
Zhuo Xia memperdalam pandangannya. Ia memegang ponsel dengan santai.
"Pegasus. Itu adalah organisasi yang telah bersembunyi selama ini. Saat ledakan itu terjadi, aku berada di sana. Aku telah mencari selama tiga hari dan menemukan salah satu anggota Pegasus," jawab Zhuo Xia.
"Pegasus? Kau memiliki bukti apa?" tanya A Shui. Sebenarnya ia percaya Zhuo Xia tak akan mengatakan sesuatu tanpa bukti. Selama beberapa hari bersamanya, ia sudah sedikit tahu sifat Zhuo Xia.
"Awalnya misiku bukanlah mengamankan Profesor Luohai. Misi awalku adalah tentang Pegasus. Namun ternyata mereka ingin memasuki Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya dengan kartu akses milik Profesor Luohai. Maka dari itu mereka bersikeras menangkap Profesor Luohai," jelas Zhuo Xia.
A Shui membeku mendengar ini. Ia masih mencoba mencerna semua perkataan Zhuo Xia. Cengkramannya pada ponsel semakin erat.
"Aku tidak tahu harus mempercayai siapa di Organisasi Tempur. Namun aku bisa mempercayaimu untuk saat ini," ucap Zhuo Xia melanjutkan.
A Shui belum bicara apapun lagi sejak tadi. Zhuo Xia juga tak memaksanya menanggapi. Ia hanya menceritakan apa yang sudah ia janjikan.
"Aku juga akan mengawal Profesor Luohai bersamamu," ucap A Shui pada akhirnya.
"Baik," jawab Zhuo Xia santai.
"Mengapa kau menyelidiki ledakan itu selama tiga hari? Kau mengenal Ling X?" tanya A Shui.
Kini giliran Zhuo Xia yang membeku. Ia menginjak gas mobil dan pergi dari kediaman Chen. Setelah cukup lama, ia berkata, "Yang perlu kau tahu, tujuan Pegasus adalah Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya."
Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya adalah kekuatan terkuat Kota Bayangan. Semua penelitian dilakukan di sana dan penjara Kota Bayangan berada di sana.
Hampir tidak ada yang tahu bahwa pemimpin di sana adalah Ling X. Jadi ketika dia mati, para buronan bertindak semakin berani.
Sekarang A Shui yakin 100% bahwa Zhuo Xia mengenal Ling X. Dia mengakhiri panggilannya dengan Zhuo Xia.
Kini A Shui menelepon Yu Bin.
"Aku ingin bertemu dengan Profesor Luohai," ucapnya.
Ia segera mematikan telepon dan memakai jaketnya. Ini sudah tengah malam menuju pagi. Namun ia tak terlihat lelah. Ia mengambil kunci mobil dan mengendarainya ke laboratorium bawah tanah.
A Shui berjalan memasuki laboratorium. Dia tak percaya orang itu sudah mati, begitu juga dengan anggota lainnya yang tak percaya.
Dia adalah hacker terbaik. Ia bisa menyembunyikan dirinya jika dia tak ingin orang lain menemuinya.
Itu juga yang terjadi dengan anggota lainnya. Mereka seolah lenyap dari Organisasi Tempur.
"Profesor, bisakah kita bicara sebentar?" tanya A Shui saat melihat Profesor Luohai di depan komputernya.
__ADS_1
"Ada apa Nona?" tanya Profesor Luohai sambil mendongak.
"A Shui, anggota Organisasi Tempur," ucapnya dengan segera.
Jantung Profesor Luohai berdegup cepat. Kata-kata A Shui begitu jelas. Bukan hanya Profesor Luohai yang kaget, tapi Yu Bin juga langsung melihat ke arahnya.
"Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya sangat kacau. Anda yakin ingin ke sana?" tanya A Shui yang menyadarkan Profesor Luohai.
Ia segera menjawab, "Di sana adalah tempatku. Aku memiliki keyakinanku sendiri. Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya sudah menjadi rumahku, bahkan jika mereka masih kacau sekalipun. Dan untuk Organisasi Tempur, masih banyak orang yang menunggu mereka ... kembali."
A Shui melihat situs web yang dibuka Profesor Luohai. Itu adalah situs web khusus untuk Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Ada postingan yang telah mendapat share sebanyak jutaan kali. Padahal Organisasi Tempur hanya memiliki beberapa ribu anggota.
[Apa kau percaya dengan Organisasi Tempur?]
[Apa kau percaya pada Ling X?]
A Shui memijat pelipisnya. Pita putih di tangannya bergoyang.
Sudah sebulan lalu orang di Kota Bayangan melepas pita putih, tapi A Shui dan Profesor Luohai masih memakainya.
Di tempat lain, bukan hanya mereka yang melihat postingan itu.
*
Ling duduk di depan komputer. Ia membuka situs web khusus untuk Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Dia sudah memasukkan ID dan kata sandi. Ia masuk ke akun Ling X. Ia melihat postingan-postingan yang disematkan.
[Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya adalah tempatmu berlabuh.]
[Organisasi Tempur adalah tentang kepercayaan.]
Semua orang mempercayainya. Ia tak bisa menutup mata untuk hal ini. Sejak kelahirannya kembali, ia ingin menghindari mereka. Ia ingin hidup menjadi tuan muda biasa. Namun rasa tanggungjawabnya tak bisa diabaikan. Nyatanya ia tetap mempedulikan masalah ini.
Maka dari itu ia ikut ke vila bersama Zhuo Xia. Ia sadar organisasi tadi mengincar Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia sadar mereka mengejar Profesor Luohai untuk mengambil kartu akses.
Luohai adalah wanita cerdas. Ia seorang ahli kimia yang pemikirannya unik. Maka dari itu Ling memberinya akses untuk masuk ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Dan dugaannya benar. Mereka mengincar Profesor Luohai untuk mendapat kartu akses.
Dengan cahaya komputer menyinarinya, ia membuka profil A Shui. Ia mengetik sesuatu di sana. Hanya di profil A Shui, bukan di postingan.
__ADS_1
[Kembali ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.]
Ia menatap lama pesan yang dia kirim. Ia percaya pada A Shui. Walau A Shui adalah orang yang terakhir bergabung di Organisasi Tempur, tapi ia paling mempercayainya.
Ia yakin A Shui tak akan berpikir ada orang lain yang menduplikasi akunnya.
*
Di markas baru Keluarga Yu.
Yu Bin, dan A Shui duduk dalam satu ruangan. Namun jarak mereka agak berjauhan. Yu Bin masih mencuri pandang pada A Shui. Ia tak bisa menaham gembiranya saat mengetahui A Shui memang anggota Organisasi Tempur.
"Perintahkan area A untuk mengawal Profesor Luohai sampai ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya," ucap Zhuo Xia dalam telepon dengan santai.
"Area A?" Yu Bin kaget. Setiap orang di area A adalah orang paling hebat. Mereka telah mendapat latihan keras dan kualifikasi ketat untuk masuk ke area A.
"Jenderal tak mungkin mengizinkan," ucap Yu Bin lagi.
"Cepat lakukan. Jika jenderal tak mengizinkan, suruh dia menemuiku," ucap Zhuo Xia dingin. Dia memutuskan sambungan sepihak.
"Nona Zhuo akan terlibat lebih jauh dalam masalah ini," ucap Yu Bin pada A Shui.
A Shui tak terlalu mendengarkan. Pandangannya semakin dalam. Ia sedang memikirkan tentang Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Tanggungjawab mengalir di tubuhnya. Sejak orang itu meninggal, ia memimpin Organisasi Tempur sekarang. Karena dari sekian banyak orang, hanya dia yang cocok.
Ia sudah kembali ke kamarnya. Ia membuka komputer dan masuk ke akun di web Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.
Dia melihat postingan-postingan anggotanya. Ia tertawa kecil saat membacanya.
Kemudian ia melihat titik merah. Ada satu pesan masuk.
Dia membukanya.
Saat melihat siapa pengirimnya, dia tercengang. Tubuhnya membeku. Ia merasa kekosongan merasukinya. Pada saat itu jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ia sangat mengenali profil ini. Tak akan ada yang berani meniru akun ini. Itu adalah penghormatan untuknya.
[Kembali ke Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya.]
Ia membaca pesan itu seolah orang itu bicara padanya. Getaran tak asing mengguncang dirinya.
__ADS_1
"Raja ...," lirihnya. Ia mengucapkan kata itu setelah beberapa bulan tak mengucapkannya lagi.