
Semua mata menatap Ling. Bahkan penonton yang melihat dari media saja bisa terpana. Beberapa dari mereke memberi spam.
[Keren.]
[Hebat.]
[Hidup kedamaian.]
[Keadilan untuk Ahli Bom Mei.]
Detak jantung mereka tak normal. Dengan topeng hitam dan jubah hitam, semua orang merasa darah mereka membeku. Terutama orang-orang luar negeri yang mengenalinya.
Apalagi suara dan ketegasan yang familiar itu.
Mei Mengyi dan Lingxi menatap kagum ke arah Ling. Sebelumnya mereka hanya mendengar tentang Ling. Mereka tidak pernah melihat secara langsung. Apalagi melihat Ling menjalankan misi secara langsung.
Mereka menganggap mereka sudah memakai keberuntungan seumur hidup mereka.
A Shui masih menunggu di kamar Ling. Ia membeku karena tersihir oleh tatapan Ling di kamera. Dia tersenyum tipis. Kali ini Ling benar-benar kembali.
A Shui menarik napas dalam. Ia mengetikkan serangkaian angka. Dengan satu klik, kamera lainnya beralih ke arah Ling. Sekarang, semua orang dapat melihat Ling dari sudut manapun.
Ling tersenyum dalam topengnya. Ia berkata, "Aku pikir keadaan akan lebih baik jika aku pergi selama beberapa bulan. Ternyata keadaan semakin kacau. Aku tidak pernah mengharapkan ini, tapi sekarang aku benar-benar kembali."
Ia masih tersenyum. Meski tidak ada yang melihat, tapi semua orang yang menonton dapat merasakan senyum itu.
Ling melemparkan sesuatu dari tangannya. Semua kamera yang menyorotnya hancur berkeping-keping. Layar orang-orang berubah menjadi hitam.
Sebagian penonton bingung. Mereka tidak tahu tentang Ling X. Jadi mereka tidak mengenal Ling. Itulah mengapa mereka bingung saat Ling mengatakan dia kembali.
Hanya orang-orang besar dan orang yang berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya yang bergetar. Mereka menatap kosong layar hitam. Kebahagiaan mereka meledak.
Ling pergi dengan jet tempur. Mei Mengyi dan Lingxi masih membeku di dalam jet. Sedangkan orang-orang dari luar negeri tak bergerak. Mereka ingin mengejar tapi kecepatannya kalah dengan jet milik Mei Mengyi.
A Shui membuka ponselnya. Ia masuk ke situs web khusus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
[Pastikan jalanku kembali ke pulau, penuh dengan darah segar.]
Postingan itu di pin. Postingan itu langsung ramai mendapat komentar. Semua anggota merasa sangat bahagia.
__ADS_1
A Shui menutup laptopnya. Ia tertawa kecil. Perasaan yang dia rindukan kembali. Tidak ada yang bisa menandingi hal ini.
A Shui membereskan semua barang-barangnya. Ia bangkit dan mematikan lampu kamar. Kemudian ia keluar kamar Ling.
"Nona, kau tidak ingin makan lebih dulu?" tanya Paman Qian yang bertemu dengan A Shui di ruang tamu.
"Tidak, Paman. Terimakasih. Aku masih memiliki urusan lagi, Paman," ucap A Shui sopan. Ia tersenyum dan membungkuk hormat, kemudian pergi.
*
"Nona, banyak orang besar dari luar negeri yang keluar masuk secara ilegal. Mereka dengan santai memasuki Kota Bayangan dengan jet pribadi. Saat ini mereka sedang berkunjung di satu titik," lapor Ketua Dai pada Zhuo Xia.
Saat ini, Zhuo Xia sedang duduk bersama kakeknya. Mata mereka tak beralih pada lentera yang cahayanya mulai redup itu.
"Untuk apa mereka datang?" tanya Zhuo Xia datar.
"Dari perkataan pria bertopeng, mereka ingin menangkap Ahli Bom Mei. Mereka berada di kediaman Keluarga Zhao sekarang. Aku mengetahuinya dari siaran langsung ini. Namun itu sudah berakhir. Meski begitu masih bisa menonton ulang," jawab Ketua Dai yang masih memegang ponselnya.
"Pria bertopeng?" tanya Zhuo Xia. Darahnya serasa membeku. Kemudian ia langsung merebut ponsel yang ada di tangan Ketua Dai. Ia menonton ulang siaran langsung itu.
Kakek Zhuo Xia yang di sebelah juga ikut terkejut. Ia bertanya, "Apa dia asli? Apa dia memang Ling X?"
Kakek Zhuo Xia sangat terkejut. Mengapa Zhuo Xia bisa begitu yakin?
Zhuo Xia membaca komentar-komentar yang masuk. Ia menajamkan pandangannya. Lalu ia menatap lekat ke sosok yang ada di layar itu.
"Ayo ke sana," ucap Zhuo Xia. Ia mengembalikan ponsel Ketua Dai.
*
Wei Lang membereskan mayat-mayat yang bergeletakan. Ia sudah memadamkan api tadi. Ia tidak sempat menyapa Ling karena keterkejutannya. Ia tak dapat mengontrol diri saat melihat Ling dalam mode Raja.
Su Shuang, salah satu Tuan Muda dari Keluarga Su yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia adalah pemuda yang licik. Ia yang menuntun keluarga lain datang ke sini untuk menangkap Mei Mengyi.
"Sial! Mereka melarikan diri. Cepat kejar," perintah Su Shuang pada anggotanya.
"Berhenti," ucap seseorang dengan tegas.
Gerakan mereka terhenti. Udara di sekitar tiba-tiba menjadi sangat dingin. Mereka merasa jalan mereka beku. Dan saat mereka berbalik, mereka melihat sosok wanita keluar dari kegelapan.
__ADS_1
Keadaan hening.
Bahkan Su Shuang terkejut.
Itu adalah Zhuo Xia.
Ia tahu Zhuo Xia. Apalagi saat Zhuo Xia memakai seragam militernya seperti ini. Zhuo Xia banyak dikenal oleh kalangan keluarga militer.
Tidak hanya Su Shuang yang terkejut, bahkan Wei Lang juga. Ia tak menyangka Zhuo Xia akan turun tangan langsung karena masalah ini.
Tidak seperti Su Shuang dan Wei Lang yang memiliki banyak pasukan, Zhuo Xia hanya membawa dua orang di belakangnya. Itu adalah Ketua Dai dan Yu Bin.
"Jika kau ingin menangkapnya, kau harus melangkahi mayatku dulu," ucap Zhuo Xia dingin. Ia berhenti tak jauh dari Su Shuang.
Zhuo Xia mengucapkannya dengan tenang. Namun Su Shuang merasa sangat tertekan. Ia mengepalkan tangannya erat. Bahkan urat-uratnya sampai keluar.
"Nona Zhuo, sebaiknya Anda tidak ikut campur," ucap Su Shuang mencoba mengintimidasi Zhuo Xia.
"Bagaimana jika aku ingin ikut campur? Ini wilayahku," ucap Zhuo Xia semakin dingin. Ia menatap tajam Su Shuang.
Su Shuang semakin erat mengepalkan tangan. Ia tahu ia bukan berasal dari Kota Bayangan. Namun ia tetap ingin melawan Zhuo Xia. Ia berkata, "Setiap negara punya aturan. Bagaimana kau menjelaskan pada orang-orang luar negeri yang ada di sini?"
Su Shuang tetap tak terima jika ada orang yang melarangnya.
"Kalian berada di Kota Bayangan. Tak perlu membicarakan aturan denganku. Aturan itu ada di bawah genggamanku," jawab Zhuo Xia tetap tenang. Namun benar-benar mengerikan saat ada di dekatnya.
"Beraninya tidak menghormati Nona Su ...," ucap salah seorang yang ada di sebelah Su Shuang.
Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, dari jari Zhuo Xia keluar besi-besi tajam. Dengan sigap, Su Shuang menarik mundur bawahannya yang berkata seperti itu.
"Jika kalian tidak pergi sekarang, sepertinya kalian bisa menjadi pengasah senjataku," ucap Zhuo Xia sambil mengelus lembut besi-besi di tangannya.
Su Shuang menatap sinis ke arah Zhuo Xia. Meski dia ingin, ia memang tak dapat berbuat apapun karena ini adalah wilayah Zhuo Xia. Jadi dia memilih pergi dari sini.
"Ayo kita pergi," ucap Su Shuang pada bawahannya.
Zhuo Xia menyimpan kembali senjatanya. Ia menatap kepergian orang-orang luar negeri itu.
Kemudian satu pesan masuk ke ponselnya.
__ADS_1
[Aku menemukan Tuan Muda Chen.]