
"Ketua, ada apa Anda mencari saya?" tanya Xue Jun yang masih bingung.
"Tuan Muda, kan? Apa kau tahu mengapa aku memanggilmu?" tanya Ketua Dai. Ia merasa agak aneh, karena selama ini hanya Ling yang dipanggil Tuan Muda.
"Aku bisa melakukan apa pun," ucap Xue Jun sombong, padahal ia berbohong.
"Aku dan Komandan Xie sedang berdiskusi tentang senjata api. Tuan Muda, apa kau memiliki solusi?" tanya Ketua Dai sambil tersenyum menatap Xue Jun.
"Aku kenal dengan Nona Shi. Keluarganya adalah pemasok senjata api di Kota Bayangan," jawab Xue Jun percaya diri. Ia bisa mengatakan ini karena ia tahu jika Keluarga Shi adalah pemasok senjata api. Namun ia tidak berhubungan dekat dengan mereka. Tapi dia percaya jika Keluarga Shi akan membantunya jika ia mengatakan ia berasal dari Area Satu.
Ketua Dai berpikir jika Xue Jun tak akan mengatakan apa pun. Namun dia berani membawa nama Keluarga Shi? Ketua Dai tahu jika Keluarga Shi tidak ingin ikut campur dalam hal apa pun. Mereka hanya peduli dengan diri sendiri.
Komandan Xie menyadari ada yang aneh dari Ketua Dai. Dia bertanya, "Ketua, apa ada yang salah? Bukankah Anda yang mengirim pesan pada Tuan Muda?"
"Benar, aku yang mengirim pesan," jawab Ketua Dai.
"Tapi menurutmu mengapa dia adalah Tuan Muda yang aku bicarakan? Namamu adalah Xue Jun, kan? Aku melihat informasi jika dulunya kau adalah anggota Area Satu. Kau tahu kenapa kau disingkirkan? Itu karena kau tak bisa mengontrol emosi. Apa kau tahu mengapa aku mencari Tuan Muda? Itu karena dia memiliki banyak relasi orang hebat. Keluarga Shi yang kau bicarakan tidak ada apa-apanya di depannya. Senjata api yang dia buat juga sudah level tertinggi," lanjut Ketua Dai berbicara.
Komandan Xie dan Xue Jun saling pandang. Pasti ada yang tidak beres dengan Ketua Dai. Apalagi saat mendengar senjata yang dia bicarakan.
"Nah, senjata sudah dikirim oleh Tuan Muda," ucap Ketua Dai tersenyum saat melihat ponselnya.
Komandan Xie bertanya, "Ketua, siapa sebenarnya Tuan Muda itu? Apa dia berasal dari Kota Urban?"
"Tentu saja dia berasal dari Kota Urban," jawab Ketua Dai.
"Siapa dia?" tanya Komandan Xie lagi.
"Siapa dia? Kalian pernah bertemu dengannya. Tentu saja dia adalah Tuan Muda Chen. Dia selalu rendah diri dan tak ingin diperlakukan hormat saat di depan orang biasa," jawab Ketua Dai sambil tersenyum.
Komandan Xie dan Xie Jin sangat terkejut. Mereka tahu jika Tuan Muda Chen yang dimaksud Ketua Dai adalah Chen Ling. Ia sudah memikirkannya sejak awal saat di Kediaman Chen. Saat mereka pingsan, ia pikir Ling dan yang lainnya terluka dan diselamatkan seseorang. Namun ternyata mereka sendiri yang mengusir para penjahat itu.
Orang yang dia pikir orang biasa, ternyata latar belakangnya sangat kuat.
"Untuk pesan itu, Tuan Muda meminjam ponsel Xue Jun untuk mengirim pesan bahaya kepada kami. Jika orang-orang itu tahu Tuan Muda Chen ada di sana sejak awal, mereka pasti sudah kabur," ucap Ketua Dai lagi.
Xue Jun tidak tahan lagi. Ia merasa sangat malu mendengar semua ini. Apalagi saat dia ingat nada sombongnya saat berbicara dengan Ling.
Ketua Dai tak ingin menjelaskan lagi karena ada panggilan dari Mei Mengyi. Ia berkata, "Kalian temui Tuan Tua Yu. Aku masih memiliki beberapa urusan."
Komandan Xie pun segera pergi. Namun tidak sengaja Xie Jin dan Xue Jun melihat walkie-talkie Ketua Dai. Mereka sadar itu sama seperti milik Ling. Sepertinya itu bukan alat komunikasi biasa
"Ketua, itu alat komunikasi apa?" tanya Xie Jin tak bisa memendam rasa penasarannya.
__ADS_1
"Ini adalah alat komunikasi Kota Bayangan. Jika kalian bergabung dengan militer Kota Bayangan, kalian pasti bisa mendapat ini," jawab Ketua Dai.
Xie Jin dan Xue Jun segera pergi karena malu.
*
Sekelompok orang berjalan ke arah pintu dan mereka melihat Jenderal Lu sudah menunggu mereka. Jenderal Lu langsung tersenyum saat melihat mereka.
"Aku datang atas perintah Komandan Tertinggi. Aku di sini untuk mendukung Tuan Muda," ucap Jenderal Lu dengan wajah sumringah.
Mendengar ini, Komandan Xie, Xue Jun, dan Xie Jin merasa canggung. Walikota Xue yang merasa ada yang aneh segera menegur Xue Jun, "Xue Jun, mengapa kau masih berdiri di sana? Cepat sapa Jenderal Lu."
"Ayah, berhentilah bicara," ucap Xue Jun dengan sangat kesal.
"Putraku, apa yang salah?" tanya Walikota Xue heran.
Xie Jin maju. Ia berkata, "Walikota, biar aku yang menjelaskan. Tuan Muda yang dimaksud oleh orang Area Satu bukanlah Xue Jun."
"Lalu siapa?" tanya Walikota yang gelisah.
"Tuan Muda Chen," jawab Xie Jin sambil menghela napas.
"Bagaimana mungkin dia? Aku tidak pernah melihatnya di Kota Bayangan. Mengapa bisa dia?" ucap teman Xue Jun. Ia ingat saat dia memarahi Ling dengan kasar dan sekarang ia sangat ketakutan.
"Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan," ucap Xue Jun masih saja sombong karena dia berpikir dia lebih kuat dari Ling.
"Benar. Tapi, kita tidak pernah mendengar nama Keluarga Chen di Kota Bayangan," ucap Komandan Xie.
"Oh, Lu Yan! Bukankah kau dari Kota Urban? Apa kau tahu sesuatu?" tanya Jenderal Lu teringat.
Lu Yan tertegun saat mendengar Ling dipanggil Tuan Muda. Namun ia segera menjawab, "Dia ... memang bukan berasal dari Kota Bayangan."
"Cih, memang tidak mungkin," ejek Xue Jun.
"Tapi, dia diterima di Universitas Internasional Kota Bayangan tahun lalu," ucap Lu Yan melanjutkan.
Xue Jun langsung membeku. Semua yang ada di sana menahan napas dan tidak berani mengatakan apa pun. Bahkan Komandan Xie juga tercengang.
Kota Bayangan dan Universitas Internasional Kota Bayangan adalah dunia yang sangat berbeda jauh dengan mereka.
"Celaka! Aku terjebak karena kalian!" ucap Jenderal Lu panik.
"Aku baru saja menghinanya. Ternyata dia adalah Tuan Muda yang dimaksud," Jenderal Lu sudah kehilangan wajah.
__ADS_1
"Beraninya kau menyamar sebagai Tuan Muda! Kau dengar ini! Jika aku dipecat karena ini, Keluarga Xue mu tidak akan ku lepaskan!" ucap Jenderal Lu dengan penuh amarah.
Xue Jun linglung dan terjatuh ke tanah.
*
Sore harinya, Han Shuangfu kembali. Saat Ketua Dai bertemu dengannya, dia sedang bicara dengan Tuan Tua Yu.
"Nona Han, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Ketua Dai.
"Aku di sini untuk melindungi Kakak Ipar. Jika Anda butuh bantuan, beritahu aku," jawab Han Shuangfu.
Namun, Ketua Dai menolaknya, "Terimakasih atas niat baik Anda, Nona."
Han Shuangfu tertegun sejenak.
Kemudian, Tuan Tua Yu menerima panggilan, "Apa?! Xie Jin dan yang lainnya hilang?"
Setelah itu, Tuan Tua Yu menutup panggilan dan menatap Ketua Dai dengan cemas, "Ketua Dai, kata Komandan Yu, Xie Jin dan Jenderal Lu hilang."
Namun, Ketua Dai hanya tenang, "Tidak apa. Mereka akan baik-baik saja."
Han Shuangfu juga merasa aneh dengan sikap Ketua Dai. Ia segera bertanya, "Di mana Ling?"
"Dia sedang menipu orang lain," jawab Ketua Dai sambil tersenyum.
*
Pada waktu bersamaan, di perbatasan Kota Urban.
Seorang pria berjubah hitam berdiri di balkon sambil menelepon seseorang, "Itu hanya Kota Urban kecil. Tidak ada Zhuo Xia, apa yang perlu ditakuti? Seluruh koneksi jaringan ada di tanganku. Aku bisa tahu semua gerakan. Adapun orang Area Satu itu ... mereka hanya orang biasa."
Pria itu berbicara dengan nada jijik.
Sedangkan Xie Jin dan Jenderal Lu diikat di sudut ruangan. Namun pria itu tak peduli dengan orang biasa ini.
Tak lama, seseorang masuk dengan tergesa-gesa, "Bos, Tuan Muda Chen itu ... ada di Kota Urban."
Ponsel pria itu terjatuh, "Bukankah Xue Jun? Mengapa bisa ganti orang?"
Tuan Muda Chen.
Ini adalah nama yang paling ditakuti semua orang. Selain Zhuo Xia, mereka paling tidak berani mengganggu Ling.
__ADS_1
Seolah menyadari ada yang aneh, pria itu berbalik badan. Ketika melihat seseorang di sana, ia membeku.
Ling sedang duduk di dekat jendela. Ia tersenyum dingin dan menatap pria berjubah hitam itu. Tatapannya yang dalam membuat orang seolah jatuh ke dalam jurang tak berujung.