
Setiap wilayah seharusnya memiliki sumber pemasukan uang. Walaupun tidak ada area tambang, setidaknya akan ada sumber lain. Namun, di wilayah utara ini, benar-benar tak ada yang bisa dimanfaatkan.
Areanya memang luas, tapi transportasi juga masih terbatas. Selain itu, tak ada area tambang di sini. Sumber pemasukan yang paling besar di wilayah utara berasal dari bar.
Pemilik bar itu bernama Hongli. Karena tahu latar belakangnya, Bo Jie tak berani berurusan dengannya. Setiap akan menagih pajak, Bo Jie selalu membayar penjaga dari Keluarga Song untuk mengacaukan bar itu.
Karena tahun ini ada Ling, mereka tak perlu membayar penjaga lagi. Jika Ling ingin mengambil alih wilayah ini, itu tergantung dia kuat atau tidak.
"Baik, semuanya, jangan bicara lagi. Lihat, Tuan Muda sudah tiba. Banyaknya uang yang harus kalian bayarkan tergantung pada Tuan Muda kami," ucap Bo Jie menembus kerumunan. Ia memperkenalkan Ling pada para pedagang.
Melihat Ling hanya memiliki dua penjaga, senyum para pedagang semakin merekah.
Salah satu pedagang duduk di kursi dan menyerahkan sejumlah uang, "Tuan Muda, ini bayaran pajak kami tahun ini."
Mereka hanya membayar setengah dari yang seharusnya.
Ling memandang mereka semua dengan tatapan tidak peduli. Ia berkata, "Ini hanya setengah."
"Hanya setengah? Tuan Muda Chen, kami membayar dengan jumlah yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Anda jangan menipu kami," ucap seorang pria gemuk sambil tersenyum. Yang lain juga mendukung ucapannya.
Bo Jie hanya tersenyum samar dan menunduk. Ia bertanya pada bawahannya, "Apakah Hongli ada di sini?"
"Tuan Hongli akan segera tiba," bisik bawahannya.
"Bagus," jawab Bo Jie. Ia memandang Ling kasihan.
"Hongli ini sulit dihadapi. Tak hanya memiliki penjaga, ia juga berhubungan baik dengan Keluarga Chen. Jika dia tak bisa menghadapinya dengan baik, hari-harinya di sini akan selalu suram. Ayo, jemput Tuan Hongli yang terhormat," ucap Bo Jie. Pedagang lain juga memandang Ling dengan kasihan. Mereka semua tahu watak pria bernama Hongli.
*
Di luar bar.
Bo Jie menunggu di depan pintu untuk menyambut Hongli.
Saat tiba, Hongli hanya melirik Bo Jie dan tak mengatakan apa pun. Ia sedang bicara pada penjaga di sebelahnya dengan sedikit berbisik, "Kau tidak menemukan di mana jet tempur itu mendarat?"
"Tidak," jawab penjaga itu menggeleng.
"Tapi aku memang melihat Tuan Muda Chen. Hanya saja aku tidak tahu ke mana dia pergi," lanjut penjaga itu berbicara.
"Baiklah. Kita akan mencarinya lagi setelah masalah ini selesai," ucap Hongli dengan raut kecewa.
Bo Jie tak mendengar pembicaraan mereka, tapi melihat ekspresi Hongli, ia agak heran, "Tuan Hongli, sepertinya Anda sedang mencari seseorang?"
Hongli tak ingin membahas masalah ini dengan Bo Jie. Ia mengalihkan pembicaraan, "Aku dengar seseorang dari Keluarga Bo datang?"
__ADS_1
"Benar. Tuan Muda ini ingin mengambil alih seluruh wilayah utara. Sayangnya, Keluarga Bo tak memberinya penjaga. Namun, ia meminta semua pedagang membayar pajak dua kali lipat. Kuharap Tuan Hongli tak akan menyalahkannya. Ia berasal dari dunia yang berbeda dengan kita," jawab Bo Jie bersemangat. Ia tak sabar menonton pertunjukan yang telah dia nantikan.
Sedangkan Hongli tak mengatakan apa pun.
*
Hongli dan Bo Jie tiba di aula. Saat itu, Ling masih bicara dengan para pedagang, "Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Pajak ini masih kurang setengah lagi. Aku harap kalian segera mengambil inisiatif dalam 3 menit."
Para pedagang itu tak tahan untuk tidak bergosip.
Bo Jie juga tak menyangka Ling begitu memaksa. Ia berkata, "Tuan Hongli, Anda melihatnya sendiri, kan? Tuan Muda ini begitu keras kepala. Tapi tenang saja, aku akan menanganinya."
Melihat Hongli tertegun, Bo Jie pikir ia marah pada Ling. Namun, Hongli malah menghampiri Ling dan menyapanya dengan hormat, "Tuan Muda Chen, ternyata Anda di sini."
Bo Jie mengerutkan kening.
Tuan Muda? Anda? Mereka saling kenal?
Bo Jie tak pernah menyelidiki Ling karena menurutnya tak ada yang istimewa dari Ling. Jadi, ia tak tahu hubungan Ling dengan Hongli.
Menyadari ini, Bo Jie membelalak. Pantas saja Ling bisa bicara begitu kepada para pedagang. Itu bukan karena dia sombong, tapi karena dia memiliki kekuatan.
"Tuan Muda Chen, jika Anda memberitahuku kalau akan datang, aku pasti akan menyiapkan pesta penyambutan. Aku masih tidak menyangka Anda akan mengambil alih wilayah ini," ucap Hongli dengan nada yang sangat hormat.
Ling mengangguk pada Hongli, "Ternyata kau. Apa kau di sini untuk membayar pajak? Lebih baik segera bayar. Aku masih ada urusan lain."
Hongli berbalik ke penjaganya, "Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat serahkan uang itu pada Tuan Muda Chen. Tuan Muda Chen, jika Anda sibuk, Anda bisa menyerahkan masalah ini padaku. Jika Anda mempercayaiku, aku bisa menyelesaikan masalah ini."
Kemudian Ling berdiri, "Baiklah, masalah ini kuserahkan padamu. Aku masih ada urusan lain."
Ling memimpin jalan. Zhan Yu dan yang lainnya keluar dari ruangan itu. Hongli membungkuk hormat menunggu kepergian Ling.
Bo Jie dan para pedagang lainnya langsung pucat.
"Tuan Hongli, apa Anda mengenal Tuan Muda Chen?" tanya Bo Jie bingung.
"Apa kau ingat terakhir kali Jenderal Qiu datang ke bar ini?" tanya Hongli.
"Tentu saja," jawab Bo Jie. Bahkan ia masih merinding jika mengingat masalah ini. Ternyata Jenderal Qiu mengenal Hongli. Hal ini pula yang membuat Bo Jie tak berani menyinggung Hongli.
"Tapi, apa kau tahu siapa yang sebenarnya dia cari?" tanya Hongli lagi.
Bo Jie langsung memiliki satu pemikiran, tapi ia sendiri tak ingin mempercayainya, "Tuan Hongli, jangan bilang Jenderal Qiu mencari Tuan Muda Chen? Saat itu Tuan Muda Chen belum ke sini, kan? Jangan menakutiku."
"Aku tidak menakutimu. Saat itu Jenderal Qiu memang mencari Tuan Muda Chen," jawab Hongli.
__ADS_1
"Ah, kepala pelayan, patuhilah Tuan Muda Chen dengan baik, maka kau akan mendapat balasan yang lebih besar daripada yang kau berikan," ucap Hongli lagi.
Kepala pelayan berkeringat dingin, "Ah, terlambat. Aku sudah terlanjur menghina Tuan Muda Chen. Manajer Bo ... kau membuatku rugi!"
Para pedagang di sana semakin pucat.
*
Sementara itu, Ling menemui Bo Xue Ning dan yang lainnya.
"Raja, Keluarga Bo benar-benar memberimu wilayah ini. Mereka sangat 'baik'. Aku sudah memeriksanya tadi malam. Memang tidak ada area tambang di sini. Sangat sulit untuk berkembang. Selain itu, tak ada penjaga pertahanan," ucap Bo Xue Ning menghela napas.
"Mengapa tidak bisa? Tentu saja bisa berkembang," ucap Mei Mengyi.
"Kau tahu apa? Apa kau pikir mengembangkan perekonomian itu mudah? Jika kita ingin makmur dan stabil, minimal kita butuh 10 tahun. Itu juga harus banyak perusahaan dan keluarga besar yang sukses. Tidak hanya itu, kita juga memerlukan dana yang cukup untuk memulai dari awal. Apalagi kita memiliki banyak bawahan," jawab Bo Xue Ning.
"Memang itu masalahnya. Mengapa kita tidak kembali dan berdiskusi dengan tetua pertama?" ucap Zhan Yu ikut bergabung. Walau ia tak mengenal mereka berdua, ia merasa mereka adalah teman Ling. Karena aura mereka menakutkan.
Mei Mengyi melirik Bo Xue Ning, "Jika kau tak bisa melakukannya, bukan berarti dia tidak bisa."
Mei Mengyi melirik Ling.
"Raja, apa kau punya solusi?" tanya Bo Xue Ning.
"Sebentar," jawab Ling. Ia memakai earphone, membuka laptop, dan mulai mengetik.
"Aku akan memberimu proposal. Mungkin memang butuh waktu lama dan aku akan sangat sibuk bulan depan. Juga, beberapa orang dari Kota Bayangan akan datang," ucap Ling.
Dia sudah mengetik dua halaman.
"Mei Mengyi, kau memiliki banyak bawahan. Renovasi gedung di sebelah. Itu akan kita jadikan sebagai kantor pusat nantinya. Dan setengah dari orang-orang di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya akan datang. Biarkan A Shui yang mengatur mereka," lanjut Ling memberi perintah.
"Orang-orang dari pulau akan datang? Mengapa?" tanya Mei Mengyi.
"Karena aku menyadari musuh yang kuhadapi tidak sederhana," jawab Ling.
"Projeknya telah ku kirim. Jangan lupa untuk melihatnya dua kali," ucap Ling lagi.
Kemudian ia berjalan keluar, "Aku akan pergi sebentar. Aku akan kembali 3 hari lagi."
Zhan Yu dan Luo Qianzhou ingin ikut dengannya, tapi mereka tak bisa mengimbangi kecepatan Ling. Mereka tertinggal jauh dan kehilangan jejak Ling.
Bo Xue Ning hanya bisa tersenyum melihat ekspresi sedih mereka, "Kalian bisa mengikuti Nona Mei. Kalian bisa melihat bagaimana caranya merenovasi gedung."
"Baiklah," mereka berdua menjawab pasrah.
__ADS_1
Sedangkan saat Bo Jie ingin menemui Ling malam itu, Ling sudah pergi.