Kelahiran Kembali Raja Legendaris

Kelahiran Kembali Raja Legendaris
Tak Ingin Lagi Mempermasalahkan Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Pada saat yang sama, Tuan Agung sudah siap menyatakan perang secara terbuka pada Ling dan gengnya. Karena Zhuo Xia sudah mengatakan ia tak akan ikut campur, maka ia tak perlu takut lagi. Lagipula, ia bukan ingin membunuh semua orang. Ia hanya menginginkan nyawa Su Wen Ai.


"Nona Zhuo mengatakan ia tak akan ikut campur. Sekarang tak perlu takut lagi pada Su Wen Ai dan yang lainnya. Tempat rahasia akan terbuka besok. Jadi, malam ini kita harus segera bergerak," ucap Tuan Agung pada pengawalnya yang paling kuat.


"Tuan Agung, meski Nona Zhuo mengatakan ia tak peduli, tapi Su Wen Ai memiliki Liam di sampingnya. Aku dengar dia sangat kuat. Kita ...," ucapan penjaga itu terjeda.


Tuan Agung mengetuk meja. Ia memang tahu jika Liam bisa menjatuhkan Su Qiu tanpa mengeluarkan banyak tenaga.


"Ikuti saja rencananya. Lagipula Liam hanya orang biasa," ucap Tuan Agung. Ia merasa tak ada yang perlu ditakuti dari orang biasa. Jadi, ia tak memikirkan tentang Liam lagi.


"Kau adalah penjaga yang langsung diturunkan oleh Keluarga Su dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Aku sangat yakin dengan kemampuanmu. Masalah ini menyangkut suku kita. Kita harus berhasil," ucap Tuan Agung. Ia berdiri dan menatap penjaga itu.


Penjaga itu mengangguk pelan.


"Tenang saja. Kau ini dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya. Jika nanti kau tak bisa membunuh mereka, sebutkan saja kalau kau berasal dari pulau itu. Pasti mereka tak akan berani berbuat apa pun," ucap Tuan Agung kembali meyakinkan penjaga itu.


*


Keesokan harinya, tempat rahasia terbuka.


Itu adalah wilayah sakral dari leluhur suku itu.


Dua puluh orang yang telah dipilih, semua berada di sini sekarang.


"Tuan Agung, di mana penjaga dari Pulau Yang Tak Boleh Disebut Namanya?" tanya salah satu tetua agak terkejut.


"Dia sedang menjemput Tuan Besar Su," jawab Tuan Agung dengan tenang.


"Tuan Besar Su akan datang hari ini? Bukankah ia akan datang besok?" tanya tetua itu lagi.


"Dia datang lebih awal untuk mengurus beberapa hal," jawab Tuan Agung yang mulai kesal karena terus menerus ditanya. Pandangannya sejak tadi hanya ke arah jalan.


Zhuo Xia, Ling, dan yang lainnya belum datang. Penjaga yang dia kirim untuk membunuh Su Wen Ai juga belum kelihatan. Tuan Agung tak bisa tenang sekarang.


Saat ia masih berpikir, sekelompok orang datang. Ia menyipitkan mata untuk melihat dengan jelas siapa orang-orang itu. Saat pandangannya semakin jelas, matanya membulat.

__ADS_1


Ia melihat Su Wen Ai.


Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana Su Wen Ai bisa tetap hidup? Di mana penjaga yang dia tugaskan tadi? Hati Tuan Agung tak bisa tenang. Ia tetap menatap Su Wen Ai.


Kepala suku melihat ini. Ia merasa ada yang salah. Ia berbisik pada Tuan Agung, "Jangan sentuh orang-orang Nona Zhuo. Aku sudah memperingatkanmu kedua kalinya."


Setelah mengatakan itu, ia pergi ke arah Zhuo Xia dan yang lainnya. Ia menyambut mereka dengan hormat. Sedangkan Tuan Agung masih terpaku di tempat.


"Semua orang yang dipilih sudah hadir," ucap kepala suku menghadap ke arah mereka semua.


"Buka wilayah sakral leluhur," ucap kepala suku lagi.


Su Hua menemani ayahnya saat berjalan ke wilayah sakral leluhur. Ia bertanya, "Ayah bisa menahan ini?"


"Aku bisa," jawab ayah Su Hua.


Setelah itu, ayah Su Hua membungkuk ke arah Ling. Kemudian ia mengangkat tangan dan menyayat pergelangan tangannya.


Darah segar mulai mengalir.


Ayah Su Hua sudah pucat. Ia kehilangan banyak darah tapi pintu itu tetap tak mau terbuka. Ayah Su Hua sepertinya sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya bergetar hebat sekarang.


"Nona Zhuo, bukankah Anda bilang wilayah ini sudah terbuka? Lalu apa yang terjadi? Mengapa kelihatannya tidak ada reaksi di sana?" tanya kepala suku mencoba tetap tenang.


"Wilayah itu memang sudah terbuka," jawab Zhuo Xia santai.


"Jika memang tidak ada masalah, mengapa ...," tetua lainnya terlihat bingung.


"Masalahnya ada pada orangnya," jawab Zhuo Xia lagi.


"Maksudnya?" tanya tetua yang kebingungan. Begitu juga dengan kepala suku.


Zhuo Xia tak menjawab. Ia berjalan melewati Su Hua dan ayahnya yang berlumuran darah. Ia berhenti di depan pintu dan berkata, "Su Wen Ai, ke sini."


Su Wen Ai yang dipanggil tiba-tiba, tertegun.

__ADS_1


Ling memasukkan satu tangannya ke saku dan berkata, "Cepat, dia memanggilmu."


Setelah mendengar suara dingin Ling, Su Wen Ai tersadar. Ia pun berjalan ke arah Zhuo Xia. Zhuo Xia masih saja diam. Dia tak mengatakan apa pun dan meraih pergelangan tangan Su Wen Ai.


Dia mengeluarkan belati dan menyayat pergelangan tangan Su Wen Ai.


"Apa yang dilakukan Kakak Xia?" tanya Han Shuangfu bingung. Ia menyentuh dagunya sambil berpikir.


Saat matanya melihat Ling, ia teringat sesuatu, "Oh, Kakak Ipar, aku melihat energi kultivasi di tempatmu tadi malam. Apa ada masalah? Jika memang ada, mengapa tak mencariku?"


Tangan Ling masih berada di sakunya. Ia melihat ke arah Su Wen Ai dan tersenyum tipis. Ia berkata dengan dingin, "Meski orang-orangku tak ingin lagi mempermasalahkan dendam masa lalu, tapi orang-orang itu masih belum menyerah. Jika tidak melakukan sesuatu, sepertinya mereka akan kecewa."


"Apa?" tanya Han Shuangfu yang tak mendengar dengan jelas. Ia sejak tadi memperhatikan Zhuo Xia.


"Tidak apa-apa," jawab Ling sambil tersenyum tipis ke arah Tuan Agung.


Tuang Agung yang masih tertegun, dihampiri seseorang. Orang itu membisikkan sesuatu padanya.


"Apa?!" tanya Tuan Agung yang terlihat sangat terkejut.


Suaranya sangat keras hingga kepala suku dan yang lainnya melihat ke arahnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Tuan Agung itu. Tuan Agung itu juga sudah tak memikirkan citranya lagi. Begitu ia mendengar berita yang disampaikan oleh orang itu, matanya melotot seolah akan keluar.


"Kau pembunuh! Kau membunuh penjagaku!" teriak Tuan Agung ke arah Ling dan yang lainnya.


"Tuan Agung, jangan bicara sembarangan," ucap kepala suku yang sangat terkejut mendengar ini.


Ling tersenyum malas. Ia menjawab, "Itu memang aku. Lalu kenapa?"


Tuan Agung terlihat frustasi. Ia kembali bicara dengan dingin, "Kau membunuh penjagaku! Kau juga meletakkan mayatnya di ruangan kalian! Kepala suku, mereka telah melewati batas. Aku tidak akan melepaskan mereka!"


Han Shuangfu dan yang lainnya yang menonton kejadian itu tercengang. Mereka langsung melirik ke arah Ling, Liam, Yuan, dan Su Wen Ai.


Ekspresi mereka terlihat tenang. Sebenarnya masih bisa dimaklumi jika mereka membunuh orang. Namun, mereka malah meletakkan mayat orang itu di ruangan terbuka? Apa mereka memang tidak takut jika ada yang tahu?


Mereka sungguh sombong.

__ADS_1


Ling masih tersenyum. Ia menjawab dengan santai, "Tidak akan melepaskan kami? Kau orang pertama yang berani mengatakan ini padaku."


__ADS_2