Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tertawa Sampai Menangis


__ADS_3

Suasana tetap hening. Namun Ling hanya duduk tenang sambil memakan makanannya yang lain. Seolah bukan dia yang menuangkan makanan ke kepala Fu Zhu.


Bahkan jika dia hanya diam, orang di sekitarnya akan tetap tak bersuara. Siswa yang berjarak satu meja darinya tak ada yang berani melihatnya.


Liam di sampingnya juga diam. Ia tak memiliki selera makan sekarang. Benar apa yang dikatakan Ling. Jika memang Luo Feng begitu hebat, jika Wuzhou begitu cerdas, mereka harusnya tak memakai uang Keluarga Chen lagi.


Luo Feng menggunakan uang Keluarga Chen untuk mengembangkan Luo Company. Dan juga Wuzhou bisa berbakat seperti itu, bukankah ia mendapat fasilitas dari Keluarga Chen? Bukankah semua pendidikan dan kebutuhannya Keluarga Chen yang membiayai?


Bahkan Chen Lin membawa Wuzhou ke banyak acara jamuan bisnis agar ia bisa beradaptasi dan mengenal beberapa orang. Meskipun Keluarga Chen memprioritaskan Ling, apakah yang mereka berikan pada Wuzhou bisa diabaikan begitu saja?


Namun apa yang dilakukan Wuzhou dan yang lainnya?


Tidak hanya merebut tunangan Ling, mereka juga berdiri di pihak Luo Company dan menghianati Chen Company. Itu adalah tindakan tidak tahu berterima kasih pada orang yang sudah membantu mereka.


"Ling, maafkan sifatku dulu. Aku hanya mendengarkan rumor dan tidak tahu kebenarannya," ucap Liam merasa menyesal.


"Aku mengerti," jawab Ling dengan nada tenang.


"Jika kau tidak mengetahui kebenarannya, apakah kau akan tetap berada di sisiku tanpa menyinggungku?" lanjut Ling.


Liam segera merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Untungnya ia berada di sisi Ling. Jika tidak, mungkin nasibnya akan sama seperti mereka yang meremehkannya.


Mereka bertiga keluar dari cafe.


*


"Wen Ai, sepertinya aku mengagumi Ling sekarang. Dia terlihat sangat keren," ucap seseorang di sebelah Su Wen Ai.


"Yuan berada di pihaknya sebelumnya. Aku pikir dia sangat beruntung," ucapnya lagi.


"Orang yang bisa menaklukkan Zhuo Liam tak mungkin sesederhana itu," ucap Su Wen Ai sambil menatap punggung tiga orang yang keluar dari cafe.

__ADS_1


Ia pun bangkit berdiri dan meninggalkan cafe. Diikuti seorang wanita yang tadi berbicara di sebelahnya.


Di sisi lain, Wuzhou berteriak kesal dalam hati. Ia mengepalkan tangannya erat berharap bisa melampiaskan emosinya. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat tatapan tak menyenangkan dari siswa lainnya.


Semua yang dia miliki hari ini adalah karena bakat dan prestasinya. Apa hak Ling mengomentari hidupnya? Dan untuk Keluarga Chen ... bahkan tanpa Keluarga Chen ia bisa berdiri seperti sekarang ini.


Tunggu! Ling berkata tentang Ibu? Apakah Ibu yang dimaksud adalah Chen Lin? Apa ia juga menjelekkan Chen Lin di belakang? Apa maksudnya tadi? batin Wuzhou semakin frutasi.


"Wuzhou, jangan pikirkan Ling. Dia itu gila! Dia hanya iri dengan bakatmu. Semua orang tahu kau adalah siswa paling cerdas," ucap Fu Zhu. Wajahnya masih memerah karena marah, tapi ia masih harus menghibur Wuzhou terlebih dahulu.


"Aku pikir Tuan Tua Chen pintar. Namun dia ternyata masih saja memelihara cucunya yang tidak berguna. Semua Keluarga Chen tidak tahu malu. Ling tidak akan membawa mereka ke puncak. Dan saat mereka mengalami kehancuran, saat itu juga mereka akan berlutut memohon bantuanmu," ucap Fu Zhu dengan lancar meluncurkan hinaan pada Keluarga Chen.


Ia ingin melanjutkan bicaranya, tapi terhenti karena ia melihat notifikasi ponsel Wuzhou. "Lihat. Bidadarimu sudah tidak sabar ingin bertemu," ucap Fu Zhu.


*


Lu Yan sedang bersandar di mobil. Ia mengenakan gaun selutut bermotif bunga-bunga. Ia menggenggam erat ponselnya karena merasa kesal.


Pria itu berjalan keluar dari cafe bersama dua orang temannya. Ia berjalan dengan tenang dan memasukkan satu tangan ke saku. Ia mengangkat dagu bersikap sangat percaya diri. Sinar matahari keemasan seolah menghangatkan kehadirannya.


Tadi ia lewat tepat di depan Lu Yan. Namun Ling sama sekali tak melirik seolah-olah ia adalah orang asing. Lu Yan mengerutkan kening karena itu. Bagaimana bisa Ling berubah dan mengabaikannya?


"Lu Yan," panggil Wuzhou. Ia berjalan ke arah Lu Yan dan tersenyum terpaksa.


"Aku kini sadar. Orang biasa tetaplah orang biasa. Orang biasa akan kalah dengan orang yang memiliki uang dan kekuasaan. Hidup sangat tidak adil," ucap Wuzhou saat dia sudah berada di depan Lu Yan.


"Apakah Ling membuatmu kesal lagi?" tanya Lu Yan.


"Aku berencana memasukkan Chen Company dalam Proyek L. Namun sepertinya dia tidak senang dengan itu," jawab Wuzhou tersenyum pahit.


"Dia tidak mengerti tentang proyek itu. Karena sudah berada di tahap sejauh ini, kamu seharusnya tak memikirkan tentang mereka. Keluarga Chen hanya mencari kematian. Mengapa kamu repot-repot ingin membantu mereka? Tunggu saja saatnya tiba, jangan pernah membantu mereka saat mereka butuh," ucap Lu Yan sambil tertawa sinis.

__ADS_1


Benar. Wuzhou tak seharusnya memikirkan hal yang tidak berguna seperti ini.


*


Ling, Liam, dan Yuan sedang berada di perpustakaan Kota Urban. Tadi Ling sudah menyuruh sopir untuk mengantar semua buku yang pernah ia pinjam.


"Nona, saya ingin mengembalikan buku," ucap Ling kepada penjaga perpustakaan.


Wanita itu terkejut saat melihat Ling. Ia tentu masih kenal Ling. Kejadian saat Ling meminjam ratusan buku masih tergambar jelas di otaknya.


"Ya, Tuan Muda Chen, silahkan tunjukkan kartu akses Anda," jawab petugas itu sopan.


Ling mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas.


Setelah memeriksa kartu, ia memeriksa buku yang dibawa Ling. Karena Ling tidak ingin menunggu, ia memilih masuk ke perpustakaan.


"Aku tidak suka belajar. Mengapa aku harus datang ke tempat seperti ini?" ucap Yuan protes sambil mengikuti dari belakang.


Ling mengabaikannya. Ia memilih berjalan melihat sekeliling rak. Liam yang melihat ini berbinar karena Ling sedang berada di rak buku bagian teknik pelatihan.


Ling mengambil satu buku. Ia membaca sebentar kemudian menutup buku dan mengembalikannya ke rak. Ia mengambil satu lagi buku. Ia hanya melihat sampulnya dan langsung mengembalikannya ke rak.


"Apa ada yang salah?" tanya Liam heran melihat Ling hanya mengambil dan mengembalikan buku.


Ling beralih ke rak bagian bawah. Ia mengambil satu buku dan memberikannya pada Liam. Liam pun menerima buku itu. Ia membaca judul buku.


'Teknik Kalajengking Merangkak'.


"Jangan meremehkan teknik kuno itu. Itu sudah ada dan diturunkan sejak ribuan tahun lalu. Jika itu teknik biasa, itu tak akan ada sampai sekarang," ucap Ling saat melihat ekspresi Liam.


Liam mengangguk. Ia percaya pada Ling. Kakeknya mengatakan bahwa Ling adalah orang yang akan sukses di masa depan. Sebenarnya tanpa kakeknya mengatakan hal itu, ia juga akan mempercayai Ling sepenuhnya.

__ADS_1


Meskipun judul buku itu ingin membuatnya tertawa sampai menangis.


__ADS_2