
Yu Bin telah sampai di lokasi empat orang itu. Dia mendengar perkataan Su Wen Ai sebelumnya. Jadi yang mengejar mereka bukan rombongan yang sama yang ada di vila? Apa mereka salah perkiraan?
Dia turun dan menghampiri mereka.
"Nona Yu! Anda membuatku terkejut!" ucap Liam saat Yu Bin ingin menyentuh bahunya. Namun belum juga tangan Yu Bin mendarat, Liam sudah menghindar.
Yu Bin sedikit kaget melihat ini. Saat bertemu dengan Liam dulu, dia adalah pria yang lemah berwajah pucat. Sekarang ia terlihat lebih segar dan memiliki kepekaan tinggi.
Ling yang sejak tadi mengamati sekitar, ia meraih lengan Yu Bin. Ia mengetuk beberapa tombol yang tersedia di jam tangan itu dan muncul sebuah peta.
"Bawa mereka ke posisi," ucap seseorang dari jam itu. Titik hijau terlihat saat orang itu bicara. Saat ia diam, titik itu berubah menjadi merah.
Yu Bin sangat terkejut. Ia tak menyangka bahwa Ling tahu ini adalah ponsel mini. Namun yang membuatnya lebih terkejut adalah bahwa Ling tahu cara mengoperasikan jam itu. Ini adalah jam tangan mini khusus yang digunakan di Kota Bayangan. Biasanya dipakai untuk peperangan internasional.
"Temui kami di jalan keluar lorong persimpangan di gang 04," perintah Ling. Ucapannya padat, jelas, dan tegas.
Ini adalah ciri khas Ling X.
Di ujung telepon, seorang wanita dengan jaket hitam sedang duduk di dalam mobil. Dia berpikir sejenak saat mendengar suara itu. Kemudian dia berkata, "Baik."
"Pergi ke lorong persimpangan di gang 04," perintah Zhuo Xia pada sopir.
Walau sopir itu sedikit bingung, ia tetap menancapkan gas.
Zhuo Xia membangun namanya sejak remaja dengan bakatnya sendiri. Ia mendapat tugas melindungi Kota Bayangan. Sudah banyak misi yang diterimanya. Hal itu membuat jiwa kepemimpinannya menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Dia sudah biasa memerintah. Dan bawahannya sudah biasa menerima perintahnya.
Namun sekarang ia menerima perintah dari orang lain?
Tidak sempat berpikir lagi, mobil sudah sampai di jalan keluar lorong gang 04. Kini Zhuo Xia mengambil alih kemudi. Sedangkan sopir duduk dengan tegang di sampingnya.
Zhuo Xia menyipitkan mata ke arah lorong yang gelap. Samar-samar, ia melihat beberapa orang berlari dengan beberapa motor yang mengejar.
Ia mengatakan sesuatu di telepon, "Aku akan membuka mobil dalam satu detik."
"Baik," terdengar suara Ling menjawab.
Sambil berlari, Ling berkata, "Pintu mobil di depan akan terbuka dalam satu detik. Apa kalian bisa masuk saat itu?"
__ADS_1
Ucapannya lebih tertuju pada Su Wen Ai. Bagaimanapun, ia tahu fisik Liam dan Yuan sudah lebih baik. Namun ia tak tahu tentang Su Wen Ai.
"Tentu saja bisa," jawab Su Wen Ai tegas. Ling tak menyangka ia akan mendengar ini.
"Bagus. Bersiaplah!" ucap Ling. Mereka semakin dekat ke mobil.
"Ayo!" teriak Ling.
Tepat saat dia berteriak, decitan ban mobil terdengar jelas. Saat itu juga pintu mobil dibuka. Mereka berlima segera melompat masuk.
Yu Bin melihat sepeda motor hampir menabrak mereka. Dia segera melemparkan dus yang ada di pinggiran jalan.
Duk! Duk! Duk!
Dus berjatuhan. Namun tetap saja, itu tak menghentikan sepeda motor itu. Mereka menerobos dus itu tanpa ragu.
"Permainan berakhir!" ucap salah satu pengendara sepeda motor paling depan yang memakai kacamata hitam. Sepertinya ia adalah pimpinan rombongan ini.
Namun satu orang dengan kacamata hitam itu membelalak saat melihat satu pria di mobil. Dengan kelincahannya, ia meraih pegangan pintu mobil dan naik ke atas atap mobil. Ia melakukan itu saat mobil tiba-tiba berbelok.
Zhuo Xia duduk tenang sambil mengemudi. Ia membuka pintu mobil saat mereka berada di gang yang cukup lebar.
Dak! Dak! Dak!
Ling dengan akurat melempar kartu-kartu itu ke sepeda motor yang berjalan. Tiga kartu dilempar ke tiga ban sepeda motor yang paling depan. Dia tak menyia-nyiakan satu pun kartu.
Yu Bin yang mengklaim dirinya sebagai penembak jitu, sangat terkejut melihat ini. Semua terjadi dalam kedipan mata.
Mulai dari Zhuo Xia membuka mobil, kemudian melempar kartu remi, dan Ling meledakkan ban dengan tiga kartu. Mereka melakukan itu tanpa berbicara. Seolah naluriah mereka yang bekerja.
Pria yang terjatuh itu mengangkat kepala dan melihat orang di atas atap mobil. Dia melihat sebuah wajah tampan seindah giok dengan mata sedingin es.
Ling beralih ke jam tangannya. Ia menyeringai tajam dan berkata, "Permainan berakhir!"
*
Pria berkacamata hitam itu bangkit. Ia memeriksa ban depan motornya yang meledak. Ia mengambil kartu remi di sana.
__ADS_1
Kartu as hati merah!
Ia mengambil ponsel mininya dan berkata, "Misi gagal! Mereka menuju ke arahmu."
"Hanya sebuah kartu bisa meledakkan sebuah ban. Berhati-hatilah. Kau bahkan tak akan bisa melihat wajahnya jika dia menggunakan pisau dengan kecepatan yang sama," ucap pria itu. Ia memutuskan telepon.
Saat bawahannya sibuk mencari ban cadangan, ia mengetik sesuatu di ponselnya. Ia mencari di internet tentang 'Pakar Kartu Remi'.
Namun ia tak menemukan itu. Dengan keahlian orang itu, seharusnya ia masuk ke dalam berita di Kota Bayangan. Namun nyatanya situs web khusus Kota Bayangan tak memberi informasi apa pun.
A Shui yang melihat ini tertawa di tempatnya. Ia telah meretas ponsel pria itu sebelumnya. Tidak disangka ia akan mencari tentang kartu remi.
Ia beralih ke jam tangannya.
"Mereka tidak mengejar. Pemimpin mereka mencari tahu tentang kartu remi. Kalian sudah aman," ucap A Shui.
"Nona Zhuo memintamu melacak Profesor Luohai dan hubungkan dia dengan kita," ucap Yu Bin.
Yu Bin merasa beberapa hari ini Zhuo Xia menghindari A Shui. Walau ia tak tahu alasannya, setidaknya A Shui masih berada di sisi mereka. Untungnya A Shui tak mencurigai apa pun.
"Baik. Katakan pada Nona Zhuo untuk memberikan jawaban memuaskan padaku," ucap A Shui.
Karena Zhuo Xia memberinya tawaran tentang bagaimana dia meninggal, A Shui jadi melupakan tujuan awalnya.
Ia menghela napas dan membenarkan kacamata.
*
Kejadian tadi masih melekat jelas di kepala Yu Bin.
"Tuan Muda Chen, bagaimana kalian berdua melakukan itu?" tanya Yu Bin.
Saat mendengar ini, bukan hanya sopir yang melihatnya, bahkan Liam, Yuan, dan Su Wen Ai juga melihat ini.
Yu Bin tahu bahwa teknik beladiri Zhuo Xia agak aneh dan lain dari yang lain. Hanya sedikit yang bisa mengerti pikirannya. Ini bukan pertama kalinya mereka bekerjasama. Saat menangkap buronan juga mereka memiliki kerjasama yang luar biasa.
Apakah mereka memang tidak saling kenal?
__ADS_1
Apakah ini benar-benar sebuah kebetulan?