
Ling memasuki ruangan dengan santai. Ia berjalan ke kursi paling depan kemudian meletakkan tas sekolahnya di meja.
"Ling," ucap Chen Wu dengan sopan sambil memundurkan kursi Ling. Ia mempersilahkan Ling untuk duduk.
Semua orang terkejut saat melihat adegan ini. Mereka tahu Chen Wu adalah orang yang licik. Mereka tidak menyangka jika dia akan tetap di sisi Chen Company sampai akhir. Awalnya mereka berpikir Chen Wu bertahan karena Chen Sin. Namun melihat hal ini, sepertinya ia bertahan karena Ling.
Memikirkan nama Ling, yang mereka bayangkan adalah tuan muda bodoh dari Keluarga Chen. Ia adalah orang yang tak mengerti bisnis. Bahkan Keluarga Lu memutuskan pertunangan mereka. Dia benar-benar dianggap lelucon.
Namun saat orang itu ada di depan mereka, ia sangat berbeda dari rumor yang beredar. Kehadirannya yang dominan, membuatnya terlihat cocok sebagai pemimpin Chen Company.
Ling menatap para pemegang saham dengan mata tajam.
"Aku berterimakasih pada kalian yang masih bertahan sampai saat ini," ucap Ling. Ia membuka tasnya dan mengeluarkan setumpuk dokumen.
"Paman, tolong bantu aku bagikan ini," ucapnya pada Chen Wu. Chen Wu pun segera membagikan dokumen ke seluruh pemegang saham.
Setelah mereka membaca dokumen itu, suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang berbicara karena mereka masih linglung.
Ling ingin membawa Chen Company ke Kota Bayangan?
"Tuan Muda, aku tahu idemu sangat bagus. Namun kita sebaiknya membangkitkan Chen Company lebih dulu. Bersaing langsung dengan Lu Company bukanlah hal yang baik untuk saat ini," ucap seorang pria paruh baya.
Lu Company telah mendapat banyak dukungan dari perusahaan besar maupun kecil. Apa Ling pikir ia bisa mengalahkan mereka dengan selembar dokumen?
Para pemegang saham hanya mengangguk setuju.
Ling pun bangkit. Ia menghidupkan layar proyektor yang menunjukkan siaran langsung pada konferensi pers.
Para pemegang saham yang tersisa ini kebanyakan masih berpikir pendek. Saat mereka mendengar nama Kota Bayangan, mereka langsung memuja-muja kota itu.
Ling kembali menatap kumpulan orang di konferensi pers. Ia melengkungkan bibir untuk membuat senyum jahat.
"Lihatlah. Pada konferensi pers ini, Keluarga Lu akan menjadi batu loncatan untuk Chen Company memasuki Kota Bayangan," ucap Ling dingin.
Ia berbalik dan mengemasi tasnya.
"Perusahaan kecil seperti Lu Company saja bisa membuat kalian takut. Bagaimana kalian bisa bertahan di Kota Bayangan?" setelah mengatakan itu, Ling keluar ruangan.
*
__ADS_1
Saat sudah turun dari Chen Company, Ling memasuki mobil.
"Pergi ke konferensi pers," perintah Ling.
"Tuan Muda, Nyonya sudah ada di sana. Anda seharusnya pergi ke sekolah," jawab sopir yang heran saat menerima perintah dari Ling.
"Pergi ke sekolah," perintah Ling lagi.
Akhirnya sopir itu tidak berani bicara lagi dan langsung menginjak gas.
*
Konferensi pers akan dimulai pukul sembilan. Saat jam menunjukkan pukul sembilan, Lu Bufan dan semua orang yang ada di sana muncul di siaran langsung.
"Wuzhou kita akan segera mengadakan pernikahan kita," ucap Lu Yan senang saat mereka turun dari mobil.
"Benar. Aku ingin mengundang Keluarga Chen," jawab Wuzhou.
Setelah mendengar kata 'Keluarga Chen', senyum Lu Yan memudar.
"Wuzhou, jangan lagi pikirkan tentang mereka. Mereka juga sudah setuju memutuskan pertunangan. Dan lagi, jika Chen Lin minta maaf, jangan terpengaruh oleh wajah menipunya. Kamu tidak seharusnya baik pada orang seperti itu," ucap Lu Yan.
Setelah itu, Lu Yan memeluk lengan Wuzhou. Mereka berjalan bersama ke ruangan konferensi pers.
Namun saat itu, mobil hitam berhenti di samping mereka. Mobil itu menimbulkan decitan keras saat mengerem. Lalu turun sepasang kaki panjang dari sana.
Seorang pria tampan keluar dari sana. Ia masih menggunakan seragam sekolahnya. Ia memasukkan satu tangan ke saku dan mengangkat dagu penuh percaya diri.
Lu Yan mengerutkan keningnya. Ia berkata dengan keras, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kakak," ucap Wuzhou yang juga terkejut.
Ling menoleh untuk menatap mereka.
"Minggir," ucapnya dingin.
Mereka tak bisa berkata-kata. Tanpa sadar, mereka sudah mundur dan membuka jalan. Ling melangkahkan kakinya dan meninggalkan tempat itu.
Lu Yan menatap kesal kepergiannya. Ia berteriak, "Ling! Apa yang kau banggakan? Sebentar lagi kau akan kehilangan status sebagai Tuan Muda! Saat itu kau akan menyesal!"
__ADS_1
"Sudah Lu Yan, hentikan. Dia itu sangat memalukan dan menyedihkan," ucap Wuzhou yang mengelus tangan Lu Yan.
Apalagi yang perlu mereka takutkan? Sebentar lagi Keluarga Chen akan jatuh dan Ling akan menjadi warga biasa. Sedangkan mereka memiliki tuan Han yang akan membawa mereka ke puncak Kota Bayangan. Perbedaan ini begitu drastis. Jadi Wuzhou meremehkan Ling.
*
Di ruangan konferensi pers.
Chen Lin sudah mengumumkan secara resmi bahwa mereka telah memutuskan pertunangan dengan Keluarga Lu.
Para wartawan bergilir menanyainya.
"Presdir Chen mengapa Tuan Muda Chen dan Nona Lu memutuskan pertunangan mereka?"
"Presdir Chen, aku ingin tahu. Apakah benar Chen Company sedang mengalami kebangkrutan sekarang?"
"Bagaimana pendapatmu tentang para pemegang saham yang mengundurkan diri seperti berita yang beredar?"
"Apakah kalian akan segera menjadi warga biasa?"
Chen Lin menatap tajam para wartawan. Namun dia tetap hati-hati saat menjawab. Ia berkata, "Keluarga Chen kami ...." Ucapannya terhenti.
"Maaf membuat kalian kecewa," ucap seorang pria yang baru memasuki ruangan.
Sosok itu berjalan lurus ke depan. Ia masih memakai seragam dan tas sekolahnya. Dia membungkuk dan mengambil mikrofon dari salah satu reporter. Ia berkata dengan tegas, "Chen Company hadir di sini bukan untuk mengumumkan kebangkrutan."
Suaranya menggema di telinga setiap orang. Kerumunan itu membeku karena terkejut. Salah satu reporter mencoba bertanya, "Siapa kau?"
Saat mendengar pertanyaan itu, Ling mengangkat kepala dan menatap lekat ke arah kamera. Matanya yang jernih dan pekat, wajahnya yang tampan, terpampang jelas di layar setiap orang yang menonton siaran langsung.
"Aku Chen Ling, dari Keluarga Chen," ucap Ling.
Kalimatnya terdengar lembut di telinga, tapi menusuk hati siapa saja yang mendengar. Bukan hanya Wuzhou dan Lu Yan yang baru masuk yang terkejut karena hal ini. Bahkan orang yang sedang duduk di mobil hitam di luar Lu Company juga terkejut.
Yu Bin sedang menyusun setumpuk dokumen. Saat ia membuka kaca mobil, dia mendengar suara Ling. Ia tak menyangka Ling menjadi seberani itu.
Walau Yu Bin tak menonton siaran langsung, tapi dia yakin, saat Ling mengatakan itu, dia pasti sedang menatap dingin ke arah kamera sekarang.
Meskipun dia tak ada di ruangan konferensi pers, dia tahu, orang-orang pasti terkejut, karena siaran langsung itu tiba-tiba hening.
__ADS_1