Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tak Takut Kehilangan Reputasinya


__ADS_3

"Apakah Nona Muda benar-benar jadi bodoh? Tuan Muda Chen pasti tak tahu apa-apa tentang judi batu. Apa yang akan dikatakan orang lain saat melihatnya nanti?" bisik Zhuo Ai.


"Mengapa kau tak bicara di depannya tadi?" ucap Zhuo Nan.


"Sial!" umpat Zhuo Ai.


"Jika Nona sedang bahagia begini, pasti batu busuk akan dianggap harta karun jika Tuan Muda yang memberikannya. Ahh ... akankah Tuan Muda Chen dipermalukan di luar negeri?" Zhuo Ai memikirkan semua kemungkinan.


"Ya, aku harus mengajarinya," ucap Zhuo Ai bertekad.


Ia menoleh ke arah Ling.


Namun saat ini, Ling terlihat melamun. Ia tenggelam dalam pikirannya. Zhuo Ai, Zhuo Kira, dan Zhuo Nan saling pandang. Mereka dapat merasakan jika suasana hati Ling tidak baik sekarang.


Saat melihat tetua masuk, Zhuo Ai segera tahu apa yang terjadi. Ia berpikir jika tetua mengatakan sesuatu yang membuat Ling sedih. Ia pun menghampiri Ling, "Tuan Muda Chen, jangan pikirkan tetua. Ia hanya orang tua yang bahkan tak tahu cara menggunakan internet. Pemikirannya masih kuno."


Ling tak bicara. Ia sedang memikirkan apa yang dikatakan Mei Mengyi barusan. Senjata nuklir terbaru telah selesai. Pada saat yang sama, Mei Mengyi juga memberi solusi tentang Keluarga Chen. Memang ada yang salah dengan Keluarga Chen.


Zhuo Ai melirik Ling diam-diam. Ia mengirim pesan pada seseorang untuk membawa beberapa buku tentang judi batu.


Tak lama setelah itu, penjaga membawa buku yang diminta Zhuo Ai.


"Apa yang kau lakukan?" tanya tetua saat melihat Zhuo Ai merapikan buku-bukunya.


"Bukankah kita akan ikut berjudi? Jadi aku mencari beberapa buku untuk referensi. Aku tak bisa membiarkan orang lain merendahkan kita," jawab Zhuo Ai masih fokus merapikan bukunya.


"Kalian baru saja mengobrol dengan Tuan Muda Chen itu. Apa dia tak mengatakan apa pun?" tanya tetua.


Sial, batin Zhuo Ai.


Ini adalah pertanyaan yang paling dihindari Zhuo Ai. Sejak tadi, Ling hanya mengatakan tentang Kota Urban. Jika tetua tahu hal ini, ia pasti menjadi lebih marah lagi.


"Kami membicarakan tentang ilmu judi batu. Tuan Muda Chen ingin menjadi perwakilan kita. Jadi, kami berbicara tentang hal itu," jawab Zhuo Kira tenang. Mendengar ini, Zhuo Ai menghela napas lega.

__ADS_1


Mereka bertiga harus membela Ling. Nona mereka sudah lama single. Setelah bertahun-tahun dan dia menemukan pasangan, mereka tak ingin tetua menghancurkan kesempatan ini.


Tetua berpikir sejenak. Kemudian ia bicara, "Tidak masalah jika kalian membicarakan acaranya, tapi benarkah ingin menjadi ahli pemotong batu? Apa dia tahu apa itu? Huh, Nona Muda sangat patuh padanya. Ia bahkan tak takut kehilangan reputasinya."


Mereka hanya diam. Jika mereka membicarakan Ling lebih jauh lagi, tetua pasti akan semakin membenci Ling.


"Baiklah, kalian bisa pergi," ucap tetua datar.


Zhuo Ai menghela napas lega. Ia membawa semua bukunya dan mencari Ling.


"Tuan Muda Chen! Aku memiliki beberapa buku pengetahuan dasar tentang judi batu," ucap Zhuo Ai memberikan semua buku itu.


Saat Zhuo Ai menemuinya, Ling sedang memikirkan Keluarga Chen. Ia pun menerima buku itu, "Terimakasih."


Dia memang tak pernah belajar hal itu.


"Tuan Muda Chen, sebenarnya aku sedikit tahu tentang judi batu. Ayo pergi ke ruang belajar di atas. Aku akan mengajarkanmu. Di sana tenang dan damai. Tetua tak akan datang ke sana," ucap Zhuo Ai. Ia segera menarik Ling ke ruang belajar.


Saat itu Zhuo Xia masuk sambil memegang surat. Ia mengernyit saat melihat Ling sedang membolak-balikkan buku, "Kau sedang apa?"


"Apa kau tahu caranya?" tanya Zhuo Xia mengambil buku itu dari Ling.


"Ya, aku belum pernah mempelajarinya. Sepertinya cukup menyenangkan," jawab Ling.


"Kalau begitu belajarlah dengan baik. Aku akan mengajarimu juga," ucap Zhuo Xia. Ia mengambil kursi dan buku lainnya.


"Apa kau sudah selesai membaca buku ini?" tanya Zhuo Xia menunjuk satu buku.


Ling mengangguk sambil terus membaca buku lainnya.


Zhuo Ai belum pergi. Ia tahu Ling baru saja membalikkannya sekali. Namun, ia mengatakan telah selesai membacanya? Bagaimana bisa?


Walau buku itu tak tebal, setidaknya ada 50 halaman. Apakah Tuan Muda Chen benar-benar sudah selesai membacanya?

__ADS_1


Namun, Zhuo Xia terlihat sangat percaya. Kini ia yakin ada yang salah dengan otak Zhuo Xia.


Saat ia dilirik Zhuo Xia, Zhuo Ai segera pergi. Sebenarnya ia juga tak ingin berlama-lama di sini.


Saat ia keluar, tetua datang dan membawa beberapa batu.


Sial! Dia pasti akan mencari masalah dengan Tuan Muda! batin Zhuo Ai. Zhuo Kira dan Zhuo Nan juga datang ke sini.


Saat tetua membuka pintu, Ling sedang membalik buku terakhir. Tetua berkata, "Saya dengar Anda ingin menjadi perwakilan kami? Anda serius?"


Zhuo Xia mengerutkan kening dan ingin bicara. Namun, Ling menepuk lengannya dan mengisyaratkan untuk tetap tenang.


"Sedikit," jawab Ling tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu, coba pilih salah satu batu," ucap tetua menunjukkan batu-batu yang dibawanya.


Zhuo Ai, Zhuo Kira, dan Zhuo Nan membelalakkan mata. Mereka tahu jika Ling belum pernah melakukan hal ini.


Namun, tanpa diduga, Ling berjalan dan melihat-lihat batu-batu itu.


"Sial!" gumam Zhuo Kira yang berdiri di belakang Zhuo Nan. Ia melihat Ling hanya menyentuh batu itu dan tak memperhatikan pola di atasnya. Ia tahu Ling amatir dalam hal ini.


"Nona Muda ini ... ia bahkan tak membantu Tuan Muda Chen," ucap Zhuo Ai merasa kesal.


"Kau adalah murid favorit tetua. Bujuklah dia," ucap Zhuo Kira menepuk bahu Zhuo Nan.


"Sepertinya tak akan terjadi masalah. Lihatlah ekspresi tenang Nona Muda," jawab Zhuo Nan. Ia sangat yakin dengan Zhuo Xia. Zhuo Xia tak pernah membuat keputusan yang salah.


"Tenang? Dia itu buta karena cinta!" jawab Zhuo Ai.


Ling tak mau membuang waktu. Ia segera menyentuh semua batu itu dan merasakan reaksi giok di lehernya. Saat ia menyentuh batu terakhir, ia merasakan hangat.


"Potong ini," ucap Ling.

__ADS_1


Tetua awalnya berekspresi mengejek. Namun, saat melihat batu yang dipilih Ling, ia tertegun.


__ADS_2