Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Saksi Bisu


__ADS_3

Chen Namgung diusir dari kediaman Zhuo Xia. Dia diperlakukan tidak hormat di sini. Bahkan penjaga Zhuo Xia tak memberinya wajah. Chen Namgung sama sekali bukan apa-apa bagi mereka.


Dengan kesal, Chen Namgung kembali ke kediamannya di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Keluarga Chen mereka menjadi keluarga besar tanpa mereka ketahui alasannya. Tiba-tiba suatu hari mereka diundang ke pulau itu dan banyak orang besar yang menghormati mereka.


Jadi Chen Namgung menggunakan kekuatan itu untuk menekan orang-orang.


Ia berdiskusi dengan kakeknya.


"Kakek, kita sudah banyak mendapat aliansi. Namun aku gagal merekrut wanita itu. Dia beranggapan Raja Legendaris masih hidup," ucap Chen Namgung. Tidak ada yang tahu wajah asli Raja Legendaris kecuali beberapa anggotanya. Dan juga tidak ada yang tahu nama asli Raja Legendaris kecuali orang-orang di Organisasi Tempur.


Jadi Chen Namgung tidak tahu jika Raja Legendaris adalah Ling, kakak kembarnya.


"Aliansi kita kebanyakan dari keluarga besar dan anak yang berbakat. Itu sudah lebih dari cukup untuk merebut Organisasi Tempur. Saat kita sudah mengambil organisasi itu, wanita itu akan dengan sendirinya datang dan memohon," ucap Kakek Chen Namgung sambil tersenyum licik.


"Ternyata wanita itu sangat cantik. Saat dia memohon nanti, aku akan menjadikannya istri," ucap Chen Namgung. Ia sudah membuat skenario di kepalanya.


"Jangan pikirkan wanita dulu. Lebih baik pikirkan cara untuk menyatukan kekuatan," ucap Kakek Chen Namgung.


"Aku sudah memiliki cara. Mereka semua bergabung karena aku menyebut ahli bom Mei. Jika kita dapat menunjukkan salah satu bom buatannya, mereka akan semakin percaya," ucap Chen Namgung percaya diri.


"Lalu apa kau sudah dapat bom itu?" tanya Kakek Chen Namgung.


"Belum, Kakek. Namun aku mengenal salah satu orang yang memiliki nomor telepon ahli bom Mei," jawab Chen Namgung. Ia mengambil ponsel dan mengirim pesan ke salah satu orang.


*


Di bandara, Ling disambut langsung oleh Rektor Xiang. Wajah Rektor Xiang terlihat sumringah seperti sangat menantikan kehadiran Ling.


"Selamat, Ling," ucap Rektor Xiang langsung menjabat tangan Ling. Ling tak mengerti apa yang dimaksud Rektor Xiang.


"Ada apa, Suamiku?" tanya Dosen Wan yang juga ikut kebingungan.


"Dia berhasil menempatkan universitas kita di posisi pertama. Barang yang dia pilih adalah yang paling mahal dalam sejarah pertemuan ini," ucap Rektor Xiang yang sangat antusias.


"Benarkah? Padahal penjual itu bilang yang dipilih Ling adalah tanaman biasa," ucap Dosen Wan mengingat perkataan penjual itu.


"Dia adalah teman lamaku. Dia ingin menguji Ling sedikit," jawab Rektor Xiang. Ia mencoba mengembalikan wibawanya.

__ADS_1


"Bagus sekali jika begitu. Universitas kita akan semakin terpandang," ucap Dosen Wan semakin bahagia setelah sadar dari keterkejutannya.


"Kalau begitu ayo kita pulang," ucap Rektor Xiang. Ia menarik tangan Ling yang hanya patuh dengannya.


"Kau sangat hebat. Kau mirip dengan muridku. Bahkan cara kalian melakukan sesuatu juga sama. Sama-sama mengesankan," ucap Rektor Xiang sambil berjalan. Sedangkan Dosen Wan hanya mengikuti sambil mengimbangi langkah dua pria itu.


"Aku memang muridmu," jawab Ling santai seolah itu adalah hal yang biasa.


Namun berbeda dengan Rektor Xiang. Ia terkejut bukan main dan membeku. Sedangkan Dosen Wan sedikit mulai mengerti keadaan. Ia mengerti apa yang dipikirkan oleh suaminya.


Rektor Xiang membalikkan badan dan menatap Ling. Tatapannya antara kagum, terkejut, sedih, terharu, semua bercampur menjadi satu.


"K-kau? Kau Chen Ling?" tanya Rektor Xiang terbata.


"Benar, Guru," jawab Ling. Ia membungkuk dan memberi hormat pada Rektor Xiang.


"Kau masih hidup?" tanya Rektor Xiang masih tidak percaya.


"Seperti yang Guru lihat," jawab Ling. Ia menatap lekat wajah Rektor Xiang.


Setelah pulih dari keterkejutan, Rektor Xiang kembali berjalan. Kali ini ia berjalan sambil merangkul Ling. Sedangkan Dosen Wan tetap mengikuti di belakang.


*


A Shui menyiapkan beberapa barang. Tadi, Ling memintanya untuk datang sambil membawa topeng dan jubah khas Ling X. A Shui tahu Ling ingin beraksi. Ia juga tahu jika keadaan Kota Bayangan semakin terguncang.


Saat ini, A Shui sudah memberi informasi pada anggota Organisasi Tempur yang lain jika kepercayaan mereka pada Raja akan terbalaskan. Penantian mereka selama ini akan terbayar.


Jadi saat ia sampai di rumah Keluarga Chen, hatinya sedikit lega.


Ia harus melewati penjaga di depan. Penjaga-penjaga ini di bawah kepemimpinan Ling. Selain berlatih, mereka juga diberi ramuan untuk mendorong latihan mereka.


Jadi mereka sudah bisa dianggap elit di Kota Bayangan.


"Aku ingin menemui Tuan Muda Chen," ucap A Shui sambil tersenyum ramah. Ia tak mungkin memanggil Ling sebagai Raja di depan mereka.


"Tuan Muda Chen masih ada di universitas," jawab pimpinan penjaga. Ia sudah diperingatkan jika tak boleh membiarkan orang asing masuk.

__ADS_1


Kemudian dari dalam, keluar Paman Qian. Ia sedikit berjalan dengan terburu-buru.


"Nona A Shui?" tanya Paman Qian memastikan.


"Benar, Paman," jawab A Shui masih tersenyum ramah.


"Ayo, masuk," ucap Paman Qian sambil membukakan pintu untuk A Shui.


"Ingat wajah Nona ini untuk lain waktu," ucap Paman Qian sebelum masuk ke rumah.


Penjaga-penjaga itu hanya mengangguk patuh. Mereka tahu jika perintah Ling adalah hal mutlak yang tak bisa dibantah.


"Tuan Muda Chen bilang, jika Anda datang tapi dia belum kembali, Anda bisa menunggu di kamar atas," ucap Paman Qian menyampaikan pesan Ling.


"Baik, Paman. Terimakasih," ucap A Shui. Ia membawa laptop dan tas berisi barang Ling. Ia berjalan santai ke lantai atas.


Setelah sampai, ia duduk di kasur dan kembali mengetikkan serangkaian angka.


Di waktu yang sama, di markas Mei Mengyi.


"Desain baru lagi! Benar-benar hebat," ucap Mei Mengyi melihat file yang dikirim oleh A Shui.


"Jangan jual pada Keluarga Chen yang ada di Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya?" Mei Mengyi heran saat membaca pesan Ling. Namun ia tetap akan mematuhi Ling.


"Baiklah. Waktunya membuat bom. Sepertinya bom ini bisa meledakkan satu pulau besar dan menimbulkan tsunami," gumam Mei Mengyi saat melihat desain bom itu. Setiap bom yang dibuat oleh Ling memiliki ciri khas sendiri. Yaitu tanda "X" yang menjadi pola di atas bom. Mei Mengyi juga membuat bom sedetail yang dikirim oleh Ling.


Saat ia sedang fokus merakit bom, ponselnya kembali berbunyi.


[File transfer : 87%]


"Apakah bom baru lagi?" tanya Mei Mengyi tercengang.


[File transfer : 100%]


Ia membuka file itu. File itu berisi desain jet tempur dengan kecepatan paling tinggi.


"Wow! Hebat!" seru Mei Mengyi tak dapat menyembunyikan gejolak bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2