Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Normal Untuk Orang Lain


__ADS_3

Ling berdiri diam di sana melihat mobil Zhuo Xia pergi. Setelah mobil itu tak terlihat lagi, ia menghela napas dan mulai berjalan.


Sejak ia mendapat kembali sebagian ingatannya, ia malah semakin bingung.


Setelah ia berjalan beberapa langkah, seorang peramal di sampingnya tiba-tiba tersentak karena terkejut, "Tuan, apa Anda ingin tahu keberuntungan Anda?"


Ling memakan gulalinya dan melirik ke arah wanita itu, "Tidak. Saya tidak punya waktu."


"Mengapa tidak? Bagaimana kalau tentang masa lalu dan masa depan?" tanya peramal itu masih mencoba membujuk.


Mendengar ini, Ling tertawa kecil, "Jika saya ingin tahu, saya pasti akan mencaritahu sendiri. Mengapa saya harus mendengar dari Anda?"


Wanita itu terbatuk. Ia tak menyangka Ling akan memberi jawaban menohok. Ia menatap Ling dan terlihat sedang berpikir.


Sedangkan Ling balik badan dan ingin pergi.


Namun, wanita paruh baya itu bicara lagi, "Apa kau tak ingin mendapatkan kembali ingatanmu? Apa kau tak penasaran?"


Ling melambaikan tangan dan tak berbalik.


Wanita itu juga tak mengejarnya. Ia berdiri di sana dan meremas jarinya dengan gelisah. Ia bergumam, "Aneh! Aneh!"


Ia merasa ini memang aneh. Sepertinya tak ada yang salah dengan pemuda itu, tapi nasibnya terlihat aneh. Seolah ada seseorang yang mengubah nasibnya secara paksa. Namun, wanita di sampingnya barusan lebih aneh lagi. Lupakan pemuda tadi. Ia masih bisa melihat sedikit tentang nasibnya, tapi wanita itu ... tak punya nasib sama sekali!


*


Kediaman Keluarga Han.


Han Shuangfu baru saja selesai menelepon, tapi pria tua di sampingnya mendengar percakapan mereka.


"Nona Han, apakah Nona Muda sedang bersama seseorang tadi?" tanya tetua itu. Han Shuangfu juga tak menyembunyikannya, tentu saja dia bisa mendengar percakapan mereka.


"Bukankah itu normal?" tanya Han Shuangfu tersenyum.


Tetua itu menghela napas, "Itu memang normal untuk orang lain, tapi tidak untuk Nona Muda."


Menurut pendengarannya, tetua memperkirakan jika orang itu bukan berasal dari luar negeri, tapi dari seberang pulau.


"Tetua, jangan khawatir. Kakak Xia tahu apa yang dia lakukan," jawab Han Shuangfu. Ia memang tak terlalu mengenal Ling. Ia hanya tahu jika Ling memiliki beberapa rahasia.


"Ya, bukan itu masalahnya sekarang. Nona Muda dalam bahaya sekarang. Nyonya Tua dan Nona Muda kedua sangat memperhatikannya. Kesehatannya sekarang ...," tetua menjeda ucapannya.


Han Shuangfu melirik tetua, tetapi tidak menjawab. Ia harus merahasiakan identitas Ling. Jika tidak, ia akan dibunuh Zhuo Xia saat ia kembali.


Tetua melihat jika Han Shuangfu hanya diam dan tak bertanya lebih jauh. Ia menghela napas. Apalagi saat melihat Zhuo Xia kembali dengan ekspresi dingin.


Kemudian, ia berbicara dengan lembut, "Nona Muda, mari kita kembali ke pulau dulu. Nyonya Tua masih menunggumu."


*


Mereka sudah tiba di dermaga. Tetua mempersilahkan Zhuo Xia pergi dengan hormat.


Beberapa orang yang menunggu Zhuo Xia di sana melihat ekspresi tetua itu. Seorang pria berbaju putih bertanya dengan berbisik, "Tetua, apa ada yang terjadi?"


Mendengar ini, tetua menghela napas pelan, "Aku mendengar dari Nona Han. Sepertinya ... Nona Muda sedang dekat dengan orang biasa."


"Orang biasa? Apa kau yakin?" tanya pria itu kaget.


"Saat dia kembali, dia bahkan tak menemui kami dan langsung menemui orang itu. Kau bisa menyuruh orang untuk menyelidiki ini dengan cepat. Jangan sampai masalah ini berlarut-larut dan dimanfaatkan oleh musuh. Meski Nona Muda pasti sudah memikirkan hal ini, tetap saja dia tak bisa melibatkan orang lain," ucap tetua dengan serius.


*

__ADS_1


Pada waktu yang bersamaan. Di sebuah pulau terpencil di luar negeri.


Seorang wanita tua berambut putih berdiri di depan jendela di lantai dua. Ia berkata, "Apa kau sudah menyelidiki dengan jelas?"


"Informasi itu dari Han Shuangfu," jawab penjaga di belakang sambil membungkuk.


Wanita tua itu tertawa kecil, "Orang biasa ... aku pikir meskipun cicitku dibesarkan di Kota Urban, dia tetap akan bergaul dengan orang-orang luar negeri. Aku tak menyangka dia akan menjadi seperti ini."


"Apa perlu untuk menyelidiki orang biasa ini?" tanya penjaga itu.


"Untuk sekarang tidak perlu. Lebih baik kita cari dulu orang dari Pulau Bintang dan Keluarga Lin. Aku ingin tahu tentang senjata nuklir itu asli atau palsu," jawab wanita tua.


Penjaga itu patuh dan turun ke bawah.


*


Di luar Kediaman Keluarga Chen di luar negeri.


Ling turun dari mobil dan membayar dengan beberapa lembar uang. Ia mengeluarkan topeng dan memakainya. Setelah itu, ia berjalan ke pintu belakang Kediaman Keluarga Chen.


Sebenarnya, keamanan di luar negeri sangat ketat, tapi mereka membuat kesalahan fatal. Di sini tak ada teknologi, CCTV, ataupun sinar inframerah. Penjaga-penjaga yang dipekerjakan sama sekali bukan tandingan Ling.


Ruang belajar Keluarga Chen dijaga ketat. Namun, tak ada lampu dan orang lain di sana. Ling masuk melalui jendela, tapi dia belum mengecek ada jebakan atau tidak.


Saat ia berjalan, tiba-tiba suara terdengar dari belakang, "Sepertinya tujuan kita sama."


Ling berhenti dan berbalik untuk melihat orang itu. Ia sedikit terkejut karena tadinya ia tak merasakan ada orang lain di sini. Ia menjawab dengan suara setenang biasanya, "Pertama, kita berbeda. Kedua, jangan ganggu aku."


Ling bisa langsung tahu apakah wajah itu asli atau palsu. Bagaimanapun, dulu dia sering menyamar.


Tunggu!


"Tch, seorang pemuda labil," wanita itu menyilangkan tangan. Perawakannya seperti pria. Ia terlihat sedikit tomboy.


"Kau dari mana? Apa kau juga mencari peta tersembunyi itu?" tanya wanita itu sambil bersandar di meja.


Ia mengambil apel dan memakannya, "Aku sudah mencari di tempat ini, tapi aku tak bisa menemukannya."


Prang!


Piring-piring di atas meja secara tak sengaja jatuh. Suaranya yang kuat menarik perhatian orang-orang di luar.


Wanita yang memegang apel tercengang.


Sedangkan Ling yang baru saja memeriksa sebuah dokumen, saat mendengar suara di luar menuju ke sini, ia segera meletakkannya kembali.


"Kau cukup tampan. Ayo pergi bersama. Orang-orang di sini sangat galak. Terakhir kali aku ke sini, mereka mengejarku sampai ke pusat kota," ucap wanita itu masih memegang apelnya.


Ling mengabaikannya.


Wanita itu ingin menangkap Ling, tapi Ling segera menepis tangannya. Namun, tanpa diduga ia berhasil mengelak. Ia bahkan masih sempat menggigit sepotong apel. Ia tersenyum pada Ling, "Lumayan."


Ling tak bicara dan mengeluarkan jarum perak. Dengan segera, ia menancapkan jarum ke leher wanita itu. Seketika, wanita itu membeku. Ia hanya menatap Ling.


Wajahnya masih setenang tadi, tapi kini suaranya lebih serius, "Anak muda, apa yang kau inginkan?"


"Bukankah sudah ku bilang jangan menggangguku?" ucap Ling. Ia mengerutkan keningnya menatap wanita itu.


Sedangkan wanita itu tertegun.


Ling menarik jarumnya. Ia kembali berkata, "Aku harap aku tak bertemu aktris sepertimu lagi."

__ADS_1


Kemudian, Ling pergi.


Setelah dia pergi, wanita itu berhenti tersenyum. Lalu, muncul seseorang di sampingnya, "Guru."


Wanita itu tertawa kecil, "Selidiki pria itu. Dengan kemampuannya, pasti dia cukup terkenal. Pasti mudah menemukan informasinya. Jangan lupa untuk menyingkirkannya."


*


Ling tak tahu seseorang menyelidikinya.


Keesokan harinya, ia mengikuti Liam dan yang lainnya untuk berlatih. Namun, ia merasa sangat malas. Yuan pun sibuk mengejeknya karena ia masuk ke kediaman Chen tengah malam.


Saat ini, terdengar suara sorakan tak jauh dari sana. Ada banyak orang juga yang sepertinya sedang menonton. Yuan yang merasa bingung bertanya pada seseorang.


Awalnya, orang itu tak ingin menjawab, tapi saat menyadari keberadaan Ling, ia langsung menjelaskan dengan penuh semangat, "Itu adalah Nona Zhuo Shiaonian. Hari ini Nona Zhuo Shiaonian kembali ke sekolah. Kalian belum pernah mendengar tentang Nona Zhuo Shiaonian, kan? Dia adalah ...."


Mendengar nama Zhuo Shiaonian, mereka saling pandang.


Sedangkan murid itu tak lanjut menjelaskan. Ia segera menjauh dan berlari menuju kerumunan untuk melihat Zhuo Shiaonian.


Di taman, Zhuo Shiaonian dikelilingi banyak orang. Di sampingnya adalah Lu Yan yang sekarang jadi pengikutnya.


"Ada apa?" tanya Zhuo Shiaonian saat melihat Lu Yan berhenti.


Lu Yan tersadar setelah mendengar suara Zhuo Shiaonian. Tadi ia merasa seperti mendengar nama 'Chen Ling'. Namun, seharusnya itu tidak mungkin. Ia berada di luar negeri dan Ling seharusnya berada di Kota Bayangan. Jadi, ia tak mungkin di sini.


"Tidak apa," jawab Lu Yan.


Zhuo Shiaonian mengangguk. Ia berkata, "Aku tidak tahu apakah kepala akademi akan menerimamu atau tidak. Namun, jika kau berhasil masuk, masa depanmu akan terjamin."


Lu Yan mendengarkan dengan serius.


Status Lu Yan di Asosiasi Dewa Ramuan tak terlalu tinggi. Walau warna darahnya tak buruk, tapi ia sudah telat berlatih. Namun, saat beberapa orang mendengar jika dia berasal dari Kota Urban, para tetua di sana mulai memperhatikannya. Hal inilah yang membuat Lu Yan sedikit sombong. Dia juga menyadari jika tempat ini berbeda dengan tempat tinggalnya dulu. Di sini, yang kuatlah yang berkuasa.


"Akan kuceritakan sedikit tentang akademi ini. Ada dua keluarga yang tak bisa kau singgung, yaitu Keluarga Bai dan Keluarga Chen," lanjut Zhuo Shiaonian.


Walau dia belum bertemu dengan kepala akademi, Zhuo Shiaonian yakin akademi ini akan menerima Lu Yan. Lagipula, ini pertama kalinya Asosiasi Dewa Ramuan meminta bantuan. Kepala akademi pasti tak akan menolak.


Lu Yan memandang orang-orang di sekitarnya dan memandang Zhuo Shiaonian dengan hormat dan kagum. Ia bertanya dengan ragu, "Apa akademi akan menerimaku?"


"Jangan khawatir. Sepertinya kau tidak tahu posisi Nona Zhuo Shiaonian di akademi. Jika kau tahu, kau tak akan mengatakan hal itu. Jangankan satu, bahkan menerima 10 murid juga tak masalah," ucap pemuda di sampingnya.


*


Mereka sampai di kantor kepala akademi. Namun, tidak ada kepala akademi di sana, hanya ada ketua akademi.


"Nona Zhuo Shiaonian, tunggu sebentar. Saya akan bertanya pada kepala akademi," ucap ketua akademi sambil tersenyum. Ia sedikit menjauh dan menerima panggilan.


Zhuo Shiaonian hanya mengangguk.


Namun, ia merasa aneh. Dia menatap ketua akademi dengan ragu. Seharusnya, panggilan ini hanya formalitas. Akan tetapi, ketua akademi terlihat sangat serius saat menelepon.


Zhuo Shiaonian menyeruput tehnya. Melihat ketua akademi sudah selesai menelepon, ia bertanya, "Bagaimana?"


Ketua akademi menatap Zhuo Shiaonian. Walau ia merasa tidak enak hati, ia tetap tersenyum, "Maaf, Nona. Dia tidak sesuai dengan kriteria akademi, jadi ...."


Zhuo Shiaonian meletakkan gelasnya dan mengerutkan kening, "Ketua, apa Anda yakin?"


Ketua tetap tersenyum, "Jika Nona tidak mempercayai saya, Anda dapat menghubungi kepala akademi secara pribadi."


Zhuo Shiaonian sangat terkejut. Ia tak menyangka hasilnya akan seperti ini. Ia berdiri dan melirik ketua akademi. Wajahnya terlihat tak bersahabat, "Kalau begitu, aku akan pergi dulu."

__ADS_1


__ADS_2