
"Ling, istirahatlah sebentar," Yuan mengambil cangkir dan menuangkan air untuk Ling. Saat ia melihat Ling hanya minum tanpa mengangkat kepalanya, ia menghela napas tak berdaya.
Akhir-akhir ini, ia tidak pernah bermain game lagi. Liam sibuk di laboratorium ramuan setiap hari. Di tambah lagi ada Su Yuri di sana, ia akan semakin sibuk membuat ramuan-ramuan yang diperintahkan Ling.
"Kenapa?" Ling berdiri dan mengambil dokumen yang baru saja dia cetak. Mendengar pertanyaannya, Yuan meliriknya. Walau wajahnya terlihat sangat lelah, tapi ia tetap tampan seperti biasanya.
"Apa kau tak akan menemui Nona Zhuo? Serahkan tugas-tugas ini padaku," ucap Yuan.
"Kau? Tidak, Tuan Muda Qi. Apa kau tahu apa ini?" Ling tersenyum menatap Yuan. Ia menunjuk sebuah desain di komputer.
Yuan menjawab, "Wen Ai akan ...."
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, ia baru ingat jika Su Wen Ai tidak di sini karena pergi bersama A Shui untuk menyelesaikan misi.
"Baiklah, lanjutkan saja kegiatanmu. Aku sebentar lagi selesai," ucap Ling. Ia kembali berkutik dengan komputernya dan fokus dengan desainnya.
Yuan merasa gelisah, tapi ia tak ingin mengganggu Ling. Ia hanya duduk diam di kursi dan memperhatikan Ling. Saat ia melihat Bo Jie masuk, ia mengeluh padanya, "Paman Bo, apa aku ini memang sangat tidak berguna?"
"Hah?" Bo Jie bingung.
"Ling dan yang lainnya memiliki keahlian hebat, kecuali aku. Aku tak bisa membantu mereka," Yuan menundukkan kepalanya dan menghela napas.
Semakin Yuan memikirkannya, semakin dia merasa dia sangat tidak berguna. Dulu, dia tidak menyadari jika Ling, Liam, dan Su Wen Ai selalu bersamanya. Saat dia kalah atau dalam kesulitan, dia selalu meminta bantuan pada Su Wen Ai dan Ling untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, saat ketiga orang itu sangat sibuk akhir-akhir ini, Ling memberi tugas kepada semua orang kecuali dia. Dia biasanya lebih sering meminta bantuan Su Wen Ai untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Saat mereka tak ada di sisinya lagi, ia merasa benar-benar menjadi orang yang sangat tidak berguna.
Yuan berdiri, "Aku sangat tidak berguna. Paman Bo, aku akan pergi ke ruang pelatihan saja. Aku tak bisa membiarkan diriku tertinggal dengan mereka."
Ia pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan pada Bo Jie untuk berbicara.
Bo Jie dan Kapten kelima tercengang.
"Manajer, apakah Tuan Muda Qi salah paham dengan dirinya sendiri?" Kapten kelima memandang Bo Jie bingung.
Kultivator level enam mengatakan bahwa dirinya tidak berguna? Lalu, mereka yang berada di bawahnya, apa mereka sampah?
Sejak tadi, Bo Jie juga ingin menjawab pada Yuan jika dia benar-benar tak bisa melihat dirinya sendiri. Namun, Yuan sudah pergi sebelum dia sempat mengatakan itu.
Bo Jie tiba-tiba teringat dengan ucapan Ling. Ia memandang Kapten ke lima dengan serius dan berkata, "Yang paling aku takuti bukanlah orang yang lebih tampan atau lebih cantik darimu, tapi orang yang lebih tampan atau cantik darimu dan juga lebih pekerja keras."
Bo Jie kini tahu alasan Yuan mengatakan hal itu. Mungkin Ling merasa nyaman-nyaman saja berteman dengannya. Namun, pada saat yang sama, Yuan juga merasa sedikit tertekan.
*
Setelah Ling menyelesaikan pekerjaannya, ia pergi menemui Zhuo Xia. Ia merasa bersalah karena ia terlalu sibuk dua hari ini.
Saat ini, Zhuo Xia sedang berada di sebuah hotel, tapi Ling tidak tahu siapa yang dia temui.
Ketika Zhuo Ai melihat Ling, ia segera mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Zhuo Xia jika Ling berada di sini. Namun, Ling mengangkat tangan dan menghentikannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu," ucap Ling. Ia bersandar di dinding dekat pintu hotel dan tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan masalah baru-baru ini.
Melihat Ling seperti ini, Zhuo Ai tak mempertanyakan alasannya. Namun, saat ia ingin memberitahu Ling tentang kejadian akhir-akhir ini, ia melihat Ling menunduk. Ia pun memilih tidak jadi bicara.
*
Di lantai atas, di sebuah ruangan.
Saat ini Zhuo Xia menemui Tuan Shangxuan.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Aku pikir kau tak akan pernah kembali lagi," ucap Tuan Shangxuan menatap Zhuo Xia yang berekspresi datar. Ia menghela napas.
"Aku pikir juga begitu. Kapan Anda akan pergi dari sini?" tanya Zhuo Xia. Dengan mata hitam pekatnya, ia menatap Tuan Shangxuan. Siapapun yang mendengar nadanya yang begitu dingin pasti akan takut.
"Masih ada lagi beberapa murid berbakat yang harus kupilih. Sepertinya aku akan pergi 10 hari lagi setelah semuanya selesai," jawab Tuan Shangxuan dengan tersenyum. Ia tak peduli dengan ekspresi muram Zhuo Xia.
"Aku tahu dia pergi menemuimu. Aku harap, Anda tahu batasan selama 10 hari ini," ucap Zhuo Xia mengetuk meja.
Tuan Shangxuan masih tetap tersenyum seolah ia tidak mendengar nada ancaman dalam ucapan Zhuo Xia. Ia berkata, "Apa aku boleh tahu? Orang yang kau maksud seharusnya adalah Tuan Muda Chen, kan?"
Zhuo Xia melirik ke luar jendela dan menjawab dengan dingin, "Anda tak perlu memikirkan ini."
Ia berdiri.
Sebelum ia pergi, Tuan Shangxuan menyerahkan sebotol ramuan padanya, "Ini untukmu. Ini cukup untuk setahun."
Melihat Zhuo Xia pergi, Tuan Shangxuan tenggelam dalam pikirannya. Kemudian, ia berdecak, "Awalnya aku memang tak ingin mempermasalahkan ini, tapi pemuda itu terlihat lebih menarik daripada dirimu. Aku bahkan tak tega untuk menolaknya. Hm ... sepasang orang yang menarik."
*
Ling masih bersandar di dinding memikirkan masalah wilayah utara. Begitu ia mulai berpikir, ia tak bisa berhenti. Ia tenggelam terlalu jauh dalam pikirannya sehingga ia tak menyadari seseorang meraih tangannya.
Ia refleks ingin memblokir uluran tangan itu. Namun, suara yang tidak asing baginya tiba-tiba terdengar, "Lihatlah dulu siapa aku."
Ling menarik tangannya kembali dan mengangkat kepala untuk melihat wajah tidak asing itu. Orang itu tak mengancingkan jaketnya, tapi blus yang dia pakai dikancingkan sampai ke leher. Aura bangsawan secara alami memancar dari tubuhnya.
"Xia," ucap Ling.
Zhuo Xia hanya menatapnya dan tidak mengatakan apa-apa. Ia melirik Zhuo Ai, "Beri dia alamatnya."
Zhuo Ai mengerti maksud Zhuo Xia. Ia segera memberikan alamat itu.
Walau Ling tidak tahu alamat itu, tapi ia tahu jika tempat itu paling terkenal di luar negeri. Jaraknya juga tidak jauh. Hanya perlu mengemudi beberapa menit untuk sampai di sana.
Saat mereka sampai, Ling menyadari ada yang tidak beres. Orang-orang di sini ... kelihatannya lebih sedikit daripada sebelumnya. Ia tak tahu apakah itu hanya perasaannya atau karena dia terlalu sibuk akhir-akhir ini jadi tidak tahu dunia luar.
"Tuan Muda?" saat Ling sedang berpikir, suara yang tidak asing terdengar dari belakang.
__ADS_1
"Aku tak menyangka kita akan dipertemukan lagi oleh takdir. Apakah Anda ingin aku membacakan nasib Anda hari ini?" tanya orang itu.
Ling berbalik dan melihat ke arah belakang. Orang tua itu berambut putih, tapi wajahnya masih muda. Ling bisa mengenalinya. Apalagi Ia memiliki ingatan fotografis.
"Aku lihat situasi Tuan Muda tidak terlalu damai akhir-akhir ini. Aku pikir itu takdir. Aku akan membacakan keberuntungan Anda secara gratis. Bagaimana?" ucap pria tua itu sambil tersenyum.
Ling meliriknya, "Aku ...."
"Ling," saat Ling ingin bicara, Zhuo Xia sedikit mendongak dan menatapnya. Matanya terlihat sangat indah.
"Ada kedai teh susu di depan sana. Apa kau ingin minum?" tanya Zhuo Xia lembut.
Ling melihat kedai yang dimaksud Zhuo Xia. Itu memang merk teh susu yang sering dia minum. Karena ia pecandu teh susu, ia sedikit tak sabar untuk mencobanya.
"Belilah. Aku akan menunggumu di sini," ucap Zhuo Xia mengelus tangannya.
Ia bukannya tidak sadar dengan perubahan ekspresi Zhuo Xia. Namun, ia tak ingin mempermasalahkannya. Lagipula, ia memang sudah lama tidak meminum teh susu.
"Apa kau mau juga?" tanya Ling sebelum pergi.
"Ya, yang original saja," jawab Zhuo Xia.
Ling mengangguk dan pergi.
Zhuo Xia berdiri di sana dan tersenyum melihat kepergiannya. Ketika Ling mulai menghilang dari pandangannya, senyumnya juga berangsur-angsur pudar. Ia berbalik dan menatap pria tua di depannya, "Tuan."
Walau nadanya dingin, tapi jika seseorang mendengarkannya dengan seksama, akan terdengar sedikit rasa hormat.
"Aku selalu heran mengapa ada orang yang tidak bisa kubaca. Ternyata itu kau. Aku belum pernah melihatmu lagi setelah bertahun-tahun. Perkembanganmu mengejutkanku," ucap pria tua itu tak menganggap aneh sikap Zhuo Xia.
Ekspresi Zhuo Xia melembut.
"Namun terkadang, lebih baik percaya saja pada takdir. Lihatlah dirimu. Kau sudah mencoba berkali-kali, tetapi tetap gagal. Setelah bereinkarnasi lagi dan lagi begitu lama, sepertinya inilah saatnya untuk menyerah," ucap pria tua itu.
Zhuo Xia menatap pria tua itu dan tertawa kecil, "Kematian? Bagaimana aku bisa setuju dengan hal itu? Justru karena aku tak bisa menerimanya, aku harus menolaknya. Aku tidak seperti Anda."
Pria tua itu membeku.
Mereka berdua terdiam cukup lama.
Orang-orang yang lewat semuanya menghindari mereka.
Saat pria tua itu melihat Ling sudah berjalan kembali, ia melirik Zhuo Xia, "Dia menggunakan seluruh Dinasti untuk menggantikan dirimu. Jika dia tahu kau seperti ini, dia pasti langsung ingin berubah menjadi abu di tempat."
"Anda harus pergi," ucap Zhuo Xia.
Pria tua itu meliriknya dan pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1