
"Baiklah, sekarang aku akan membicarakan tentang warisan," ucap Bo Minghao. Ia berjalan ke arah lemari kayu kecil yang ada di sudut ruangan. Ia memutar tuas beberapa kali dan pintu lemari itu terbuka. Kemudian dia mengambil satu kertas yang ada di sana.
Itu adalah kertas coklat kusam.
Bo Minghao menghampiri Ling. Ia memegang kertas itu dan berkata, "Ini adalah harta terbesar di Keluarga Bo. Meski ini hanya potongan kertas, kami percaya bahwa kertas ini berisi petunjuk penting yang luar biasa. Tugasmu sebagai pewaris dan keturunan darah murni, kau harus menjaga kertas ini agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Kami yakin jika keturunan murni akan dilindungi oleh leluhur."
Ling menerima kertas itu. Kertas itu sama persis dengan dua kertas lain yang dimilikinya. Saat ini ia berpikir bahwa ada enam potongan kertas yang terpisah. Ia perlu tiga lagi.
Namun ia penasaran mengapa kertas itu sangat penting.
"Di mana potongan kertas yang lain?" tanya Ling pada Bo Minghao.
"Aku tidak tahu. Sepertinya hanya beberapa keluarga besar yang memiliki potongan kertas itu," jawab Bo Minghao apa adanya.
"Baiklah. Aku akan menjaganya," ucap Ling lagi. Ia menyimpan kertas itu di saku dimensi.
Bo Minghao sedikit melotot melihat saku dimensi Ling. Ia tahu betul bagaimana Chen Company. Untuk anak seusianya yang baru saja masuk ke Kota Bayangan, agak mustahil memiliki itu.
"Darimana kau mendapat saku dimensi itu?" tanya Bo Minghao tak dapat menahan rasa penasarannya.
"Aku membelinya," jawab Ling santai. Ia kembali memasukkan saku dimensinya ke dalam saku celana.
Bo Minghao tak ingin bertanya lebih lanjut. Ia memilih mengatakan hal lain.
"Ayo ambil alih harta warisan lain," ucap Bo Minghao. Ia memimpin jalan ke arah para tetua yang masih bersujud.
"Bangunlah," ucap Bo Minghao. Ia berdiri dengan tegak di depan altar.
Para tetua segera bangkit. Mereka menunduk. Pimpinan tetua paling malu di antara mereka. Bagaimana tidak? Selama ini ia yang selalu menghina dan merendahkan Ling. Namun siapa sangka Ling begitu kejam membalik keadaan. Ia bahkan tak pernah memperkirakan sampai seperti ini.
"Dia adalah keturunan murni. Kalian harus menghormatinya," ucap Bo Minghao yang melihat para tetua telah berubah.
__ADS_1
"Baik," jawab tetua secara bersamaan. Sekarang para tetua sangat patuh.
Bo Minghao tersenyum puas. Ling tidak pernah mengecewakannya. Ia juga berjanji pada diri sendiri akan membahagiakan Ling dan Chen Lin. Namun ia tetap ingin menyembunyikan kekuatan Ling. Ia tak ingin Ling dalam bahaya apalagi sampai mengganggu kesehariannya.
"Aku akan membuat surat wasiat," ucap Bo Minghao.
"Mengapa begitu?" tanya Chen Lin terkejut saat mendengar tentang surat wasiat.
"Tidak apa. Ini hanya untuk kemungkinan terburuk," jawab Bo Minghao yang mengerti perasaan Chen Lin.
Bo Minghao mulai menulis dengan pena bulu. Chen Lin duduk di sampingnya dengan raut wajah khawatir. Sedangkan Ling mengeluarkan ponselnya untuk mengecek pesan dari A Shui.
[Simbol Phoenix adalah simbol kerajaan kuno. Kerajaan itu selalu bersembunyi dan jarang terekspos. Mereka menutup rapat siapa saja bagian dari sana. Namun beberapa bulan lalu diketahui jika Keluarga Zhuo masih memiliki garis keturunan kerajaan. Itu diketahui karena kerajaan mewariskan plakat dengan ukiran phoenix kepada salah satu anggota Keluarga Zhuo. Selama ini plakat itu tidak benar-benar pernah dilihat. Namun wanita itu mewarisinya. Dia adalah wanita yang menerima gelar sebagai komandan tertinggi di Kota Bayangan, Zhuo Xia.]
"Simbol Phoenix simbol kerajaan kuno? Aku pikir kerajaan itu hanya mitos. Namun ternyata Zhuo Xia salah satu bagian dari mereka," gumam Ling setelah membaca pesan itu. Zhuo Xia memang memiliki banyak rahasia besar.
"Ling, ini adalah daftar warisanmu," ucap Bo Minghao setelah menulis panjang lebar. Ia menggulung kertas itu karena terlalu panjang.
Ling membuka kertas dan membaca bagian paling atas. Ia melihat apa saja yang bisa dia dapatkan sebagai pewaris Keluarga Bo. Ia akan memilih beberapa untuk dikembangkan.
"Apa aku harus menjadi kepala keluarga?" tanya Ling saat melihat daftar-daftar itu. Keluarga Bo benar-benar menghargai keturunan darah murni. Namun semua ini sama saja menyuruhnya menjadi kepala keluarga menggantikan Bo Minghao.
"Kau adalah keturunan darah murni," ucap Bo Minghao secara tersirat.
"Kalau begitu aku tidak ingin hal ini," ucap Ling sambil mengembalikan gulungan kertas itu.
Bo Minghao dan para tetua terkejut.
Keluarga Bo adalah keluarga terhormat. Banyak para anggota keluarga yang mati-matian berusaha untuk mengambil posisi ahli waris. Tidak hanya ahli waris, bahkan untuk menjadi keluarga inti saja susah.
Namun barusan Ling menolaknya?
__ADS_1
"Mengapa kau tidak ingin?" tanya Bo Minghao masih tak habis pikir.
Ling memiliki alasannya sendiri. Ia masih harus mengurus Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Ia belum membalas seluruh dendamnya. Ia memiliki tanggungjawab besar pada anggota Organisasi Tempur. Dan juga masih banyak rahasia lain yang belum terungkap, terutama tentang kelahirannya kembali.
Ia yakin ada alasan mengapa ia bisa terlahir kembali.
"Selain tidak ingin menjadi kepala keluarga, aku juga tidak ingin mengubah nama keluargaku," ucap Ling. Ia tan ingin mengganti identitasnya.
Bo Minghao menghela napas pasrah. Ia tak melihat jika Ling bisa dilawan. Walau ia tak tahu kekuatan atau alasan apa yang dimiliki Ling, ia cukup yakin jika Ling tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan.
"Baiklah itu terserah padamu. Kebanyakan dari warisan itu adalah milikku. Jangan khawatir dengan hal itu," ucap Bo Minghao. Ia sudah pasrah.
"Ling, apa kau yakin?" tanya Chen Lin. Ia mengerti perasaan suaminya.
"Aku yakin, Ibu," jawab Ling tegas. Ia benar-benar tak bisa membawa Keluarga Bo lagi.
"Ayo kita kembali," ucap Bo Minghao. Ia berusaha mengembalikan keadaan. Para tetua ingin melawan, tapi mereka tetap tidak bisa. Ling adalah keturunan murni.
"Pimpinan tetua, aku harap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu," ucap Ling sebelum berlalu pergi. Bo Minghao dan Chen Lin tidak mendengar hal ini karena mereka sudah berjalan di depan.
"Apa maksudmu?" tanya tetua pada Ling.
Ling hanya tersenyum tipis. Kemudian ia pergi menyusul Bo Minghao dan Chen Lin. Dalam perjalanannya, ia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada A Shui. Setelah masalah Keluarga Bo selesai, ia ingin menyelesaikan masalah pribadinya.
[Aku ingin informasi terbaru tentang Keluarga Chen yang berada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan sejak kepergianku.]
Ling langsung mendapat balasan dari A Shui.
[Baik, Raja.]
Ling membalas lagi.
__ADS_1
[Kau kembalilah ke Organisasi Tempur. Sudah saatnya mengingatkan mereka jika kita masih hidup.]