Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Kabur Dengan Cepat


__ADS_3

Di luar rumah.


Tuan Besar Wei dan Ling sedang berjalan masuk. Saat penjaga Keluarga Wei melihat tuan mereka, tubuh mereka semua bergetar. Dengan wajah ketakutan, salah satu dari mereka berkata, "Tuan Besar, apa benar kita akan menyerahkan diri pada mereka?"


"Tidak perlu. Tuan Muda Chen ada di sini," jawab Tuan Besar Wei. Penjaga itu mengikuti arah pandang Tuan Besar Wei. Saat melihat Ling, mata mereka juga berbinar.


"Tuan Muda! Anda akhirnya kembali," ucap penjaga itu dengan hormat. Ia tak dapat membendung rasa bahagia di hatinya.


"Aku akan mengetuk pintu," ucap penjaga itu yang mendapat anggukan dari Tuan Besar Wei.


Namun, belum sempat penjaga itu mengetuk, pintu itu terbuka.


Tuan Besar Jun sangat terkejut saat melihat Ling. Ia tak menyangka Ling akan berada di depannya saat ini. Ia buru-buru berkata pada Tuan Besar Wei, "Tuan Wei, terimakasih telah menerima kami. Lain kali jika Anda ke luar negeri, berkunjunglah ke Keluarga Jun kami. Kami pasti akan menyambut kalian dengan hangat."


Setelah mengatakan itu, ia menjabat tangan Tuan Besar Wei. Ia memberikan satu kartu berisi batu roh padanya. Tanpa berani menatap mata Ling, ia kabur dengan cepat.


Tuan Besar Wei terkejut. Ia bergantian menatap Ling dan kartu di tangannya. Ia pikir akan terjadi pertempuran besar.


Ling juga tidak memikirkan hal ini. Ia bergumam, "Pintar."


Penjaga lainnya menatap Ling dengan mata penuh kekaguman. Bahkan Ling belum bergerak, tapi mereka sudah kabur begitu mendengar namanya.


*


Di kamar Tuan Besar Zhuo.


Zhuo Xia menoleh ke arah kakeknya, Zhuo Fang yang mulai membuka mata. Dia berjalan perlahan dan bertanya, "Kakek, apa sudah membaik?"


"Aku sudah membaik. Simpan lentera itu baik-baik," ucap Zhuo Fang sambil melihat lentera yang tidak jauh dari tempat tidur.


"Terimakasih, Kakek," ucap Zhuo Xia. Matanya menatap tajam ke arah lentera itu.


"Tidak perlu berterimakasih. Aku senang kau kembali. Aku tidak pernah melihatmu begitu khawatir. Tidak mungkin kau membiarkan mereka mengambil lentera itu, kan?" ucap Zhuo Fang sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


Sedangkan di luar rumah, ada teriakan yang terdengar begitu arogan.


"Bagaimana Tuan Tua Zhuo? Apa Anda bisa menyerahkan lentera itu sekarang?" tanya orang itu dari luar.


"Jangan berpikir jika sebuah pintu dapat menyelamatkanmu," ucap orang itu lagi. Ia memandang jijik pintu itu dan ingin segera mendobraknya.


Belum sempat didobrak, pintu terbuka.


Mereka melihat sosok wanita tinggi. Karena tubuhnya melawan cahaya, ia jadi terlihat misterius. Dengan suara dingin, ia berkata, "Katakan lagi. Apa yang kau inginkan?"


"Siapa kau?" tanya orang itu. Melihat wanita misterius itu, rombongan di belakangnya ikut mendongak.


"Aku bertanya ... apa yang kau inginkan?" tanya Zhuo Xia. Matanya tajam seperti ingin menerkam. Terlihat hasrat haus darah dari tatapannya. Suaranya tidak sedingin tadi, malah lebih cuek. Namun orang yang mengenal Zhuo Xia tahu, jika keadaan ini lebih berbahaya.


"Kau ... kau ... kau ...," orang itu terbata. Tidak semua orang memiliki aura seperti Zhuo Xia. Melihat Zhuo Xia saat ini, mereka takut sampai tak bisa bergerak.


Zhuo Xia tidak ingin basa-basi lagi. Ia mengeluarkan senjatanya. Ia menyudutkan orang yang menjadi pemimpin rombongan itu. Ia berjalan perlahan dan menatap tajam orang itu. Ia berkata, "Kau dari keluarga mana?"


Ia pikir hal ini bisa menyelamatkan hidupnya. Namun ternyata, Zhuo Xia hanya menyeringai. Ia mengulurkan tangan dan melihat pola di liontin kalung orang itu.


"Ternyata dari Keluarga Xiao," gumam Zhuo Xia.


Setelah mengatakan itu, ia mengembalikan liontin pria itu. Tanpa diduga, satu senjata cakarnya menusuk dada pria itu. Setelah beberapa lama, dengan santai, Zhuo Xia menarik kembali senjatanya.


Saat Yu Bin dan yang lainnya sampai, mereka melihat Zhuo Xia sedang membersihkan darah di senjatanya dengan tisu putih.


"Nona," ucap Yu Bin dengan hormat.


Zhuo Xia mengangguk. Ia bertanya, "Di mana Ketua Dai?"


"Dia terluka. Saat ini, Xiao Yan yang mengambil alih Keluarga Zhuo," jawab Yu Bin.


Zhuo Xia memasukkan kembali senjatanya. Saat ia dalam perjalanan pulang, ia merasa lentera itu akan padam. Saat bertemu dengan Zhuo Fang, ia tidak bisa merasakan napasnya. Zhuo Xia tidak tidur selama beberapa hari untuk menyelamatkan kakeknya. Setelah keadaan membaik, ia menghubungi Yu Bin dan yang lainnya.

__ADS_1


*


Di ruangan kerja Keluarga Zhuo.


Xia Yan saat ini sedang minum anggur. Ia memelintir ujung rambutnya dengan jari. Ia berkata dengan nada kesal, "Apa kau tidak memiliki cara untuk membuka tempat kultivasi Keluarga Zhuo?"


Tetua Keluarga Zhuo mengangkat kepalanya. Ia menatap meremehkan wanita di depannya. Dengan nada mengejek, ia menjawab, "Kau bunuh aku pun aku tidak akan memberitahumu caranya."


"Diam!" ucap Xiao Yan. Ia menggenggam erat gelas di tangannya.


Saat ini, tetua itu sadar betapa berpengaruhnya Zhuo Xia di Kota Bayangan.


Tak lama setelah itu, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Xiao Yan yang masih kesal menjawab dengan bentakan, "Keluar! Jangan ganggu aku!"


Sebenarnya saat ini ia sedang gelisah. Ia mendapat kabar jika Keluarga Lu tidak lagi berada di Keluarga Bo. Salah satu sepupunya juga mengirim pesan jika Keluarga Jun telah meninggalkan Keluarga Wei dengan terburu-buru.


Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.


Beberapa lama menunggu, pintu itu tidak juga tertutup. Sebagai gantinya, terdengar gema langkah heels yang memasuki ruangan.


Dengan tidak percaya, Xiao Yan mendongakkan kepala. Ia melihat seorang wanita cantik datang ke arahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.


"Xiao Yan dari Keluarga Xiao," ucap Zhuo Xia tanpa menatapnya. Ia melirik ke arah Yu Bin yang sedang melepaskan ikatan tetua Keluarga Zhuo.


Setelah ikatan itu terlepas, Zhuo Xia kembali berbicara, "Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Jangan khawatir, jika aku membunuhmu tidak akan ada yang berani protes padaku. Dan jangan pernah mengancamku dengan nama Keluarga Xiao, karena ... itu tidak berguna."


Setelah menyelesaikan kalimatnya, senjata cakar Zhuo Xia menembus tenggorokan Xiao Yan. Darah mengucur deras dari tenggorokannya.


Anggota Keluarga Xiao yang melihat ini tidak berani mendekat. Mereka tidak bisa melawan niat Zhuo Xia untuk membunuh.


"Nona, kau sudah kembali," ucap tetua Keluarga Zhuo. Matanya sedikit mengeluarkan air mata.


"Benar. Terimakasih atas kerja kerasmu," ucap Zhuo Xia. Ia menyimpan senjatanya yang masih penuh noda darah.

__ADS_1


__ADS_2