
Note :
Kenapa banyak yang salah paham dengan bab kemarin?
/Thor kok MC lemah.
/Katanya level 9, kok lemah.
/Katanya Raja, kok lemah.
/MC jangan lemah gitu dong.
Oke, author jelasin.
Saat itu Zhuo Xia manggil Ling dengan inisial rahasianya. Inisial itu bener-bener rahasia karena hanya dia yang tahu.
Nah, MC bingung kok Zhuo Xia bisa tahu?
Ingatan MC kan masih ada yang hilang, jadi MC coba mengingat sebenarnya Zhuo Xia itu siapa. Sampai dia udah gak peduli lagi sama senjata yang udah bidik dia, karena dia udah penasaran banget sama Zhuo Xia.
Karena rasa penasarannya, MC maksa otaknya untuk mengingat. Karena dipaksa dan otaknya tidak sanggup, jadi dia sakit kepala. Karena dipaksa, sakit kepalanya lebih parah daripada biasanya. Jadi musuh mudah aja membidik dia.
Oke jadi intinya, MC penasaran sama Zhuo Xia sampai gak peduli dengan senjata itu. Karena penasaran, kepalanya sampai sakit banget jadi senjata itu juga tepat sasaran. MC jatuh karena sakit kepala dan senjata yang udah bidik dia.
Siapa yang gak jatuh setelah ditembak tepat di dekat jantung?
MC cuma jatuh bukan mati.
Lemah? Sorry, MC emang gak punya ilmu kebal.
Tau kan seberapa penting ingatan MC? Karena itu MC lebih memilih mengingat daripada menghindar.
Oke sampai sini dulu penjelasan author. Sorry kalo komen yang masuk kemarin gak author balas, karena note ini aja sebagai penjelasan🥰
***
Zhuo Xia menekan rasa sakitnya. Ia menahan tubuh Ling agar tidak terjatuh ke tanah. Ekspresinya terlihat sangat kecewa. Namun matanya begitu dingin. Aura membunuh yang pekat menguar dari Zhuo Xia.
Zhuo Xia segera mengambil pisau kecil yang selalu dibawanya. Ia melihat sosok penembak jitu di atas gedung.
Task!
Lemparannya tepat di jantung orang itu. Zhuo Xia tak mempedulikannya lagi. Ia menatap Ling yang sudah banyak mengeluarkan darah.
"Cepat bawa dia ke penginapan. Katakan pada dokter untuk mengobatinya," ucap Zhuo Xia pada Yu Bin. Ia menopang tubuh Ling dengan satu tangan. Satu tangan lagi menekan rasa sakit di dadanya.
Liam dan Yuan segera mengangkat Ling. Yu Bin segera membantu Zhuo Xia berdiri. Mereka pergi ke penginapan yang mereka tempati.
*
"Nona, Anda juga harus diobati," ucap dokter yang sejak tadi sudah memaksa Zhuo Xia. Ia tak ingin diobati jika Ling belum juga bangun.
"Dia belum bangun," jawab Zhuo Xia singkat. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Ling yang sedang berbaring lemah.
__ADS_1
"Nona, menurut Anda apakah dia akan terima jika saat bangun, dia melihat Nona sakit begini?" tanya dokter yang mulai frustasi.
Zhuo Xia diam sejenak. Dia masih menatap lekat Ling.
Matanya menyimpan emosi yang rumit.
"Baiklah," jawab Zhuo Xia.
"Tapi aku tidak ingin ke Kota Bayangan," ucap Zhuo Xia dengan cepat menambahkan.
Dokter yang awalnya sudah senang, kini hanya menghela napas. Peralatan di sini tidak selengkap di Kota Bayangan. Namun setidaknya Zhuo Xia sudah mau diperiksa.
Setelah selesai diperiksa, dokter dan perawat meninggalkan mereka berdua.
Keadaan Zhuo Xia jauh lebih baik sekarang. Dadanya sudah tak sesakit tadi. Namun hatinya tetap sakit saat melihat Ling seperti ini.
Ia menggenggam tangan Ling. Wajahnya menunduk. Tanpa sadar, air matanya mengalir begitu saja. Ia menangis sesegukan. Banyak hal menyakitkan yang dia pendam sendiri. Ingin mengatakannya juga tak akan berguna sekarang.
"Mengapa harus kau? Harusnya aku saja yang menderita seperti ini," ucap Zhuo Xia dengan suara parau.
"Maafkan aku," lanjut Zhuo Xia bicara masih dengan suara parau.
Zhuo Xia terus menangis sampai malam. Kemudian ia tertidur karena kelelahan menangis.
*
Di pagi hari, Zhuo Xia belum juga melihat Ling bangun. Ia pun memilih mandi dan membersihkan diri. Wajah Zhuo Xia kembali pucat. Ia merasa tubuhnya sedikit lemas.
Saat Ling membuka mata, hari sudah sore. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah pucat dan khawatir Zhuo Xia.
Zhuo Xia akhirnya bisa bernapas lega. Kegelisahannya perlahan menghilang. Ia kembali menatap Ling yang terlihat kebingungan.
"Mengapa kau tak juga kembali ke Kota Bayangan?" tanya Ling. Ia masih ingat ketika itu penyakit Zhuo Xia bertambah parah.
"Aku baik-baik saja," jawab Zhuo Xia. Hatinya menghangat karena kalimat pertama yang dikeluarkan oleh Ling setelah bangun adalah untuk dirinya.
Ling tidak mempercayai Zhuo Xia. Namun ia ingin bertanya hal yang lebih penting.
"Xia, mengapa kau memanggilku Z?" tanya Ling langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Mengapa? Bukankah aku salah orang?" tanya Zhuo Xia menatap tajam Ling.
"Lebih baik kau makan dulu. Kau belum makan sejak kemarin. Aku sudah memasaknya," ucap Zhuo Xia memberikan senampan penuh dengan makanan.
"Kau bisa masak?" tanya Ling dengan wajah polos. Sedangkan Zhuo Xia hanya menatapnya seperti ingin memakan. Ling hanya tertawa kecil.
Saat melihat semua makanan yang ada di sana, Ling membeku sejenak. Ini semua makanan favoritnya. Tidak kurang atau lebih satupun.
Ia juga merasa sedikit lapar karena sudah tidur terlalu lama. Ia mengambil salad dan memakannya.
Rasanya tidak asing.
Ingatan samar kembali melintas di otaknya.
__ADS_1
Namun ia tak ingin memaksa lagi. Ia lebih memilih menggelengkan kepala. Ia pikir sudah saatnya untuk meminum ramuan memori.
Zhuo Xia hanya menatapnya diam. Ia melihat Ling menghabiskan semua makanan dengan lahap.
"Jadi mengapa kau memanggilku Z?" tanya Ling setelah selesai makan.
"Coba saja tebak," jawab Zhuo Xia. Ia membereskan piring kemudian pergi ke dapur untuk meletakkannya.
Zhuo Xia kembali ke kamar Ling. Namun kali ini ia tak duduk di samping Ling. Ia memilih duduk di dekat jendela dan menatap keluar. Wajahnya masih sepucat tadi, tapi hatinya sudah lebih baik.
Saat itu ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dan berkata, "Aku tidak ingin kembali."
Zhuo Xia langsung mematikan teleponnya.
Saat itu, Ling sudah berdiri di sampingnya. Zhuo Xia terkejut, tapi tetap mempertahankan wajah tenangnya.
"Kau harus kembali," ucap Ling.
"Tidak. Aku baik-baik saja," jawab Zhuo Xia.
Ling langsung meraih tangannya. Ia kembali memeriksa denyut nadi Zhuo Xia. Namun yang ia rasakan sama saja seperti pertama kali ia memeriksa. Hanya saja kali ini terasa lebih berantakan.
"Aku mohon kembalilah," ucap Ling. Ia menurunkan tangan Zhuo Xia dengan lembut.
"Baiklah aku akan berangkat besok malam. Aku masih mempunyai urusan," jawab Zhuo Xia. Ia heran melihat Ling yang hanya diam saja. Kemudian ia tertawa kecil.
"Sungguh. Aku berjanji," ucap Zhuo Xia lagi. Ia melihat ponsel dan mencari nama seseorang. Kemudian ia berbicara.
"Siapkan jet pribadi untuk besok malam. Katakan pada Kakek aku akan kembali memegang kendali di Keluarga Zhuo," ucap Zhuo Xia. Ia mengatakan itu semua di depan Ling tanpa ragu.
"Baiklah sepertinya teman-temanmu sudah tak sabar akan masuk," ucap Zhuo Xia. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum dia sempat membuka pintu, pintu lebih dulu dibuka.
Teriakan nyaring langsung terdengar.
"Ling! Kau sudah sadar? Aku pikir kau akan mati!" teriak Yuan asal bicara.
"Kau gila!" ucap Liam yang ditujukan untuk Yuan.
Zhuo Xia melewati tiga orang itu. Ia mengangguk pada Yu Bin kemudian mereka pergi.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Su Wen Ai.
Ling hanya mengangguk. Ia kembali berbaring di tempat tidurnya. Ia mengecek ponselnya. Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari keluarganya.
Hatinya menghangat. Ia tak pernah mendapat perhatian seperti ini dari keluarganya. Mereka benar-benar seperti keluarga asli.
"Aku ingin pergi ke markas pelatihan militer," ucap Ling. Ia segera bangkit dari tidurnya. Ia mengambil jaket hitam yang ada di atas meja.
"Kau baru saja bangun," ucap Liam ingin menghentikan Ling.
"Aku sudah sembuh," ucap Ling dingin. Ia tetap bersiap dan tak mempedulikan ketiga orang itu. Akhirnya mereka hanya bisa menghela napas dan mengikuti Ling. Mereka tetap mempercayai Ling sampai detik ini.
Mereka segera pergi ke markas militer dimana anak-anak Chen Liu dilatih.
__ADS_1