
Universitas Internasional Kota Bayangan terletak di pusat Kota Bayangan. Ini cukup jauh dari Kota Urban. Tempatnya sangat luas dan mewah. Namun universitas ini hanya menerima beberapa ribu murid. Murid yang diterima juga berasal dari berbagai negara. Jadi persaingannya benar-benar ketat.
Mereka berempat menuruni taksi. Saat ini mereka sampai di sebuah gerbang tinggi. Di paling atas tertulis dengan huruf kapital yang besar "UNIVERSITAS INTERNASIONAL KOTA BAYANGAN".
Mereka menyeret koper dan langsung masuk ke universitas. Saat di Kota Urban, mereka sudah diberitahu jika mereka akan tinggal di asrama. Pembagian asrama akan dilakukan hari ini.
Lapangan terlihat ramai. Kebanyakan adalah mahasiswa baru yang membawa koper. Wajah mereka sangat bergembira. Bagaimanapun ini memang universitas terbaik.
Setelah arahan dari Rektor Xiang, koper-koper mereka di bawa petugas. Mereka disuruh berbaris dengan rapi. Ling memilih berbaris di bagian paling belakang yang teduh.
"Hey, bro! Minggir!" ucap seorang pria yang cukup tampan. Ia memakai pakaian biasa. Bisa dipastikan dia juga mahasiswa baru.
Ling hanya menatapnya tak peduli. Ia kembali memainkan ponselnya.
"Kau tuli? Aku ingin baris di tempat teduh ini!" teriak orang itu.
"Minggir kau orang kampung! Tidak ada yang akan menolak perintah Tuan Muda Wei," ucap seorang pria di belakangnya.
"Diam kau! Kau pikir sehebat apa kotamu?" ucap Yuan yang sudah emosi.
"Jangan ganggu kami!" ucap Liam menambahkan.
Ling mengangkat kepalanya. Ia tersenyum menyeringai, "Keluarga Wei, ya?"
Ling menatap mereka tajam. Terlihat bahwa Wei Yun merasa tertekan karena hal ini. Tanpa sadar, ia mengepalkan tangan karena gemetar.
"Benar. Apa kau takut sekarang? Saudara laki-lakinya adalah ketua polisi tertinggi di Kota Bayangan. Jika kau berani macam-macam jangan harap hidupmu tenang," ucap pria di belakang tadi.
"Minggir kau!" teriak Wei Yun. Ia hanya mampu mengucapkan kata-kata itu sekarang.
Ling hanya mengangguk. Kemudian ia bergeser ke barisan yang cukup panas. Ia memilih mengalah. Ia tak ingin membuat keributan di hari pertamanya kuliah. Bagaimanapun ia masih menghormati Rektor Xiang. Salah satu gurunya dulu.
"Mengapa kau menurutinya Ling? Kita bisa memukul mereka sampai mati," ucap Liam tak terima.
"Biarkan saja," ucap Ling santai. Ia memainkan ponselnya dan membuka situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia memasuki forum pasar gelap.
Raja : [Ketua Polisi, adikmu cukup arogan.]
__ADS_1
Ketua Polisi : [Raja, kau berada di Kota Bayangan sekarang? Kapan kau kembali? Aku ingin bertemu denganmu.]
Ahli Bom : [Raja, aku ingin mengatur waktu untuk pertemuan kita.]
Raja : [Aku belum ingin bertemu dengan siapapun.]
Setelah mengetik pesan terakhir, Ling keluar dari forum pasar gelap dan situs web khusus. Ia sudah siap keluar ke permukaan. Namun ia harus menyelesaikan masalah dengan Zhuo Xia terlebih dahulu.
Saat ia memikirkan itu, pesan masuk dari Zhuo Xia.
[Cafetaria di depan universitas. Ruangan VIP 03.]
Hanya ada pesan singkat yang tidak menerima penolakan. Ia bahkan tak menanyakan Ling ingin atau tidak.
Ling tak membalasnya. Bahkan jika Zhuo Xia tak menanyakan pendapatnya, ia akan tetap datang. Mungkin Zhuo Xia tahu dia pasti akan datang.
Ling maju ke podium untuk mengambil nomor urut kamar. Nomor itu juga akan menjadi nomor urut sementara selama mereka menjadi mahasiswa baru.
Nomor 26.
Ling menggenggam erat nomor itu. Dulu, tahu pertama dia masuk kuliah, ia juga mendapat nomor 26. Setelah selesai, ia tersenyum kepada Rektor Xiang sejenak sebelum kembali ke barisan.
*
Setiap kamar berisi enam orang. Ling mendapat urutan 26 dan Yuan urutan 27. Jadi mereka akan tidur satu kamar. Mereka akan berada di kamar nomor 4.
Sedangkan Lian dan Su Wen Ai terpisah dari mereka. Mereka juga tidak satu kamar. Walau begitu, mereka akan selalu merencanakan pertemuan. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka, apalagi hanya kamar belaka.
Saat mereka masuk, sudah ada dua orang pria di dalam. Mereka sepertinya kakak beradik kembar. Wajah mereka sumringah saat melihat Ling dan Yuan.
"Hai!" sapa mereka bersamaan dengan ceria.
Yuan takjub melihat wajah mereka yang benar-benar mirip. Jika mereka tak memakai baju yang berbeda, orang-orang akan berpikir dia memiliki dua bayangan.
"Wah! Wajah kalian benar-benar mirip!" seru Yuan masih menatap wajah mereka secara bergantian.
"Halo, aku Shi Weiheng," ucap pria yang memakai kemeja biru.
__ADS_1
"Halo, aku Shi Wenhua," ucap pria yang memakai jaket putih.
Yuan masih menatap wajah mereka secara bergantian. Ia masih belum bisa membedakan nama mereka. Sedangkan Ling sudah tidur di kasur. Ia masih membiarkan barang-barang di kopernya.
"Halo, aku Qi Yuan," ucap Yuan pada akhirnya. Ia duduk di pinggir kasur dekat mereka, tempat Ling tidur.
"Bagaimana cara membedakan kalian?" tanya Yuan langsung.
"Lihat! Mataku berwarna biru. Aku Weiheng," ucap Weiheng menunjukkan matanya pada Yuan. Yuan menepuk kepalanya. Ia benar-benar tak menyadari hal itu.
"Baiklah. Kini aku tahu perbedaan kalian," ucap Yuan.
Mereka kembali mengobrol banyak hal. Mereka sama berisiknya dengan Yuan, jadi mereka cepat akrab. Apalagi saat tahu jika mereka memiliki ibu dari luar negeri, Yuan semakin heboh. Dia berpikir mungkin mata Weiheng adalah keturunan ibunya.
Masih ada dua siswa lagi yang belum masuk. Ketika itu pintu terbuka. Ketiga orang yang sedang asyik mengobrol langsung menoleh.
Mereka melihat dua pria tampan lain. Yang satu berwajah arogan. Yang satu lagi berwajah sangat dingin.
"Pergi! Aku ingin di sini!" ucap pria berwajah arogan.
Dalam satu kamar berisi tiga tempat tidur tingkat. Jadi mereka bisa memilih kasur atas dan bawah. Namun saat ini, pria itu meminta tempat tidur milik Ling dan Yuan.
"Kau lagi!" teriak Yuan marah. Ia masih ingat ini adalah Wei Yun yang juga ingin tempat mereka saat berbaris lagi. Yuan tahu Ling tak akan membiarkannya lagi kali ini.
"Ah aku terlalu terkenal. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Wei Yun percaya diri.
"Kau yang merebut tempat teduh kami!" ucap Yuan. Ia sudah bangkit dan mengepalkan tangan.
"Oh! Tenyata hanya orang kampung. Zhao Ran habisi dia jika tidak ingin pindah tempat tidur!" perintah Wei Yun pada orang di belakangnya.
Zhao Ran mau tidak mau segera maju. Namun yang dia tidak tahu, Yuan yang dia sebut sebagai orang kampung, memiliki beladiri yang baik.
Pak!
Pak!
Pak!
__ADS_1
Yuan mulai menyerang lebih dulu. Ia secara brutal menendang dan memukul Zhao Ran. Namun semua dapat diblokir Zhao Ran. Selain itu, Yuan merasa, Zhao Ran dapat mengalahkannya dengan mudah. Namun mengapa ia hanya memblokir dan tak membalas?
Mendengar keributan ini, tidur Ling terganggu.