
Ling mengendarai sepeda motor yang dibelikan oleh Bo Minghao. Ia pergi ke markas Mei Mengyi. Setelah pulang dari sana dia akan langsung ke asrama.
Markas Mei Mengyi sangat tersembunyi. Untuk memasukinya juga sulit. Karena itu ia memiliki penjaga yang merupakan seorang kultivator agar mereka bisa masuk ke dalam markas.
Ling akhirnya sampai di markas. Mei Mengyi sudah menunggunya di depan pintu. Setelah itu, Ling langsung diajak masuk ke ruang kerjanya.
"Apa Raja akan membawa sendiri senjata-senjata ini?" tanya Mei Mengyi langsung ke poin.
"Tidak. Tunggu sampai aku keluar dari kultivasi di Universitas Internasional Kota Bayangan. Jika aku sudah keluar, kita bertemu di pelabuhan," ucap Ling menjelaskan.
"Aku ke sini untuk memberikan file ini. Aku ingin ini selesai saat aku keluar," ucap Ling sambil memberikan flashdisk.
"Aku akan membuatnya Raja," jawab Mei Mengyi sambil menerima flashdisk. Ia langsung membukanya di komputer.
Ia sangat terkejut. Desainnya saja sudah sangat rumit. Kemudian ia melihat semua detail yang tergambar. Benar-benar mengesankan.
"Raja, ini sangat hebat," puji Mei Mengyi. Tadi ia menguji ledakannya. Ia tak heran lagi dengan kemampuan Ling.
"Kalau begitu, aku akan kembali," ucap Ling. Ia langsung meninggalkan markas dan pergi ke universitas. Di sepanjang jalan, ia dihormati oleh penjaga-penjaga Mei Mengyi.
*
Di universitas sudah sangat ramai. Banyak murid dari orang kaya maupun orang biasa berkumpul. Mereka berlomba-lomba untuk masuk ke tempat kultivasi.
Karena tempat kultivasi ini sangat kaya akan sumberdaya.
Ling berdiri di barisan depan. Ia diantar oleh pimpinan tetua. Bo Minghao dan Chen Lin masih memiliki pekerjaan di perusahaan masing-masing.
"Untuk merebut tempat, akan ada tes darah," ucap pimpinan tetua. Di sana juga ada Rektor Xiang.
"Tentu saja dia tahu," ucap Rektor Xiang. Ia terkejut dengan perkataannya sendiri.
"Aku sudah memberitahunya," ucap Rektor Xiang melanjutkan. Ia tak ingin pimpinan tetua malah berpikir ke mana-mana.
"Seharusnya aku bisa lulus, kan?" tanya Ling ragu pada pimpinan tetua. Meski ia tahu jika ada tes darah, ia tak berpikir itu masih digunakan. Meski ia lulus tes darah di Keluarga Bo, ia tidak tahu akan lulus di sini atau tidak.
Jantung pimpinan tetua hampir saja meloncat. Bagaimana Ling mengatakan hal itu? Apa dia tidak sadar dengan tingkatan darahnya sendiri? Apa lagi yang perlu ia khawatirkan dalam hal ini?
Rektor Xiang sedikit bingung. Ia menatap Ling dengan wajah bertanya, tapi Ling hanya menaikkan bahu.
"Pimpinan tetua apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rektor Xiang penasaran. Jika ini berhubungan dengan Ling, ini pasti sesuatu yang luar biasa.
__ADS_1
"Anda akan tahu nanti," ucap pimpinan tetua yang semakin membuat Rektor Xiang penasaran.
Ruangan ini semakin ramai. Tidak hanya para murid yang datang, bahkan para keluarga besar juga datang. Selain itu, ada juga orang dari luar negeri yang ikut meramaikan.
Ling menemui Su Wen Ai. Ia sedikit terkejut dengan hal ini karena tidak pernah terjadi sebelumnya.
Rektor Xiang mulai bicara.
"Sebelum acara ini dimulai, setiap peserta yang akan masuk harus melakukan tes darah. Jika tes darah sesuai dan layak, mereka akan dianggap sebagai peserta," ucap Rektor Xiang menjelaskan. Semua orang diam mendengarnya.
"Warna paling rendah dalam persyaratan ini adalah warna hijau. Jika berada di bawah warna hijau, maka tidak diizinkan masuk," jelas Rektor Xiang melanjutkan.
Semua orang sudah tidak asing lagi dengan tes ini.
Para murid dan perwakilan dari keluarga besar mulai maju ke meja pengujian. Satu persatu dari mereka bergiliran menguji darah.
Di universitas ini menggunakan sebuah batu kristal. Jadi, setiap peserta tinggal menyentuh batu kristal itu mereka untuk membuatnya bereaksi.
"Warna kuning!"
"Warna kuning!"
"Warna merah!"
Pengawas batu kristal terus mengeluarkan suara. Meski penonton dapat melihat sendiri, tetap saja hal ini diumumkan.
"Warna hijau!"
"Warna hijau!"
Ucap pengawas. Itu adalah warna darah Wei Weiheng dan Wei Wenhua.
Kemudian, Bo Shin maju. Ia menyentuh batu kristal itu.
"Warna biru!" teriak pengawas. Ia sangat puas saat melihat hal ini. Sedangkan para penonton melihatnya secara iri. Mereka ingin juga seperti Bo Shin.
Selanjutnya adalah giliran Ling.
Warna ungu darah Ling disembunyikan dengan baik oleh Keluarga Bo. Selain yang melihat secara langsung dan melakukan tes darah, bahkan anggota Keluarga Bo yang lain tidak tahu hal ini.
Semua orang hanya tahu jika Ling adalah orang biasa yang berasal dari kota kecil, yaitu Kota Urban.
__ADS_1
"Walau ia bisa mengalahkan Bo Hongyun, tetap saja dia merupakan anak haram. Ia pasti tidak memiliki warna darah yang baik," ucap salah satu murid berkomentar.
"Tentu saja keturunan murni tidak bisa dibandingkan dengan anak haram," ucap murid lainnya yang ikut meremehkan Ling.
Bo Shin turun. Ia kembali membaur ke dalam kerumunan.
"Nona Bo, Anda sangat mengerikan. Warna darah biru adalah hal yang langka," ucap salah satu junior yang memuji Bo Shin.
"Aku mengerikan?" tanya Bo Shin heran.
"Aku tidak mengerikan. Masih ada yang lebih mengerikan daripada aku," jawab Bo Shin sambil tertawa kecil. Ia mengingat kembali kejadian saat Ling melakukan tes darah. Jika hari ini hal itu terungkap, Kota Bayangan akan terguncang.
Saat Ling sudah berada di dekat batu kristal itu, ia melihat Zhuo Xia dikejauhan. Zhuo Xia sepertinya baru saja tiba.
Setelah beradu pandang sejenak dengan Zhuo Xia, Ling menyentuh batu kristal itu.
Batu kristal itu butuh waktu lama untuk bersinar.
Awalnya berwarna merah. Kemudian jingga, lalu kuning, berubah lagi menjadi hijau. Masih tidak berhenti sampai di situ. Cahaya kristal terus bersinar menjadi warna biru.
Para penonton menarik napas. Mereka tidak ada yang bicara karena terlalu terkejut.
Tidak hanya warna biru, cahaya kristal bersinar lagi menjadi warna ungu.
Warna darah tertinggi.
Meskipun pimpinan tetua telah melihat hal ini di Keluarga Bo, ia tetap saja terkejut. Apalagi untuk mereka yang baru saja menyaksikannya hari ini.
Melihat batu kristal mulai berhenti, Ling menarik kembali tangannya. Ia memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Tuan?" ucap Ling menegur penjaga batu kristal yang melamun. Matanya tak beralih dari batu kristal yang masih berwarna ungu itu.
Suara dinginnya menyadarkan beberapa orang. Ling yang mereka remehkan malah memiliki warna darah paling tinggi.
Saat ini, Ling kembali melihat ke arah Zhuo Xia. Ekspresi Zhuo Xia sangat datar. Yang pasti ia terlihat tak terkejut.
Kemudian, Keluarga Shi berkomentar.
"Tetua Bo ...," ucap Tuan Shi menahan ucapannya.
"Ada apa Tuan Shi?" tanya pimpinan tetua yang sudah sadar dari keterkejutannya.
__ADS_1
"Apakah cahaya yang kalian bilang dari pembiasan cahaya di danau buatan Keluarga Bo adalah cahaya ini?" tanya Tuan Shi yang membuat semua orang langsung menatap ke arah pimpinan tetua.