
"Nona," gumam tetua yang memeriksa pemimpin berjubah hitam itu. Ia langsung merasa sangat jijik.
"Semuanya, menjauh! Jangan sentuh orang ini," ucap tetua.
Kemudian, ia menatap Shi Jiu, "Nona, apakah kekuatan Anda meningkat?"
Shi Jiu menggeleng dan menarik napas dalam-dalam, "Itu bukan aku. Itu pasti orang lain."
"Bukan Anda? Jika bukan Anda, lalu siapa lagi?" tanya tetua bingung. Dalam tim ini tidak ada yang lebih dari level lima.
Semua orang yang ada di sana mengerutkan kening. Mereka melirik Chen Yuai, para tetua, para penjaga, dan yang lainnya. Terakhir, pandangan mereka mendarat di Ling.
Ling menatap pria berjubah hitam itu dengan wajah pucat. Ia tampak ketakutan dan tidak kelihatan berbohong.
Melihat Ling seperti ini, mereka malah semakin menatap Ling dengan curiga. Ling hanya bisa menundukkan kepalanya dan berpikir sendiri.
Tetua melihat gelagat Ling dan menggelengkan kepalanya. Ia berkata dengan pelan, "Itu bukan dia. Baru saja aku melindunginya dan Nona Chen. Tadi ia melarikan diri. Ia pasti shock sekarang."
Setelah mendengar ucapan tetua, mereka kembali bingung. Jika bukan di antara mereka, lalu siapa?
"Pasti ada kultivator lain disini," tetua Keluarga Shi melihat sekeliling dan menangkupkan tangannya.
"Terima kasih atas bantuan Anda. Jika Anda mengalami kesulitan di masa depan, silahkan datang ke Keluarga Shi. Keluarga Shi pasti akan melakukan yang terbaik untuk membantu Anda," ucap tetua dengan tulus.
Kemudian, tiba-tiba ia menatap Chen Yuai, "Nona Chen, pakah Paman Anda yang mengirim penjaga untuk melindungi Anda secara diam-diam?"
Mereka tahu jika Chen Yuai memiliki dukungan yang sangat kuat. Jika benar-benar ada kultivator tingkat tinggi yang diam-diam mengikuti mereka, kemungkinan besar orang itu yang membantu mereka tadi.
Saat mendengar ini, Chen Yuai baru tersadar dari lamunannya. Ia menggelengkan kepala dan menjawab, "Tidak. Pamanku hanya memberi senjata nuklir ini."
Chen Yuai tidak mungkin berbohong. Orang-orang di sana berpikir jika mereka beruntung karena bertemu seorang kultivator yang sangat kuat dan suka membantu.
Tim itu pun menyelesaikan diskusi mereka dan lanjut berjalan.
Saat mereka hampir sampai di pegunungan berikutnya, Ling tiba-tiba berhenti dan duduk di tanah. Ia berkata, "Aku lelah. Aku tidak bisa berjalan lagi."
Orang-orang di belakangnya ikut berhenti.
Tetua itu melirik Ling. Ia mereka tambah kesal dengan Ling sekarang, tapi ia masih berbicara dengan lembut dan sabar, "Tuan Muda Chen, berhenti di sini sangat berbahaya. Kita tidak tahu kapan orang orang berjubah hitam itu akan datang lagi. Lebih baik kita turun dulu."
"Itu benar," sahut orang lainnya.
__ADS_1
Namun, Ling hanya meliriknya dan acuh tak acuh. Ia tetap duduk di tanah dan mengeluarkan ikan kaleng dari tasnya. Ia terlihat sangat malas, "Aku lapar. Aku akan berjalan lagi setelah makan. Jika kalian ingin pergi, pergilah dulu."
"Anda!" tetua merasa sangat marah padanya. Ia ingin memukulnya saja sekarang.
Namun, ia langsung membuang muka saat melihat Ling duduk bersila di atas batu dengan ikan kaleng di tangannya. Walau ia tidak ingin mengatakannya, tapi ikan itu terlihat sangat menggoda.
"Ayo kita istirahat 10 menit saja," ucap Chen Yuai pada Ling. Ia sebenarnya juga sangat lelah. Selain lelah, dia juga masih gugup. Ia sudah tidak bersemangat lagi.
"Mau berapa?" Ling memberikan sekaleng ikan kepada Chen Yuai.
Chen Yuai mengulurkan tangannya seolah-olah dia dikendalikan. Saat dia melihat jika dia telah memakan semua ikan kaleng di dalam tas, Chen Yuai merenung sejenak dan berpikir. Mengapa ia bisa melakukan ini tanpa sadar?
Ling melihat tas kosong itu dan tertawa kecil. Ia menepuk celananya dan berdiri.
"Ayo pergi," ucap Ling.
*
Sepuluh menit telah berlalu. Kelompok itu pun segera melanjutkan perjalanan ke gunung selanjutnya.
Saat Shi Jiu baru saja melangkah, tiba-tiba pegunungan yang akan mereka tuju runtuh. Orang-orang langsung mundur selangkah.
Saat ini, mereka berada di atas batu besar. Pegunungan yang runtuh berada di sisi mereka. Sudah beberapa menit berlalu dan orang-orang di sana masih terdiam ketika melihat gunung itu hancur.
Para tetua sudah sangat ketakutan. Mereka berpikir jika mereka kembali mendapat hal baik karena tidak langsung turun gunung seperti yang mereka rencanakan.
Saat ini, Chen Yuai tiba-tiba berbalik untuk melihat Ling.
Ling mengayunkan tas ke belakang dan menyipitkan matanya melihat kearah pegunungan yang hancur. Ia tak menyangka ada orang yang menatapnya. Sudah terlambat untuk menarik kembali ekspresinya. Ia hanya bisa tersenyum dengan matanya yang jernih itu.
"Untungnya kita tidak turun gunung," ucap Ling. Tidak ada rasa takut di wajahnya yang tampan itu.
Saat ini, matahari pagi berangsur-angsur terbit. Memakai jaket berwarna terang, ia berdiri melawan angin di puncak gunung. Wajahnya yang disinari matahari membuat orang tak berani menatapnya lama.
Chen Yuai tercengang. Ia menurunkan matanya dan tidak menatap Ling lagi. Namun, mata Ling yang hitam pekat sudah tenggelam dalam pikirannya.
Tetua Shi terlihat sangat ketakutan. Ia menyeka keringat dingin di dahinya dan menatap Ling. Ia berkata, "Tuan Muda Chen, untungnya saat itu Anda meminta untuk beristirahat. Jika tidak, kita semua akan mati di sini."
Tidak ada yang berani protes. Memang itulah kebenarannya. Jika Ling tidak bersikeras dan tetap melanjutkan perjalanan, jika para tetua memaksa mereka untuk tetap berjalan, tempat ini pasti akan menjadi makam mereka.
Saat ini, bertahan hidup sangat sulit. Orang-orang di sana merasa beruntung karena mereka masih hidup.
__ADS_1
Ling melambaikan tangannya malas, "Tentu saja, tentu saja."
Chen Yuai berdiri di samping Ling dan diam-diam meliriknya. Tiba-tiba, pikiran liar muncul di benaknya. Apakah Ling memang sengaja melakukan itu?
*
Mereka tidak tahu, jika sekarang sebuah jet tempur silver melayang di atas tempat mereka berhenti tadi malam.
"Keluarga Shi benar-benar bisa menyelamatkan seseorang? Hal ini tidak pernah kuperhitungkan," ucap Zhuo Nan agak terkejut. Ia berdiri di samping pria berjubah hitam itu.
Zhuo Xia berdiri dengan tangan di belakang punggungnya. Saat mendengar ucapan Zhuo Nan, ekspresinya tidak berubah. Ia menatap sekeliling dengan ekspresi tenang.
Zhuo Nan melambaikan tangannya dan menyuruh seseorang untuk membawa pria berjubah hitam itu pergi dengan hati-hati.
Saat ini, seorang pria berpakaian hitam memasuki gua. Wajahnya sangat bersih dan ketampanannya langka di luar negeri. Tatapannya terlihat menggoda.
"Keluarga Shi benar-benar bisa menghindari hal tak terduga di pegunungan itu. Sepertinya aku tak perlu mengingatkan mereka lagi. Mereka memiliki cukup banyak orang yang kompeten. Aku telah meremehkan mereka," ujar pria itu dengan suara yang berat dan jelas.
Lalu, ia menatap Zhuo Xia, "Nona Zhuo, apakah kita harus pergi ke Keluarga Shi?"
Namun, Zhuo Xia bahkan tak memandangnya. Ekspresinya sedingin biasanya dan suaranya kali ini lebih dingin, "Tidak perlu."
Long Hua masih menatap Zhuo Xia dan mengerutkan kening. Orang itu memang selalu dingin. Namun, karena dia sudah mengerti sifat Zhuo Xia dan tidak mengatakan apa-apa.
"Tunggu sebentar," ucap Zhuo Xia tiba-tiba.
Ia mengulurkan tangan dan mengambil jarum perak dari tubuh pria berjubah hitam itu. Gerakannya sangat mengesankan.
Saat ia melihat jarum perak itu, ia mengerutkan kening.
"Kenapa ada jarum perak?" tanya Long Hua.
Namun, sebelum dia bisa melihat jarum itu dengan jelas, Zhuo Xia sudah memasukkan jarum itu ke dalam sakunya.
Zhuo Xia berbalik dan berjalan keluar dari gua, "Persiapkan diri kalian. Ayo pergi ke Keluarga Shi."
"Keluarga Shi?" yang lainnya tercengang. Bukankah tadi ia mengatakan tidak ingin pergi ke Keluarga Shi? Mengapa ia tiba-tiba berubah pikiran?
Namun, Zhuo Xia tak menjawab pertanyaan mereka. Setelah mengatakan itu, ia menghilang dengan cepat.
Saat Zhuo Nan dan yang lainnya menyusulnya, Zhuo Xia berdiri di atas gunung dan terlihat sedang melamun.
__ADS_1
Zhuo Nan, Zhuo Kira, dan yang lainnya saling pandang, mereka sedikit mengerti.
Di dunia ini, hanya ada satu orang yang bisa membuat emosi Zhuo Xia naik turun.