
Sesuai janjinya, Chen Lin mengantarkan Ling ke arena pelatihan pada pukul lima. Mereka menaiki mobil Keluarga Chen dengan Chen Lin sebagai supirnya. Sepanjang perjalanan, Chen Lin tak berhenti tersenyum.
Ia sudah lama tak sebahagia ini. Ia sudah lama menjadi orang yang dingin. Apalagi sejak tahu suaminya berselingkuh. Ternyata ia tidak bisa hamil lagi juga disebabkan oleh suaminya sendiri, tentu dengan bantuan selingkuhannya.
Mereka bersekongkol memberi racun pada Chen Lin, sehingga ia bisa menerima Wuzhou sebagai anak angkat. Padahal itu adalah anak Luo Feng dan selingkuhannya, yaitu Liang Qing.
Maka dari itu, Chen Lin memilih membawa Ling untuk tinggal di rumah orangtuanya. Ia tidak sanggup terus-menerus sakit hati saat melihat Luo Feng.
Wuzhou belum mengetahui hal ini karena Wuzhou terlihat sangat menyayangi Chen Lin. Sedangkan Chen Lin memang menerima Wuzhou, karena anak itu tak memiliki kesalahan apapun. Ini semua adalah salah ayah dan ibunya yang brengsek. Sebenarnya Chen Lin juga menghalangi Wuzhou bertemu ibu kandungnya. Ia takut Wuzhou menjadi orang jahat juga.
"Hadiah apa saja yang akan kau ambil?" tanya Chen Lin membuka percakapan.
Ling berhenti memainkan ponsel dan meliriknya. "Apa Ibu ingin sesuatu?" Ling bertanya balik.
"Tidak," Chen Lin menggeleng. "Aku harap kau mengambil sesuatu yang bagus agar meningkatkan pelatihanmu," lanjutnya.
"Aku akan melihat-lihat dulu di sana," jawab Ling. Ia kembali memainkan ponsel.
Chen Lin hanya mengangguk. Ia tak ingin memaksakan sesuatu pada putranya. Selama ini ia selalu mendukung apa saja yang Ling lakukan, asalkan itu baik. Namun karena hal ini pula Ling menjadi bandal. Ia bingung sendiri sekarang, mengapa Ling tiba-tiba berubah.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di arena pelatihan. Ling mencium Chen Lin sebelum keluar dari mobil.
*
"Apakah kita masih menunggu orang lagi?" tanya Lu Yan kesal. Karena bersemangat ia sudah sampai di arena pelatihan pada pukul setengah lima.
"Ling belum datang," jawab Liam. Ia menatap khawatir ke arah gerbang.
"Ini sudah pukul lima. Tuan Yuan ayo kita pergi," protes Lu Yan.
__ADS_1
"Masih ada 30 detik lagi. Ling akan datang," jawab Liam mencoba menahan mereka.
"Ia tidak mungkin datang dalam 30 detik. Lebih baik tinggalkan saja dia. Dia juga tidak akan mengerti dengan hadiah yang ada di dalam," ucap Lu Yan.
Tepat saat pukul lima, seorang pria dengan langkah santai tiba di hadapan mereka. Ia memasukkan tangan ke saku dan memainkan ponsel. "Apakah aku terlambat?" tanya Ling melihat jam di ponselnya.
"Tidak. Ini tepat pukul lima, sesuai perjanjian," jawab Liam sebelum Lu Yan sempat membuka suara.
Ling mengangguk. Ia berdiri di samping Liam.
Yuan Ming yang melihat siswanya sudah lengkap, mulai berbicara, "Di dalam ada bahan obat, ramuan, senjata, buku pelatihan, dan aksesoris. Kalian bisa mengambil sesuai bintang yang kalian dapat," ucap Yuan Ming menjelaskan.
Melihat semua orang diam, ia melanjutkan, "Ayo ikuti saya."
Ada dua puluh orang yang mendapat hadiah hari ini. Mereka berebut untuk berjalan di depan. Masing-masing saling egois dan saling dorong, hingga Ling tertabrak seseorang. Untung ia bisa menahan dan tidak jatuh, hanya tasnya yang jatuh.
"Maaf," ucap orang itu sambil mengembalikan tas Ling. Itu adalah Lu Yan. Ia tersenyum hangat pada Ling, kemudian ia kembali berjalan mengejar Wuzhou.
Bukankah tadi ia paling ribut karena Ling terlambat? Mengapa ia bisa tersenyum hangat begitu pada Ling? batin Liam. Ia menatap Ling yang terlihat menunduk dan tersenyum.
Mengapa ia tersenyum? Jangan-jangan Ling terpesona pada Lu Yan? Tapi mengapa aku merasa senyum Ling tidak seperti terpesona? batin Liam semakin bingung.
Tak ingin memikirkan hal ini lebih jauh, Liam beranjak pergi mengejar Yuan Ming.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka sudah sampai di depan ruangan dengan pintu kayu yang tinggi. Yuan Ming membuka pintu itu dan mempersilahkan siswanya masuk.
"Ini adalah rak bagian ramuan. Setiap rak memiliki petugas pencatat. Jadi jika kalian ingin mengambil barang, harus menyerahkan bintang sebagai alat tukar," jelas Yuan Ming.
"Ini adalah rak bahan obat. Di sana adalah rak senjata. Ada keterangan di setiap rak. Jika kalian masih bingung, kalian bisa bertanya pada petugas," ucap Yuan Ming masih menjelaskan.
__ADS_1
Yuan Ming terlihat sedikit menjauh. Ia menerima telepon.
Sedangkan para siswa masih menatap ruangan ini takjub. Benar-benar seperti ruangan harta karun. Segala macam keperluan ada di sini. Bahkan dengan kualitas yang sangat baik. Mereka merasa seperti mimpi bisa memasuki ruangan ini hari ini.
Bau herbal sangat menyengat di bagian kanan karena di sana tempatnya bahan obat dan ramuan. Kini para siswa sudah mulai tidak sabar untuk menjelajahi ruangan.
Yuan Ming kembali ke tempatnya semula. "Aku ada keperluan sebentar. Kalian sudah bisa memilih hadiah. Akan ada petugas lain yang berjaga. Kalian juga bisa bertanya pada mereka," ucap Yuan Ming. Ia langsung keluar ruangan.
*
"Ada apa?" Yuan Ming terburu-buru masuk ke ruangannya.
"Obat untuk Xia hilang," ucap Yu Bin panik. Ia sedang mondar-mandir di depan Zhuo Xia yang terlihat sedikit pucat. Walaupun ekspresinya masih santai seperti biasa, tapi dapat dilihat ia sedang tidak baik-baik saja.
"Di mana kalian meletakkannya terakhir kali?" tanya Yuan Ming. Mereka berdua adalah tamunya. Ia akan bertanggung jawab dengan semua hal yang berhubungan pada tamunya.
"Di ruangan ini. Saat kami kembali, itu sudah hilang," jawab Yu Bin yang masih mondar-mandir.
"Apakah tidak bisa menggunakan obat lain untuk sementara?" Yuan Ming juga sedikit panik melihat Zhuo Xia yang memucat.
"Aku sudah memberikannya. Namun kau bisa lihat sendiri, sepertinya itu tidak berpengaruh," jawab Yu Bin. Yuan Ming pun semakin khawatir melihat kondisi Zhuo Xia.
Zhuo Xia melengkungkan bibirnya sedikit. "Tidak apa. Aku masih bisa tahan," ucapnya dengan suara parau. Kulitnya pucat, bibirnya kering, tubuhnya terlihat lemah. Walau begitu tatapan matanya masih tajam.
"Tuan Yuan, bisakah kau membantu kami mencari obatnya?" tanya Yu Bin. Ia sudah mencoba mencari di ruangan ini tadi, tapi tidak menemukan apapun. Ia ingin mencari di seluruh arena pelatihan, tapi ia tak punya hak.
"Tentu saja. Ini adalah tanggung jawabku. Apakah kalian memiliki dugaan siapa pencurinya?" tanya Yuan Ming terlihat berpikir.
Zhuo Xia mengetukkan jarinya di meja. "Sepertinya orang itu masih ada di arena pelatihan. Periksa semua orang yang ada di sini," ucap Zhuo Xia semakin pelan. Walau begitu, Yu Bin dan Yuan Ming masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
"Kau tidur saja dulu, Xia," ucap Yu Bin membantu Zhuo Xia merebahkan diri di sofa.
Ia dan Yuan Ming pergi keluar ruangan.