
Hari pengumpulan proposal tiba. Dengan nilai Ling, Liam, Yuan, dan Su Wen Ai, mereka memasuki kelas A+. Kini mereka berkumpul di aula kelas.
"Lihat, para senior memakai pita putih," ucap salah satu mahasiswa baru.
"Benar. Aku juga melihat rektor memakai pita seperti itu," jawab yang lain.
Ling menegakkan kepalanya. Ia melihat ke arah para senior itu. Mereka adalah senior tertinggi di sini. Selain karena jenius, mereka juga banyak membantu universitas.
Mereka memakai pita putih. Ling hanya bisa tersenyum tipis.
Salah satu senior maju ke depan. Ia memberi pidato singkat pada mahal baru. Ia juga memberi beberapa nasihat dan kata-kata penyemangat.
Setelah ia selesai, mereka melakukan acara serah terima proposal. Proposal ini akan dinilai dalam dua minggu atau lebih. Pengumuman akan diadakan serentak untuk setiap kelas. Jika lulus, maka akan menjadi bagian dari kelas dan mendapat lencana sebagai tanda pengenal.
"Apa yang akan kita lakukan selagi menunggu pengumuman?" tanya Liam. Mereka sedang berada di kantin sekarang.
"Sepertinya aku ingin kita berlibur," jawab Yuan. Ia meregangkan tubuhnya. Membuat proposal untuk kelas A+ sedikit menjadi beban untuknya.
"Kalian bisa berlibur. Sepertinya aku akan kembali ke rumah Ibuku," ucap Ling. Ia masih memainkan ponselnya.
Ia mengirim pesan pada A Shui untuk menyelidiki tentang Keluarga Bo. Kali ini ia ingin informasi yang lebih detail.
Ia juga mengirim pesan pada Mei Mengyi untuk mengirimnya bom yang telah selesai ia buat. Ia akan memakai itu sewaktu-waktu Keluarga Bo menyerang Chen Company lagi.
*
Ling sampai di rumah Chen Lin. Ini adalah rumah mewah yang terlihat sederhana. Ini bukan lagi hotel seperti di awal. Rumah ini adalah hadiah dari Cai Hao.
Ling telah menempatkan beberapa penjaga. Ia mengambilnya langsung dari pelatihan militernya di Kota Urban. Ini adalah anak-anak dari Chen Liu.
Penjaga yang dipilih Ling sedikit yang sudah berumur. Selain lebih kuat, mereka juga lebih berpengalaman. Selain itu, ia ingin pemuda di sana lebih banyak mendapat waktu untuk pelatihan.
"Selamat datang, Tuan Muda," ucap penjaga itu. Salah satu ketua penjaga bernama Chen Tian.
__ADS_1
Ling hanya mengangguk dan tersenyum. Ia melihat mereka cukup kuat untuk melindungi Keluarga Chen. Namun jika dibandingkan dengan Keluarga Bo, mereka masih kalah jauh.
"Ambil ini. Sering-seringlah berlatih," ucap Ling sambil memberi ramuan tingkat tinggi.
"Tuan Muda, ini terlalu banyak. Kami tidak bisa menerima semuanya," ucap Chen Tian saat menyadari itu ramuan tingkat tinggi. Tangannya sampai bergetar.
"Itu adalah fasilitas yang diberikan oleh Keluarga Chen untuk orang yang berjasa seperti kalian. Jangan sungkan untuk menggunakannya. Selain untuk kebaikan kalian, itu juga untuk kebaikan Keluarga Chen," jawab Ling. Ramuan yang ia punya sudah menimbun. Jadi memberi ramuan sebanyak ini bukan apa-apa baginya.
"Baik, Tuan Muda. Terimakasih," ucap Chen Tian membungkuk hormat. Walau bawahannya belum tahu apa yang terjadi, tapi mereka bisa mengerti sedikit saat melihat ekspresi pemimpin mereka. Mereka juga ikut membungkuk hormat.
Setelah itu, Ling masuk ke dalam rumah. Sebelum ia sempat membuka pintu, Paman Qian sudah menyambutnya. Ia memberi Ling sekotak susu. Digenggamnya juga ada Chester, si kucing berbulu oranye.
Chester langsung bersemangat dan melompat ke arah Ling. Ia mengelus-eluskan kepalanya manja. Ia sudah lama tidak bertemu dengan tuannya.
"Kau masih sama saja," ucap Ling sambil mengelus kepala Chester. Ia kemudian membawa Chester masuk ke kamarnya.
Ini adalah kamar yang sudah disiapkan Chen Lin. Sebelum ke sini, ia sudah memberi kabar terlebih dahulu. Namun saat ini Chen Lin masih di perusahaan. Sedangkan Chen Qi berjalan-jalan untuk lebih mengenal tempat ini.
Saat ia bermain dengan komputernya, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari A Shui.
"Baiklah. Terimakasih sudah membantuku," jawab Ling. Ia membuka komputer dan melihat informasi yang dikirimkan A Shui.
"Raja, Mo Xiayi ingin bicara denganmu," ucap A Shui. Suaranya menjadi lebih serius dari sebelumnya. Ia tahu hubungan Ling dan Mo Xiayi sedang tidak baik-baik saja.
Perkataan A Shui berhasil membuat Ling terdiam. Ia berhenti membaca informasi dan menatap kosong komputer.
Ia membeku untuk waktu yang lama.
"Bicara," ucap Ling setelah itu.
Mo Xiayi tersenyum bahagia. Ia mengambil ponsel A Shui dan berbicara, "Raja, aku tahu itu bukan dia. Pasti ini semua adalah kesalahpahaman. Aku selalu percaya padanya. Dia tak akan mengkhianatiku ataupun kau."
"Kau bertanya padanya?" tanya Ling dingin. Ia merasa hatinya bergetar.
__ADS_1
"Raja, aku hanya tidak ingin kalian berselisih," jawab Mo Xiayi. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
"Apa kau memberitahunya bahwa aku masih hidup?" tanya Ling lagi. Walau ia sudah bisa menebak jawabannya, Ling tetap merasa sesuatu menekan hatinya.
"Tidak," jawab Mo Xiayi dengan segera.
"Bagus kalau begitu," jawab Ling.
"Mo Xiayi, kelak kita tak perlu bertemu lagi. Mulai sekarang, Organisasi Tempur tak memiliki penembak jitu lagi," ucap Ling langsung mematikan panggilan.
Mo Xiayi langsung membeku. Ia merasakan aliran dingin menyalur ke seluruh tubuhnya. Ia tak pernah membayangkan jika Ling tak ingin lagi bertemu dengannya. Hal seperti ini tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Ia dan Ling sudah berteman sejak kecil. Mereka tumbuh dan hidup bersama. Ia tak mengira hari seperti ini akan tiba. Walau terdengar Ling masih mempercayainya, tapi Ling telah mengusirnya. Ia tak mengira hari di mana hubungan mereka meregang akan tiba.
A Shui yang mendengar ini tahu perasaan Ling. Ia segera mengambil ponselnya dari tangan Mo Xiayi.
"Keluar," ucap A Shui dingin.
Mata Mo Xiayi memerah. Ia ingin menangis sekarang. Ia juga merasa sangat marah pada dirinya.
"Di mana Raja?" tanya Mo Xiayi pada A Shui.
"Bukan urusanmu," ucap A Shui. Ia sudah melayangkan tamparan pada Mo Xiayi.
"Setelah menamparku, bisakah kau memberitahuku di mana dia?" tanya Mo Xiayi memegang pipinya yang panas.
Setelah itu, A Shui memutar badannya dan berdiri di belakang Mo Xiayi. Ia sudah mengarahkan pisau ke arah Mo Xiayi.
"Kau ingin membunuhku? Kau bukan tandinganku," ucap Mo Xiayi mencoba tenang.
"Aku tidak ingin membunuhmu. Aku juga memang bukan tandinganmu. Namun menurutmu, apa kau bisa menghindari pisau yang lain dari pendukung Raja?" tanya A Shui dingin.
"Kalian ...," suara Mo Xiayi tercekat. Ia tak mampu berbicara lagi. Sampai sekarang ia tak pernah menyangka jika hari seperti ini akan tiba.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau kecewa? Bagus. Setidaknya kau bisa merasakan sedikit apa yang dirasakan Raja," ucap A Shui.
Ia tahu Ling dan Mo Xiayi sangat dekat. Mengatakan mereka tidak akan bertemu lagi bukan sesuatu yang mudah. Namun ia mengerti mengapa Ling melakukan itu. Ia juga bisa merasakan kekecewaan Ling.