ini dapat menghancurkan ribuan penduduk.
Dalam ingatan itu, Ling melihat detail pembuatan bom. Mulai dari bahan, teknik, sampai pola yang terukir di atasnya.
__ADS_1
Namun ada hal janggal.
Ling merasa saat membuat bom itu ia tidak sendiri.